Dear all.
 
Kepulauan Indonesia Timur (KIT) adalah masa depan, Kepulauan Indonesia Barat 
(KIB) adalah masa kini. SETUJU, dan sudah menjadi "Blue Print" arah kebijakan 
kita untuk Indonesia masa datang. Terus SIAPA yang bisa mengarahkan pembangunan 
masa depan di KIT. Jawabannya tentu PEMERINTAH, baik Pemerintah Pusat maupun 
pemerintah daerah, utamanya pemerintah daerah yang berada di KIT. 
 
CARANYA BAGAIMANA? Biasa,..... menu standarnya ada 2 yaitu : REGULASI dan 
KEBIJAKAN FISKAL.
 
REGULASI telah dilakukan Pemerintah dengan RTRWN, berbagai insentif investasi 
di KIT, KEK, dan perimbangan keuangan ke daerah KIT. Cukupkah? Kurang,... harus 
dibarengi dengan KEBIJAKAN FISKAL. Seberapa kuat kemampuan fiskal Pemerintah 
dan pemerintah daerah di KIT? 
 
Dari data 2008, kemampuan fiskal daerah-daerah KIT hanya sekitar Rp 40 triliun 
dibandingkan kemampuan fiskal daerah-daerah KIB sebesar Rp 260 triliun atau 
perbandingannya 18% vs 82%. Artinya kemampuan fiskal daerah-daerah KIB jauh 
lebih kuat daripada daerah-daerah KIT. Tinggal kemampuan fiskal Pemerintah, 
mampukah Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 220 triliun untuk menutupi gap  
dan menyeimbangkan kemampuan fiskal bagi pemerataan pembangunan? Jawabnya 
mudah,..TIDAK BISA.. soalnya TA 2009 ini saja Pemerintah harus menambal defisit 
sebesar Rp 140 triliun dengan utang, baik utang luar negeri maupun dalam negeri 
(obligasi).
 
Selain masalah gap fiskal tersebut, Pemerintah juga dihadapkan permasalahan 
jangka pendek dan menengah seperti kemiskinan dan pengangguran yang secara 
politis perlu segera diatasi ketimbang cita-cita jangka panjang bagi masa 
depan menuju ke KIT. Ini logika kenyataan terhadap berbagai pilihan kebijakan.
 
SWASTA akhirnya dimintai tolong. Berbagai kebijakan dirumuskan untuk mengundang 
swasta bekerja sama membangun daerah melalui pembangunan infrastruktur, 
misalnya Perpres 67/2006 tentang KPS, PP 1/2008 tentang pembentukan Pusat 
Investasi Pemerintah, ada juga PP 75/2009 tentang pembentukan PT Sarana Multi 
Infrastruktur (SMI) yang nantinya membrntuk Indonesia Infrastructure Financing 
Facility IIFF), dan juga pembentukan lembaga penjaminan. Ini semua diperuntukan 
untuk bisa kerja sama dengan swasta (atau swasta agar tertarik mau kerja sama).
 
Kiranya komitmen Pemerintah melibatkan swasta sangat kuat dengan berbagai paket 
kebijakan tersebut. Pertanyaannya, maukah swasta GO EAST?
 
Thanks. CU. BTS.
 
 


--- On Wed, 8/26/09, I G Oka Sindhu Pribadi <[email protected]> wrote:


From: I G Oka Sindhu Pribadi <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis.
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 26, 2009, 2:43 AM


  





Iya, setuju P’BTS, kok kita tdk belajar dari negeri Sakura yg menjadi negara 
kepulauan termaju di dunia dengan julukannya negara sejuta jembatan dan 
terowongan ya....bukannya jelas akan lebih lancar dan mudah serta lebih cepat 
ya transportasi antar pulaunya, krn tak ada antrian waktu penyeberangan dan 
waktu capai yg lebih singkat. Persoalan lain harus/perlu juga dipertimbangkan. 
.setuju, tapi semua kriteria ini jangan kemudian sirna tatkala kita dihadapkan 
pada persoalan sumber dananya (classic question ya pak?). Tapi benar jg kata 
P’Onnos klo kita mau meratakan perkembangan Indo mengapa tdk yg diprioritaskan 
perkembangan di area pulau-pulau masa depan ya (Indo Timur)?...dan bukan 
pulau-pulau masa kini (Indo Barat)
Salam,
Oka
 


From: Bambang Tata Samiadji [mailto:btsamiadji@ yahoo.com] 
Sent: Dienstag, 25. August 2009 22:46
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis.
 
  



Dear all.

Dalam seminar Jembatan Selat Sunda (JSS) yang diberitakan DetikNews (baca di 
bawah), aneh..koq Johan Silas pesimis. Takut nasibnya nanti seperti Sidney 
Opera Hall (SOH) yang nggak kepakai. Bukankah fungsi jembatan dan Opera Hall 
itu beda sekali. JSS nanti menghubungkan 2 pole (Sumatera dan Jawa) yang 
berkekuatan ekonomi besar. Beda dengan Opera Hall yang hanya dipakai untuk 
kegiatan budaya, sifatnya insidentil. Beda donk pak Johan?

Terus komentar DR.Diana ya rada aneh, mengapa harus didesain dengan ketinggian 
140 meter agar bisa dilewati Kapal Induk? Bukankah bisa didesain jembatan yang 
bisa buka-tutup?

Komentar Prof.Herman lain lagi. Ia takut jika nanti anak Krakatau meletus. Lha 
sekarang tiap hari khan meletus. Kalau tiap hari meletus, artinya tidak bahaya. 
Kalau gunung diam saja,,,itu malah bahaya.

Heran, belum apa-apa koq wong Suroboyo pesimis. Yang membahayakan JSS itu bukan 
itu semua, tapi kalau besi baja konstruksi pilar-pilar itu dicolongi, kaya 
Jembatan Suramadu itu. Itu yang perlu dikhawatirkan.

Bagaimana, apakah Anda termasuk pesimis? Atau apa sih kelemahan JSS nantinya?

Thanks. CU. BTS.

Jembatan Selat Sunda Ditentang Akademisi
Steven Lenakoly - detikNews

Surabaya - Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mendapatkan 
pertentangan
dari akademisi. Jembatan itu dinilai tidak memiliki nilai tambah sehingga 
pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 30 kilometer itu sebaiknya dipikirkan 
lagi.

Pembangunan jembatan itu dinilai lebih memiliki nilai gengsi daripada nilai 
fungsional.

"Seperti Sidney Opera Hall yang tidak lagi terpakai. Saya takutkan nanti 
seperti ikon Australia itu," kata pakar tata kota Institut Teknologi Sepuluh 
Nopember (ITS) Prof Johan Silas dalam seminar Jembatan selat sunda: Blunder 
atau Terobosan Teknologi? Tantangan Negara Kepulauan di ITS, Jalan Sukolilo, 
Selasa (25/8/2009).

Contoh yang dimaksud oleh Johan menggambarkan bahwa Sidney Opera Hall yang 
semula bertujuan untuk pementasan opera dan menghabiskan dana yang sangat besar 
ternyata saat ini tidak sesuai harapan. Saat ini gedung itu malah menjadi ikon 
yang tidak memiliki nilai positif.

Ia memaparkan bahwa JSS itu tidak memberikan pertambahan nilai saja dan lebih 
merupakan prestige bangsa ini. Ia menyarankan agar lebih baik memperbaiki kapal 
yang menghubungkan Jawa-Sumatera yang saat ini masih belum optimal.

Pertimbangan ini didasarkan bila kapal lebih baik maka akan terjadi 
perkembangan ekonomi dan lebih efektif dibandingkan jembatan. Jembatan tidak 
bisa memberikan nilai tambah pada lingkungan sekitarnya.

Sementara itu pakar hukum perairan internasional Universitas Hang Tua, DR 
Dhiana T Wardana menyatakan bahwa Selat Sunda merupakan perairan lalu lintas 
internasional. Sehingga apabila nanti dibangun jembatan akan mempersulit lalu 
lintas internasional.

Hal ini bila melihat fungsi perairan internasional itu juga termasuk lalu 
lintas kapal perang yang juga kapal selam dan kapal induk. Belum lagi peraturan 
tentang perairan internasional yang semakin menebalkan sikap pesimis terhadap 
jembatan ini.

Peraturan itu menuliskan bahwa selat yang merupakan jalur internasional yang
bisa dilewati berbagai jenis kapal. Dengan kata lain, tinggi JSS harus lebih 
tinggi dari tinggi kapal induk atau harus lebih tinggi dari 140 meter dari 
permukaan laut.

"Ini konyol dan mana mungkin membangun jembatan setinggi itu? Seperti membangun 
di atas awan-awan," tambahnya.

Pertimbangan lain juga diutarakan oleh pakar jembatan Teknik Sipil ITS, Prof 
Herman Wahyudi. Ia mengkhawatirkan konstruksi yang digunakan oleh JSS yang 
dekat dengan Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Artinya berbeda dengan 
Suramadu yang daerah sekitarnya tidak terdapat gunung berapi.

Konstruksi jembatan, lanjutnya, harus bisa menahan gempa dan harus bisa 
mengantisipasi bila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau. "Ini harus dicarikan 
solusinya," ucapnya.

(stv/rdf) 

















      

Kirim email ke