Uda Eka dan Rekans ysh, Kita jangan terjebak istilah dalam kampanye. Istilah baku UMKM sesuai UU 20/2008 tentang UMKM kiranya sudah cukup jelas. Tambahan untuk Usaha Mikro, juga mencakup usaha yang sebetulnya informal. Implikasi UU itu ke pembinaan pemerintah oleh daerah, perbankan dst sudah lebih definitif. Soalnya bukanlah definisi, tapi bagaimana bisa bertindak memberi dukungan kepada mereka dalam manajamen, produksi, keuangan, pemasaran, kemitraan horizontal, vertikal. Supaya mereka bisa mengorganisir diri, bebas dari cengkeraman tengkulak, lintah-darat, "pemalak".
Soal definisi ekonomi kerakyatan yang dikatakan peserta kampanye, lebih baik kita tanyakan ke mereka setelah Juli 8, mudah-mudahan masih ingat. Soal anti neo-liberal juga tidak terlalu jelas, karena kok tidak ada di antara mereka yang mempertanyakan secara serius kebijkan liberalisasi perbankan, liberalisasi modal asing, liberalisasi perdagangan yang berlaku selama ini yang diterapkan hampir semua rezim. Kita tunggu. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote: > > > Pak Iman, Pak Aby, Pak ATA, dkk ysh. > > Mohon kiranya dapat diidentifikasi kelompok-kelompok yang masuk dalam > ekonomi kerakyatan ini, supaya penanganan dan pengembangannya dapat > lebih fokus/terpisah. Mungkin ciri umumnya adalah : pelakunya miskin dan > mandiri. > > Pedagang tradisional : pedagang yang menempati lapak-lapak usaha di > pasar-pasar tradisional, dengan jenis usaha: sembako, tekstil murah, > perlengkapan rumah tangga, barang-barang bekas, dll. Pada musim kampanye > kemarin, kelompok ini paling sering dikunjungi oleh para > capres/cawapres. > > Pedagang kaki lima : pedagang yang menempati lapak-lapak temporer di > ruang-ruang publik, dan termasuk di dalamnya yang bergerak secara > mobile. Beberapa di antaranya : pedagang asongan, makanan, mainan, dll. > Pada musim-musim tertentu para pedagang ini sering dikunjungi oleh > Satpol PP. > > Pedagang illegal : pedagang yang tidak memiliki izin usaha, tidak > membayar pajak, termasuk juga menjual barang-barang haram; dapat > berusaha di ruang-ruang publik maupun privat. Beberapa di antaranya : > pedagang asongan, ibu-ibu yang nyambi jualan pada waktu arisan, pedagang > narkoba, usaha rumah tangga, nelayan merangkap pedagang di tengah laut, > lobbiest, pedagang suara, dll. > > Yang agak sulit pengelompokannya seperti sales door-to-door, pedagang > jasa (buruh garuk), dlsb. > > Mohon pencerahannya lebih lanjut, khususnya dalam rangka pengembangan > ekonomi bejo-ajo-inang-daeng kita. Salam. > > -ekadj > > > --- In [email protected], hengky abiyoso <watashiaby@> wrote: > > > > ++++: Saya dapat cerita dari teman yg ketamuan kerabatnya dari kampung > pinggir kota dan menginap dirumahnya. Kerabat ini membawa anak kecil > kurus berumur delapan tahun. Hari pertama, waktu makannya malam, > teman ini menawarkan makan kepada kerabatnya khususnya kepada anak > kecilnya. Apa jawab si anak? Menolak makan dan dia bingung kho malam > disuruh makan! Tukas anaknya, kan udah makan "tadi siang". > > Kenapa? Astagfirullah. Anak ini rupanya tdk biasa makan > malam, terbiasa makan hanya 1 kali dlm sehari, siang saja! > Teman ini terenyuh dan berlinang air mata. Ya Allah, beginikah kehidupan > kerabatku, yg dulu sahabatku, aku tahu masa kecil sahabatku, dulu serba > cukup. > > Keluarga kerabat ini hanya representatif dari jutaan orang miskin > Indonesia, yg mungkin sdh terbiasa makan 1 kali sehari atau pola pola > hidup miskin lainnya untuk bisa bertahan hidup dibumi Nusantara yg > katanya kaya raya. > > >>>>: Teman bpk itu seharusnya jangan2 buru2 meneteskan airmata dulu > pakâ¦â¦ siapa tahu cara makan 1 kali sehari disiang hari adlh > bagian dari kearifan lokal dari para leluhur kita dulu yg malah perlu > dilestarikanâ¦â¦. Terbukti makan kelebihan jadi obesitas, > kolesterol, stroke, jantung dsb⦠malah minum susupun menurut > Prof. Hiromi Shinya, penulis buku laris The Miracle of Enzyme katanya, > susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk > manusiaâ¦â¦â¦.... > >  > > ++++: Teman dr BKKBN cerita, bahwa puluhan juta Balita di Indonesia > malnutrisi alias kekurangan gizi, yg berakibat pertumbuhan otak anak > anak tdk dpt optimal, artinya perkembangan IQnya akan dibawah rata2, dan > biasanya orang ini , kemampuan edukasinya lemahn tdk bisa sampai > pada level manajerial, alias hanya bisa bekerja sebagai > pegawai rendahan, buruh, pembantu, tukang sapu dan selevelnya. > Inilah nanti modal bangsa Indonesia kelak sebagai penerus bangsa, > mudah2an tdk sbg pensupply TKI terus. > > >>>>>: Pak Imanâ¦.. dulu ada presiden kita yg memerintah bahkan > lbh dari 30 tahun dan keluarganya kayaknya tak pernah kurang > giziâ¦â¦ tapi kok rekor edukasi anak2nya pada nggak tinggi juga > ya?......:--)).. tapi emang iya siihâ¦. Biar gitu kemampuannya utk > menghitung dan memiliki duit ternyata pd diatas level manajerial jg > siihâ¦â¦.:--)) > >  > > +++++: Cerita lainâ¦â¦.. > > >>>>>: > >  > > Salam, >

