Pak Ekadj saya agak kurang sependapat dengan istilah PLANKUN sebab persoalan 
supranatural hanyalah sebagian saja dari obyek yang dapat dikaji dengan 
fenomenologi. Masih banyak obyek kajian yang bisa didekati dengan fenomenologi, 
maka istilah plankun barangkali menyempitkan arti fenomenologi yang luas itu. 
Tetapi jika kesan selama ini justru ke arah plankun barangkali ya bersifat 
sementara, sebab belum banyak tulisan yang bisa menguatkannya.

Dalam praktek sudah ada contoh bagaimana acara Kick Andy mengungkapkan 
sosok-sosok yang hebat. Menurut saya, acara Kick Andy merupakan salah satu 
contoh penerapan fenomenologi dalam praktek meskipun Andy Noya tidak mengatakan 
bahwa dia menggunakan fenomenologi. Apakah acara Kick Andy juga akan kita sebut 
Entkun alias Entertainment Dukun ? Saya kira tidak lah. Acara itu membawa kita 
bisa memahami kekayaan kehidupan sampai jauh ke dalam lubuk hati terdapan dari 
sosok-sosok yang hebat yang ditampilkannya. Kita dibawa menjelajahi kehidupan 
mereka, meskipun realitas visual sosok-sosok itu kadang cacat dan buruk. 

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 8/9/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: critical planning ?
To: [email protected]
Date: Sunday, August 9, 2009, 10:56 PM






 




    
                  

Pak Onnos ysh, terima kasih atas informasinya. Masalah 'plankun' kita

bisa bertanya kepada ahlinya atau organisasinya. Kalau tempo doeloe yang

'kun' itu malah yang 'plan'. Namun ada dua hal dari thread ini yang bisa

disimpulkan sementara: 1) 'plan'/orang yang luar biasa dan orang yang

biasa-biasa, dan 2) cara yang luar biasa dan cara yang biasa-biasa.



Kalau fenomena saat ini yang dapat saya tangkap: plan itu dilakukan oleh

orang-orang biasa dengan cara yang biasa-biasa. Jadi memang belum

terlihat orang yang luar biasa dan cara yang luar biasa. Karena ada

asumsi bila masyarakat itu adalah biasa-biasa saja. Tantangannya adalah:

bagaimana bila orang biasa dapat melakukan hal yang luar biasa?



Mungkin demikian dulu sambil menunggu pencerahan yang lain. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..>

wrote:

>

>

> Rekan-2 ysh,

>

> Menyambung diskusi 'fenamenologi' , kalau dalam dunia ke'dokter'an ada

aliran yang dapat keahlian 'khusus' sehingga menjadi 'terkun' alias

'dokter-dukun' , dalam dunia ke'arsitektur' an juga ada yang dapat wangsit

'feng-shui' sehingga mungkin dapat menjadi 'arsikun' alias

'arsitek-dukun' , apakah dalam dunia ke'planner'an dengan 'semedi'

mendalami yang 'keramat', maka ada yang bisa menjadi 'plankun' alias

'planner-dukun' ? he he he...

>

> Terlampir ada tulisan 'Mental Feng Shui' yang saya dapat dari teman

asli orang bule di California (dekatnya Kali Code) yang percaya dengan

'spiritualisme' , selamat membaca semoga bermanfaat.

>

> Wassalam,

>

> Onnos

>

>

>

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> From: 4ek...@...

> Date: Sun, 9 Aug 2009 04:30:21 +0000

> Subject: [referensi] Re: critical planning ?

>

>

>

>

>

>

> Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread ini.

Secara tidak sadar dan 'sepakat' kita memang telah bergeser dari semula

membicarakan 'benda mati' (: ruang) kepada membicarakan 'makhluk hidup'.

'Transformasi' ini memang tidak bisa kita hindarkan dalam profesi,

karena selama ini memang ada secara laten.

>

> Saya mendapatkan banyak pencerahan ketika dulu pernah menelusuri

sedikit babad Jawa, dan mendapatkan suatu kesan: 'pewarisan' itu

dilakukan dengan 3 cara: 1 pertalian darah, dan yang 2 adalah sangat

kental budaya Jawa yaitu melalui yang diistilahkan Pak ATA dengan 'wahyu

cakraningrat' , serta 3 adalah persekutuan. Kesan terkuat dari aspek

pertalian darah adalah ketika pendirian Demak Bintoro: sewaktu Wali

Songo mengamanatkan tahta kepada pemuda mentah Raden Patah. Dan untuk

cara 2 adalah seperti yang ditunjukkan Ki Ageng Giring; dan cara 3

adalah ditunjukkan oleh Panembahan Senopati yang mengedepankan aspek

fenomenologi. Mungkin itu penafsiran awal saya yang cetek ini.

>

> Di era sekarang mungkin mengemuka cara ke-4 yaitu demokrasi, namun

secara 'usia penerapan' tentunya masih perlu mencari acuan dan pijakan,

terlebih masyarakat sudah steady dengan sistem-sistem lama. Di beberapa

daerah perseteruan ini telah nyata walau dalam varian yang berbeda,

seperti Perang Tjumbok di Aceh dan Perang Paderi di Minangkabau. Untuk

Jawa, saya kira Geertz menggambarkan secara skeptis proses transformasi

ini ke dalam 3 kelompok, dan sebenarnya tidak ada 'konflik yang

mengemuka'.

>

> Permasalahannya memang demikian, kita menghadapi masyarakat yang gayut

dengan berbagai alam pemikiran. Seperti drama yang kita saksikan dalam

beberapa hari ini: pemaknaan terorisme bisa berbeda dalam sudut pandang

budaya dan aliran keagamaan, karena banyak tabir. Namun kita bisa

sepakat dengan satu hal: bila kekerasan tidak kita sukai. Berdiri dan

berpijak di berbagai perbedaan ini kelihatannya membutuhkan keahlian ala

pemain sirkus, apalagi kemampuan kita dapat mempengaruhi peri kehidupan

masyarakat tersebut.

>

> Sementara demikian dulu pak. Masih membutuhkan pencerahan. Salam.

>

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "risfano" risfano@ wrote:

> >

> > Pak Djarot,

> > Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya.

> > Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami

kejadian dan apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan

nya diproyeksikan ke depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat

masyarakat setempat juga berkembang terus.

> >

> > Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan

ide/faham baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut

ada eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme,

klenik). Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak

alasan kramat yang membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus,

karena alasan keramat bahwa "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk

'sesajen' bagi pangeran, dst. Artinya karena soal kekeramatan ini tidak

bisa terbuka reason nya, ada peluang untuk di-abuse juga.

> >

> > Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif,

sejauh mana otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim

nya, kan pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya

kekeramatannya.

> >

> > Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat

spesifik dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh

bisa dibawa ke ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke

depan". Kita mesti sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism,

tapi juga neo-feodalism lokal yang cenderung eksplotatif terhadap

rakyat. Apakah karena "anti ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata:

dari mana tokoh itu dapat uang shg bisa pesta adat besar besar-besaran

untuk pernikahan putrinya (misalnya). Jangan bicara ekonomi, itu barat,

beliau mulia karena mengangkat adat budaya sukunya (?).

> > Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya selalu

multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur

sosial, ada aspek ekonomi.

> > Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif?

sesuatu yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam,

Rendra, dll) kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan

(kedepan, bukan kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke

urban. Dan, mereka cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan

simbol-simbol kuasa rekaan raja-raja.

> > Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah.

Kalau ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai

untuk ngirim "ketik REG spasi KRAMAT..."

> >

> > Salam,

> > Risfan Munir

> >

> >

> > Salam,

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> > >

> > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi.

Salah satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi

bersifat "fotomic" melainkan "holografic" . Jika kita mewawancara

mendalam seorang tukang becak, misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh

yaitu tentang "dunia tukang becak". Jadi tahu sedikit bisa melongok

ngicipi yang lebih jauh !

> > >

> > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus

latihan. Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak

terpengaruh oleh teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak

murtad dari dunia ilmuwan lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya

proses memahami subyek/obyek yang kita cermati tidak dicemari

teori-teori atau opini pihak lain terhadap obyek.subyek kajian kita.

Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan pengalaman itu dengan

runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak.

> > >

> > > Salam,

> > >

> > >

> > >

> > > Djarot Purbadi

> > >

> > >

> > >

> > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> > >

> > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

> > >

> > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> > >

> > > --- On Thu, 8/6/09, bspriyo@ bspriyo@ wrote:

> > >

> > > From: bspriyo@ bspriyo@

> > > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

> > > To: refere...@yahoogrou ps.com

> > > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > >

> > > Luar biasa mas Djarot ...

> > > saya mendapatkan pencerahan.

> > > Matur nuwun

> > > salam

> > > bambang sp

> > >

> >

>

>

>

>

>

>

>

>

>

> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _

> What can you do with the new Windows Live? Find out

> http://www.microsof t.com/windows/ windowslive/ default.aspx

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke