Pak Onnos yang baik dan Sahabats, Uraian saya berdasarkan data yang saya miliki dan saya juga sadar tentang keberadaan para Wali di Jawa yang konon jumlahnya selalu sembilan. Menurut informan saya di makam Syeh Maulana Maghribi tahun 2002 ungkapan "jumlah selalu sembilan" waktu itu mengejutkan saya, sebab katanya, jika ada yang meninggal satu maka segera dilakukan penggantian dan jumlahnya selalu sembilan. Waktu saya telusur lebih lanjut, beliau memang tidak bisa menunjukkan bukti ilmiah, tetapi hanya atas dasar keyakinan. Nah ini subyektivitas informan yang perlu dicatat, siapa tahu lain waktu kita menemukan bukti yang menguatkan.
Saya sendiri tidak mendalami cara para wali menanamkan benih iman Islam di Jawa, kecuali sebagai sebuah dongeng saja, meskipun bukti Masjid Demak, misalnya sangat jelas keberadaannya. Fenomena Van Lith berlanjut dimana-mana, misalnya misionaris yang datang di kalangan berbagai suku di Indonesia juga menerjemahkan dan menulisnya dalam bahasa lokal/suku. Hal ini berlanjut, bahasa lokal digunakan untuk mengungkapkan rasa budaya religius dalam lagu-lagu, doa-doa dan kotbah (homili). ketika di Kaenbaun saya mendengar generasi tua berdoa dengan bahasa lokal sementara generasi muda justru dengan bahasa Indonesia. Fenomena tua-muda dan beda bahasa ini menarik diangkat dalam diskusi kita, sebab menurut saya ada keterputusan dalam penggunaan bahasa lokal ini. Kasus yang serupa juga terjadi di paroki kami, yang tua-tua senang Misa dengan bahasa Jawa sedangkan yang muda-muda senang berhahasa Indonesia. Jika belajar dari kedua kasus ini tampaknya keputusan Pemda DIY tentang penggunaan bahasa Jawa dalam komunikasi di kalangan birokrasi kayaknya melawan arus. Pak Onnos, itu penilaian sementara saya. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sun, 8/16/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Think locally, do globally ? To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Sunday, August 16, 2009, 7:15 PM Mas Djarot dan rekan-2 ysh, Kalau kita melihat lebih jauh kebelakang, sebelum Van Lith menyebarkan agamanya dengan pendekatan bahasa Jawa, sepertinya para Wali Songo juga sudah duluan mendekati umatnya dengan memakai bahasa dan kegiatan budaya lainnya (wayang kulit, bangunan masjid, dll). Ini bisa kita lihat dari adanya terjemahan ayat-2 kitab suci Al'Quran dan Hadist Rasulullah kedalam bahasa jawa. Masalahnya mungkin kegiatan keagamaan sifatnya lebih ke'wirasa', berbeda dengan kegiatan formil birokrasi yang bersifat 'atasan-bawahan' . Nah, karena bahasa jawa ada tingkatan-2 (kalau tidah salah ada 4 tingkatan: diatas kromo inggil-kromo inggil-madyo- ngoko), maka para bawahan akan 'kagok' kalau bicara kepada atasannya dengan 'ngoko', tetapi kalau dengan bahasa Indonesia atasan-bawahan merasa sejajar, jadi tidak ada 'gap', tetapi bukan berarti bawahan bisa 'kurang ajar' lho. Kalau digunakan dalam lingkungan keluarga atau 'teman' mungkin bahasa jawa tidak masalah, malah dapat dipakai sebagai 'wirasa' dari hati ke hati. Nyuwun ngapunten mas, mbok menowo aku akeh salahe. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: dpurb...@yahoo. com Date: Sun, 16 Aug 2009 01:05:34 -0700 Subject: Re: [referensi] Think locally, do globally ? Dear Sahabats, Ada tambahan tentang Van Lith. Mengapa van Lith yang orang Belanda itu bisa memahami jiwa orang Jawa? Dia tidak memandang gereja Katolik sebagai institusi alias birokrasi. Hampir setiap saat dia banyak bergaul dengan orang Jawa, main catur dengan warga desa, banyak nonton wayang bahkan bermain gamelan bersama umatnya yang orang Jawa. Proses yang dilakukan van Lith adalah berusaha menyelami jiwa dan budaya Jawa. Ia berhasil terutama karena tuntunan Tuhan, tetapi dalam kaitan diskusi ilmiah kita, saya berani mengatakan bahwa van Lith menggunakan cara fenomenologi untuk mengadakan perjumpaan dengan orang Jawa dan budayanya. Kasus penggunaan bahasa Jawa di kalangan birokrasi di Yogyakarta yang dihebohkan di milis ini saya tidak punya data cukup untuk memahami, menilai kemudian berpendapat. Isaku (bisa saya) sementara berusaha menyodorkan kasus van Lith ini sebagai semacam pemandangan lapang sementara bahwa menggunakan bahasa Jawa, apalagi oleh orang asing (non-Jawa) atau bahasa daerah oleh orang non-daerah tertentu dapat menjadi faktor positif. Artinya, bahasa lokal jika digunakan dengan konsep tertentu yang jelas dapat menjadi sarana positif untuk mewujudkan kemajuan. Bahasa lokal dapat digunakan untuk memahami dan beradaptasi dengan budaya nasional dan internasional, yang sekarang menjadi konteks tidak-terhindarkan dalam era keterbukaan dunia. Kehebohan kita di milis ini tentang kasus itu, jika tanpa informasi yang memadai, mirip empat orang buta yang menyampaikan pendapatnya tentang gajah menurut pemahaman mereka yang terbatas. Jika di milis ini ada warga yang mampu memberikan informasi tentang konteks terdekat berkaitan dengan lahirnya tradisi dan keputusan yang menjadi tema diskusi kita, tentulah situasinya menjadi lebih baik. Artinya, perang persepsi bak orang buta dapat dihindari, meskipun perdebatan seperti itu bisa menjadi sebuah proses rekreasi bersama....escape sejenak ya Eyang Aby ??? .... hahahaha.... Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sat, 8/15/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Subject: [referensi] Think locally, do globally ? To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Saturday, August 15, 2009, 10:52 AM Rekan-2 ysh, Mulai kemarin para birokrat di D.I. Jogyakarta secara resmi diharuskan berkomunikasi formil lisan dengan bahasa Jowo, kalau tertulis resmi pakai bahasa Indonesia. Apakah ini akan menghidupkan 'kearifan lokal' atau 'neo-feodalisme' ? (silahkan baca artikel dibawah). Bagaimana kalau daerah-2 lain di Indonesia mengikuti dengan bahasa daerah masing-2, sepertinya kita musti belajar bahasa Bali, Batak, Kalimantan, Papua, dll. asyiiik... ngaturaken sugeng 'shaum Ramadhan' ...nyuwun pangapunten. .. matur nuwun. Wassalam, okezone.com - 8/14/2009 11:50 AM Local Time Hari Ini Pemprov DIY Terapkan Bahasa Jawa YOGYAKARTA - Mulai hari ini seluruh pegawai di seluruh lingkungan dinas di Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta serta kabupaten/kota akan menggunakan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari. Menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hb X, sebenarnya penggunaan bahasa Jawa ini telah dilakukan sebelumnya di tingkat kabupaten/kota namun harinya belum seragam. "Itu kan sebenarnya sudah jauh hari lalu diterapkan khususnya di tingkat kabupaten/kota tapi beda-beda harinya. Nah, mulai besok itu diseragamkan tiap hari Sabtu semua," ujar Sultan di Yogyakarata, Jumat (14/8/2009). Menurut Sri Sultan, penggunaan bahasa Jawa dalam aktivitas sehari-hari ini merupakan bentuk penghargaan atas nilai-nilai budaya masyarakat Jawa. Apalagi sejak Indonesia belum merdeka masyarakat Jawa sudah memiliki tradisi sendiri, filosofi sendiri, cara berbusana sendiri, maupun makanan sendiri. "Langkah ini sebagai bentuk penghargaan nilai-nilai budaya masyarakat Jawa yang sudah lama diajarkan oleh para orangtua kita," tuturnya. Sebelumnya Kepala Biro Umum, Humas, dan Protokol Pemprop DIY Sigit Sapto Raharjo menjelaskan, aturan penggunaan bahasa Jawa ini utamanya untuk komunikasi lisan. Sedang untuk komunikasi tertulis secara formal tetap menggunakan bahasa Indonesia, mengingat jika menggunakan bahasa Jawa dibutuhkan pedoman dan kaidah-kaidah yang perlu dipelajari, surat-surat tidak formal, bisa dimulai dengan bahasa Jawa. "Misalnya memo kepala kepada stafnya, bisa saja menggunakan bahasa Jawa," kata Sigit. Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here Party with Buddy! Bling out your Messenger with free winks emoticons. Click here

