Mas BTS dan rekan-2 ysh, Yang jelas JSS akan mempercepat hubungan Jawa - Sumatera (pp), tetapi masalahnya apakah dapat mengurangi kepadatan di Jawa atau justru menambah padat ? terutama di Propinsi Banten & Jabar ? Katanya (?) Jawa-Bali-NTB & Sumatera itu masa lalu, Kalimantan & Sulawesi itu masa kini, sedangkan NTT-Maluku & Papua itu masa depan Indonesia. Jadi apakah pembangunan JSS itu sebetulnya masih berorientasi kepada masa lalu Indonesia ?
Kalau SOH (Sydney Opera House), menurut saya itu karya seni yang sifatnya memang monumental sebagai 'landmark' kota Sydney yang 'view'nya bagus kalau disandingkan dengan 'Sydney Bridge', jadi fungsi bangunan tidak hanya untuk kegiatan Opera saja. Kalau kita lewat terowongan antara South - North Sydney, maka tidak dapat menikmati pemandangan yang bagus tersebut, sepertinya 'keindahan buatan' sudah menjadi 'gaya hidup' disana. Kalau disini kita masih punya banyak 'keindahan yang alami', tidak perlu yang buatan atau imitasi ya .. he he he... Wassalam, Onnos To: [email protected] From: [email protected] Date: Tue, 25 Aug 2009 08:45:46 -0700 Subject: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis. Dear all. Dalam seminar Jembatan Selat Sunda (JSS) yang diberitakan DetikNews (baca di bawah), aneh..koq Johan Silas pesimis. Takut nasibnya nanti seperti Sidney Opera Hall (SOH) yang nggak kepakai. Bukankah fungsi jembatan dan Opera Hall itu beda sekali. JSS nanti menghubungkan 2 pole (Sumatera dan Jawa) yang berkekuatan ekonomi besar. Beda dengan Opera Hall yang hanya dipakai untuk kegiatan budaya, sifatnya insidentil. Beda donk pak Johan? Terus komentar DR.Diana ya rada aneh, mengapa harus didesain dengan ketinggian 140 meter agar bisa dilewati Kapal Induk? Bukankah bisa didesain jembatan yang bisa buka-tutup? Komentar Prof.Herman lain lagi. Ia takut jika nanti anak Krakatau meletus. Lha sekarang tiap hari khan meletus. Kalau tiap hari meletus, artinya tidak bahaya. Kalau gunung diam saja,,,itu malah bahaya. Heran, belum apa-apa koq wong Suroboyo pesimis. Yang membahayakan JSS itu bukan itu semua, tapi kalau besi baja konstruksi pilar-pilar itu dicolongi, kaya Jembatan Suramadu itu. Itu yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana, apakah Anda termasuk pesimis? Atau apa sih kelemahan JSS nantinya? Thanks. CU. BTS. Jembatan Selat Sunda Ditentang Akademisi Steven Lenakoly - detikNews Surabaya - Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mendapatkan pertentangan dari akademisi. Jembatan itu dinilai tidak memiliki nilai tambah sehingga pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 30 kilometer itu sebaiknya dipikirkan lagi. Pembangunan jembatan itu dinilai lebih memiliki nilai gengsi daripada nilai fungsional. "Seperti Sidney Opera Hall yang tidak lagi terpakai. Saya takutkan nanti seperti ikon Australia itu," kata pakar tata kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Johan Silas dalam seminar Jembatan selat sunda: Blunder atau Terobosan Teknologi? Tantangan Negara Kepulauan di ITS, Jalan Sukolilo, Selasa (25/8/2009). Contoh yang dimaksud oleh Johan menggambarkan bahwa Sidney Opera Hall yang semula bertujuan untuk pementasan opera dan menghabiskan dana yang sangat besar ternyata saat ini tidak sesuai harapan. Saat ini gedung itu malah menjadi ikon yang tidak memiliki nilai positif. Ia memaparkan bahwa JSS itu tidak memberikan pertambahan nilai saja dan lebih merupakan prestige bangsa ini. Ia menyarankan agar lebih baik memperbaiki kapal yang menghubungkan Jawa-Sumatera yang saat ini masih belum optimal. Pertimbangan ini didasarkan bila kapal lebih baik maka akan terjadi perkembangan ekonomi dan lebih efektif dibandingkan jembatan. Jembatan tidak bisa memberikan nilai tambah pada lingkungan sekitarnya. Sementara itu pakar hukum perairan internasional Universitas Hang Tua, DR Dhiana T Wardana menyatakan bahwa Selat Sunda merupakan perairan lalu lintas internasional. Sehingga apabila nanti dibangun jembatan akan mempersulit lalu lintas internasional. Hal ini bila melihat fungsi perairan internasional itu juga termasuk lalu lintas kapal perang yang juga kapal selam dan kapal induk. Belum lagi peraturan tentang perairan internasional yang semakin menebalkan sikap pesimis terhadap jembatan ini. Peraturan itu menuliskan bahwa selat yang merupakan jalur internasional yang bisa dilewati berbagai jenis kapal. Dengan kata lain, tinggi JSS harus lebih tinggi dari tinggi kapal induk atau harus lebih tinggi dari 140 meter dari permukaan laut. "Ini konyol dan mana mungkin membangun jembatan setinggi itu? Seperti membangun di atas awan-awan," tambahnya. Pertimbangan lain juga diutarakan oleh pakar jembatan Teknik Sipil ITS, Prof Herman Wahyudi. Ia mengkhawatirkan konstruksi yang digunakan oleh JSS yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Artinya berbeda dengan Suramadu yang daerah sekitarnya tidak terdapat gunung berapi. Konstruksi jembatan, lanjutnya, harus bisa menahan gempa dan harus bisa mengantisipasi bila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau. "Ini harus dicarikan solusinya," ucapnya. (stv/rdf) _________________________________________________________________ See all the ways you can stay connected to friends and family http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

