Pak Djarot, Terima kasih atas penyegaran flsafat ilmunya. Katakanlah kita menggunakan fenomenologi. Kita jadi memahami kejadian dan apa-apa dibaliknya. Pertanyaan yang muncul, kalau temuan nya diproyeksikan ke depan apakah bisa dan masih berlaku? Mengingat masyarakat setempat juga berkembang terus.
Kedua, sebagai planner/arsitek mestinya kita juga memperkenalkan ide/faham baru juga kan. Misal kalau kita tahu dalam komunitas tersebut ada eksploitasi, penindasan atas kasta bawahan (atas nama feodalisme, klenik). Kan kita harus mengintervensi juga toh. Gurauannya: Banyak alasan kramat yang membuat anak kecil cuma kebagian "ceker" terus, karena alasan keramat bahwa "brutu, dada" untuk ortu. "Bunga desa" untuk 'sesajen' bagi pangeran, dst. Artinya karena soal kekeramatan ini tidak bisa terbuka reason nya, ada peluang untuk di-abuse juga. Seperti kata pak Onnos, diera yang kian demokratis/ partisipatif, sejauh mana otoritas planner untuk menentukan desain berdasar kajian tim nya, kan pemangku kepentingan saat ini belum tentu percaya kekeramatannya. Sekali lagi, yang keramat, yang asli daerah (etnik?) itu sangat spesifik dalam artian "ruang dan waktu" (term Pak ATA), seberapa jauh bisa dibawa ke ruang-waktu atau khasanah "Indonesia masa kini dan ke depan". Kita mesti sadar bahwa musuh kita bukan cuma neo-liberalism, tapi juga neo-feodalism lokal yang cenderung eksplotatif terhadap rakyat. Apakah karena "anti ekonomi" (rasio) membuat kita tutup mata: dari mana tokoh itu dapat uang shg bisa pesta adat besar besar-besaran untuk pernikahan putrinya (misalnya). Jangan bicara ekonomi, itu barat, beliau mulia karena mengangkat adat budaya sukunya (?). Kesimpulan saya Pak Djarot, sekali menyangkut publik aspeknya selalu multi-dimensi, selain lokal ada nasional, ada budaya, ada struktur sosial, ada aspek ekonomi. Budaya Indonesia itu apa? kumpulan etnik? semuanya atau selektif? sesuatu yang baru? Kalau saya ikuti dialog budayawan (alm Umar Kayam, Rendra, dll) kesan saya mereka cenderung melihat proses perubahan (kedepan, bukan kebelakang) menuju Indonesia, dalam transisi rural ke urban. Dan, mereka cenderung membela budaya rakyat, daripada klenik dan simbol-simbol kuasa rekaan raja-raja. Kalau gerhana, katakan gerhana Pak, jangan bilang "buta hejo" marah. Kalau ngitung struktur pakai kalkulator, PC, jangan blackberry dipakai untuk ngirim "ketik REG spasi KRAMAT..." Salam, Risfan Munir Salam, --- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak BSP, saya belum terlalu lama menikmati nikmatnya fenomenologi. Salah > satunya adalah bahwa realitas yang ditangkapnya tidak lagi bersifat "fotomic" > melainkan "holografic". Jika kita mewawancara mendalam seorang tukang becak, > misalnya, kita sebenarnya tahu lebih jauh yaitu tentang "dunia tukang becak". > Jadi tahu sedikit bisa melongok ngicipi yang lebih jauh ! > > Rahasianya, untuk berfenomenologi yang berkualitas memang harus latihan. > Latihan pertama, memurnikan diri, yaitu membiasakan tidak terpengaruh oleh > teori-teori yang pernah kita ketahui....ini nggak murtad dari dunia ilmuwan > lho, hanya melakukan skipping sebentar supaya proses memahami subyek/obyek > yang kita cermati tidak dicemari teori-teori atau opini pihak lain terhadap > obyek.subyek kajian kita. Latihan kedua adalah menuliskan atau mendongengkan > pengalaman itu dengan runtut dan detil. Dua jurus dulu ya Pak. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnusantara.wordpress.com > > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On Thu, 8/6/09, bspr...@... <bspr...@...> wrote: > > From: bspr...@... <bspr...@...> > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? > To: [email protected] > Date: Thursday, August 6, 2009, 12:16 PM > > > > > > > > > > > > > Luar biasa mas Djarot ... > saya mendapatkan pencerahan. > Matur nuwun > salam > bambang sp >

