Rekans ysh, Membaca seluruh komentar dari teman2 saya benar2 sangat hargai dari sudut pandangnya. Tetapi disinilah saya ingin menyampaikan sebuah pemikiran. Menggunakan bahasa jawa dengan pemahaman ke Indonesiaan yang kental jauh lebih baik daripada memahami ke Indonesiaan namun dengan pemahaman budaya yang sangat tipis. Maaf saya sangat mempertentangkan hal ini.
Saya sangat sangat sedih bila akhirnya nanti hanya mengenal budaya Indonesia. Karena itu tidak akan pernah ada!!! Hal inilah yang menyebabkan kegagalan kita selama lebih dari 40 tahun menjadi sebuah "Indonesian standardized". Perhatikan UU 5/74 yang secara pelan tapi pasti menghabisi nilai2 lokalitas. Bahkan UU kita yang ada sekarangpun banyak yang mengeliminasi kekayaan budaya karena kita memang berstereotipe bahwa kita harus menjadi Indonesia. Dari sinilah kita akan menghilangkan makna keberadaan bangsa kita yang punya "Bhineka Tunggal Ika". Biarlah kita tetap bisa mengatakan "Saya orang Batak yang Indonesia" atau "saya orang Minang yang Indonesia". Biarlah saya pandai berbahasa Indonesia tapi juga pandai berbahasa Jawa. Sebagaimana teman saya Tatang panda berbahasa Indonesia namun juga faseh berbahasa Sunda. Yang lebih dibutuhkan sebenarnya adalah saling kesepahaman antar budaya. Karena itu saya sangat menghargai usaha uda Eka DJ yang memfasilitasi dengan milist kebudayaan dan referensi ini. Tentang masalah egalitarian dan demokrasi yang menjadi sudut pandang rekans menanggapi masalah penggunaan bahasa Jawa. Saya terpaksa menyampaikan argumen "benarkah demokrasi yang dilakukan Jepang itu demokrasi yang sesuai dengan textbook?", benarkah "demokrasi yang dilakukan di Perancis yang pernah mengeluarkan ungkapan persamaan, persaudaraan, dan solidaritas menggunakan konsep demokrasi seperti yang ada pada text book?", bahkan Inggrispun demikian. Saya melihat bahwa negara2 itu ternyata sangat diwarnai oleh budayanya. Sehingga mungkin sudah saatnya kita mengatakan lakukan demokrasi berbasis budaya kita. Karena kalau tidak kita akan meterjemahkan demokrasi menjadi do emoh dikerasi (pada tidak mau dikerasin). Maaf kalau kurang sopan. Salam bambang sp

