Uda Eka DJ ysh, Memang sukar untuk melihat tempat keramat dalam dimensi kekinian. Tapi mungkin kita bisa menggunakan pendekatan yang sangat sederhana sebagai berikut :
Makam Sn. Muria ternyata mampu menggerakkan ekonomi masyarakat disekitarnya karena "kekeramatan"nya. Makam Sunan Drajat, menjadi pendorong pertumbuhan kawasan Lamongan utara. Pada saat pariwisata berbasis MICE menjadi alternatif penggerakkan ekonomi, maka antara kekeramatan dan kekinian menjadi sangat bersentuhan. Sebuah kasus yang menarik. Pada saat saya di Kanwil PU, saya diminta oleh HB X membangun sebuah petilasan tempat bertemunya Sunan Kalijaga dengan Brawijaya V sebelum mukswa di pantai selatan. Tempat petilasan itu kemudian disebut Wono Kobaran. Letaknya di desa Temu Ireng, Panggang. Semula desa itu sangat terisolir. Namun apa yang terjadi dengan munculnya petilasan tadi... pelan tapi pasti muncul pertumbuhan ekonomi akibat banyaknya penziarah kesitu. Disinilah saya ingin mencoba mendekatkan apa yang menjadi concern mas BTS dengan apa yang dikuasai mas Djarot. Salam bambang sp

