Benar sekali Prof ATA, saya baru cek Wikimapia. Namun sebenarnya masih
salah juga, masih ada Pulau
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1095>  Pasir
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3066>   (Ashmore
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3235>  Reef
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5711> ) yang lebih
selatan. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], abimanyu takdir alamsyah
<takdi...@...> wrote:
>
> Pak Ekadj ysh,
>
> Kalau menurut koordinat, Pulau Dana adalah pulau di Lintang yang
paling
> Selatan, bukan pulau lainnya. Sama seperti Pulau Benggala adalah di
Bujur
> yang paling Barat, bukan Pulau We/Sabang.
>
> Salam,
> ATA
>
> 2009/5/26 ffekadj 4ek...@...
>
> >
> >
> > Pak DwiAgus ysh, sebenarnya ada sedikit kesalahan dari slogan Pak
SBY,
> > seharusnya bukan dari Miangas sampai Rote, tapi seharusnya dari
Miangas
> > sampai Sabu; karena posisi Sabu lebih selatan dari Rote. Saya belum
sempat
> > ke pulau misterius ini, hanya melihat dari 6000 ft dpl.
Dulu<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5183>
> > pernah saya apresiasi untuk Sabu ini, yang konon pernah menjadi
Lantamal era
> > Majapahit. Mengenai bentuk atap, bila konsepnya perahu terbalik,
kemungkinan
> > sama dengan rumah adat Biak. Bila ada keprihatinan sebagaimana
disebutkan,
> > sangat dimungkinkan mengingat masyarakat Sabu ini terkenal pintar
dan teguh
> > dalam pendirian. Mayoritas pimpinan daerah di NTT berasal dari Sabu.
Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > --- In [email protected], "Benedictus Dwiagus Stepantoro"
> > bdwiagus@ wrote:
> > >
> > > Sepertinya tulisan ini mau bicara soal spatial planning and
spatial use
> > > management berbasis muatan lokal...
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Subject: [Academia NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas?
(Andrey
> > > Damaledo)
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > http://www.pos-kupang.com/index.php?speak=i
> > > <
> >
http://www.pos-kupang.com/index.php?speak=i&content=file_detail&jenis=14\
&id
> > > nya=28020&detailnya=1>
> > &content=file_detail&jenis=14&idnya=28020&detailnya=1
> >
> > >
> > >
> > > Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas?
> > >
> > >
> > >
> > > Oleh : Andrey Y Damaledo
> > >
> > >
> > > PNS pada Pemprop NTT, anggota Forum Academia NTT
> > > Sementara belajar di University of Queensland, Brisbane, Australia
> > >
> > >
> > > SAYA sangat tertarik dengan kisah tujuh kelompok turis asal
Indonesia
> > dari
> > > berbagai latar belakang profesi, pada akhir tahun 1960-an, yang
dimintai
> > > pendapatnya tentang kota Sydney, Australia. Kisah ini adalah
bagian dari
> > > studi Raymond Bunker dalam mengidentifikasi 'What is Sydney?'.
Secara
> > umum,
> > > kesan mereka berkisar pada gedung-gedung bertingkat, kesibukan dan
> > > pergerakan manusia yang tinggi, serta terbatasnya ruang terbuka.
> > >
> > > Selain itu, menurut mereka, Sydney tidak terlepas dari the Harbor
Bridge,
> > > Opera House, Botanical Garden, Hyde Park, Town Hall dan Australia
Square.
> > > Saya membayangkan kalaupun saya dimintai pendapat tentang Sydney,
mungkin
> > > tidak akan jauh berbeda dengan mereka.
> > >
> > > Salah satu kecenderungan utama kita dalam mengidentifikasi suatu
tempat
> > > memang melalui keberadaan bangunan-bangunan monumental yang
menjadi
> > landmark
> > > di daerah tersebut. Tidak heran kenapa pemerintah kita pun
mengalokasikan
> > > anggaran yang cukup proporsional dalam hal konstruksi
bangunan-bangunan
> > yang
> > > dianggap bisa memberikan identitas pada daerahnya. Contohnya,
pembangunan
> > > rumah jabatan Gubernur NTT, pembangunan kantor Bupati Rote Ndao,
> > pembangunan
> > > kantor Bupati Kupang.
> > >
> > > Namun, yang kita sering lupa, kesan terhadap suatu tempat itu
tidak hanya
> > > ditentukan oleh keberadaan bangunan-bangunannya, tapi lebih kepada
> > kenapa'
> > > bangunan-bangunan itu ada di lokasi tersebut. 'Identitas fisik'
seperti
> > > landmark yang megah bisa dibangun dan ditemukan di berbagai
tempat, tapi
> > > keunikan suatu daerah hanya akan muncul apabila kita bisa
memberikan
> > narasi
> > > kenapa sampai dia dibangun pada lokasi yang bersangkutan dan
bagaimana
> > > keterkaitannya dengan lokasi yang lain sebagai suatu sistem ruang.
> > >
> > > Ruang, dalam undang-undang didefinisikan sebagai wadah yang
meliputi
> > ruang
> > > daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai suatu kesatuan
wilayah,
> > tempat
> > > manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta
memelihara
> > > kelangsungan hidupnya. Berdasarkan definisi tersebut, ruang
dilihat
> > sebagai
> > > wadah di mana keseluruhan interaksi sistem sosial (yang meliputi
manusia
> > > dengan seluruh kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya) dengan
ekosistem
> > > (sumber daya alam dan sumber daya buatan) berlangsung. Interaksi
ini
> > tidak
> > > selalu secara otomatis berlangsung seimbang dan saling
menguntungkan
> > > berbagai pihak yang ada karena adanya perbedaan kemampuan,
kepentingan
> > dan
> > > adanya sifat perkembangan ekonomi yang akumulatif. Oleh karena
itu, ruang
> > > perlu ditata agar dapat memelihara keseimbangan lingkungan dan
memberikan
> > > dukungan yang nyaman terhadap manusia serta makhluk hidup lainnya
dalam
> > > melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya secara
optimal.
> > >
> > > Ada dua komponen utama yang membentuk tata ruang, yakni wujud
struktural
> > dan
> > > pola pemanfaatan ruang. Sebagai suatu kegiatan, tata ruang
mempunyai
> > ukuran
> > > kualitas yang bukan semata menggambarkan mutu tata letak dan
keterkaitan
> > > hirarkis, baik antar kegiatan maupun antar pusat, akan tetapi juga
> > > menggambarkan tatanan kehidupan masyarakat yang ada.
> > >
> > > Pada hakekatnya kegiatan penataan ruang memiliki tujuan akhir
berupa
> > > penciptaan lingkungan bermukim yang lebih baik, di mana menetapkan
apakah
> > > suatu lingkungan bermukim tersebut 'baik', 'kurang baik' atau
bahkan
> > 'buruk'
> > > bukanlah suatu pekerjaan yang dengan mudah dapat dilakukan.
Seringkali
> > > pengkategorian kualitas tersebut berkaitan erat dengan konteks
budaya
> > > setempat (Rapoport, 1979), sehingga kualitas baik bagi suatu
kelompok
> > pada
> > > suatu tempat akan berbeda dengan kelompok lain (atau kelompok yang
sama,
> > > pada masa yang berbeda) pada tempat yang sama.
> > >
> > > Dengan demikian, kualitas lingkungan bermukim perlu dipahami dan
dikaji
> > > dalam konteks budayanya, seperti yang telah ditetapkan dan
dimengerti
> > oleh
> > > kelompok yang terlibat dalam pengkajian tersebut (Samadhi, 2004).
Dengan
> > > kata lain, 'apa arti kualitas lingkungan bermukim bagi suatu
kelompok
> > > masyarakat tertentu' merupakan pertanyaan mendasar sebelum
melakukan
> > > kegiatan penataan ruang.
> > >
> > > Saya sangat kagum terhadap orang Sabu dalam hal pemaknaan serta
> > aktualisasi
> > > mereka tentang lingkungan mereka. Masyarakat Sabu, menurut Nico L.
Kana,
> > > dalam bukunya Dunia Orang Sawu (1983), memiliki makna khusus yang
> > diberikan
> > > terhadap pulaunya. Ada dua lambang yang digunakan masyarakat Sabu
> > terhadap
> > > pulau mereka -Rai Hawu- yaitu lambang perahu dan lambang makhluk
hidup.
> > >
> > > Sebagai perahu, maka pulau tersebut dibedakan ke dalam dua bagian
:
> > Mahara,
> > > di sebelah barat dan yang secara geografis memiliki topografi
> > berpegunungan,
> > > dipandang sebagai bagian anjungan perahu, dan disebut duru rai
(duru =
> > > anjungan perahu; rai = tanah); Sedangkan Dimu di timur dan
memiliki lebih
> > > banyak dataran rendah, dipandang sebagai buritan perahu dan
disebut wui
> > rai
> > > (wui = alas atau buritan perahu).
> > >
> > > Sebagai makhluk hidup, tanah Sabu dipandang berada dalam kedudukan
> > membujur,
> > > kepala di barat dan ekor di timur. Bahkan rai-rai pun digolongkan
> > demikian
> > > : Tanah Mahara yang letaknya paling barat adalah kepala tanah Sabu
atau
> > katu
> > > rai Hawu (katu = kepala). Tanah Haba dan Tanah Liae, masing-masing
> > sebagai
> > > dada, kodo dan dalu (= perut); Sedangkan Tanah Dimu adalah rulai
(=
> > ekor).
> > >
> > > Berdasarkan pemaknaan tersebut di atas, masyarakat Sabu membangun
> > > perkampungan Sabu (=rae atau rae kowa, kampung atau kampung
perahu) yang
> > > terdapat di punggung-punggung bukit dan dikelilingi pagar karang
atau
> > batu.
> > > Bentuknya elips atau empat persegi panjang dengan keempat sudutnya
> > > melengkung. Pada kedua sisi melebarnya ada dua gerbang, yang di
timur
> > > disebut toka dimu dan yang di barat toka wa, diasosiasikan dengan
terbit
> > > dan terbenamnya matahari. Bila demikian berarti mengikuti ungkapan
penau
> > nga
> > > ngi'u rai (= mengikuti tubuh pulau) yakni memanjang seperti letak
pulau
> > > Sabu.
> > >
> > > Di tengah kampung terdapat lapangan kampung (telora = tengah)
dengan nada
> > > rae (= altar kampung, tempat upacara), berupa susunan batu yang
> > melingkari
> > > batang pohon. Sedangkan di antara batu altar itu ada tiga batu
upacara,
> > > masing-masing Wowadu Rai Bala (= Batu Bumi Lebar), Wowadu Riru
Bala (=
> > Batu
> > > Langit Lebar) dan Wowadu Dahi Bala (= Batu Laut Lebar).
> > >
> > > Rumah-rumah di dalam kampung dibangun berderetan menurut sisi
panjang
> > > kampung. Hanya jika lingkungan geografis tidak memungkinkan, maka
letak
> > > kampung memanjang secara selatan-utara. Dalam hal tersebut letak
rumah
> > > senantiasa tetap memenuhi ketentuan persyaratan adat.
> > >
> > > Robert Riwu Kaho (2005) dalam bukunya Orang Sabu dan Budayanya
> > menguraikan
> > > tentang asal mula rumah Orang Sabu,
> > > "Sabu Mau dan keluarganya tiba di Pulau Sabu dan merasa kerasan di
pulau
> > itu
> > > sehingga memilih untuk menetap. Setelah mendarat, perahu-perahunya
> > dibalik
> > > untuk dijadikan rumah sementara, kemudian dibangunlah rumah
kediaman
> > tetap
> > > yang bentuknya menyerupai perahu yang terbalik, itulah sebabnya
maka
> > rumah
> > > adat asli Sabu (Emmu Hawu) berbentuk seperti perahu yang
terbalik."
> > >
> > > Nico Kana secara lebih detail menjelaskan bahwa baik bentuk maupun
nama
> > > bagian-bagian tertentu dari rumah orang Sabu menyatakan asosiasi
dengan
> > > makna yang terkandung dalam perahu. Rumah mempunyai duru
(anjungan) dan
> > wui
> > > (buritan); balok-balok alas balai-balai dipotong mirip anjungan
perahu.
> > > Istilah gela digunakan baik untuk menyebut tiang dalam loteng
maupun
> > tiang
> > > layar perahu; sementara istilah roa menunjuk baik kepada bagian
dalam
> > atap
> > > rumah maupun kepada bagian dalam badan perahu.
> > >
> > > Atas dasar pembagian ke dalam duru dan wui seperti disebutkan
sebelumnya,
> > > rumah dibagi dalam setengah bagian 'lelaki' dan sisanya lagi
'perempuan'.
> > > Kegiatan kaum lelaki berlangsung di duru; kegiatan warga perempuan
di
> > wui.
> > > Hal ini menunjukkan prinsip struktural yang benar-benar sentral
dalam
> > budaya
> > > masyarakat Sabu.
> > >
> > > Posisi lain yang terkandung dalam pembagian duru-wui adalah
terang-gelap,
> > > terbuka dan tertutup. Setengah rumah bagian duru terbuka buat
semua warga
> > > rumah ataupun para tamu, dan buat mereka disajikan makanan di
bagian ini
> > > pula. Setengah bagian wui, sebaliknya tersembunyi dari bagian duru
> > tersebut,
> > > sehingga yang duduk disana takkan melihat apa yang terjadi di
bagian wui
> > > ini. Segala upacara di loteng lazim dilakukan oleh ina amu (ibu
rumah
> > > tangga), tak boleh tampak oleh siapa pun, berlainan halnya dengan
segala
> > > upacara di duru yang terbuka bagi siapa saja. Loteng, kegelapan,
> > > diasosiasikan dengan kesuburan dan perlindungan, jadi buat
perempuan.
> > >
> > > Konsep ruang tradisional orang Sabu yang begitu kompak, dengan
jelas
> > > mengilustrasikan bahwa sistem wadah/tata ruang tidak sekadar dapat
> > dipahami
> > > sebagai respon terhadap rangsangan-rangsangan ekonomis dan
biologis
> > semata,
> > > melainkan harus mengandung makna dan simbol yang telah disepakati
dalam
> > > kelompok masyarakat yang bersangkutan tersebut, dimana esensi dari
ruang
> > > tersebut mencerminkan pandangan hidup, kepercayaan yang dianut,
> > nilai-nilai
> > > dan norma-norma yang dipegang. Seperti digambarkan dalam pola
> > perkampungan
> > > orang Sabu, ruang-ruang yang ada saling berhubungan dalam suatu
sistem
> > yang
> > > berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan sosial, ekonomi
maupun
> > > keagamaan. Bahkan lebih detail dalam contoh rumah tinggal
masyarakat
> > Sabu,
> > > adanya penegasan dan pembagian ruang yang jelas bagi lelaki dan
> > perempuan,
> > > menunjukkan bahwa privasi dan teritorialitas (komponen ruang)
sangat
> > > berkaitan dengan budaya dan lingkungan setempat.
> > >
> > > Keunikan suatu daerah jelas berkaitan erat dengan budaya setempat.
> > > Sayangnya, keunikan tersebut tidak lazim dituangkan dalam penataan
ruang.
> > > Apabila ahli perencanaan kota/wilayah dimintai merencanakan Sabu,
saya
> > yakin
> > > mereka tidak akan beranjak jauh dari kondisi fisik dasar, kondisi
fisik
> > > buatan, kondisi penduduk, kondisi ekonomi, aksesibilitas, dll.
Pada
> > akhirnya
> > > kita akan disajikan peta berwarna-warni yang mengagumkan (kadang
bisa
> > > membingungkan juga bagi yang tidak mengerti) dengan alokasi ruang
dan
> > jenis
> > > kegiatan di dalamnya. Dan pola ini secara umum diaplikasikan di
semua
> > > wilayah di Indonesia. Tidak heran apabila kita membaca buku tata
ruang di
> > > Kabupaten Pacitan, kemungkinan besar akan relatif sama dengan
Kabupaten
> > > Kupang. Bahkan saya sangat kaget ketika membaca hasil tata ruang
salah
> > satu
> > > daerah di Afrika yang ternyata sangat mirip dengan tata ruang
Kabupaten
> > > Malang yang ada pada saya. Gila!
> > >
> > > Sebagai suatu kabupaten baru, tentunya Sabu akan mulai giat
membangun
> > untuk
> > > menunjukan 'identitas'-nya. Selain prioritas pemenuhan kebutuhan
utama
> > > masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan, pembangunan dan
penataan
> > ruang
> > > Sabu diharapkan dapat mengakomodir budaya orang Sabu. Dengan
demikian
> > akan
> > > memberikan keunikan tersendiri pada daerah ini. Kira-kira kesan
yang apa
> > > yang akan muncul apabila 20 atau 30 tahun mendatang dilakukan
penelitian
> > > tentang 'what is Sabu?' Saya berharap "identitas kultural" Sabu
sebagai
> > > 'perahu' dan 'makhluk hidup' yang menyatukan ruang wilayah (Pulau
Sabu)
> > > dengan penduduknya (orang Sabu) sebagai satu kesatuan yang utuh,
masih
> > dapat
> > > dirasakan dan tidak tergantikan oleh 'identitas fisik' yang
tentunya
> > dapat
> > > kita temui dimana saja tanpa harus ke Sabu. *
> > >
> >
> >
>


Kirim email ke