Benar Pak Risfan, perlu arif dalam mengembangkan adat budaya kita. Namun
perlu disadari bila republik ini berdiri atas pengakuan masyarakat adat,
namun hingga sekarang belum tersedia kebijakan untuk memberikan uang (:
anggaran) kepada kelompok masyarakat ini agar dapat mengembangkan adat
budayanya untuk tumbuh dengan baik. Karena 'neolib' ataukah karena
'kerakyatan'? Sudah ada perjuangan di Sumatera Barat untuk meminta 1%
APBD untuk diserahkan kepada lembaga-lembaga adat.

Bila sedikit dikasih kesempatan, sebenarnya mereka hanya berkata
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/964>  : kami mampu
berdiri, mengatur sendiri, dan mengembangkan pembangunan dengan
cara-cara kami sendiri. Namun tolonglah sedikit dikasih angin ...

Salam,

-ekadj


--- In [email protected], Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Pak Djarot dan rekans ysh.,
> Â
> Saya mengikuti diskusi "identitas lokal" ini, smbil mencoba memahami
yang Uda Ekadj sebut "antrhopo-spatial". Tapi saya agak terganjal kata
pak Djarot yang seperti anti konsep/teori luar/barat. Menurut saya kalau
ilmunya, pisau analisisnya kan bisa dari mana saja, dari bumi maupun
langit. Tapi yang kita gali dan hidupkan content budaya, kearifan lokal.
> Â
> Ilmu antropologi, arsitektur, planning kan kita pelajari dari mana
pun. Tapi planning/arsitektur standar, style, content dengan ilmu itu
kita gali dari lokal.
> Â
> Kita juga mesti hati-hati pula dengan obsesi berlebihan atas sesuatu
yang lokal. Sampai diman, atau apa kriterianya. Mana batas keunikan
daerah/etnis, mana ke-Indonesia-an. Kalau keterusan, jangan-jangan kita
kembali ke peradaban lama. Jangan-jangan "suku lain" dianggap musuh.
> Â
> Apakah begitu?
> Â
> Salam,
> Risfan Munir
> Â
> Â
>
>
> --- On Wed, 5/27/09, Djarot Purbadi dpurb...@... wrote:
>
>
> From: Djarot Purbadi dpurb...@...
> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus
Identitas? (Andrey Damaledo)
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, May 27, 2009, 7:14 PM
>
> Mas Dwiagus, dalam beberapa tahun ini (sejak 2001) saya mengikuti
kiprah senior saya Pak Sudaryono dari UGM yang mencoba mengembangkan
RUANG LOKAL sebagai mainstream dalam perencanaan tata ruang. Coba
diperhatikan, apakah selama ini ada acuan yang jelas dalam planning yang
menggarap keunikan-keunikan lokal seperti di Sabu ? Kami mencoba
menyodorkan bahwa fenomena ruang lokal menyimpan konsep-teori yang
dibutuhkan untuk pembangunan lokal. Untuk menata Sabu semestinya pertama
kali ya mencoba mengangkat konsep-teori yang pernah berkembang di
kalangan masyarakat lokal kemudian digunakan sebagai acuannya. Tentu
tindakan ini dilandasi oleh sikap hormat pada keunikan lokal dan
menjauhi tradisi silau terhadap konsep-teori dari dunia lain 
(teori-teori ahli dari luar). Pesannya, kita jangan silau oleh teori
dari "barat" sebab di lokal sendiri tersimpan jutaan teori warisan
nenek-moyang yang masih tersembunyi dan menunggu digali kemudian
digunakan untuk menata
> ruang kehidupan lokal. Sikap saya ini adalah berusaha menghargai
teori-teori lokal sejajar dengan teori-teori dalam wacana teksbook di
perguruan tinggi yang dibangun oleh ahli-ahli luar dan kadang menjadi
idola di kalangan mahasiswa karena para dosennya mengidolakan. Jadi
bukan meremehkan apapun dan siapapun supaya kita sunggun jernih
melihatnya dan menemukan mutiara yang dicari.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Wed, 5/27/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@gmail.
com> wrote:
>
>
> From: Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@gmail. com>
> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus
Identitas? (Andrey Damaledo)
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, May 27, 2009, 2:41 PM
>
>
>
>
>
>
> Pak Eka dan Pak Djarot yang berboedi,…
> Â
> Sebenarnya, proses yang pakem seperti apa sih dalam penataan ruang
yang mencoba menggali kearifan lokal yang sebenarnya mungkin sudah tau
bagaimana memanfaatkan ruang mereka dengan bijak dan benar,….
Penataan ruang seperti apa yang mampu menegaskan identitas lokalnya?
> Ada contoh? Biar teman-teman di kabupaten Sabu yang baru terbentuk ini
bisa terinspirasi
> Â
> salam
> Â
>
> Regards,
> Â dwiagus
> http://bdwiagus. blogspot. com
> http://bdwiagus. multiply. com
> Â
> "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing
and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H.
White
> Â
> :::... Indo-MONEV ...:::
> Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised
to the work on monitoring and evaluation and other related development
issues including development aid works, particularly in Indonesia.
> Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com
> Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group.
php?gid=34091848 127&ref=ts
> Â
>
>
> From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com]
On Behalf Of Djarot Purbadi
> Sent: 27 May 2009 04:26
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: Re: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus
Identitas? (Andrey Damaledo)
> Â
>


Kirim email ke