Pak Eka, labeling "manusia dan sungai" sebenarnya hanyalah tema yang saya 
masukkan ke dalam pikiran saya agar mampu memandu kepekaan kesadaran saya 
ketika mengamati fenomenan di lapangan. Fenomena Kaliwinongo menjadi menarik 
karena sekarang situasinya kontras: kali Code banyak yang masuk dan 
menggarapnya, demikian juga kali Gajahwong. Bahkan di kedua sungai itu ada 
konsorsium beberapa perguruan tinggi yang bekerjasama menggarapnya, sementara 
kali Winongo ini masih sendirian nggak ada yang memperhatikan.

Ada situasi lain yang mendorongnya. Masyarakat di kedua kali yang rame-rame 
digarap itu sudah bergerak sedemikian rupa sehingga membuat masyarakat Winongo 
tergerak untuk berbuat hal yang sama. Padahal, "dunia akademik" di Yogyakarta 
dan sekitarnya sedang konsen ke Code dan Gajahwong. Saya hanya mengikuti arus 
saja, sebab di Winongo masyarakat setempat berinisiatif membentuk forum 
komunikasi sudah cukup lengkap. Saya hanya melihat ada peluang, ada rencana 
kegiatan dokumentasi, inventarisasi dan penelitian kok bidang penelitiannya 
nggak dituliskan. Saya berusaha mengisinya, karena isaku iki dan fenomenanya 
sungguh menarik.

Begitu ya Pak.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 10/30/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai
To: [email protected]
Date: Friday, October 30, 2009, 4:31 AM






 




    
                  

Pak Djarot yang baik, dari catatan bapak di bawah menyangkut 'manusia

dan sungai', saya teringat dengan kisah penelitian Kawamura (1959) dan

Kawai (1965) tentang sejenis nonhuman primate dari Jepang bernama Macaca

fuscata. Sungguh cerita ini oot dari kisah bapak, jadi memang nggak

nyambung.



Peneliti ini pada tahun 1953 mengajarkan seekor Macaca betina 18 bulan

bernama Imo untuk mencuci kentang yang menjadi makanannya. Selama

beberapa waktu si Imo diajarkan untuk mencari sumber air terdekat

seperti sungai untuk membersihkan dan mencuci dulu kentang yang akan

dimakannya. Setelah 3 bulan kemudian diobservasi ternyata perilaku ini

ditiru oleh ibunya Imo dan 2 teman mainnya (termasuk ibu-ibunya).

Setelah 2 tahun kemudian, ternyata perilaku ini diikuti oleh 7 Macaca

muda lainnya. Dan dalam 3 tahun ternyata 40% komunitas Macaca melakukan

hal yang sama.



Kawamura dan Kawai mencatat bila terjadi penjalaran (transmisi) perilaku

yang bermula dari 4 Macaca. Beberapa peneliti lain seperti Koshima dan

Galef mencatat terdapat beberapa problem dalam proses transmisi ini,

seperti misalnya berjalan sangat lamban, dan sebenarnya proses itu

adalah 'peniruan' (imitation). Proses peniruan ini disepakati banyak

ahli karena tidak ada 'sistem budaya' lain yang berkembang dan

dibangkitkan dari perilaku yang tidak biasa di kalangan Macaca ini.



Hanya itu saja pak. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Dear All,

>

> Tadi petang hingga menjelang tengah malam saya mengikuti FGD

masyarakat sekitar Kali Winongo yang mendapat dukungan dari Pemkot untuk

mengusahakan pemikiran dan langkah nyata bagaimana sebaiknya. Setelah

mendengarkan berbagai kenangan dan impian masyarakat penghuni sekitarnya

terbayangkan fenomena Kali Winongo ini sangat menarik, nggak kalah

menarik dari fenomena kali Code dan Gajahwong.

>

> Malam itu FGD diprakarsai oleh FKWA yaitu Forum Kali Winongo Asri,

yang ingin menjadi enabler atau fasilitator pengelolaan yang lebih

sustainable. Aku tertarik masuk dan terlibat di dalamnya dan ingin

terlibat sebagai teman ngobrol bagi warga sekitar Kali Winongo yang

sedang gumregah ingin mengelola dengan baik.

>

> Silahkan kunjungi blog baru saya http://kaliwonongo. wordpress. com,

biasa, dokumentasi dan informasinya dengan pendekatan dan cara

fenomenologi.

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke