Kalau JSS terbangun, jelas mempercepat hub jawa-sumatera,.. Kalau pertanyaan
berikutnya apakah menambah padat, bisa jadi tidak juga.. 

Kalau hukum fluida, tekanan yang besar akan mencari ke tempat dengan
tekananrendah,.. Apalagi kalau ada channel penghubungnya,..  Otomatis bisa
saja akan terkurangi beban di jawa,.

Apalagi Sumatera menawarkan < keindahan > yang lebih dibandingkan jawa,. 

Apalagi kalau JSS ini disertai struktur jaringan rel KA,.. lebih mantap
lagi,... Sayang khan, kalau jembatan Cuma menghantar kendaraan mobil dan
truk saja,.. 

Jaringan REL sumatera-jawa harus jadi prioritas,.. 

 

 

Regards,

 B.Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

InDEC (Indonesian Development Evaluation Community)  --> here
<http://www.indec-indonesia.org/> 

Indo-MONEV -->  here <http://groups.yahoo.com/group/indo-monev/>  in
yahoogroups  and  here
<http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts>  in facebook

Send an email to:  [email protected] 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - 

T.H. White

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of Sugiono Ronodihardjo
Sent: 26 August 2009 04:40
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis.

 

  

Mas BTS dan rekan-2 ysh,
Yang jelas JSS akan mempercepat hubungan Jawa - Sumatera (pp), tetapi
masalahnya apakah dapat mengurangi kepadatan di Jawa atau justru menambah
padat ? terutama di Propinsi Banten & Jabar ? Katanya (?) Jawa-Bali-NTB &
Sumatera itu masa lalu, Kalimantan & Sulawesi itu masa kini, sedangkan
NTT-Maluku & Papua itu masa depan Indonesia. Jadi apakah pembangunan JSS itu
sebetulnya masih berorientasi kepada masa lalu Indonesia ? 
Kalau SOH (Sydney Opera House), menurut saya itu karya seni yang sifatnya
memang monumental sebagai 'landmark' kota Sydney yang 'view'nya bagus kalau
disandingkan dengan 'Sydney Bridge', jadi fungsi bangunan tidak hanya untuk
kegiatan Opera saja. Kalau kita lewat terowongan antara South - North
Sydney, maka tidak dapat menikmati pemandangan yang bagus tersebut,
sepertinya 'keindahan buatan' sudah menjadi 'gaya hidup' disana. Kalau
disini kita masih punya banyak 'keindahan yang alami', tidak perlu yang
buatan atau imitasi ya .. he he he...
Wassalam,
Onnos 

  _____  

To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Tue, 25 Aug 2009 08:45:46 -0700
Subject: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis.

  

Dear all.

Dalam seminar Jembatan Selat Sunda (JSS) yang diberitakan DetikNews (baca di
bawah), aneh..koq Johan Silas pesimis. Takut nasibnya nanti seperti Sidney
Opera Hall (SOH) yang nggak kepakai. Bukankah fungsi jembatan dan Opera Hall
itu beda sekali. JSS nanti menghubungkan 2 pole (Sumatera dan Jawa) yang
berkekuatan ekonomi besar. Beda dengan Opera Hall yang hanya dipakai untuk
kegiatan budaya, sifatnya insidentil. Beda donk pak Johan?

Terus komentar DR.Diana ya rada aneh, mengapa harus didesain dengan
ketinggian 140 meter agar bisa dilewati Kapal Induk? Bukankah bisa didesain
jembatan yang bisa buka-tutup?

Komentar Prof.Herman lain lagi. Ia takut jika nanti anak Krakatau meletus.
Lha sekarang tiap hari khan meletus. Kalau tiap hari meletus, artinya tidak
bahaya. Kalau gunung diam saja,,,itu malah bahaya.

Heran, belum apa-apa koq wong Suroboyo pesimis. Yang membahayakan JSS itu
bukan itu semua, tapi kalau besi baja konstruksi pilar-pilar itu dicolongi,
kaya Jembatan Suramadu itu. Itu yang perlu dikhawatirkan.

Bagaimana, apakah Anda termasuk pesimis? Atau apa sih kelemahan JSS
nantinya?

Thanks. CU. BTS.

Jembatan Selat Sunda Ditentang Akademisi
Steven Lenakoly - detikNews

Surabaya - Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mendapatkan
pertentangan
dari akademisi. Jembatan itu dinilai tidak memiliki nilai tambah sehingga
pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 30 kilometer itu sebaiknya
dipikirkan lagi.

Pembangunan jembatan itu dinilai lebih memiliki nilai gengsi daripada nilai
fungsional.

"Seperti Sidney Opera Hall yang tidak lagi terpakai. Saya takutkan nanti
seperti ikon Australia itu," kata pakar tata kota Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS) Prof Johan Silas dalam seminar Jembatan selat sunda: Blunder
atau Terobosan Teknologi? Tantangan Negara Kepulauan di ITS, Jalan Sukolilo,
Selasa (25/8/2009).

Contoh yang dimaksud oleh Johan menggambarkan bahwa Sidney Opera Hall yang
semula bertujuan untuk pementasan opera dan menghabiskan dana yang sangat
besar ternyata saat ini tidak sesuai harapan. Saat ini gedung itu malah
menjadi ikon yang tidak memiliki nilai positif.

Ia memaparkan bahwa JSS itu tidak memberikan pertambahan nilai saja dan
lebih merupakan prestige bangsa ini. Ia menyarankan agar lebih baik
memperbaiki kapal yang menghubungkan Jawa-Sumatera yang saat ini masih belum
optimal.

Pertimbangan ini didasarkan bila kapal lebih baik maka akan terjadi
perkembangan ekonomi dan lebih efektif dibandingkan jembatan. Jembatan tidak
bisa memberikan nilai tambah pada lingkungan sekitarnya.

Sementara itu pakar hukum perairan internasional Universitas Hang Tua, DR
Dhiana T Wardana menyatakan bahwa Selat Sunda merupakan perairan lalu lintas
internasional. Sehingga apabila nanti dibangun jembatan akan mempersulit
lalu lintas internasional.

Hal ini bila melihat fungsi perairan internasional itu juga termasuk lalu
lintas kapal perang yang juga kapal selam dan kapal induk. Belum lagi
peraturan tentang perairan internasional yang semakin menebalkan sikap
pesimis terhadap jembatan ini.

Peraturan itu menuliskan bahwa selat yang merupakan jalur internasional yang
bisa dilewati berbagai jenis kapal. Dengan kata lain, tinggi JSS harus lebih
tinggi dari tinggi kapal induk atau harus lebih tinggi dari 140 meter dari
permukaan laut.

"Ini konyol dan mana mungkin membangun jembatan setinggi itu? Seperti
membangun di atas awan-awan," tambahnya.

Pertimbangan lain juga diutarakan oleh pakar jembatan Teknik Sipil ITS, Prof
Herman Wahyudi. Ia mengkhawatirkan konstruksi yang digunakan oleh JSS yang
dekat dengan Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Artinya berbeda dengan
Suramadu yang daerah sekitarnya tidak terdapat gunung berapi.

Konstruksi jembatan, lanjutnya, harus bisa menahan gempa dan harus bisa
mengantisipasi bila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau. "Ini harus
dicarikan solusinya," ucapnya.

(stv/rdf) 



 

  _____  

Buddy is 10! Create a comic strip of your ultimate party and win $1,000!
Click here <http://discover.windowslive.com/en-id/messenger/messengeris10/>




Kirim email ke