Pak Djarot sepakat dengan anda, karena sebenarnya inti yang ingin
ditangkap adalah 'empati' persoalan keruangan masyarakat, disadari
ataupun tidak oleh masyarakat itu. Karena ukuran lahir, besar, tua, atau
singkatnya 'apresiasi
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/281> ' dari masyarakat
mungkin bisa menjadi tidak penting. Apalagi doktrin dari perencanaan
adalah 'intervensi'. Sehingga permasalahannya memang pada 'kualitas dari
perencananya', serta 'sistem pendukung'. Atau apakah memang perencanaan
itu suatu kebutuhan, kita lihat dari sisi mana? Saya kira kalau
perencanaan itu 'tidak mampu menjengkali' kearifan lokal, memang
sebaiknya tidak usah dilakukan.

Sementara demikian dulu. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Ekadj saya agak kurang sependapat dengan istilah PLANKUN sebab
persoalan supranatural hanyalah sebagian saja dari obyek yang dapat
dikaji dengan fenomenologi. Masih banyak obyek kajian yang bisa didekati
dengan fenomenologi, maka istilah plankun barangkali menyempitkan arti
fenomenologi yang luas itu. Tetapi jika kesan selama ini justru ke arah
plankun barangkali ya bersifat sementara, sebab belum banyak tulisan
yang bisa menguatkannya.
>
> Dalam praktek sudah ada contoh bagaimana acara Kick Andy mengungkapkan
sosok-sosok yang hebat. Menurut saya, acara Kick Andy merupakan salah
satu contoh penerapan fenomenologi dalam praktek meskipun Andy Noya
tidak mengatakan bahwa dia menggunakan fenomenologi. Apakah acara Kick
Andy juga akan kita sebut Entkun alias Entertainment Dukun ? Saya kira
tidak lah. Acara itu membawa kita bisa memahami kekayaan kehidupan
sampai jauh ke dalam lubuk hati terdapan dari sosok-sosok yang hebat
yang ditampilkannya. Kita dibawa menjelajahi kehidupan mereka, meskipun
realitas visual sosok-sosok itu kadang cacat dan buruk.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Sun, 8/9/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: critical planning ?
> To: [email protected]
> Date: Sunday, August 9, 2009, 10:56 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Onnos ysh, terima kasih atas informasinya. Masalah 'plankun' kita
>
> bisa bertanya kepada ahlinya atau organisasinya. Kalau tempo doeloe
yang
>
> 'kun' itu malah yang 'plan'. Namun ada dua hal dari thread ini yang
bisa
>
> disimpulkan sementara: 1) 'plan'/orang yang luar biasa dan orang yang
>
> biasa-biasa, dan 2) cara yang luar biasa dan cara yang biasa-biasa.
>
>
>
> Kalau fenomena saat ini yang dapat saya tangkap: plan itu dilakukan
oleh
>
> orang-orang biasa dengan cara yang biasa-biasa. Jadi memang belum
>
> terlihat orang yang luar biasa dan cara yang luar biasa. Karena ada
>
> asumsi bila masyarakat itu adalah biasa-biasa saja. Tantangannya
adalah:
>
> bagaimana bila orang biasa dapat melakukan hal yang luar biasa?
>
>
>
> Mungkin demikian dulu sambil menunggu pencerahan yang lain. Salam.
>
>
>
> -ekadj


Kirim email ke