Pak Risfan, sebenarnya saya hanya meneruskan gagasan Pak Jauhari Sumintardja 
dalam bukunya yang sudah kuno tentang sejarah arsitektur. Dalam buku itu beliau 
mengatakan untuk menuliskan sejarah arsitektur mbokya jangan mulai dari 
arsitektur barat tetapi mulailah dari arsitektur yang ada di Indonesia. Saya 
kira ini bukan sikap permusuhan atau anti budaya lain melainkan mencoba 
menggeser peta bumi sejarah dari Eropasentrisme ke Indonesia-sentrisme dengan 
sikap tidak dengan kacamata sempit. Jika ada profesor Jepang yang membangun 
pengetahuan dengan tema "non-western" architectur tentu ini bukan anti western, 
melainkan perhatian perlu ditingkatkan pada tema itu karena memang ada harta 
karun di sana ! Keterbatasan warisan lokal tentu siap didialogkan dengan 
warisan budaya dari manapun untuk dikaji bersama dalam sikap hormat yang sama, 
sebab kadang kita terlalu mengagungkan yang satu dan meremehkan yang lain....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 5/28/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)
To: [email protected]
Date: Thursday, May 28, 2009, 9:05 AM











    
            
            


      
      Pak Djarot dan rekans ysh.,
 
Saya mengikuti diskusi "identitas lokal" ini, smbil mencoba memahami yang Uda 
Ekadj sebut "antrhopo-spatial" . Tapi saya agak terganjal kata pak Djarot yang 
seperti anti konsep/teori luar/barat. Menurut saya kalau ilmunya, pisau 
analisisnya kan bisa dari mana saja, dari bumi maupun langit. Tapi yang kita 
gali dan hidupkan content budaya, kearifan lokal.
 
Ilmu antropologi, arsitektur, planning kan kita pelajari dari mana pun. Tapi 
planning/arsitektur standar, style, content dengan ilmu itu kita gali dari 
lokal.
 
Kita juga mesti hati-hati pula dengan obsesi berlebihan atas sesuatu yang 
lokal. Sampai diman, atau apa kriterianya. Mana batas keunikan daerah/etnis, 
mana ke-Indonesia- an. Kalau keterusan, jangan-jangan kita kembali ke peradaban 
lama. Jangan-jangan "suku lain" dianggap musuh.
 
Apakah begitu?
 
Salam,
Risfan Munir
 
 


--- On Wed, 5/27/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 27, 2009, 7:14 PM








Mas Dwiagus, dalam beberapa tahun ini (sejak 2001) saya mengikuti kiprah senior 
saya Pak Sudaryono dari UGM yang mencoba mengembangkan RUANG LOKAL sebagai 
mainstream dalam perencanaan tata ruang. Coba diperhatikan, apakah selama ini 
ada acuan yang jelas dalam planning yang menggarap keunikan-keunikan lokal 
seperti di Sabu ? Kami mencoba menyodorkan bahwa fenomena ruang lokal menyimpan 
konsep-teori yang dibutuhkan untuk pembangunan lokal. Untuk menata Sabu 
semestinya pertama kali ya mencoba mengangkat konsep-teori yang pernah 
berkembang di kalangan masyarakat lokal kemudian digunakan sebagai acuannya. 
Tentu tindakan ini dilandasi oleh sikap hormat pada keunikan lokal dan menjauhi 
tradisi silau terhadap konsep-teori dari dunia lain  (teori-teori ahli dari 
luar). Pesannya, kita jangan silau oleh teori dari "barat" sebab di lokal 
sendiri tersimpan jutaan teori warisan nenek-moyang yang masih tersembunyi dan 
menunggu digali kemudian
 digunakan untuk menata ruang kehidupan lokal. Sikap saya ini adalah berusaha 
menghargai teori-teori lokal sejajar dengan teori-teori dalam wacana teksbook 
di perguruan tinggi yang dibangun oleh ahli-ahli luar dan kadang menjadi idola 
di kalangan mahasiswa karena para dosennya mengidolakan. Jadi bukan meremehkan 
apapun dan siapapun supaya kita sunggun jernih melihatnya dan menemukan mutiara 
yang dicari.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 5/27/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> wrote:


From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, May 27, 2009, 2:41 PM






Pak Eka dan Pak Djarot yang berboedi,…
 
Sebenarnya, proses yang pakem seperti apa sih dalam penataan ruang yang mencoba 
menggali kearifan lokal yang sebenarnya mungkin sudah tau bagaimana 
memanfaatkan ruang mereka dengan bijak dan benar,…. Penataan ruang seperti apa 
yang mampu menegaskan identitas lokalnya?
Ada contoh? Biar teman-teman di kabupaten Sabu yang baru terbentuk ini bisa 
terinspirasi
 
salam
 

Regards,
 dwiagus 
http://bdwiagus. blogspot. com
http://bdwiagus. multiply. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com 
Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. 
php?gid=34091848 127&ref=ts 
 


From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of Djarot Purbadi
Sent: 27 May 2009 04:26
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas? (Andrey 
Damaledo)
 










      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke