I couldn't aggree more pak Rofik. Intinya memang kita harus kembali kepada
konstitusi, bukan substansi konstitusi yang diplintir. Kebijakan energi kita
sekarang ini adalah hasil pelintiran amandemen UUD 1945. Apa nggak sedih pak
melihat Tarakan kekurangan gas untuk listrik, padahal Tarakan sendiri mampu
memproduksi minimal 5 MMCF gas per hari. Batam baru-baru ini pernah black
out karena kekurangan gas untuk listrik. Padahal 20 mil di utara Batam,
pancaran lampu itu digerakkan pembangkit dari oleh gas dari Anambas pak.
Yang paling memalukan, PLN terpaksa harus impor batubara untuk pembangkit
listrik. Bukankah ini semua hasil dari liberalisasi energi, bukankah ini
kata lain dari hasil pendekatan neolib, berapapun kadarnya.

Tak satupun capres yang berani mengatakan untuk merombak seluruh kebijakan
energi di negeri ini.

Salam hormat untuk semua sahabat

Nuzul Achjar



2009/6/23 Aunur rofiq <[email protected]>

>
>
>
> Temans,
> Saya tidak melihat ada Capres yang berjanji mau melaksanakan UUD 1945
> secara konsekwen.....daripada berdebat istilah ekonomi kerakyatan, lebih
> baik mereka berdebat soal implementasi dari UUD 1945. Ekonomi dalam UUD 1945
> sudah demikian gamblangnya....tetapi implementasinya selalu
> diinterpretasikan berbeda oleh elite penguasa. Karena itu, kita perlu
> mengelaborasinya, agar kemakmuran yang diidam-idamkan oleh founding fathers
> kita tercapai. Coba kita simak makna dari kalimat "kekayaan alam dikuasai
> oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat"..... padahal
> kita lihat "air" saja telah membuat "danone" meraih keuntungan
> sebesar-besarnya. Apalagi lahan yang dikuasai oleh para orang kaya? Debat
> kita soal PKL dulu, kan juga masalah kekayaan alam yang berupa ruang..
>
> Salam
> Aunur Rofiq
>
> ----- Original Message ----
> From: risfano <[email protected] <risfano%40yahoo.com>>
> To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>
> Sent: Monday, June 22, 2009 4:14:03 PM
> Subject: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan.
>
>  Uda Eka dan Rekans ysh,
>
> Kita jangan terjebak istilah dalam kampanye. Istilah baku UMKM sesuai UU
> 20/2008 tentang UMKM kiranya sudah cukup jelas. Tambahan untuk Usaha Mikro,
> juga mencakup usaha yang sebetulnya informal.
> Implikasi UU itu ke pembinaan pemerintah oleh daerah, perbankan dst sudah
> lebih definitif. Soalnya bukanlah definisi, tapi bagaimana bisa bertindak
> memberi dukungan kepada mereka dalam manajamen, produksi, keuangan,
> pemasaran, kemitraan horizontal, vertikal. Supaya mereka bisa mengorganisir
> diri, bebas dari cengkeraman tengkulak, lintah-darat, "pemalak".
>
> Soal definisi ekonomi kerakyatan yang dikatakan peserta kampanye, lebih
> baik kita tanyakan ke mereka setelah Juli 8, mudah-mudahan masih ingat. Soal
> anti neo-liberal juga tidak terlalu jelas, karena kok tidak ada di antara
> mereka yang mempertanyakan secara serius kebijkan liberalisasi perbankan,
> liberalisasi modal asing, liberalisasi perdagangan yang berlaku selama ini
> yang diterapkan hampir semua rezim. Kita tunggu.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, "ffekadj"
> <4ek...@...> wrote:
> >
> >
> > Pak Iman, Pak Aby, Pak ATA, dkk ysh.
> >
> > Mohon kiranya dapat diidentifikasi kelompok-kelompok yang masuk dalam
> > ekonomi kerakyatan ini, supaya penanganan dan pengembangannya dapat
> > lebih fokus/terpisah. Mungkin ciri umumnya adalah : pelakunya miskin dan
> > mandiri.
> >
> > Pedagang tradisional : pedagang yang menempati lapak-lapak usaha di
> > pasar-pasar tradisional, dengan jenis usaha: sembako, tekstil murah,
> > perlengkapan rumah tangga, barang-barang bekas, dll. Pada musim kampanye
> > kemarin, kelompok ini paling sering dikunjungi oleh para
> > capres/cawapres.
> >
> > Pedagang kaki lima : pedagang yang menempati lapak-lapak temporer di
> > ruang-ruang publik, dan termasuk di dalamnya yang bergerak secara
> > mobile. Beberapa di antaranya : pedagang asongan, makanan, mainan, dll.
> > Pada musim-musim tertentu para pedagang ini sering dikunjungi oleh
> > Satpol PP.
> >
> > Pedagang illegal : pedagang yang tidak memiliki izin usaha, tidak
> > membayar pajak, termasuk juga menjual barang-barang haram; dapat
> > berusaha di ruang-ruang publik maupun privat. Beberapa di antaranya :
> > pedagang asongan, ibu-ibu yang nyambi jualan pada waktu arisan, pedagang
> > narkoba, usaha rumah tangga, nelayan merangkap pedagang di tengah laut,
> > lobbiest, pedagang suara, dll.
> >
> > Yang agak sulit pengelompokannya seperti sales door-to-door, pedagang
> > jasa (buruh garuk), dlsb.
> >
> > Mohon pencerahannya lebih lanjut, khususnya dalam rangka pengembangan
> > ekonomi bejo-ajo-inang-daeng kita. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, hengky
> abiyoso <watashiaby@> wrote:
> > >
> > > ++++: Saya dapat cerita dari teman yg ketamuan kerabatnya dari kampung
> > pinggir kota dan menginap dirumahnya. Kerabat ini membawa anak kecil
> > kurus berumur delapan tahun. Hari pertama, waktu makannya malam,Â
> > teman ini menawarkan makan kepada kerabatnya khususnya kepada anak
> > kecilnya. Apa jawab si anak? Menolak makan dan dia bingung kho malam
> > disuruh makan! Tukas anaknya, kan udah makan "tadi siang".
> > > Kenapa? Astagfirullah. Anak ini rupanya tdk biasa makan
> > malam, terbiasa makan hanya 1 kali dlm sehari, siang saja!
> > Teman ini terenyuh dan berlinang air mata. Ya Allah, beginikah kehidupan
> > kerabatku, yg dulu sahabatku, aku tahu masa kecil sahabatku, dulu serba
> > cukup.Â
> > > Keluarga kerabat ini hanya representatif dari jutaan orang miskin
> > Indonesia, yg mungkin sdh terbiasa makan 1 kali sehari atau pola pola
> > hidup miskin lainnya untuk bisa bertahan hidup dibumi Nusantara yg
> > katanya kaya raya.
> > > >>>>: Teman bpk itu seharusnya jangan2 buru2 meneteskan airmata dulu
> > pak…… siapa tahu cara makan 1 kali sehari disiang hari adlh
> > bagian dari kearifan lokal dari para leluhur kita dulu yg malah perlu
> > dilestarikan……. Terbukti makan kelebihan jadi obesitas,
> > kolesterol, stroke, jantung dsb… malah minum susupun menurut
> > Prof. Hiromi Shinya, penulis buku laris The Miracle of Enzyme katanya,
> > susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk
> > manusia………....
> > > Â
> > > ++++: Teman dr BKKBN cerita, bahwa puluhan juta Balita di Indonesia
> > malnutrisi alias kekurangan gizi, yg berakibat pertumbuhan otak anak
> > anak tdk dpt optimal, artinya perkembangan IQnya akan dibawah rata2, dan
> > biasanya orang ini , kemampuan edukasinya lemahn tdk bisa sampai
> > pada level manajerial, alias hanya bisa bekerja sebagai
> > pegawai rendahan, buruh, pembantu, tukang sapu dan selevelnya.Â
> > Inilah nanti modal bangsa Indonesia kelak sebagai penerus bangsa,
> > mudah2an tdk sbg pensupply TKI terus.
> > > >>>>>: Pak Iman….. dulu ada presiden kita yg memerintah bahkan
> > lbh dari 30 tahun dan keluarganya kayaknya tak pernah kurang
> > gizi…… tapi kok rekor edukasi anak2nya pada nggak tinggi juga
> > ya?......:--)).. tapi emang iya siih…. Biar gitu kemampuannya utk
> > menghitung dan memiliki duit ternyata pd diatas level manajerial jg
> > siih…….:--))
> > > Â
> > > +++++: Cerita lain……..
> > > >>>>>:
> > > Â
> > > Salam,
> >
>
> ------------------------------------
>
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
>
>   
>

Kirim email ke