Dear Sahabats, Ada tambahan tentang Van Lith. Mengapa van Lith yang orang Belanda itu bisa memahami jiwa orang Jawa? Dia tidak memandang gereja Katolik sebagai institusi alias birokrasi. Hampir setiap saat dia banyak bergaul dengan orang Jawa, main catur dengan warga desa, banyak nonton wayang bahkan bermain gamelan bersama umatnya yang orang Jawa. Proses yang dilakukan van Lith adalah berusaha menyelami jiwa dan budaya Jawa. Ia berhasil terutama karena tuntunan Tuhan, tetapi dalam kaitan diskusi ilmiah kita, saya berani mengatakan bahwa van Lith menggunakan cara fenomenologi untuk mengadakan perjumpaan dengan orang Jawa dan budayanya.
Kasus penggunaan bahasa Jawa di kalangan birokrasi di Yogyakarta yang dihebohkan di milis ini saya tidak punya data cukup untuk memahami, menilai kemudian berpendapat. Isaku (bisa saya) sementara berusaha menyodorkan kasus van Lith ini sebagai semacam pemandangan lapang sementara bahwa menggunakan bahasa Jawa, apalagi oleh orang asing (non-Jawa) atau bahasa daerah oleh orang non-daerah tertentu dapat menjadi faktor positif. Artinya, bahasa lokal jika digunakan dengan konsep tertentu yang jelas dapat menjadi sarana positif untuk mewujudkan kemajuan. Bahasa lokal dapat digunakan untuk memahami dan beradaptasi dengan budaya nasional dan internasional, yang sekarang menjadi konteks tidak-terhindarkan dalam era keterbukaan dunia. Kehebohan kita di milis ini tentang kasus itu, jika tanpa informasi yang memadai, mirip empat orang buta yang menyampaikan pendapatnya tentang gajah menurut pemahaman mereka yang terbatas. Jika di milis ini ada warga yang mampu memberikan informasi tentang konteks terdekat berkaitan dengan lahirnya tradisi dan keputusan yang menjadi tema diskusi kita, tentulah situasinya menjadi lebih baik. Artinya, perang persepsi bak orang buta dapat dihindari, meskipun perdebatan seperti itu bisa menjadi sebuah proses rekreasi bersama....escape sejenak ya Eyang Aby ??? .... hahahaha.... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sat, 8/15/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: [referensi] Think locally, do globally ? To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Saturday, August 15, 2009, 10:52 AM Rekan-2 ysh, Mulai kemarin para birokrat di D.I. Jogyakarta secara resmi diharuskan berkomunikasi formil lisan dengan bahasa Jowo, kalau tertulis resmi pakai bahasa Indonesia. Apakah ini akan menghidupkan 'kearifan lokal' atau 'neo-feodalisme' ? (silahkan baca artikel dibawah). Bagaimana kalau daerah-2 lain di Indonesia mengikuti dengan bahasa daerah masing-2, sepertinya kita musti belajar bahasa Bali, Batak, Kalimantan, Papua, dll. asyiiik... ngaturaken sugeng 'shaum Ramadhan' ...nyuwun pangapunten. .. matur nuwun. Wassalam, okezone.com - 8/14/2009 11:50 AM Local Time Hari Ini Pemprov DIY Terapkan Bahasa Jawa YOGYAKARTA - Mulai hari ini seluruh pegawai di seluruh lingkungan dinas di Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta serta kabupaten/kota akan menggunakan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari. Menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hb X, sebenarnya penggunaan bahasa Jawa ini telah dilakukan sebelumnya di tingkat kabupaten/kota namun harinya belum seragam. "Itu kan sebenarnya sudah jauh hari lalu diterapkan khususnya di tingkat kabupaten/kota tapi beda-beda harinya. Nah, mulai besok itu diseragamkan tiap hari Sabtu semua," ujar Sultan di Yogyakarata, Jumat (14/8/2009). Menurut Sri Sultan, penggunaan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari ini merupakan bentuk penghargaan atas nilai-nilai budaya masyarakat Jawa. Apalagi sejak Indonesia belum merdeka masyarakat Jawa sudah memiliki tradisi sendiri, filosofi sendiri, cara berbusana sendiri, maupun makanan sendiri. "Langkah ini sebagai bentuk penghargaan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa yang sudah lama diajarkan oleh para orangtua kita," tuturnya. Sebelumnya Kepala Biro Umum, Humas, dan Protokol Pemprop DIY Sigit Sapto Raharjo menjelaskan, aturan penggunaan bahasa Jawa ini utamanya untuk komunikasi lisan. Sedang untuk komunikasi tertulis secara formal tetap menggunakan bahasa Indonesia, mengingat jika menggunakan bahasa Jawa dibutuhkan pedoman dan kaidah-kaidah yang perlu dipelajari, surat-surat tidak formal, bisa dimulai dengan bahasa Jawa. "Misalnya memo kepala kepada stafnya, bisa saja menggunakan bahasa Jawa," kata Sigit. Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here

