Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi. Salah 
satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi bersifat "fotomic" 
melainkan "holografic". Jika kita mewawancara mendalam seorang tukang becak, 
misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh yaitu tentang "dunia tukang becak". 
Jadi tahu sedikit bisa melongok ngicipi yang lebih jauh ! 

Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus latihan. 
Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak terpengaruh oleh 
teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak murtad dari dunia ilmuwan 
lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya proses memahami subyek/obyek yang 
kita cermati tidak dicemari teori-teori atau opini pihak lain terhadap 
obyek.subyek kajian kita. Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan 
pengalaman itu dengan runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 8/6/09, [email protected] <[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM






 




    
                  Luar biasa mas Djarot ... 
saya mendapatkan pencerahan.
Matur nuwun
salam
bambang sp
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke