Rekans ysh, Repotnya kalau sudah bicara "kebangsaan", konstitusi, seperti saya ini langsung teringat pada indoktrinasi. Yang tak ada hubungannya dengan realita. Pertama karena pengindoktrinasi gak tahu hungungannya dengan praktek ekonomi, dst. Tahunya seragam, apel, nyanyi, kerek bendera. Kedua, karena seperti kata Bang Nuzul, sengaja diplintir atau dikerdilkan maknanya.
Sebagai penggiat pengembangan ekonomi lokal (PEL) prihatin juga, karena globalisasi (belanja) sudah menjadi doktrin. Kita tak boleh menutup pintu dari produk (jadi) global. Sehingga kampanye pakai produk dalam negeri, apalagi menjadi tabu, seolah melawan kebijakan nasional. Sepertinya Keppres 80 tentang pengadaan barang itu jadi justifikasinya. Mungkin ini termasuk plintiran makna substantif kebijakan yang dimaksud Bang Nuzul. Memang proteksi bisa diplintir, tapi keterbukaan juga bisa diplintir. Anehnya kok tak ada kampanye bahwa dengan keterbukaan pasar global kita harus membanjiri dunia dengan produk olahan atau kreatif kita. Sisi menyerangnya tidak dikampanyekan, tapi sisi keterbukaan untuk diserang produk luar yang dikampanyekan selalu. Mestinya soal ekonomi dianggap soal "perang ekonomi", tapi pemerintah kita menganggapnya sebagai soal berlaku baik, sindrome "good boy". Kita tahu sejarah Jepang, China, dan saat ini mungkin masuk fase "peniruan". Bagi mereka itu soal strategi "perang ekonomi", tapi kita sebagai penganut falsafah "good boy" (pelajar teladan) lebih memilih berolok-olok. Kita lebih peduli pada rapor versi negara maju, lembaga rating, daripada keunggulan produksi dan kemenangan pasar yang riil. Namun ada baiknya juga kalau kita mau self critic di forum ini. Apakah kita sebagai insan penataan ruang juga tidak bersikap mendua soal sektor informal. Kita selalu melihatnya sebagai pendistorsi rencana tata ruang. Sementara kita jarang melihat pemilik properti banyak, pemilik mobil banyak sebagai pendistorsi juga. Padahal saat merencana kita menghitung kebutuhan ruang berdasarkan jumlah jiwa x standard, tanpa memperhitungkan ada warga yang kepemilikannya "terlalu banyak", sebaliknya justru ada penduduk yang tak mampu punya/ beli/ sewa ruang. Apakah ini bukan bentuk liberalisme juga? Salam, Risfan Munir --- In [email protected], <efha_mardians...@...> wrote: > > Memang kelihatannya sekarang rasa "kebangsaan" di hampir semua lapisan > masyarakat sudah terkikis oleh rasa "keuangan" ya Pak... Bahkan dalam banyak > kesempatan, rasa "keuangan" yang mengikis rasa "kemanusiaan" juga sudah > sering tampak...... wfiuh...... >  > Salam, >  > Fadjar > > > --- On Tue, 6/23/09, Nuzul Achjar <ach...@...> wrote: > > > From: Nuzul Achjar <ach...@...> > Subject: Re: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. > To: [email protected] > Date: Tuesday, June 23, 2009, 7:33 AM > > > > > > > > > >  > I couldn't aggree more pak Rofik. Intinya memang kita harus kembali kepada > konstitusi, bukan substansi konstitusi yang diplintir. Kebijakan energi kita > sekarang ini adalah hasil pelintiran amandemen UUD 1945. Apa nggak sedih pak > melihat Tarakan kekurangan gas untuk listrik, padahal Tarakan sendiri mampu > memproduksi minimal 5 MMCF gas per hari. Batam baru-baru ini pernah black out > karena kekurangan gas untuk listrik. Padahal 20 mil di utara Batam, pancaran > lampu itu digerakkan pembangkit dari oleh gas dari Anambas pak. Yang paling > memalukan, PLN terpaksa harus impor batubara untuk pembangkit listrik. > Bukankah ini semua hasil dari liberalisasi energi, bukankah ini kata lain > dari hasil pendekatan neolib, berapapun kadarnya. >  > Tak satupun capres yang berani mengatakan untuk merombak seluruh kebijakan > energi di negeri ini. >  > Salam hormat untuk semua sahabat >  > Nuzul Achjar >  >  > > > 2009/6/23 Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com> > > > > > > > > > > Temans, > Saya tidak melihat ada Capres yang berjanji mau melaksanakan UUD 1945 secara > konsekwen... ..daripada berdebat istilah ekonomi kerakyatan, lebih baik > mereka berdebat soal implementasi dari UUD 1945. Ekonomi dalam UUD 1945 sudah > demikian gamblangnya. ...tetapi implementasinya selalu diinterpretasikan > berbeda oleh elite penguasa. Karena itu, kita perlu mengelaborasinya, agar > kemakmuran yang diidam-idamkan oleh founding fathers kita tercapai. Coba kita > simak makna dari kalimat "kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan > sebesar-besar kemakmuran rakyat"..... padahal kita lihat "air" saja telah > membuat "danone" meraih keuntungan sebesar-besarnya. Apalagi lahan yang > dikuasai oleh para orang kaya? Debat kita soal PKL dulu, kan juga masalah > kekayaan alam yang berupa ruang.. > > Salam > Aunur Rofiq > > > ----- Original Message ---- > From: risfano <risf...@yahoo. com> > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Sent: Monday, June 22, 2009 4:14:03 PM > Subject: [referensi] Re: Kemiskinan dan Ekonomi Kerakyatan. > > > > > Uda Eka dan Rekans ysh, > > Kita jangan terjebak istilah dalam kampanye. Istilah baku UMKM sesuai UU > 20/2008 tentang UMKM kiranya sudah cukup jelas. Tambahan untuk Usaha Mikro, > juga mencakup usaha yang sebetulnya informal. > Implikasi UU itu ke pembinaan pemerintah oleh daerah, perbankan dst sudah > lebih definitif. Soalnya bukanlah definisi, tapi bagaimana bisa bertindak > memberi dukungan kepada mereka dalam manajamen, produksi, keuangan, > pemasaran, kemitraan horizontal, vertikal. Supaya mereka bisa mengorganisir > diri, bebas dari cengkeraman tengkulak, lintah-darat, "pemalak". > > Soal definisi ekonomi kerakyatan yang dikatakan peserta kampanye, lebih baik > kita tanyakan ke mereka setelah Juli 8, mudah-mudahan masih ingat. Soal anti > neo-liberal juga tidak terlalu jelas, karena kok tidak ada di antara mereka > yang mempertanyakan secara serius kebijkan liberalisasi perbankan, > liberalisasi modal asing, liberalisasi perdagangan yang berlaku selama ini > yang diterapkan hampir semua rezim. Kita tunggu. > > Salam, > Risfan Munir > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, "ffekadj" <4ekadj@> wrote: > > > > > > Pak Iman, Pak Aby, Pak ATA, dkk ysh. > > > > Mohon kiranya dapat diidentifikasi kelompok-kelompok yang masuk dalam > > ekonomi kerakyatan ini, supaya penanganan dan pengembangannya dapat > > lebih fokus/terpisah. Mungkin ciri umumnya adalah : pelakunya miskin dan > > mandiri. > > > > Pedagang tradisional : pedagang yang menempati lapak-lapak usaha di > > pasar-pasar tradisional, dengan jenis usaha: sembako, tekstil murah, > > perlengkapan rumah tangga, barang-barang bekas, dll. Pada musim kampanye > > kemarin, kelompok ini paling sering dikunjungi oleh para > > capres/cawapres. > > > > Pedagang kaki lima : pedagang yang menempati lapak-lapak temporer di > > ruang-ruang publik, dan termasuk di dalamnya yang bergerak secara > > mobile. Beberapa di antaranya : pedagang asongan, makanan, mainan, dll. > > Pada musim-musim tertentu para pedagang ini sering dikunjungi oleh > > Satpol PP. > > > > Pedagang illegal : pedagang yang tidak memiliki izin usaha, tidak > > membayar pajak, termasuk juga menjual barang-barang haram; dapat > > berusaha di ruang-ruang publik maupun privat. Beberapa di antaranya : > > pedagang asongan, ibu-ibu yang nyambi jualan pada waktu arisan, pedagang > > narkoba, usaha rumah tangga, nelayan merangkap pedagang di tengah laut, > > lobbiest, pedagang suara, dll. > > > > Yang agak sulit pengelompokannya seperti sales door-to-door, pedagang > > jasa (buruh garuk), dlsb. > > > > Mohon pencerahannya lebih lanjut, khususnya dalam rangka pengembangan > > ekonomi bejo-ajo-inang- daeng kita. Salam. > > > > -ekadj > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@> wrote: > > > > > > ++++: Saya dapat cerita dari teman yg ketamuan kerabatnya dari kampung > > pinggir kota dan menginap dirumahnya. Kerabat ini membawa anak kecil > > kurus berumur delapan tahun. Hari pertama, waktu makannya malam,à > > teman inià menawarkan makan kepada kerabatnya khususnya kepada anak > > kecilnya. Apa jawab si anak? Menolak makan dan dia bingung kho malam > > disuruh makan! Tukas anaknya, kan udah makan "tadi siang". > > > Kenapa?à Astagfirullah. Anak ini rupanya tdk biasa makan > > malam,à terbiasa makan hanya 1 kali dlmà sehari, siang saja! > > Teman ini terenyuh dan berlinang air mata. Ya Allah, beginikah kehidupan > > kerabatku, yg dulu sahabatku, aku tahu masa kecil sahabatku, dulu serba > > cukup.à > > > Keluargaà kerabat ini hanya representatif dari jutaan orang miskin > > Indonesia, yg mungkin sdh terbiasa makan 1 kali sehari atau pola pola > > hidup miskin lainnya untuk bisa bertahan hidup dibumi Nusantara yg > > katanya kaya raya. > > > >>>>: Teman bpk itu seharusnya jangan2 buru2 meneteskan airmata dulu > > pakââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦ siapa tahu cara makan 1 kali sehari disiang hari adlh > > bagian dari kearifan lokal dari para leluhur kita dulu yg malah perlu > > dilestarikanââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦. Terbukti makan kelebihan jadi obesitas, > > kolesterol, stroke, jantungà dsbââ¬Â¦ malah minum susupun menurut > > Prof. Hiromi Shinya, penulis buku laris The Miracle of Enzyme katanya, > > susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk > > manusiaââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦Ã¢â¬Â¦.... > > > à > > > ++++: Teman dr BKKBN cerita, bahwa puluhan juta Balita di Indonesia > > malnutrisi alias kekurangan gizi, yg berakibat pertumbuhan otak anak > > anak tdk dpt optimal, artinya perkembangan IQnya akan dibawah rata2, dan > > biasanya orang inià , kemampuan edukasinya lemahn tdk bisa sampai > > pada level manajerial,à alias hanya bisa bekerjaà sebagai > > pegawaià rendahan, buruh, pembantu, tukang sapu dan selevelnya.à > > Inilah nanti modal bangsa Indonesia kelak sebagai penerus bangsa, > > mudah2an tdk sbg pensupply TKI terus. > > > >>>>>: Pak Imanââ¬Â¦.. dulu ada presiden kita yg memerintah bahkan > > lbh dari 30 tahun dan keluarganya kayaknya tak pernah kurang > > giziââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦ tapi kok rekor edukasi anak2nya pada nggak tinggi juga > > ya?......:-- )).. tapi emang iya siihââ¬Â¦. Biar gitu kemampuannya utk > > menghitung dan memiliki duit ternyata pd diatas level manajerial jg > > siihââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦.:--)) > > > à > > > +++++: Cerita lainââ¬Â¦Ã¢â¬Â¦.. > > > >>>>>: > > > à > > > Salam, > > > > > ------------ --------- --------- ------ > > Komunitas Referensi > http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links >

