Pak Djarot ysh, saya kira bapak terpengaruh pada Levi-Strauss yang tidak
puas pada penjelasan ilmiah (... that scientific explanation does not
consist, as we have been led to imagine, in the reduction of the complex
to the simple. In a substitution of a complexity more intelligible for
one which is less. La Pensee Sauvage). Hal-hal yang disebut misteri, the
deep structure, dll sebenarnya menurut Anthony Giddens dan Bourdieu
dapat diuraikan lagi sebagai struktur-struktur di dalam struktur. Atau
Talcot Parsons menyebutnya sebagai 'bukan urusan manusia'. Namun
penggalian fenomenologi tetap menarik, yang saya dan Pak BSPpun secara
obscure menyebut sebagai wening-waham-wenang. Jadi ini bisa menjadi
'tipikal' kajian kita. Namun untuk sampai pada pijakan kebijakan, harus
punya penjelasan ilmiah. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Eka, terima kasih atas uraiannya yang mencerahkan. Soal "jumping"
ini menjadi tema perdebatan yang seru antara saya dengan seorang
kandidat doktor dari Undip (Pak Bambang Setioko) yang rajin hadir dalam
diskusi dwimingguan kami. Beliau mengritik, pak disitulah kelemahan
fenomenologi yang terkesan ada "blackbox"nya. Saya jawab dengan kata
kunci, itu "intuisi" peneliti yang sudah terlatih pak. Beliau tidak
puas, sebab menurut grounded research ada tahapannya yang sangat
transparan. Tetap saja saya nggak mudeng jawaban beliau dan bingung juga
dengan kata-kata intuisi dari saya sendiri.
> Beberapa minggu kemudian, saya membaca ulang tentang fenomenologi
Husserl dan menemukan kata dahsyat "refleksi". Melalui proses refleksi
itulah saya memahami fenomena secara lebih mendalam karena intens
menatapnya. Hal ini penting sebab unit-unit informasi dalam fenomenologi
selalu SALING MENJELASKAN, atau dalam terminologi Pak Sudaryono adalah
SALING TERANYAM untuk mengungkapkan hakekat fenomena. Refleksi ini
sekarang menggantikan kata intuisi, sebab memang tidak jelas, sementara
refleksi bisa dijelaskan dengan lebih transparan. Melalui proses
memikirkan kembali, bukak-bukak semua arsip yang kita miliki kemudian
dilihat keterkaitannya terus dan terus akhirnya terjadilah EUREKA !
>
> Penjelasan eureka dalam email sebelumnya sudah serba sedikit. Begitu
Pak.
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Sun, 11/1/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai
> To: [email protected]
> Date: Sunday, November 1, 2009, 7:45 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Djarot saya kira anda benar. Dua tahun lalu saya memperhatikan
perencana senior kita, Pak Risman, melakukan fieldwork ke Kupang. Saya
tidak mengiringi waktu kunjungan lokasi, namun katanya menghabiskan
waktu satu hari. Namun selebihnya selama seminggu Pak Risman lebih
banyak mengurung diri dalam kamar hotel. Saya hanya dialog dalam sesi
makan, dan mendengar penuturan beliau tentang lokasi secara mendalam dan
terukur. Mungkin karena pada saat itu penelitiannya bersifat penerapan
model, sehingga lebih banyak konseptualisasi dan reformulasi.
> Saya kira tema-tema penelitian memberikan batasan-batasan metode
fieldwork. Walaupun ada pilihan untuk masuk ke 'social setting' atau
'spatial setting' secara bersamaan atau kronologis, proses imersi tidak
boleh ditinggalkan. Mungkin imersi ini bisa di-speed up melalui bacaan
dan interaksi intensif dengan informan. Namun hendaknya jangan
'jumping', suatu 'planning fallacy' yang dilakukan selama ini.
> Mungkin seperti yang saya rasakan dulu waktu di Barabai, begitu masuk
ke dalam wilayah perencanaan saya sudah menyiapkan skenario-skenario
besar mengingat potensi lokasinya. Namun begitu melakukan dialog dan
sensitizing dengan masyarakat, saya merasakan belum saatnya dilakukan
'spatial setting', atau kalau istilah Pak BTS: "ngapain direncanakan? ".
Sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah penegasan zona-zona peruntukan
dan penentuan delineasi kawasan.
> Jadi 'jumping' merupakan penyakit planografer, dalam kaitannya dengan
'spatial setting' patut disimak juga saran Pak Akbar. Namun kalau
'dropping'nya Pak Djarot mah harus dicontoh. Salam.
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> >
> > Pak Eka, kunci fieldwork adalah JAM TERBANG yang dimiliki peneliti,
artinya background pengalaman seorang peneliti menentukan rentang waktu
yang diperlukan. Itu kunci pertama. Kunci kedua adalah background
knowledge tentang area dan fokus studi, sebab kita tidak boleh dengan
"kepala kosong" ketika ke lapangan, artinya sudah tahu juga tentang
kondisi yang akan kita masuki.
> >
> > Pengalaman saya, sebelum ke Kaenbaun saya dilatih Pak Sudaryono
selama 3 tahun di Parangtritis, mulai dari awal memasuki lapangan sampai
dengan membuat laporan akhir. Jadi pengalaman satu siklus semacam itu
sangat menentukan, bagi yang mau memulai cara fieldwork semacam itu.
Setelah dari Parangtritis itulah, saya mengembangkan dan memiliki style
sendiri yang sejauh saya tahu disetujui Pak Guru saya.
> >
> > Sebelum terjun mendalami Kaenbaun, saya dilatih Pak Hedy membaca
budaya timor yang tersebar di teks/pustaka, minimal sebanyak 6 pustaka
susah saya bedah. Kemudian saya diterjunkan eh terjun dengan bekal-bekal
pengalaman dan pengetahuan yang membantu saya memiliki sensibilitas di
lapangan. Begjonya, saya orang Jawa meneliti seluk-beluk masyarakat
Dawan, maka enerji keingintahuan saya begitu tinggi, maka yang dijumpai
selalu menjadi hal yang mengagumkan, meskipun itu hanya sepotong kayu
bercabang tiga (haumonef) yang sakral bagi orang Kaenbaun.
> >
> > Tampaknya ketentuan tentang waktu....perlu hati-hati
dipertimbangkan.
> >
> > Salam,
> >
> >
> >
> > Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> >
> > --- On Sat, 10/31/09, ffekadj 4ekadj@ wrote:
> >
> > From: ffekadj 4ekadj@
> > Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Saturday, October 31, 2009, 9:28 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pak Djarot, apa yang bapak lakukan sekarang sepertinya proses
> >
> > sensitizing dan immersion. Dulu Geertz di Bali 1957 perlu waktu satu
> >
> > bulan kkn (kuralang kuriling nangkring) untuk memulai dari tahap
itu,
> >
> > karena untuk mendapatkan empati dibutuhkan 'waktu'. Saya kira ini
perlu
> >
> > evaluasi terhadap konsep 'fieldwork' yang dilontarkan Pak Eko. Dulu
di
> >
> > kantornya Pak Eko pernah diterapkan aturan fieldwork harus minimal 2
> >
> > bulan, namun sekarang sepertinya tidak lagi. Untuk etnografi
seharusnya
> >
> > sekurangnya 1 tahun, namun 3-6 bulan masih ditoleransi. Namun kalau
> >
> > planografi bisa konsisten minimal 2 bulan, sudah mendinglah. Data
> >
> > kualitatif bisa mantap, jadi tidak cuma normatif. Kebanyakan kan
> >
> > perencana itu pelancong domestik yang bermodal cekak. Dulu saya
pernah
> >
> > maksa menemani tim perencana ke NTB, maunya bisa lebih 2 minggu.
Namun
> >
> > baru seminggu saya sudah ditinggal pulang; terpaksa saya jalan
sendiri.
> >
> > Paling top saya di lapangan bisa sampai 3 minggu tahun lalu, waktu
ke
> >
> > NTT itu. Kalau ada perencana yang mampu bertahan 2 minggu di
lapangan
> >
> > (di luar Jawa), saya akan mengacungkan 2 jempol tangan saya. Namun
kalau
> >
> > lebih dari itu sampai 2 bulan, maka terpaksa saya buka sepatu dulu
untuk
> >
> > menambahkan 2 jempol kaki saya. Jadi kalau ada perencana yang sudah
> >
> > tidak mampu lagi untuk fieldwork (seharusnya minimal 2 bulan),
sebaiknya
> >
> > memikirkan untuk pensiun, dan menjadi pengamat seperti saya. Jadi
> >
> > fieldwork-nya Pak Eko itu memang kompetensi dasar bagi planografer.
> >
> > Sementara demikian pak. Salam.
> >
> >
> >
> > -ekadj
> >
> >
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .>
wrote:
> >
> > >
> >
> > > Pak Eka, labeling "manusia dan sungai" sebenarnya hanyalah tema
yang
> >
> > saya masukkan ke dalam pikiran saya agar mampu memandu kepekaan
> >
> > kesadaran saya ketika mengamati fenomenan di lapangan. Fenomena
> >
> > Kaliwinongo menjadi menarik karena sekarang situasinya kontras: kali
> >
> > Code banyak yang masuk dan menggarapnya, demikian juga kali
Gajahwong.
> >
> > Bahkan di kedua sungai itu ada konsorsium beberapa perguruan tinggi
yang
> >
> > bekerjasama menggarapnya, sementara kali Winongo ini masih sendirian
> >
> > nggak ada yang memperhatikan.
> >
> > >
> >
> > > Ada situasi lain yang mendorongnya. Masyarakat di kedua kali yang
> >
> > rame-rame digarap itu sudah bergerak sedemikian rupa sehingga
membuat
> >
> > masyarakat Winongo tergerak untuk berbuat hal yang sama. Padahal,
"dunia
> >
> > akademik" di Yogyakarta dan sekitarnya sedang konsen ke Code dan
> >
> > Gajahwong. Saya hanya mengikuti arus saja, sebab di Winongo
masyarakat
> >
> > setempat berinisiatif membentuk forum komunikasi sudah cukup
lengkap.
> >
> > Saya hanya melihat ada peluang, ada rencana kegiatan dokumentasi,
> >
> > inventarisasi dan penelitian kok bidang penelitiannya nggak
dituliskan.
> >
> > Saya berusaha mengisinya, karena isaku iki dan fenomenanya sungguh
> >
> > menarik.
> >
> > >
> >
> > > Begitu ya Pak.
> >
> > >
> >
> > > Salam,
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > Djarot Purbadi
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > >
> >
> > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > >
> >
> > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> >
> > >
> >
> > > --- On Fri, 10/30/09, ffekadj 4ekadj@ wrote:
> >
> > >
> >
> > > From: ffekadj 4ekadj@
> >
> > > Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai
> >
> > > To: refere...@yahoogrou ps.com
> >
> > > Date: Friday, October 30, 2009, 4:31 AM
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > Pak Djarot yang baik, dari catatan bapak di bawah menyangkut
'manusia
> >
> > >
> >
> > > dan sungai', saya teringat dengan kisah penelitian Kawamura (1959)
dan
> >
> > >
> >
> > > Kawai (1965) tentang sejenis nonhuman primate dari Jepang bernama
> >
> > Macaca
> >
> > >
> >
> > > fuscata. Sungguh cerita ini oot dari kisah bapak, jadi memang
nggak
> >
> > >
> >
> > > nyambung.
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > Peneliti ini pada tahun 1953 mengajarkan seekor Macaca betina 18
bulan
> >
> > >
> >
> > > bernama Imo untuk mencuci kentang yang menjadi makanannya. Selama
> >
> > >
> >
> > > beberapa waktu si Imo diajarkan untuk mencari sumber air terdekat
> >
> > >
> >
> > > seperti sungai untuk membersihkan dan mencuci dulu kentang yang
akan
> >
> > >
> >
> > > dimakannya. Setelah 3 bulan kemudian diobservasi ternyata perilaku
ini
> >
> > >
> >
> > > ditiru oleh ibunya Imo dan 2 teman mainnya (termasuk ibu-ibunya).
> >
> > >
> >
> > > Setelah 2 tahun kemudian, ternyata perilaku ini diikuti oleh 7
Macaca
> >
> > >
> >
> > > muda lainnya. Dan dalam 3 tahun ternyata 40% komunitas Macaca
> >
> > melakukan
> >
> > >
> >
> > > hal yang sama.
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > Kawamura dan Kawai mencatat bila terjadi penjalaran (transmisi)
> >
> > perilaku
> >
> > >
> >
> > > yang bermula dari 4 Macaca. Beberapa peneliti lain seperti Koshima
dan
> >
> > >
> >
> > > Galef mencatat terdapat beberapa problem dalam proses transmisi
ini,
> >
> > >
> >
> > > seperti misalnya berjalan sangat lamban, dan sebenarnya proses itu
> >
> > >
> >
> > > adalah 'peniruan' (imitation). Proses peniruan ini disepakati
banyak
> >
> > >
> >
> > > ahli karena tidak ada 'sistem budaya' lain yang berkembang dan
> >
> > >
> >
> > > dibangkitkan dari perilaku yang tidak biasa di kalangan Macaca
ini.
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > Hanya itu saja pak. Salam.
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > -ekadj
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > >
> >
> > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .>
wrote:
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > Dear All,
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > Tadi petang hingga menjelang tengah malam saya mengikuti FGD
> >
> > >
> >
> > > masyarakat sekitar Kali Winongo yang mendapat dukungan dari Pemkot
> >
> > untuk
> >
> > >
> >
> > > mengusahakan pemikiran dan langkah nyata bagaimana sebaiknya.
Setelah
> >
> > >
> >
> > > mendengarkan berbagai kenangan dan impian masyarakat penghuni
> >
> > sekitarnya
> >
> > >
> >
> > > terbayangkan fenomena Kali Winongo ini sangat menarik, nggak kalah
> >
> > >
> >
> > > menarik dari fenomena kali Code dan Gajahwong.
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > Malam itu FGD diprakarsai oleh FKWA yaitu Forum Kali Winongo
Asri,
> >
> > >
> >
> > > yang ingin menjadi enabler atau fasilitator pengelolaan yang lebih
> >
> > >
> >
> > > sustainable. Aku tertarik masuk dan terlibat di dalamnya dan ingin
> >
> > >
> >
> > > terlibat sebagai teman ngobrol bagi warga sekitar Kali Winongo
yang
> >
> > >
> >
> > > sedang gumregah ingin mengelola dengan baik.
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > Silahkan kunjungi blog baru saya http://kaliwonongo. wordpress.
com,
> >
> > >
> >
> > > biasa, dokumentasi dan informasinya dengan pendekatan dan cara
> >
> > >
> >
> > > fenomenologi.
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > Salam,
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > Djarot Purbadi
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
> > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> >
> > >
> >
> > > >
> >
> > >
> >
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>



Kirim email ke