Pak DwiAgus ysh, sebenarnya ada sedikit kesalahan dari slogan Pak SBY,
seharusnya bukan dari Miangas sampai Rote, tapi seharusnya dari Miangas
sampai Sabu; karena posisi Sabu lebih selatan dari Rote. Saya belum
sempat ke pulau misterius ini, hanya melihat dari 6000 ft dpl. Dulu
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5183>   pernah saya
apresiasi untuk Sabu ini, yang konon pernah menjadi Lantamal era
Majapahit. Mengenai bentuk atap, bila konsepnya perahu terbalik,
kemungkinan sama dengan rumah adat Biak. Bila ada keprihatinan
sebagaimana disebutkan, sangat dimungkinkan mengingat masyarakat Sabu
ini terkenal pintar dan teguh dalam pendirian. Mayoritas pimpinan daerah
di NTT berasal dari Sabu. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], "Benedictus Dwiagus Stepantoro"
<bdwia...@...> wrote:
>
> Sepertinya tulisan ini mau bicara soal spatial planning and spatial
use
> management berbasis muatan lokal...
>
>
>
>
>
>
> Subject: [Academia NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey
> Damaledo)
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> http://www.pos-kupang.com/index.php?speak=i
>
<http://www.pos-kupang.com/index.php?speak=i&content=file_detail&jenis=1\
4&id
> nya=28020&detailnya=1>
&content=file_detail&jenis=14&idnya=28020&detailnya=1
>
>
> Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas?
>
>
>
> Oleh : Andrey Y Damaledo
>
>
> PNS pada Pemprop NTT, anggota Forum Academia NTT
> Sementara belajar di University of Queensland, Brisbane, Australia
>
>
> SAYA sangat tertarik dengan kisah tujuh kelompok turis asal Indonesia
dari
> berbagai latar belakang profesi, pada akhir tahun 1960-an, yang
dimintai
> pendapatnya tentang kota Sydney, Australia. Kisah ini adalah bagian
dari
> studi Raymond Bunker dalam mengidentifikasi 'What is Sydney?'. Secara
umum,
> kesan mereka berkisar pada gedung-gedung bertingkat, kesibukan dan
> pergerakan manusia yang tinggi, serta terbatasnya ruang terbuka.
>
> Selain itu, menurut mereka, Sydney tidak terlepas dari the Harbor
Bridge,
> Opera House, Botanical Garden, Hyde Park, Town Hall dan Australia
Square.
> Saya membayangkan kalaupun saya dimintai pendapat tentang Sydney,
mungkin
> tidak akan jauh berbeda dengan mereka.
>
> Salah satu kecenderungan utama kita dalam mengidentifikasi suatu
tempat
> memang melalui keberadaan bangunan-bangunan monumental yang menjadi
landmark
> di daerah tersebut. Tidak heran kenapa pemerintah kita pun
mengalokasikan
> anggaran yang cukup proporsional dalam hal konstruksi
bangunan-bangunan yang
> dianggap bisa memberikan identitas pada daerahnya. Contohnya,
pembangunan
> rumah jabatan Gubernur NTT, pembangunan kantor Bupati Rote Ndao,
pembangunan
> kantor Bupati Kupang.
>
> Namun, yang kita sering lupa, kesan terhadap suatu tempat itu tidak
hanya
> ditentukan oleh keberadaan bangunan-bangunannya, tapi lebih kepada
kenapa'
> bangunan-bangunan itu ada di lokasi tersebut. 'Identitas fisik'
seperti
> landmark yang megah bisa dibangun dan ditemukan di berbagai tempat,
tapi
> keunikan suatu daerah hanya akan muncul apabila kita bisa memberikan
narasi
> kenapa sampai dia dibangun pada lokasi yang bersangkutan dan bagaimana
> keterkaitannya dengan lokasi yang lain sebagai suatu sistem ruang.
>
> Ruang, dalam undang-undang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi
ruang
> daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai suatu kesatuan wilayah,
tempat
> manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta
memelihara
> kelangsungan hidupnya. Berdasarkan definisi tersebut, ruang dilihat
sebagai
> wadah di mana keseluruhan interaksi sistem sosial (yang meliputi
manusia
> dengan seluruh kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya) dengan ekosistem
> (sumber daya alam dan sumber daya buatan) berlangsung. Interaksi ini
tidak
> selalu secara otomatis berlangsung seimbang dan saling menguntungkan
> berbagai pihak yang ada karena adanya perbedaan kemampuan, kepentingan
dan
> adanya sifat perkembangan ekonomi yang akumulatif. Oleh karena itu,
ruang
> perlu ditata agar dapat memelihara keseimbangan lingkungan dan
memberikan
> dukungan yang nyaman terhadap manusia serta makhluk hidup lainnya
dalam
> melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya secara
optimal.
>
> Ada dua komponen utama yang membentuk tata ruang, yakni wujud
struktural dan
> pola pemanfaatan ruang. Sebagai suatu kegiatan, tata ruang mempunyai
ukuran
> kualitas yang bukan semata menggambarkan mutu tata letak dan
keterkaitan
> hirarkis, baik antar kegiatan maupun antar pusat, akan tetapi juga
> menggambarkan tatanan kehidupan masyarakat yang ada.
>
> Pada hakekatnya kegiatan penataan ruang memiliki tujuan akhir berupa
> penciptaan lingkungan bermukim yang lebih baik, di mana menetapkan
apakah
> suatu lingkungan bermukim tersebut 'baik', 'kurang baik' atau bahkan
'buruk'
> bukanlah suatu pekerjaan yang dengan mudah dapat dilakukan. Seringkali
> pengkategorian kualitas tersebut berkaitan erat dengan konteks budaya
> setempat (Rapoport, 1979), sehingga kualitas baik bagi suatu kelompok
pada
> suatu tempat akan berbeda dengan kelompok lain (atau kelompok yang
sama,
> pada masa yang berbeda) pada tempat yang sama.
>
> Dengan demikian, kualitas lingkungan bermukim perlu dipahami dan
dikaji
> dalam konteks budayanya, seperti yang telah ditetapkan dan dimengerti
oleh
> kelompok yang terlibat dalam pengkajian tersebut (Samadhi, 2004).
Dengan
> kata lain, 'apa arti kualitas lingkungan bermukim bagi suatu kelompok
> masyarakat tertentu' merupakan pertanyaan mendasar sebelum melakukan
> kegiatan penataan ruang.
>
> Saya sangat kagum terhadap orang Sabu dalam hal pemaknaan serta
aktualisasi
> mereka tentang lingkungan mereka. Masyarakat Sabu, menurut Nico L.
Kana,
> dalam bukunya Dunia Orang Sawu (1983), memiliki makna khusus yang
diberikan
> terhadap pulaunya. Ada dua lambang yang digunakan masyarakat Sabu
terhadap
> pulau mereka -Rai Hawu- yaitu lambang perahu dan lambang makhluk
hidup.
>
> Sebagai perahu, maka pulau tersebut dibedakan ke dalam dua bagian :
Mahara,
> di sebelah barat dan yang secara geografis memiliki topografi
berpegunungan,
> dipandang sebagai bagian anjungan perahu, dan disebut duru rai (duru =
> anjungan perahu; rai = tanah); Sedangkan Dimu di timur dan memiliki
lebih
> banyak dataran rendah, dipandang sebagai buritan perahu dan disebut
wui rai
> (wui = alas atau buritan perahu).
>
> Sebagai makhluk hidup, tanah Sabu dipandang berada dalam kedudukan
membujur,
> kepala di barat dan ekor di timur. Bahkan rai-rai pun digolongkan
demikian
> : Tanah Mahara yang letaknya paling barat adalah kepala tanah Sabu
atau katu
> rai Hawu (katu = kepala). Tanah Haba dan Tanah Liae, masing-masing
sebagai
> dada, kodo dan dalu (= perut); Sedangkan Tanah Dimu adalah rulai (=
ekor).
>
> Berdasarkan pemaknaan tersebut di atas, masyarakat Sabu membangun
> perkampungan Sabu (=rae atau rae kowa, kampung atau kampung perahu)
yang
> terdapat di punggung-punggung bukit dan dikelilingi pagar karang atau
batu.
> Bentuknya elips atau empat persegi panjang dengan keempat sudutnya
> melengkung. Pada kedua sisi melebarnya ada dua gerbang, yang di timur
> disebut toka dimu dan yang di barat toka wa, diasosiasikan dengan
terbit
> dan terbenamnya matahari. Bila demikian berarti mengikuti ungkapan
penau nga
> ngi'u rai (= mengikuti tubuh pulau) yakni memanjang seperti letak
pulau
> Sabu.
>
> Di tengah kampung terdapat lapangan kampung (telora = tengah) dengan
nada
> rae (= altar kampung, tempat upacara), berupa susunan batu yang
melingkari
> batang pohon. Sedangkan di antara batu altar itu ada tiga batu
upacara,
> masing-masing Wowadu Rai Bala (= Batu Bumi Lebar), Wowadu Riru Bala (=
Batu
> Langit Lebar) dan Wowadu Dahi Bala (= Batu Laut Lebar).
>
> Rumah-rumah di dalam kampung dibangun berderetan menurut sisi panjang
> kampung. Hanya jika lingkungan geografis tidak memungkinkan, maka
letak
> kampung memanjang secara selatan-utara. Dalam hal tersebut letak rumah
> senantiasa tetap memenuhi ketentuan persyaratan adat.
>
> Robert Riwu Kaho (2005) dalam bukunya Orang Sabu dan Budayanya
menguraikan
> tentang asal mula rumah Orang Sabu,
> "Sabu Mau dan keluarganya tiba di Pulau Sabu dan merasa kerasan di
pulau itu
> sehingga memilih untuk menetap. Setelah mendarat, perahu-perahunya
dibalik
> untuk dijadikan rumah sementara, kemudian dibangunlah rumah kediaman
tetap
> yang bentuknya menyerupai perahu yang terbalik, itulah sebabnya maka
rumah
> adat asli Sabu (Emmu Hawu) berbentuk seperti perahu yang terbalik."
>
> Nico Kana secara lebih detail menjelaskan bahwa baik bentuk maupun
nama
> bagian-bagian tertentu dari rumah orang Sabu menyatakan asosiasi
dengan
> makna yang terkandung dalam perahu. Rumah mempunyai duru (anjungan)
dan wui
> (buritan); balok-balok alas balai-balai dipotong mirip anjungan
perahu.
> Istilah gela digunakan baik untuk menyebut tiang dalam loteng maupun
tiang
> layar perahu; sementara istilah roa menunjuk baik kepada bagian dalam
atap
> rumah maupun kepada bagian dalam badan perahu.
>
> Atas dasar pembagian ke dalam duru dan wui seperti disebutkan
sebelumnya,
> rumah dibagi dalam setengah bagian 'lelaki' dan sisanya lagi
'perempuan'.
> Kegiatan kaum lelaki berlangsung di duru; kegiatan warga perempuan di
wui.
> Hal ini menunjukkan prinsip struktural yang benar-benar sentral dalam
budaya
> masyarakat Sabu.
>
> Posisi lain yang terkandung dalam pembagian duru-wui adalah
terang-gelap,
> terbuka dan tertutup. Setengah rumah bagian duru terbuka buat semua
warga
> rumah ataupun para tamu, dan buat mereka disajikan makanan di bagian
ini
> pula. Setengah bagian wui, sebaliknya tersembunyi dari bagian duru
tersebut,
> sehingga yang duduk disana takkan melihat apa yang terjadi di bagian
wui
> ini. Segala upacara di loteng lazim dilakukan oleh ina amu (ibu rumah
> tangga), tak boleh tampak oleh siapa pun, berlainan halnya dengan
segala
> upacara di duru yang terbuka bagi siapa saja. Loteng, kegelapan,
> diasosiasikan dengan kesuburan dan perlindungan, jadi buat perempuan.
>
> Konsep ruang tradisional orang Sabu yang begitu kompak, dengan jelas
> mengilustrasikan bahwa sistem wadah/tata ruang tidak sekadar dapat
dipahami
> sebagai respon terhadap rangsangan-rangsangan ekonomis dan biologis
semata,
> melainkan harus mengandung makna dan simbol yang telah disepakati
dalam
> kelompok masyarakat yang bersangkutan tersebut, dimana esensi dari
ruang
> tersebut mencerminkan pandangan hidup, kepercayaan yang dianut,
nilai-nilai
> dan norma-norma yang dipegang. Seperti digambarkan dalam pola
perkampungan
> orang Sabu, ruang-ruang yang ada saling berhubungan dalam suatu sistem
yang
> berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan sosial, ekonomi
maupun
> keagamaan. Bahkan lebih detail dalam contoh rumah tinggal masyarakat
Sabu,
> adanya penegasan dan pembagian ruang yang jelas bagi lelaki dan
perempuan,
> menunjukkan bahwa privasi dan teritorialitas (komponen ruang) sangat
> berkaitan dengan budaya dan lingkungan setempat.
>
> Keunikan suatu daerah jelas berkaitan erat dengan budaya setempat.
> Sayangnya, keunikan tersebut tidak lazim dituangkan dalam penataan
ruang.
> Apabila ahli perencanaan kota/wilayah dimintai merencanakan Sabu, saya
yakin
> mereka tidak akan beranjak jauh dari kondisi fisik dasar, kondisi
fisik
> buatan, kondisi penduduk, kondisi ekonomi, aksesibilitas, dll. Pada
akhirnya
> kita akan disajikan peta berwarna-warni yang mengagumkan (kadang bisa
> membingungkan juga bagi yang tidak mengerti) dengan alokasi ruang dan
jenis
> kegiatan di dalamnya. Dan pola ini secara umum diaplikasikan di semua
> wilayah di Indonesia. Tidak heran apabila kita membaca buku tata ruang
di
> Kabupaten Pacitan, kemungkinan besar akan relatif sama dengan
Kabupaten
> Kupang. Bahkan saya sangat kaget ketika membaca hasil tata ruang salah
satu
> daerah di Afrika yang ternyata sangat mirip dengan tata ruang
Kabupaten
> Malang yang ada pada saya. Gila!
>
> Sebagai suatu kabupaten baru, tentunya Sabu akan mulai giat membangun
untuk
> menunjukan 'identitas'-nya. Selain prioritas pemenuhan kebutuhan utama
> masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan, pembangunan dan penataan
ruang
> Sabu diharapkan dapat mengakomodir budaya orang Sabu. Dengan demikian
akan
> memberikan keunikan tersendiri pada daerah ini. Kira-kira kesan yang
apa
> yang akan muncul apabila 20 atau 30 tahun mendatang dilakukan
penelitian
> tentang 'what is Sabu?' Saya berharap "identitas kultural" Sabu
sebagai
> 'perahu' dan 'makhluk hidup' yang menyatukan ruang wilayah (Pulau
Sabu)
> dengan penduduknya (orang Sabu) sebagai satu kesatuan yang utuh, masih
dapat
> dirasakan dan tidak tergantikan oleh 'identitas fisik' yang tentunya
dapat
> kita temui dimana saja tanpa harus ke Sabu. *
>


Kirim email ke