Dear all.

Dalam seminar Jembatan Selat Sunda (JSS) yang diberitakan DetikNews (baca di 
bawah), aneh..koq Johan Silas pesimis. Takut nasibnya nanti seperti Sidney 
Opera Hall (SOH) yang nggak kepakai. Bukankah fungsi jembatan dan Opera Hall 
itu beda sekali. JSS nanti menghubungkan 2 pole (Sumatera dan Jawa) yang 
berkekuatan ekonomi besar. Beda dengan Opera Hall yang hanya dipakai untuk 
kegiatan budaya, sifatnya insidentil. Beda donk pak Johan?

Terus komentar DR.Diana ya rada aneh, mengapa harus didesain dengan ketinggian 
140 meter agar bisa dilewati Kapal Induk? Bukankah bisa didesain jembatan yang 
bisa buka-tutup?

Komentar Prof.Herman lain lagi. Ia takut jika nanti anak Krakatau meletus. Lha 
sekarang tiap hari khan meletus. Kalau tiap hari meletus, artinya tidak bahaya. 
Kalau gunung diam saja,,,itu malah bahaya.

Heran, belum apa-apa koq wong Suroboyo pesimis. Yang membahayakan JSS itu bukan 
itu semua, tapi kalau besi baja konstruksi  pilar-pilar itu dicolongi, kaya 
Jembatan Suramadu itu. Itu yang perlu dikhawatirkan.

Bagaimana, apakah Anda termasuk pesimis? Atau apa sih kelemahan JSS nantinya?

Thanks. CU. BTS.

Jembatan Selat Sunda Ditentang Akademisi
Steven Lenakoly - detikNews

Surabaya - Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mendapatkan 
pertentangan
dari akademisi. Jembatan itu dinilai tidak memiliki nilai tambah sehingga 
pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 30 kilometer itu sebaiknya dipikirkan 
lagi.

Pembangunan jembatan itu dinilai lebih memiliki nilai gengsi daripada nilai 
fungsional.

"Seperti Sidney Opera Hall yang tidak lagi terpakai. Saya takutkan nanti 
seperti ikon Australia itu," kata pakar tata kota Institut Teknologi Sepuluh 
Nopember (ITS) Prof Johan Silas dalam seminar Jembatan selat sunda: Blunder 
atau Terobosan Teknologi? Tantangan Negara Kepulauan di ITS, Jalan Sukolilo, 
Selasa (25/8/2009).

Contoh yang dimaksud oleh Johan menggambarkan bahwa Sidney Opera Hall yang 
semula bertujuan untuk pementasan opera dan menghabiskan dana yang sangat besar 
ternyata saat ini tidak sesuai harapan. Saat ini gedung itu malah menjadi ikon 
yang tidak memiliki nilai positif.

Ia memaparkan bahwa JSS itu tidak memberikan pertambahan nilai saja dan lebih 
merupakan prestige bangsa ini. Ia menyarankan agar lebih baik memperbaiki kapal 
yang menghubungkan Jawa-Sumatera yang saat ini masih belum optimal.

Pertimbangan ini didasarkan bila kapal lebih baik maka akan terjadi 
perkembangan ekonomi dan lebih efektif dibandingkan jembatan. Jembatan tidak 
bisa memberikan nilai tambah pada lingkungan sekitarnya.

Sementara itu pakar hukum perairan internasional Universitas Hang Tua, DR 
Dhiana T Wardana menyatakan bahwa Selat Sunda merupakan perairan lalu lintas 
internasional. Sehingga apabila nanti dibangun jembatan akan mempersulit lalu 
lintas internasional.

Hal ini bila melihat fungsi perairan internasional itu juga termasuk lalu 
lintas kapal perang yang juga kapal selam dan kapal induk. Belum lagi peraturan 
tentang perairan internasional yang semakin menebalkan sikap pesimis terhadap 
jembatan ini.

Peraturan itu menuliskan bahwa selat yang merupakan jalur internasional yang
bisa dilewati berbagai jenis kapal. Dengan kata lain, tinggi JSS harus lebih 
tinggi dari tinggi kapal induk atau harus lebih tinggi dari 140 meter dari 
permukaan laut.

"Ini konyol dan mana mungkin membangun jembatan setinggi itu? Seperti membangun 
di atas awan-awan," tambahnya.

Pertimbangan lain juga diutarakan oleh pakar jembatan Teknik Sipil ITS, Prof 
Herman Wahyudi. Ia mengkhawatirkan konstruksi yang digunakan oleh JSS yang 
dekat dengan Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Artinya berbeda dengan 
Suramadu yang daerah sekitarnya tidak terdapat gunung berapi.

Konstruksi jembatan, lanjutnya, harus bisa menahan gempa dan harus bisa 
mengantisipasi bila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau. "Ini harus dicarikan 
solusinya," ucapnya.

(stv/rdf) 




      

Kirim email ke