Iya, setuju P'BTS, kok kita tdk belajar dari negeri Sakura yg menjadi negara
kepulauan termaju di dunia dengan julukannya negara sejuta jembatan dan
terowongan ya....bukannya jelas akan lebih lancar dan mudah serta lebih
cepat ya transportasi antar pulaunya, krn tak ada antrian waktu
penyeberangan dan waktu capai yg lebih singkat. Persoalan lain harus/perlu
juga dipertimbangkan..setuju, tapi semua kriteria ini jangan kemudian sirna
tatkala kita dihadapkan pada persoalan sumber dananya (classic question ya
pak?). Tapi benar jg kata P'Onnos klo kita mau meratakan perkembangan Indo
mengapa tdk yg diprioritaskan perkembangan di area pulau-pulau masa depan ya
(Indo Timur)?...dan bukan pulau-pulau masa kini (Indo Barat)

Salam,

Oka

 

From: Bambang Tata Samiadji [mailto:[email protected]] 
Sent: Dienstag, 25. August 2009 22:46
To: [email protected]
Subject: [referensi] JSS, Wong Suroboyo koq pesimis.

 

  

Dear all.

Dalam seminar Jembatan Selat Sunda (JSS) yang diberitakan DetikNews (baca di
bawah), aneh..koq Johan Silas pesimis. Takut nasibnya nanti seperti Sidney
Opera Hall (SOH) yang nggak kepakai. Bukankah fungsi jembatan dan Opera Hall
itu beda sekali. JSS nanti menghubungkan 2 pole (Sumatera dan Jawa) yang
berkekuatan ekonomi besar. Beda dengan Opera Hall yang hanya dipakai untuk
kegiatan budaya, sifatnya insidentil. Beda donk pak Johan?

Terus komentar DR.Diana ya rada aneh, mengapa harus didesain dengan
ketinggian 140 meter agar bisa dilewati Kapal Induk? Bukankah bisa didesain
jembatan yang bisa buka-tutup?

Komentar Prof.Herman lain lagi. Ia takut jika nanti anak Krakatau meletus.
Lha sekarang tiap hari khan meletus. Kalau tiap hari meletus, artinya tidak
bahaya. Kalau gunung diam saja,,,itu malah bahaya.

Heran, belum apa-apa koq wong Suroboyo pesimis. Yang membahayakan JSS itu
bukan itu semua, tapi kalau besi baja konstruksi pilar-pilar itu dicolongi,
kaya Jembatan Suramadu itu. Itu yang perlu dikhawatirkan.

Bagaimana, apakah Anda termasuk pesimis? Atau apa sih kelemahan JSS
nantinya?

Thanks. CU. BTS.

Jembatan Selat Sunda Ditentang Akademisi
Steven Lenakoly - detikNews

Surabaya - Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) mendapatkan
pertentangan
dari akademisi. Jembatan itu dinilai tidak memiliki nilai tambah sehingga
pembangunan jembatan sepanjang lebih dari 30 kilometer itu sebaiknya
dipikirkan lagi.

Pembangunan jembatan itu dinilai lebih memiliki nilai gengsi daripada nilai
fungsional.

"Seperti Sidney Opera Hall yang tidak lagi terpakai. Saya takutkan nanti
seperti ikon Australia itu," kata pakar tata kota Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS) Prof Johan Silas dalam seminar Jembatan selat sunda: Blunder
atau Terobosan Teknologi? Tantangan Negara Kepulauan di ITS, Jalan Sukolilo,
Selasa (25/8/2009).

Contoh yang dimaksud oleh Johan menggambarkan bahwa Sidney Opera Hall yang
semula bertujuan untuk pementasan opera dan menghabiskan dana yang sangat
besar ternyata saat ini tidak sesuai harapan. Saat ini gedung itu malah
menjadi ikon yang tidak memiliki nilai positif.

Ia memaparkan bahwa JSS itu tidak memberikan pertambahan nilai saja dan
lebih merupakan prestige bangsa ini. Ia menyarankan agar lebih baik
memperbaiki kapal yang menghubungkan Jawa-Sumatera yang saat ini masih belum
optimal.

Pertimbangan ini didasarkan bila kapal lebih baik maka akan terjadi
perkembangan ekonomi dan lebih efektif dibandingkan jembatan. Jembatan tidak
bisa memberikan nilai tambah pada lingkungan sekitarnya.

Sementara itu pakar hukum perairan internasional Universitas Hang Tua, DR
Dhiana T Wardana menyatakan bahwa Selat Sunda merupakan perairan lalu lintas
internasional. Sehingga apabila nanti dibangun jembatan akan mempersulit
lalu lintas internasional.

Hal ini bila melihat fungsi perairan internasional itu juga termasuk lalu
lintas kapal perang yang juga kapal selam dan kapal induk. Belum lagi
peraturan tentang perairan internasional yang semakin menebalkan sikap
pesimis terhadap jembatan ini.

Peraturan itu menuliskan bahwa selat yang merupakan jalur internasional yang
bisa dilewati berbagai jenis kapal. Dengan kata lain, tinggi JSS harus lebih
tinggi dari tinggi kapal induk atau harus lebih tinggi dari 140 meter dari
permukaan laut.

"Ini konyol dan mana mungkin membangun jembatan setinggi itu? Seperti
membangun di atas awan-awan," tambahnya.

Pertimbangan lain juga diutarakan oleh pakar jembatan Teknik Sipil ITS, Prof
Herman Wahyudi. Ia mengkhawatirkan konstruksi yang digunakan oleh JSS yang
dekat dengan Gunung Anak Krakatau yang masih aktif. Artinya berbeda dengan
Suramadu yang daerah sekitarnya tidak terdapat gunung berapi.

Konstruksi jembatan, lanjutnya, harus bisa menahan gempa dan harus bisa
mengantisipasi bila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau. "Ini harus
dicarikan solusinya," ucapnya.

(stv/rdf) 




Kirim email ke