Pak Eka, kunci fieldwork adalah JAM TERBANG yang dimiliki peneliti, artinya 
background pengalaman seorang peneliti menentukan rentang waktu yang 
diperlukan. Itu kunci pertama. Kunci kedua adalah background knowledge tentang 
area dan fokus studi, sebab kita tidak boleh dengan "kepala kosong" ketika ke 
lapangan, artinya sudah tahu juga tentang kondisi yang akan kita masuki.

Pengalaman saya, sebelum ke Kaenbaun saya dilatih Pak Sudaryono selama 3 tahun 
di Parangtritis, mulai dari awal memasuki lapangan sampai dengan membuat 
laporan akhir. Jadi pengalaman satu siklus semacam itu sangat menentukan, bagi 
yang mau memulai cara fieldwork semacam itu. Setelah dari Parangtritis itulah, 
saya mengembangkan dan memiliki style sendiri yang sejauh saya tahu disetujui 
Pak Guru saya.

Sebelum terjun mendalami Kaenbaun, saya dilatih Pak Hedy membaca budaya timor 
yang tersebar di teks/pustaka, minimal sebanyak 6 pustaka susah saya bedah. 
Kemudian saya diterjunkan eh terjun dengan bekal-bekal pengalaman dan 
pengetahuan yang membantu saya memiliki sensibilitas di lapangan. Begjonya, 
saya orang Jawa meneliti seluk-beluk masyarakat Dawan, maka enerji 
keingintahuan saya begitu tinggi, maka yang dijumpai selalu menjadi hal yang 
mengagumkan, meskipun itu hanya sepotong kayu bercabang tiga (haumonef) yang 
sakral bagi orang Kaenbaun.

Tampaknya ketentuan tentang waktu....perlu hati-hati dipertimbangkan.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sat, 10/31/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai
To: [email protected]
Date: Saturday, October 31, 2009, 9:28 PM






 




    
                  

Pak Djarot, apa yang bapak lakukan sekarang sepertinya proses

sensitizing dan immersion. Dulu Geertz di Bali 1957 perlu waktu satu

bulan kkn (kuralang kuriling nangkring) untuk memulai dari tahap itu,

karena untuk mendapatkan empati dibutuhkan 'waktu'. Saya kira ini perlu

evaluasi terhadap konsep 'fieldwork' yang dilontarkan Pak Eko. Dulu di

kantornya Pak Eko pernah diterapkan aturan fieldwork harus minimal 2

bulan, namun sekarang sepertinya tidak lagi. Untuk etnografi seharusnya

sekurangnya 1 tahun, namun 3-6 bulan masih ditoleransi. Namun kalau

planografi bisa konsisten minimal 2 bulan, sudah mendinglah. Data

kualitatif bisa mantap, jadi tidak cuma normatif. Kebanyakan kan

perencana itu pelancong domestik yang bermodal cekak. Dulu saya pernah

maksa menemani tim perencana ke NTB, maunya bisa lebih 2 minggu. Namun

baru seminggu saya sudah ditinggal pulang; terpaksa saya jalan sendiri.

Paling top saya di lapangan bisa sampai 3 minggu tahun lalu, waktu ke

NTT itu. Kalau ada perencana yang mampu bertahan 2 minggu di lapangan

(di luar Jawa), saya akan mengacungkan 2 jempol tangan saya. Namun kalau

lebih dari itu sampai 2 bulan, maka terpaksa saya buka sepatu dulu untuk

menambahkan 2 jempol kaki saya. Jadi kalau ada perencana yang sudah

tidak mampu lagi untuk fieldwork (seharusnya minimal 2 bulan), sebaiknya

memikirkan untuk pensiun, dan menjadi pengamat seperti saya. Jadi

fieldwork-nya Pak Eko itu memang kompetensi dasar bagi planografer.

Sementara demikian pak. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Pak Eka, labeling "manusia dan sungai" sebenarnya hanyalah tema yang

saya masukkan ke dalam pikiran saya agar mampu memandu kepekaan

kesadaran saya ketika mengamati fenomenan di lapangan. Fenomena

Kaliwinongo menjadi menarik karena sekarang situasinya kontras: kali

Code banyak yang masuk dan menggarapnya, demikian juga kali Gajahwong.

Bahkan di kedua sungai itu ada konsorsium beberapa perguruan tinggi yang

bekerjasama menggarapnya, sementara kali Winongo ini masih sendirian

nggak ada yang memperhatikan.

>

> Ada situasi lain yang mendorongnya. Masyarakat di kedua kali yang

rame-rame digarap itu sudah bergerak sedemikian rupa sehingga membuat

masyarakat Winongo tergerak untuk berbuat hal yang sama. Padahal, "dunia

akademik" di Yogyakarta dan sekitarnya sedang konsen ke Code dan

Gajahwong. Saya hanya mengikuti arus saja, sebab di Winongo masyarakat

setempat berinisiatif membentuk forum komunikasi sudah cukup lengkap.

Saya hanya melihat ada peluang, ada rencana kegiatan dokumentasi,

inventarisasi dan penelitian kok bidang penelitiannya nggak dituliskan.

Saya berusaha mengisinya, karena isaku iki dan fenomenanya sungguh

menarik.

>

> Begitu ya Pak.

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Fri, 10/30/09, ffekadj 4ek...@... wrote:

>

> From: ffekadj 4ek...@...

> Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Friday, October 30, 2009, 4:31 AM

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

> Pak Djarot yang baik, dari catatan bapak di bawah menyangkut 'manusia

>

> dan sungai', saya teringat dengan kisah penelitian Kawamura (1959) dan

>

> Kawai (1965) tentang sejenis nonhuman primate dari Jepang bernama

Macaca

>

> fuscata. Sungguh cerita ini oot dari kisah bapak, jadi memang nggak

>

> nyambung.

>

>

>

> Peneliti ini pada tahun 1953 mengajarkan seekor Macaca betina 18 bulan

>

> bernama Imo untuk mencuci kentang yang menjadi makanannya. Selama

>

> beberapa waktu si Imo diajarkan untuk mencari sumber air terdekat

>

> seperti sungai untuk membersihkan dan mencuci dulu kentang yang akan

>

> dimakannya. Setelah 3 bulan kemudian diobservasi ternyata perilaku ini

>

> ditiru oleh ibunya Imo dan 2 teman mainnya (termasuk ibu-ibunya).

>

> Setelah 2 tahun kemudian, ternyata perilaku ini diikuti oleh 7 Macaca

>

> muda lainnya. Dan dalam 3 tahun ternyata 40% komunitas Macaca

melakukan

>

> hal yang sama.

>

>

>

> Kawamura dan Kawai mencatat bila terjadi penjalaran (transmisi)

perilaku

>

> yang bermula dari 4 Macaca. Beberapa peneliti lain seperti Koshima dan

>

> Galef mencatat terdapat beberapa problem dalam proses transmisi ini,

>

> seperti misalnya berjalan sangat lamban, dan sebenarnya proses itu

>

> adalah 'peniruan' (imitation). Proses peniruan ini disepakati banyak

>

> ahli karena tidak ada 'sistem budaya' lain yang berkembang dan

>

> dibangkitkan dari perilaku yang tidak biasa di kalangan Macaca ini.

>

>

>

> Hanya itu saja pak. Salam.

>

>

>

> -ekadj

>

>

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:

>

> >

>

> > Dear All,

>

> >

>

> > Tadi petang hingga menjelang tengah malam saya mengikuti FGD

>

> masyarakat sekitar Kali Winongo yang mendapat dukungan dari Pemkot

untuk

>

> mengusahakan pemikiran dan langkah nyata bagaimana sebaiknya. Setelah

>

> mendengarkan berbagai kenangan dan impian masyarakat penghuni

sekitarnya

>

> terbayangkan fenomena Kali Winongo ini sangat menarik, nggak kalah

>

> menarik dari fenomena kali Code dan Gajahwong.

>

> >

>

> > Malam itu FGD diprakarsai oleh FKWA yaitu Forum Kali Winongo Asri,

>

> yang ingin menjadi enabler atau fasilitator pengelolaan yang lebih

>

> sustainable. Aku tertarik masuk dan terlibat di dalamnya dan ingin

>

> terlibat sebagai teman ngobrol bagi warga sekitar Kali Winongo yang

>

> sedang gumregah ingin mengelola dengan baik.

>

> >

>

> > Silahkan kunjungi blog baru saya http://kaliwonongo. wordpress. com,

>

> biasa, dokumentasi dan informasinya dengan pendekatan dan cara

>

> fenomenologi.

>

> >

>

> > Salam,

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > Djarot Purbadi

>

> >

>

> >

>

> >

>

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> >

>

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> >

>

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> >

>




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke