Memang kelihatannya sekarang rasa "kebangsaan" di hampir semua lapisan 
masyarakat sudah terkikis oleh rasa "keuangan" ya Pak... Bahkan dalam banyak 
kesempatan, rasa "keuangan" yang mengikis rasa "kemanusiaan" juga sudah sering 
tampak...... wfiuh......
 
Salam,
 
Fadjar


--- On Tue, 6/23/09, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote:


From: Nuzul Achjar <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan.
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 23, 2009, 7:33 AM









 
I couldn't aggree more pak Rofik. Intinya memang kita harus kembali kepada 
konstitusi, bukan substansi konstitusi yang diplintir. Kebijakan energi kita 
sekarang ini adalah hasil pelintiran amandemen UUD 1945. Apa nggak sedih pak 
melihat Tarakan kekurangan gas untuk listrik, padahal Tarakan sendiri mampu 
memproduksi minimal 5 MMCF gas per hari. Batam baru-baru ini pernah black out 
karena kekurangan gas untuk listrik. Padahal 20 mil di utara Batam, pancaran 
lampu itu digerakkan pembangkit dari oleh gas dari Anambas pak. Yang paling 
memalukan, PLN terpaksa harus impor batubara untuk pembangkit listrik. Bukankah 
ini semua hasil dari liberalisasi energi, bukankah ini kata lain dari hasil 
pendekatan neolib, berapapun kadarnya. 
 
Tak satupun capres yang berani mengatakan untuk merombak seluruh kebijakan 
energi di negeri ini.
 
Salam hormat untuk semua sahabat
 
Nuzul Achjar
 
 


2009/6/23 Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com>









Temans,
Saya tidak melihat ada Capres yang berjanji mau melaksanakan UUD 1945 secara 
konsekwen... ..daripada berdebat istilah ekonomi kerakyatan, lebih baik mereka 
berdebat soal implementasi dari UUD 1945. Ekonomi dalam UUD 1945 sudah demikian 
gamblangnya. ...tetapi implementasinya selalu diinterpretasikan berbeda oleh 
elite penguasa. Karena itu, kita perlu mengelaborasinya, agar kemakmuran yang 
diidam-idamkan oleh founding fathers kita tercapai. Coba kita simak makna dari 
kalimat "kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar 
kemakmuran rakyat"..... padahal kita lihat "air" saja telah membuat "danone" 
meraih keuntungan sebesar-besarnya. Apalagi lahan yang dikuasai oleh para orang 
kaya? Debat kita soal PKL dulu, kan juga masalah kekayaan alam yang berupa 
ruang..

Salam
Aunur Rofiq 


----- Original Message ----
From: risfano <risf...@yahoo. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com

Sent: Monday, June 22, 2009 4:14:03 PM
Subject: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan.




Uda Eka dan Rekans ysh,

Kita jangan terjebak istilah dalam kampanye. Istilah baku UMKM sesuai UU 
20/2008 tentang UMKM kiranya sudah cukup jelas. Tambahan untuk Usaha Mikro, 
juga mencakup usaha yang sebetulnya informal.
Implikasi UU itu ke pembinaan pemerintah oleh daerah, perbankan dst sudah lebih 
definitif. Soalnya bukanlah definisi, tapi bagaimana bisa bertindak memberi 
dukungan kepada mereka dalam manajamen, produksi, keuangan, pemasaran, 
kemitraan horizontal, vertikal. Supaya mereka bisa mengorganisir diri, bebas 
dari cengkeraman tengkulak, lintah-darat, "pemalak". 

Soal definisi ekonomi kerakyatan yang dikatakan peserta kampanye, lebih baik 
kita tanyakan ke mereka setelah Juli 8, mudah-mudahan masih ingat. Soal anti 
neo-liberal juga tidak terlalu jelas, karena kok tidak ada di antara mereka 
yang mempertanyakan secara serius kebijkan liberalisasi perbankan, liberalisasi 
modal asing, liberalisasi perdagangan yang berlaku selama ini yang diterapkan 
hampir semua rezim. Kita tunggu.

Salam, 
Risfan Munir

--- In refere...@yahoogrou ps.com, "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
> 
> Pak Iman, Pak Aby, Pak ATA, dkk ysh.
> 
> Mohon kiranya dapat diidentifikasi kelompok-kelompok yang masuk dalam
> ekonomi kerakyatan ini, supaya penanganan dan pengembangannya dapat
> lebih fokus/terpisah. Mungkin ciri umumnya adalah : pelakunya miskin dan
> mandiri.
> 
> Pedagang tradisional : pedagang yang menempati lapak-lapak usaha di
> pasar-pasar tradisional, dengan jenis usaha: sembako, tekstil murah,
> perlengkapan rumah tangga, barang-barang bekas, dll. Pada musim kampanye
> kemarin, kelompok ini paling sering dikunjungi oleh para
> capres/cawapres.
> 
> Pedagang kaki lima : pedagang yang menempati lapak-lapak temporer di
> ruang-ruang publik, dan termasuk di dalamnya yang bergerak secara
> mobile. Beberapa di antaranya : pedagang asongan, makanan, mainan, dll.
> Pada musim-musim tertentu para pedagang ini sering dikunjungi oleh
> Satpol PP.
> 
> Pedagang illegal : pedagang yang tidak memiliki izin usaha, tidak
> membayar pajak, termasuk juga menjual barang-barang haram; dapat
> berusaha di ruang-ruang publik maupun privat. Beberapa di antaranya :
> pedagang asongan, ibu-ibu yang nyambi jualan pada waktu arisan, pedagang
> narkoba, usaha rumah tangga, nelayan merangkap pedagang di tengah laut,
> lobbiest, pedagang suara, dll.
> 
> Yang agak sulit pengelompokannya seperti sales door-to-door, pedagang
> jasa (buruh garuk), dlsb.
> 
> Mohon pencerahannya lebih lanjut, khususnya dalam rangka pengembangan
> ekonomi bejo-ajo-inang- daeng kita. Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@> wrote:
> >
> > ++++: Saya dapat cerita dari teman yg ketamuan kerabatnya dari kampung
> pinggir kota dan menginap dirumahnya. Kerabat ini membawa anak kecil
> kurus berumur delapan tahun. Hari pertama, waktu makannya malam, 
> teman ini menawarkan makan kepada kerabatnya khususnya kepada anak
> kecilnya. Apa jawab si anak? Menolak makan dan dia bingung kho malam
> disuruh makan! Tukas anaknya, kan udah makan "tadi siang".
> > Kenapa? Astagfirullah. Anak ini rupanya tdk biasa makan
> malam, terbiasa makan hanya 1 kali dlm sehari, siang saja!
> Teman ini terenyuh dan berlinang air mata. Ya Allah, beginikah kehidupan
> kerabatku, yg dulu sahabatku, aku tahu masa kecil sahabatku, dulu serba
> cukup.Â
> > Keluarga kerabat ini hanya representatif dari jutaan orang miskin
> Indonesia, yg mungkin sdh terbiasa makan 1 kali sehari atau pola pola
> hidup miskin lainnya untuk bisa bertahan hidup dibumi Nusantara yg
> katanya kaya raya.
> > >>>>: Teman bpk itu seharusnya jangan2 buru2 meneteskan airmata dulu
> pak…… siapa tahu cara makan 1 kali sehari disiang hari adlh
> bagian dari kearifan lokal dari para leluhur kita dulu yg malah perlu
> dilestarikan……. Terbukti makan kelebihan jadi obesitas,
> kolesterol, stroke, jantung dsb… malah minum susupun menurut
> Prof. Hiromi Shinya, penulis buku laris The Miracle of Enzyme katanya,
> susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk
> manusia………....
> > Â
> > ++++: Teman dr BKKBN cerita, bahwa puluhan juta Balita di Indonesia
> malnutrisi alias kekurangan gizi, yg berakibat pertumbuhan otak anak
> anak tdk dpt optimal, artinya perkembangan IQnya akan dibawah rata2, dan
> biasanya orang ini , kemampuan edukasinya lemahn tdk bisa sampai
> pada level manajerial, alias hanya bisa bekerja sebagai
> pegawai rendahan, buruh, pembantu, tukang sapu dan selevelnya. 
> Inilah nanti modal bangsa Indonesia kelak sebagai penerus bangsa,
> mudah2an tdk sbg pensupply TKI terus.
> > >>>>>: Pak Iman….. dulu ada presiden kita yg memerintah bahkan
> lbh dari 30 tahun dan keluarganya kayaknya tak pernah kurang
> gizi…… tapi kok rekor edukasi anak2nya pada nggak tinggi juga
> ya?......:-- )).. tapi emang iya siih…. Biar gitu kemampuannya utk
> menghitung dan memiliki duit ternyata pd diatas level manajerial jg
> siih…….:--))
> > Â
> > +++++: Cerita lain……..
> > >>>>>:
> > Â
> > Salam,
>


------------ --------- --------- ------

Komunitas Referensi
http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links






















      

Kirim email ke