Pak Risfan ysh, memang sebenarnya sangat menarik membahas thread ini.
Secara tidak sadar dan 'sepakat' kita memang telah bergeser dari semula
membicarakan 'benda mati' (: ruang) kepada membicarakan 'makhluk hidup'.
'Transformasi' ini memang tidak bisa kita hindarkan dalam profesi,
karena selama ini memang ada secara laten.

Saya mendapatkan banyak pencerahan ketika dulu pernah menelusuri sedikit
babad Jawa, dan mendapatkan suatu kesan: 'pewarisan' itu dilakukan
dengan 3 cara: 1 pertalian darah, dan yang 2 adalah sangat kental budaya
Jawa yaitu melalui yang diistilahkan Pak ATA dengan 'wahyu
cakraningrat', serta 3 adalah persekutuan. Kesan terkuat dari aspek
pertalian darah <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3644> 
adalah ketika pendirian Demak Bintoro: sewaktu Wali Songo mengamanatkan
tahta kepada pemuda mentah Raden Patah. Dan untuk cara 2 adalah seperti
yang ditunjukkan Ki Ageng Giring; dan cara 3 adalah ditunjukkan oleh
Panembahan Senopati yang mengedepankan aspek fenomenologi. Mungkin itu
penafsiran awal saya yang cetek ini.

Di era sekarang mungkin mengemuka cara ke-4 yaitu demokrasi, namun
secara 'usia penerapan' tentunya masih perlu mencari acuan dan pijakan,
terlebih masyarakat sudah steady dengan sistem-sistem lama. Di beberapa
daerah perseteruan ini telah nyata walau dalam varian yang berbeda,
seperti Perang Tjumbok
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/904>  di Aceh dan
Perang Paderi di Minangkabau. Untuk Jawa, saya kira Geertz menggambarkan
secara skeptis proses transformasi ini ke dalam 3 kelompok, dan
sebenarnya tidak ada 'konflik yang mengemuka'.

Permasalahannya memang demikian, kita menghadapi masyarakat yang gayut
dengan berbagai alam pemikiran. Seperti drama yang kita saksikan dalam
beberapa hari ini: pemaknaan terorisme bisa berbeda dalam sudut pandang
budaya dan aliran keagamaan, karena banyak tabir. Namun kita bisa
sepakat dengan satu hal: bila kekerasan tidak kita sukai. Berdiri dan
berpijak di berbagai perbedaan ini kelihatannya membutuhkan keahlian ala
pemain sirkus, apalagi kemampuan kita dapat mempengaruhi peri kehidupan
masyarakat tersebut.

Sementara demikian dulu pak. Masih membutuhkan pencerahan. Salam.

-ekadj

--- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote:
>
> Pak Djarot,
> Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya.
> Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami kejadian
dan apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan nya
diproyeksikan ke depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat
masyarakat setempat juga berkembang terus.
>
> Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan
ide/faham baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut
ada eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme,
klenik). Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak
alasan kramat yang membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus,
karena alasan keramat bahwa "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk
'sesajen' bagi pangeran, dst. Artinya karena soal kekeramatan ini tidak
bisa terbuka reason nya, ada peluang untuk di-abuse juga.
>
> Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif,
sejauh mana otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim
nya, kan pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya
kekeramatannya.
>
> Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat
spesifik dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh
bisa dibawa ke ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke
depan". Kita mesti sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism,
tapi juga neo-feodalism lokal yang cenderung eksplotatif terhadap
rakyat. Apakah karena "anti ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata:
dari mana tokoh itu dapat uang shg bisa pesta adat besar besar-besaran
untuk pernikahan putrinya (misalnya). Jangan bicara ekonomi, itu barat,
beliau mulia karena mengangkat adat budaya sukunya (?).
> Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya selalu
multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur
sosial, ada aspek ekonomi.
> Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif?
sesuatu yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam,
Rendra, dll) kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan
(kedepan, bukan kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke
urban. Dan, mereka cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan
simbol-simbol kuasa rekaan raja-raja.
> Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah.
Kalau ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai
untuk ngirim "ketik REG spasi KRAMAT..."
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
> Salam,
>
>
>
>
>
>
> --- In [email protected], Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> >
> > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi.
Salah satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi
bersifat "fotomic" melainkan "holografic". Jika kita mewawancara
mendalam seorang tukang becak, misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh
yaitu tentang "dunia tukang becak". Jadi tahu sedikit bisa melongok
ngicipi yang lebih jauh !
> >
> > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus
latihan. Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak
terpengaruh oleh teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak
murtad dari dunia ilmuwan lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya
proses memahami subyek/obyek yang kita cermati tidak dicemari
teori-teori atau opini pihak lain terhadap obyek.subyek kajian kita.
Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan pengalaman itu dengan
runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak.
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> >
> > http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> >
> > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
> >
> > --- On Thu, 8/6/09, bspriyo@ bspriyo@ wrote:
> >
> > From: bspriyo@ bspriyo@
> > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
> > To: [email protected]
> > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Luar biasa mas Djarot ...
> > saya mendapatkan pencerahan.
> > Matur nuwun
> > salam
> > bambang sp
> >
>

Kirim email ke