Coba menanggapi soal “cerita lain”….... kalau soal ijin pemberinya adlh Dinas Perdagangan (diawali adanya permohonan izin usaha sbg syarat) … rasanya Dinas tsb tak hrs tinjau kelokasi spt utk maksud lihat apkh diradius tertentu dr pemohon izin tlh ada brp banyak usaha serupa)….. Kalaupun ibu Arini tak mau persoalkan hal “persaingan” dan lbh berminat pd soal pemberian izin…. Sebenarnya ya sami mawon…. Pemberian izin rame2 itu khan akhirnya dikhawatirkan bermuaranya ke praktek persaingan yg ketat juga……. Kalo coba lht anatomi kedua jenis usaha tsb katakanlah utk mudahnya antara yg ‘kapitalis’ dan ‘kerakyatan’….… atau sebenarnya kalau mau lbh lengkap…. setdknya trdpt 2 mcm usaha eceran disisi kerakyatan berupa toko dikampung dan dipasar tradisional……dan disisi kapitalis ada kelas minimrt spt Indomaret dkk serta dikelas raksasa spt Hero, Giant, Carre4, Superindo, Hypermart dsb…… Semuanya pd dsrnya tlh miliki pasarnya masing2…… dan persamaannya adlh… semuanya adlh sama2 ‘pasar’.. ..semuanya adlh sama2 fungsi penyalur barang2 produk industri manufaktur, dimana dibelakang itu scr nasional hidup ratusan ribu karyawan serta jutaan keluarga diblkgnya serta ribuan perusahaan manufaktur yg adlh para pembayar pajak….. Kalau melihat (dikota) dari sisi ‘usaha kerakyatan’ vs minimarket modern spt Indomaret cs….bhkn melawan giant supermarkets… kita seolah melihat sepintas toko2 kerakyatan sbg pihak yg dizalimi……pdhal tak sepenuhnya demikian…….. Kita tahu kota2 tak semua wilayahnya mampu dijangkau oleh mini market/ supermarket….. kampung2 dgn jalan sempit yg mobil tak bisa lewat akan semakin krg ekonomis utk lokasi minimarkets modern…. disitu peran toko serta waserba kerakyatan menjadi lbh dominan…… semakin lbh kedlm kampung lagi dimana gang2 tlh mulai menyempit menjadi 1 meter…. Minimarket semakin tak ada dan peran2 warung super kecil kerakyatan dgn barang2 dagangan yg tak lengkap menjadi lbh dominan…… faktor jarak kembali berbicara…. Konsumen akan membeli jenis barang yg sama dgn harga yg sama ditempat yg lbh dekat……. Dari sisi konsumen sbg warga dikota….. kalau konsumen mendapatkan bhw toko2 kerakyatan terdekat menjual barang2 secara tak lengkap….. seperti misalnya konsumen ingin beli minyak goreng atau detergent dgn packing besar 1kg atau merk tertentu shampo/ pasta gigi tapi tak ada…… dan konsumen spt diatur utk hrs membeli brg yg ada disitu dan baru boleh membeli yg tak ada ketoko besar….. itu jg namanya mendzalimi konsumen juga….. Mengulas peran dan posisi toko kerakyatan dikota yg sering dikatakan didzalimi oleh minimarket dan supermarket modern…... sebenarnya minimarket kelas Indomart dkk. dgn modal franchise yg tak sedikit jg dpt dikatakan didzalimi oleh supermarket besar jg….. krn banyak ibu2 RT kelas menengah atas berbelanja bulanan kesupermarket besar (krn bisa pake kartu kredit segala)… dan hanya membeli kekurangan2nya dlm jumlah2 kecil keminimarket terdekat … dan utk sayur2an segar mereka jg msh banyak tak beli kemini/ supermarket…. Tapi ketukang sayur keliling….. … Yg jelas usaha2 ‘lbh formal minimarkets itu hrs punya NPWP (jadi bayar pajak)… sering bukan bosnya sendiri yg kelola operasional toko… tapi pakai karyawan dan gaji….sejak dari kasir, bag. floor sampai bag. Gudang hingga total karyawan bisa 4, 5, 6 orang atau lbh (jd ada peran perluasan kesempatan kerja jg)…… smntr itu usaha toko kerakyatan kdg ada yg lsg saja operasional tanpa pakai izin usaha ... maka jg tak byr pajak….. toko ‘kapitalis’ krn bersifat franchise memakai standar bangunan dan interior yg relatif mahal (maka sekaligus meramaikan pasar industri bahan bangunan modern… jd ada peran multiplier effect jg)……. Toko kerakyatan sering tak lengkap barangnya…. Jd dari sisi konsumen dirasa krg ideal…. toko wrlaba spt indomaret (kapitalis?) relatif lbh lengkap barangnya…. Jd utk situasi tertentu lbh disuka…… tapi jg tak selalu semua minimarket rame pembeli jg…..… bahkan yg dekat dgn pasar tradisional sekalipun sering sepi juga…... Sebenarnya melihat situasi yg ada….. warung/ toko kerakyatan dikota bisa memperkuat perannya dgn cara memperbaikinya…. Spt utamanya selain menjual brg yg sama dgn minimarket…..perlu jg menjual apa yg tak dpt dijual oleh mini/supermarket besar… spt katakanlah ikan segar hidup, sayuran segar, ikan asin, kelapa dan jasa memarut dgn mesin, jasa membuat tepung beras dgn mesin, barang masakan spt laukpauk sate, soto, barang kudapan khas seperti rujak, kolak, gado2, gorengan, kue basah dsb…. atau sekalian dibidang yg berbeda spt misalnya berbagai macam industri kecil kerajinan… sering malah dgn bahan2 baku limbah… dan malah bisa berpeluang ekspor…… Keunggulan dari toko2/ warung2 kerakyatan dapat dioperasikan oleh hampir siapa saja anggota keluarga dirumah seperti kakek/ nenek/ ibu/ adik2 kecil… sementara itu para pemuda dan pemudi dari toko kerakyatan yg tak berpendidikan terlalu tinggi bisa bekerja disupermarket/ minimarket/ di industri barang2 produk minimarket/ jadi artis dsb… dgn pendapatan/ gaji yg pasti…… Jadi yg paling penting bukan terus melirik dan mengerutkan dahi lalu berpikir apakah ini kerakyatan atau neolib (pdhal yg pertama2 menghembuskan isu neolib dan pdhal kayaraya itu jg tak mungkin mendapatkan kekayaannya dgn cara perekonomian kerakyatan) ……. Jd yg penting sebenarnya adlh bgmn caranya agar semua anggota masyarakat harus sebanyak2nya dpt bekerja dan memiliki penghasilan……. sehingga masyarakat luas mampu memiliki daya beli……. Dgn demikian semua jasa2 komersial itu akan ada saja yg membelinya…….. Salam,
--- On Thu, 6/18/09, arinynta <[email protected]> wrote: From: arinynta <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. To: [email protected] Date: Thursday, June 18, 2009, 9:53 PM Saya mau menanggapi soal "cerita lain", karena itu betul terjadi di dekat rumah saya, yang kebetulan sama dengan area masa lawas pak IS. Di sebuah pertigaan di jalan yang kini sudah makin ramai, berhadap-2an 3 gerai Alfamart, Alfa Midi dan Indomaret. Nah di antara mereka ada sebuah toko kelontong, dengan isi jualan yang tak beda dgn tiga gerai baru tersebut. Tidak jauh, skitar 150 meter juga terdapat dua toko kelontong serupa. Saya tidak mau mempersoalkan hal "persaingan" , kan katanya kita sudah memasuki pasar bebas, jadi siapa saja boleh dan bisa masuk ke pasar. Tapi yang saya mau tanyakan bagaimana ijin itu bisa keluar? Siapa sebenarnya yang memberi ijin? salam nita From: "isoedradjat@ yahoo.com" <isoedradjat@ yahoo.com> To: refere...@yahoogrou ps.com Sent: Thursday, June 18, 2009 9:37:19 Subject: [referensi] Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. Dear referencies. Saya dapat cerita dari teman yg ketamuan kerabatnya dari kampung pinggir kota dan menginap dirumahnya. Kerabat ini membawa anak kecil kurus berumur delapan tahun. Hari pertama, waktu makannya malam, teman ini menawarkan makan kepada kerabatnya khususnya kepada anak kecilnya. Apa jawab si anak? Menolak makan dan dia bingung kho malam disuruh makan! Tukas anaknya, kan udah makan "tadi siang". Kenapa? Astagfirullah. Anak ini rupanya tdk biasa makan malam, terbiasa makan hanya 1 kali dlm sehari, siang saja! Teman ini terenyuh dan berlinang air mata. Ya Allah, beginikah kehidupan kerabatku, yg dulu sahabatku, aku tahu masa kecil sahabatku, dulu serba cukup. Keluarga kerabat ini hanya representatif dari jutaan orang miskin Indonesia, yg mungkin sdh terbiasa makan 1 kali sehari atau pola pola hidup miskin lainnya untuk bisa bertahan hidup dibumi Nusantara yg katanya kaya raya. Teman dr BKKBN cerita, bahwa puluhan juta Balita di Indonesia malnutrisi alias kekurangan gizi, yg berakibat pertumbuhan otak anak anak tdk dpt optimal, artinya perkembangan IQnya akan dibawah rata2, dan biasanya orang ini , kemampuan edukasinya lemahn tdk bisa sampai pada level manajerial, alias hanya bisa bekerja sebagai pegawai rendahan, buruh, pembantu, tukang sapu dan selevelnya. Inilah nanti modal bangsa Indonesia kelak sebagai penerus bangsa, mudah2an tdk sbg pensupply TKI terus. Cerita lain. Dulu tahun awal 90an, saya sering belanja kebutuhan sehari hari di toko toko kecil di pasar Ciputat. Belanja bisa tawar menawar, sambil silaturakhmi bahkan bisa utang. Toko2 ini maju dan semakin banyak variasi barang dagangan yg dijual, iklim usaha waktu itu sehat. Kemudian.... ..,,, tdk jauh dr pasar di bangun Ramayana Dept. Store, yg menyediakan barang sama percis yang ada di toko toko kecil itu, yg temtunya dgn barang jualan dgn kualitas lbh baik, tempat lebih nyaman dan harga yang lebih murah. Kini, masih ada toko toko yg bertahan, namun sebagian besar tutup gulung tikar beralih ke usaha usaha lain. Kejadian-kejadian sepertinya akan terus bergulir. Sekarang, di jalan kecil, gang dan sudut2 lain menjamur toko toko swalayan kecil seperti Alfa, Indomart, Cirkle K dan lainnya, yg tak lain adalah toko waralaba dr perusahaan2 besar/konglomerat dan jangan2 modal Neolib. Neolib masuk lorong-lorong kampung???!! ! Entah kelak nasib toko2 kelontong Haji Ali, Bang Samiun, warung2 Mpok Minah, Mbok Sinem, Bariah, Ceu Kokom, Uni Ulis, Inang Butet, dan sejenisnya, bangkrut? Atau sekadar bertahan, ala kadarnya? Inget, waktu kita penanganan masyarakat miskin yg terkena krisis? Untuk, meningkatkan income, masyarakat diminta untuk memproduksi makanan-makanan ringan, snack dlnya ut dijual dan dikonsumsi masyarakat dgn harapan ada perputaran uang di masyarakat sendiri. Setelah produksi, snack tsb ngga laku, krn kalah bersaing dgn Chicky, Taro, Oreo, Biskuat dsb yg lebih enak dan lebih murah. Yah gimana tuh. Program kita sering terlalu asyik menaburi pakan dan "kail" pada teri-teri yg tak berdaya, tapi lupa mengurusi Kakap-Kakap yg akan melahap teri-teri yg kita openi. Kadang saya kepikir tugas pokok dan fungsi MenKo Kesra dan Menko Perekonomian perlu ditukar. MenkoKesra ngurus yg besar2, Menko Perekonomian ngurus yg kecil, lebih bagus kali yeee! Tabek Juragan. Powered by Telkomsel BlackBerry® ------------ --------- --------- ------ Komunitas Referensi http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links Get your preferred Email name! Now you can @ymail.com and @rocketmail. com.

