Dwiagus wrote : Kalau JSS terbangun, jelas mempercepat hub jawa-sumatera,…. Kalau pertanyaan berikutnya apakah menambah padat, bisa jadi tidak juga…. Kalau hukum fluida, tekanan yang besar akan mencari ke tempat dengan tekananrendah,…. Apalagi kalau ada channel penghubungnya,…. Otomatis bisa saja akan terkurangi beban di jawa,… Tanggapan saya : Menarik analogi Anda dengan Fenomena Fisika. Dalam Fisika, Tekatan (P) itu sifatnya menekan atau mendorong sehingga terjadi migrasi molekul ke arah yang P-nya lebih rendah dan volumenya lebih besar. Tapi dalam ekonomi, analogi P itu apa? Kalau P itu dianalogikan sebagai Pertumbuhan Ekonomi (adanya faktor Investasi, Konsumsi, Government Spending, dan flow perdagangan), itu bukan sifatnya "menekan" atau "mendorong" seperti dalam Fisika, justru sebaliknya "menyerap" atau "menyedot". Jadi kemungkinan bila ada JSS, migrasi masih ke arah Jawa sampai tingkat volume yang terlampaui atau spill over. Hipotesis Mas Onno mungkin yang akan terjadi bilamana Pemerintah tidak melakukan upaya besar-besaran untuk investasi publik ke Sumatera dalam rangka menandingi Jawa. Thanks. CU. BTS.
--- On Wed, 8/26/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> wrote: From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> Subject: RE: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis. To: [email protected] Date: Wednesday, August 26, 2009, 2:36 AM Kalau JSS terbangun, jelas mempercepat hub jawa-sumatera,…. Kalau pertanyaan berikutnya apakah menambah padat, bisa jadi tidak juga…. Kalau hukum fluida, tekanan yang besar akan mencari ke tempat dengan tekananrendah,…. Apalagi kalau ada channel penghubungnya,…. Otomatis bisa saja akan terkurangi beban di jawa,… Apalagi Sumatera menawarkan « keindahan » yang lebih dibandingkan jawa,… Apalagi kalau JSS ini disertai struktur jaringan rel KA,.. lebih mantap lagi,……. Sayang khan, kalau jembatan Cuma menghantar kendaraan mobil dan truk saja,…. Jaringan REL sumatera-jawa harus jadi prioritas,…. Regards, B.Dwiagus S. http://bdwiagus. blogspot. com http://bdwiagus. multiply. com InDEC (Indonesian Development Evaluation Community) --> here Indo-MONEV --> here in yahoogroups and here in facebook Send an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to watch somebody else doing it wrong, without comment." - T.H. White From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of Sugiono Ronodihardjo Sent: 26 August 2009 04:40 To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: RE: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis. Mas BTS dan rekan-2 ysh, Yang jelas JSS akan mempercepat hubungan Jawa - Sumatera (pp), tetapi masalahnya apakah dapat mengurangi kepadatan di Jawa atau justru menambah padat ? terutama di Propinsi Banten & Jabar ? Katanya (?) Jawa-Bali-NTB & Sumatera itu masa lalu, Kalimantan & Sulawesi itu masa kini, sedangkan NTT-Maluku & Papua itu masa depan Indonesia. Jadi apakah pembangunan JSS itu sebetulnya masih berorientasi kepada masa lalu Indonesia ? Kalau SOH (Sydney Opera House), menurut saya itu karya seni yang sifatnya memang monumental sebagai 'landmark' kota Sydney yang 'view'nya bagus kalau disandingkan dengan 'Sydney Bridge', jadi fungsi bangunan tidak hanya untuk kegiatan Opera saja. Kalau kita lewat terowongan antara South - North Sydney, maka tidak dapat menikmati pemandangan yang bagus tersebut, sepertinya 'keindahan buatan' sudah menjadi 'gaya hidup' disana. Kalau disini kita masih punya banyak 'keindahan yang alami', tidak perlu yang buatan atau imitasi ya .. he he he... Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: btsamia...@yahoo. com Date: Tue, 25 Aug 2009 08:45:46 -0700 Subject: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis. Dear all. Dalam seminar Jembatan Selat Sunda (JSS) yang diberitakan DetikNews (baca di bawah), aneh..koq Johan Silas pesimis. Takut nasibnya nanti seperti Sidney Opera Hall (SOH) yang nggak kepakai. Bukankah fungsi jembatan dan Opera Hall itu beda sekali. JSS nanti menghubungkan 2 pole (Sumatera dan Jawa) yang berkekuatan ekonomi besar. Beda dengan Opera Hall yang hanya dipakai untuk kegiatan budaya, sifatnya insidentil. Beda donk pak Johan? Terus komentar DR.Diana ya rada aneh, mengapa harus didesain dengan ketinggian 140 meter agar bisa dilewati Kapal Induk? Bukankah bisa didesain jembatan yang bisa buka-tutup? Komentar Prof.Herman lain lagi. Ia takut jika nanti anak Krakatau meletus. Lha sekarang tiap hari khan meletus. Kalau tiap hari meletus, artinya tidak bahaya. Kalau gunung diam saja,,,itu malah bahaya. Heran, belum apa-apa koq wong Suroboyo pesimis. Yang membahayakan JSS itu bukan itu semua, tapi kalau besi baja konstruksi pilar-pilar itu dicolongi, kaya Jembatan Suramadu itu. Itu yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana, apakah Anda termasuk pesimis? Atau apa sih kelemahan JSS nantinya? Thanks. CU. BTS. Jembatan Selat Sunda Ditentang Akademisi Steven Lenakoly - detikNews Surabaya - Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mendapatkan pertentangan dari akademisi. Jembatan itu dinilai tidak memiliki nilai tambah sehingga pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 30 kilometer itu sebaiknya dipikirkan lagi. Pembangunan jembatan itu dinilai lebih memiliki nilai gengsi daripada nilai fungsional. "Seperti Sidney Opera Hall yang tidak lagi terpakai. Saya takutkan nanti seperti ikon Australia itu," kata pakar tata kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Johan Silas dalam seminar Jembatan selat sunda: Blunder atau Terobosan Teknologi? Tantangan Negara Kepulauan di ITS, Jalan Sukolilo, Selasa (25/8/2009). Contoh yang dimaksud oleh Johan menggambarkan bahwa Sidney Opera Hall yang semula bertujuan untuk pementasan opera dan menghabiskan dana yang sangat besar ternyata saat ini tidak sesuai harapan. Saat ini gedung itu malah menjadi ikon yang tidak memiliki nilai positif. Ia memaparkan bahwa JSS itu tidak memberikan pertambahan nilai saja dan lebih merupakan prestige bangsa ini. Ia menyarankan agar lebih baik memperbaiki kapal yang menghubungkan Jawa-Sumatera yang saat ini masih belum optimal. Pertimbangan ini didasarkan bila kapal lebih baik maka akan terjadi perkembangan ekonomi dan lebih efektif dibandingkan jembatan. Jembatan tidak bisa memberikan nilai tambah pada lingkungan sekitarnya. Sementara itu pakar hukum perairan internasional Universitas Hang Tua, DR Dhiana T Wardana menyatakan bahwa Selat Sunda merupakan perairan lalu lintas internasional. Sehingga apabila nanti dibangun jembatan akan mempersulit lalu lintas internasional. Hal ini bila melihat fungsi perairan internasional itu juga termasuk lalu lintas kapal perang yang juga kapal selam dan kapal induk. Belum lagi peraturan tentang perairan internasional yang semakin menebalkan sikap pesimis terhadap jembatan ini. Peraturan itu menuliskan bahwa selat yang merupakan jalur internasional yang bisa dilewati berbagai jenis kapal. Dengan kata lain, tinggi JSS harus lebih tinggi dari tinggi kapal induk atau harus lebih tinggi dari 140 meter dari permukaan laut. "Ini konyol dan mana mungkin membangun jembatan setinggi itu? Seperti membangun di atas awan-awan," tambahnya. Pertimbangan lain juga diutarakan oleh pakar jembatan Teknik Sipil ITS, Prof Herman Wahyudi. Ia mengkhawatirkan konstruksi yang digunakan oleh JSS yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Artinya berbeda dengan Suramadu yang daerah sekitarnya tidak terdapat gunung berapi. Konstruksi jembatan, lanjutnya, harus bisa menahan gempa dan harus bisa mengantisipasi bila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau. "Ini harus dicarikan solusinya," ucapnya. (stv/rdf) Buddy is 10! Create a comic strip of your ultimate party and win $1,000! Click here

