Pak Koes dan sahabats,

Pada hari pertama saya masuk S2 di UGM sekitar tahun 1996 saya diperkenalkan 
oleh Prof Parmono Atmadi bahwa ilmuwan yang sudah piawai itu sangat dekat 
dengan dukun. Saya lantas ingat ceritera legendaris seorang Prof Hardjoso yang 
pakar persawahan pasang surut di Kalimantan. Anak buah beliau kebingungan 
ketika air laut naik terus dan tidak mau surut, padahal seharusnya surut. Pada 
puncak kebingungan itu mereka mengadu ke Prof Hardjoso dan menjelaskan berbagai 
upaya yang telah mereka lakukan untuk mengatasi masalah. Prof Hardjoso dengan 
tenang mengambil sebatang kayu, kayu itu kemudian dimasukkan ke dalam air di 
sawah terdekat sambil di gerak-gerakkan mengaduk-aduk permukaan air itu. Ajaib, 
air laut segera surut.

Ketika dianalisis secara teoritis, ternyata gerakan mengaduk-aduk itu mirip 
dengan gerakan untuk menggemboskan balon. Setelah ada lobang barulah air laut 
yang menggelembung di balon itu meletus dan surut. Ceritera itu datang dari Pak 
Sudaryono dan beliau menjelaskan bahwa Prof Hardjoso dalam hal ini sudah sampai 
pada tataran pengetahuan yang intuitif, nggak dipikir lagi tetapi intuisinya 
langsung menggerakkan tangannya. Saya kira, jika tingkatannya profesor ya 
memang tataran pengetahuannya sudah sangat intuitif, prosesnya begiru cepat dan 
tepat......bukan asal lebih cepat lebih baik....orang pada tataran dibawahnya 
ya memang masih harus menjelaskan logikanya. Mungkin begitu.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 8/10/09, muhammad koeswadi <[email protected]> wrote:

From: muhammad koeswadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: critical planning ?
To: [email protected]
Date: Monday, August 10, 2009, 12:38 AM






 




    
                  Rekans YSH
Asw. 
 
Saya kira wahana perancangan, baik pemikiran maupun aplikasinya memang semakin 
terbuka untuk dicampuri berbagai pandangan, termasuk di dalamnya aliran2, 
maupun rujukan2 wahyu sang empunya Ilmu. 
 
Karya-karya agung yang melegenda baik di tanah air ataupun di manca negara, 
saya kira juga bukan diselesaikan hanya dengan kepiawaian olah otak kanan/kiri 
saja. Akan tetapi juga adanya olah bathin, olah rasa, dan olah 'jeritan 
penderitaan' si perancangnya. Karya agung Candi2 di Jawa dan Sumatera, bangunan 
rumah2 adat di Kalimantan berikut denah dan site plannya, tatanan lingkungan 
dan perdesaan di Bali, megalitic di Tentena Sulteng, dst . saya pikir merupakan 
karya agung yang bahkan tidak terekam siapa perancang sesungguhnya.  Keagungan 
karya mereka juga tidak terganggu oleh tidak terlacaknya nama pencetusnya. 
Bahkan dalam tataran kesufian, karya-karya agung mereka malah 'sengaja 
disembunyikan' oleh pencetusnya, namun akhirnya disingkap juga oleh para 
pengikutnya. Karya-karya dunia luar pun banyak yang perlu diinterpretasi 
berulangkali  apa sesungguhnya maksud perancangnya. Misalnya, karya Taj Mahal 
India, Tembok
 Cina,  piramid Mesir, Angkor Wat dst apakah bebas dari pesan metafisik?
 
Nah, ketika kita mencoba menerka wilayah metafisik, ada beberapa hal yang 
kiranya bermanfaat untuk didalami. Wilayah metafisik saya pahami berjenjang. 
Wilayah jenjangnya (maqom, level) tidak terlalu penting untuk dijelaskan secara 
tertulis ataupun dilisankan, namun biasanya lebih sering dinyatakan .."perlu 
dirasakan (dilakukan/dikerjak an)" Apa bisa? Saya memahaminya bisa dilakukan 
oleh yang berminat. 
 
 Kaitannya dengan berbagai sebutan Nyurku, Arsikun, Planku dst memberi gambaran 
bahwa para peminat (dan yang berbakat) kiranya perlu difasilitasi lebih lanjut 
melalui 'pilot project' perkotaan... eh barang kali akan ada tata ruang Plus 
(yang juga dilakoni melalui gabungan berbagai dimensi pendekatan/penyeles 
aian)...
Karena itu, uraian yang pernah disampaikan oleh rekan2 maupun Pak Suhadi selama 
ini saya kira perlu didalami lebih lanjut, agar lebih banyak yang bisa 
mengamalkannya.
 
Sedikit pengalaman saya menggabungkan beberapa pendekatan di atas sewaktu 
membuat danau buatan di Bekasi th 1995/1996, yaitu disebut Telaga Sakinah oleh 
pemiliknya. Sewaktu saya membuat perancangan  tapak dan sekaligus membuat 
perancangan konstruksi danaunya, saya bermunajad semoga air danau ini tidak 
cepat surut... sebab tanpa sumber air bawah tanah maupun drainase. Hanya 
mengandalkan air hujan. Alhamdulillah sampai sekarang airnya relatif konstan 
dan bermanfaat untuk: menjaga water table, evapotranspirasi, rekreasi, 
pemeliharaan taman, dan perikanan. 
 
Hal serupa, pernah juga saya berbeda opini dengan team ahli soal prediksi ada 
tidak adanya air tanah (groundwater) di lereng Singosari Malang (1998), dan di 
suatu wilayah (lupa namanya) arah Cianjur dari Cibinong (2004). Setelah 
dilakukan eksekusi uji geolistrik dan pengeboran air tanah dalam (di bawah 
110m) oleh rekan2 geologi, ternyata tidak ada airnya. Apakah yang demikian ini 
masuk ke ranah metafisika atau hal yang lain? mohon pencerahan mas Djarod, mas 
Ekadj, mas Bambang SP...juga pak Suhadi. 
Salam, Koes BKK.

--- On Sun, 9/8/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: critical planning ?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Sunday, 9 August, 2009, 10:56 PM


  


Pak Onnos ysh, terima kasih atas informasinya. Masalah 'plankun' kita
bisa bertanya kepada ahlinya atau organisasinya. Kalau tempo doeloe yang
'kun' itu malah yang 'plan'. Namun ada dua hal dari thread ini yang bisa
disimpulkan sementara: 1) 'plan'/orang yang luar biasa dan orang yang
biasa-biasa, dan 2) cara yang luar biasa dan cara yang biasa-biasa.

Kalau fenomena saat ini yang dapat saya tangkap: plan itu dilakukan oleh
orang-orang biasa dengan cara yang biasa-biasa. Jadi memang belum
terlihat orang yang luar biasa dan cara yang luar biasa. Karena ada
asumsi bila masyarakat itu adalah biasa-biasa saja. Tantangannya adalah:
bagaimana bila orang biasa dapat melakukan hal yang luar biasa?

Mungkin demikian dulu sambil menunggu pencerahan yang lain. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..>
wrote:
>
>
> Rekan-2 ysh,
>
> Menyambung diskusi 'fenamenologi' , kalau dalam dunia ke'dokter'an ada
aliran yang dapat keahlian 'khusus' sehingga menjadi 'terkun' alias
'dokter-dukun' , dalam dunia ke'arsitektur' an juga ada yang dapat wangsit
'feng-shui' sehingga mungkin dapat menjadi 'arsikun' alias
'arsitek-dukun' , apakah dalam dunia ke'planner'an dengan 'semedi'
mendalami yang 'keramat', maka ada yang bisa menjadi 'plankun' alias
'planner-dukun' ? he he he...
>
> Terlampir ada tulisan 'Mental Feng Shui' yang saya dapat dari teman
asli orang bule di California (dekatnya Kali Code) yang percaya dengan
'spiritualisme' , selamat membaca semoga bermanfaat.
>
> Wassalam,
>
> Onnos
>
>
>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> From: 4ek...@...
> Date: Sun, 9 Aug 2009 04:30:21 +0000
> Subject: [referensi] Re: critical planning ?
>
>
>
>
>
>
> Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread ini.
Secara tidak sadar dan 'sepakat' kita memang telah bergeser dari semula
membicarakan 'benda mati' (: ruang) kepada membicarakan 'makhluk hidup'.
'Transformasi' ini memang tidak bisa kita hindarkan dalam profesi,
karena selama ini memang ada secara laten.
>
> Saya mendapatkan banyak pencerahan ketika dulu pernah menelusuri
sedikit babad Jawa, dan mendapatkan suatu kesan: 'pewarisan' itu
dilakukan dengan 3 cara: 1 pertalian darah, dan yang 2 adalah sangat
kental budaya Jawa yaitu melalui yang
 diistilahkan Pak ATA dengan 'wahyu
cakraningrat' , serta 3 adalah persekutuan. Kesan terkuat dari aspek
pertalian darah adalah ketika pendirian Demak Bintoro: sewaktu Wali
Songo mengamanatkan tahta kepada pemuda mentah Raden Patah. Dan untuk
cara 2 adalah seperti yang ditunjukkan Ki Ageng Giring; dan cara 3
adalah ditunjukkan oleh Panembahan Senopati yang mengedepankan aspek
fenomenologi. Mungkin itu penafsiran awal saya yang cetek ini.
>
> Di era sekarang mungkin mengemuka cara ke-4 yaitu demokrasi, namun
secara 'usia penerapan' tentunya masih perlu mencari acuan dan pijakan,
terlebih masyarakat sudah steady dengan sistem-sistem lama. Di beberapa
daerah perseteruan ini telah nyata walau dalam varian yang berbeda,
seperti Perang Tjumbok di Aceh dan Perang Paderi di Minangkabau. Untuk
Jawa, saya kira Geertz menggambarkan secara skeptis proses transformasi
ini ke dalam 3 kelompok, dan sebenarnya tidak ada
 'konflik yang
mengemuka'.
>
> Permasalahannya memang demikian, kita menghadapi masyarakat yang gayut
dengan berbagai alam pemikiran. Seperti drama yang kita saksikan dalam
beberapa hari ini: pemaknaan terorisme bisa berbeda dalam sudut pandang
budaya dan aliran keagamaan, karena banyak tabir. Namun kita bisa
sepakat dengan satu hal: bila kekerasan tidak kita sukai. Berdiri dan
berpijak di berbagai perbedaan ini kelihatannya membutuhkan keahlian ala
pemain sirkus, apalagi kemampuan kita dapat mempengaruhi peri kehidupan
masyarakat tersebut.
>
> Sementara demikian dulu pak. Masih membutuhkan pencerahan. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" risfano@ wrote:
> >
> > Pak
 Djarot,
> > Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya.
> > Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami
kejadian dan apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan
nya diproyeksikan ke depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat
masyarakat setempat juga berkembang terus.
> >
> > Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan
ide/faham baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut
ada eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme,
klenik). Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak
alasan kramat yang membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus,
karena alasan keramat bahwa "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk
'sesajen' bagi pangeran, dst. Artinya karena soal kekeramatan ini tidak
bisa terbuka reason nya, ada peluang untuk di-abuse juga.
> >
> > Seperti kata pak
 Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif,
sejauh mana otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim
nya, kan pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya
kekeramatannya.
> >
> > Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat
spesifik dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh
bisa dibawa ke ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke
depan". Kita mesti sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism,
tapi juga neo-feodalism lokal yang cenderung eksplotatif terhadap
rakyat. Apakah karena "anti ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata:
dari mana tokoh itu dapat uang shg bisa pesta adat besar besar-besaran
untuk pernikahan putrinya (misalnya). Jangan bicara ekonomi, itu barat,
beliau mulia karena mengangkat adat budaya sukunya (?).
> > Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya selalu
multi-dimensi,
 selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur
sosial, ada aspek ekonomi.
> > Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif?
sesuatu yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam,
Rendra, dll) kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan
(kedepan, bukan kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke
urban. Dan, mereka cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan
simbol-simbol kuasa rekaan raja-raja.
> > Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah.
Kalau ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai
untuk ngirim "ketik REG spasi KRAMAT..."
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> > >
> > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi.
Salah satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi
bersifat "fotomic" melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara
mendalam seorang tukang becak, misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh
yaitu tentang "dunia tukang becak". Jadi tahu sedikit bisa melongok
ngicipi yang lebih jauh !
> > >
> > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus
latihan. Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak
terpengaruh oleh teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak
murtad dari dunia ilmuwan lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya
proses memahami
 subyek/obyek yang kita cermati tidak dicemari
teori-teori atau opini pihak lain terhadap obyek.subyek kajian kita.
Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan pengalaman itu dengan
runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak.
> > >
> > > Salam,
> > >
> > >
> > >
> > > Djarot Purbadi
> > >
> > >
> > >
> > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> > >
> > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> > >
> > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> > >
> > > --- On Thu, 8/6/09, bspriyo@ bspriyo@
 wrote:
> > >
> > > From: bspriyo@ bspriyo@
> > > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
> > > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Luar biasa mas Djarot ...
> > > saya mendapatkan pencerahan.
> > > Matur nuwun
> > > salam
> > > bambang sp
> > >
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ____________ _________ _________ _________
 _________ _________ _
> What can you do with the new Windows Live? Find out
> http://www.microsof t.com/windows/ windowslive/ default.aspx
>






      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke