Pak Eka, terima kasih atas uraiannya yang mencerahkan. Soal "jumping" ini menjadi tema perdebatan yang seru antara saya dengan seorang kandidat doktor dari Undip (Pak Bambang Setioko) yang rajin hadir dalam diskusi dwimingguan kami. Beliau mengritik, pak disitulah kelemahan fenomenologi yang terkesan ada "blackbox"nya. Saya jawab dengan kata kunci, itu "intuisi" peneliti yang sudah terlatih pak. Beliau tidak puas, sebab menurut grounded research ada tahapannya yang sangat transparan. Tetap saja saya nggak mudeng jawaban beliau dan bingung juga dengan kata-kata intuisi dari saya sendiri. Beberapa minggu kemudian, saya membaca ulang tentang fenomenologi Husserl dan menemukan kata dahsyat "refleksi". Melalui proses refleksi itulah saya memahami fenomena secara lebih mendalam karena intens menatapnya. Hal ini penting sebab unit-unit informasi dalam fenomenologi selalu SALING MENJELASKAN, atau dalam terminologi Pak Sudaryono adalah SALING TERANYAM untuk mengungkapkan hakekat fenomena. Refleksi ini sekarang menggantikan kata intuisi, sebab memang tidak jelas, sementara refleksi bisa dijelaskan dengan lebih transparan. Melalui proses memikirkan kembali, bukak-bukak semua arsip yang kita miliki kemudian dilihat keterkaitannya terus dan terus akhirnya terjadilah EUREKA !
Penjelasan eureka dalam email sebelumnya sudah serba sedikit. Begitu Pak. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sun, 11/1/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai To: [email protected] Date: Sunday, November 1, 2009, 7:45 PM Pak Djarot saya kira anda benar. Dua tahun lalu saya memperhatikan perencana senior kita, Pak Risman, melakukan fieldwork ke Kupang. Saya tidak mengiringi waktu kunjungan lokasi, namun katanya menghabiskan waktu satu hari. Namun selebihnya selama seminggu Pak Risman lebih banyak mengurung diri dalam kamar hotel. Saya hanya dialog dalam sesi makan, dan mendengar penuturan beliau tentang lokasi secara mendalam dan terukur. Mungkin karena pada saat itu penelitiannya bersifat penerapan model, sehingga lebih banyak konseptualisasi dan reformulasi. Saya kira tema-tema penelitian memberikan batasan-batasan metode fieldwork. Walaupun ada pilihan untuk masuk ke 'social setting' atau 'spatial setting' secara bersamaan atau kronologis, proses imersi tidak boleh ditinggalkan. Mungkin imersi ini bisa di-speed up melalui bacaan dan interaksi intensif dengan informan. Namun hendaknya jangan 'jumping', suatu 'planning fallacy' yang dilakukan selama ini. Mungkin seperti yang saya rasakan dulu waktu di Barabai, begitu masuk ke dalam wilayah perencanaan saya sudah menyiapkan skenario-skenario besar mengingat potensi lokasinya. Namun begitu melakukan dialog dan sensitizing dengan masyarakat, saya merasakan belum saatnya dilakukan 'spatial setting', atau kalau istilah Pak BTS: "ngapain direncanakan? ". Sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah penegasan zona-zona peruntukan dan penentuan delineasi kawasan. Jadi 'jumping' merupakan penyakit planografer, dalam kaitannya dengan 'spatial setting' patut disimak juga saran Pak Akbar. Namun kalau 'dropping'nya Pak Djarot mah harus dicontoh. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Eka, kunci fieldwork adalah JAM TERBANG yang dimiliki peneliti, artinya > background pengalaman seorang peneliti menentukan rentang waktu yang > diperlukan. Itu kunci pertama. Kunci kedua adalah background knowledge > tentang area dan fokus studi, sebab kita tidak boleh dengan "kepala kosong" > ketika ke lapangan, artinya sudah tahu juga tentang kondisi yang akan kita > masuki. > > Pengalaman saya, sebelum ke Kaenbaun saya dilatih Pak Sudaryono selama 3 > tahun di Parangtritis, mulai dari awal memasuki lapangan sampai dengan > membuat laporan akhir. Jadi pengalaman satu siklus semacam itu sangat > menentukan, bagi yang mau memulai cara fieldwork semacam itu. Setelah dari > Parangtritis itulah, saya mengembangkan dan memiliki style sendiri yang > sejauh saya tahu disetujui Pak Guru saya. > > Sebelum terjun mendalami Kaenbaun, saya dilatih Pak Hedy membaca budaya timor > yang tersebar di teks/pustaka, minimal sebanyak 6 pustaka susah saya bedah. > Kemudian saya diterjunkan eh terjun dengan bekal-bekal pengalaman dan > pengetahuan yang membantu saya memiliki sensibilitas di lapangan. Begjonya, > saya orang Jawa meneliti seluk-beluk masyarakat Dawan, maka enerji > keingintahuan saya begitu tinggi, maka yang dijumpai selalu menjadi hal yang > mengagumkan, meskipun itu hanya sepotong kayu bercabang tiga (haumonef) yang > sakral bagi orang Kaenbaun. > > Tampaknya ketentuan tentang waktu....perlu hati-hati dipertimbangkan. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Sat, 10/31/09, ffekadj 4ek...@... wrote: > > From: ffekadj 4ek...@... > Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Saturday, October 31, 2009, 9:28 PM > > > > > > > > > > > > > > > Pak Djarot, apa yang bapak lakukan sekarang sepertinya proses > > sensitizing dan immersion. Dulu Geertz di Bali 1957 perlu waktu satu > > bulan kkn (kuralang kuriling nangkring) untuk memulai dari tahap itu, > > karena untuk mendapatkan empati dibutuhkan 'waktu'. Saya kira ini perlu > > evaluasi terhadap konsep 'fieldwork' yang dilontarkan Pak Eko. Dulu di > > kantornya Pak Eko pernah diterapkan aturan fieldwork harus minimal 2 > > bulan, namun sekarang sepertinya tidak lagi. Untuk etnografi seharusnya > > sekurangnya 1 tahun, namun 3-6 bulan masih ditoleransi. Namun kalau > > planografi bisa konsisten minimal 2 bulan, sudah mendinglah. Data > > kualitatif bisa mantap, jadi tidak cuma normatif. Kebanyakan kan > > perencana itu pelancong domestik yang bermodal cekak. Dulu saya pernah > > maksa menemani tim perencana ke NTB, maunya bisa lebih 2 minggu. Namun > > baru seminggu saya sudah ditinggal pulang; terpaksa saya jalan sendiri. > > Paling top saya di lapangan bisa sampai 3 minggu tahun lalu, waktu ke > > NTT itu. Kalau ada perencana yang mampu bertahan 2 minggu di lapangan > > (di luar Jawa), saya akan mengacungkan 2 jempol tangan saya. Namun kalau > > lebih dari itu sampai 2 bulan, maka terpaksa saya buka sepatu dulu untuk > > menambahkan 2 jempol kaki saya. Jadi kalau ada perencana yang sudah > > tidak mampu lagi untuk fieldwork (seharusnya minimal 2 bulan), sebaiknya > > memikirkan untuk pensiun, dan menjadi pengamat seperti saya. Jadi > > fieldwork-nya Pak Eko itu memang kompetensi dasar bagi planografer. > > Sementara demikian pak. Salam. > > > > -ekadj > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote: > > > > > > Pak Eka, labeling "manusia dan sungai" sebenarnya hanyalah tema yang > > saya masukkan ke dalam pikiran saya agar mampu memandu kepekaan > > kesadaran saya ketika mengamati fenomenan di lapangan. Fenomena > > Kaliwinongo menjadi menarik karena sekarang situasinya kontras: kali > > Code banyak yang masuk dan menggarapnya, demikian juga kali Gajahwong. > > Bahkan di kedua sungai itu ada konsorsium beberapa perguruan tinggi yang > > bekerjasama menggarapnya, sementara kali Winongo ini masih sendirian > > nggak ada yang memperhatikan. > > > > > > Ada situasi lain yang mendorongnya. Masyarakat di kedua kali yang > > rame-rame digarap itu sudah bergerak sedemikian rupa sehingga membuat > > masyarakat Winongo tergerak untuk berbuat hal yang sama. Padahal, "dunia > > akademik" di Yogyakarta dan sekitarnya sedang konsen ke Code dan > > Gajahwong. Saya hanya mengikuti arus saja, sebab di Winongo masyarakat > > setempat berinisiatif membentuk forum komunikasi sudah cukup lengkap. > > Saya hanya melihat ada peluang, ada rencana kegiatan dokumentasi, > > inventarisasi dan penelitian kok bidang penelitiannya nggak dituliskan. > > Saya berusaha mengisinya, karena isaku iki dan fenomenanya sungguh > > menarik. > > > > > > Begitu ya Pak. > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > --- On Fri, 10/30/09, ffekadj 4ekadj@ wrote: > > > > > > From: ffekadj 4ekadj@ > > > Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Date: Friday, October 30, 2009, 4:31 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak Djarot yang baik, dari catatan bapak di bawah menyangkut 'manusia > > > > > > dan sungai', saya teringat dengan kisah penelitian Kawamura (1959) dan > > > > > > Kawai (1965) tentang sejenis nonhuman primate dari Jepang bernama > > Macaca > > > > > > fuscata. Sungguh cerita ini oot dari kisah bapak, jadi memang nggak > > > > > > nyambung. > > > > > > > > > > > > Peneliti ini pada tahun 1953 mengajarkan seekor Macaca betina 18 bulan > > > > > > bernama Imo untuk mencuci kentang yang menjadi makanannya. Selama > > > > > > beberapa waktu si Imo diajarkan untuk mencari sumber air terdekat > > > > > > seperti sungai untuk membersihkan dan mencuci dulu kentang yang akan > > > > > > dimakannya. Setelah 3 bulan kemudian diobservasi ternyata perilaku ini > > > > > > ditiru oleh ibunya Imo dan 2 teman mainnya (termasuk ibu-ibunya). > > > > > > Setelah 2 tahun kemudian, ternyata perilaku ini diikuti oleh 7 Macaca > > > > > > muda lainnya. Dan dalam 3 tahun ternyata 40% komunitas Macaca > > melakukan > > > > > > hal yang sama. > > > > > > > > > > > > Kawamura dan Kawai mencatat bila terjadi penjalaran (transmisi) > > perilaku > > > > > > yang bermula dari 4 Macaca. Beberapa peneliti lain seperti Koshima dan > > > > > > Galef mencatat terdapat beberapa problem dalam proses transmisi ini, > > > > > > seperti misalnya berjalan sangat lamban, dan sebenarnya proses itu > > > > > > adalah 'peniruan' (imitation). Proses peniruan ini disepakati banyak > > > > > > ahli karena tidak ada 'sistem budaya' lain yang berkembang dan > > > > > > dibangkitkan dari perilaku yang tidak biasa di kalangan Macaca ini. > > > > > > > > > > > > Hanya itu saja pak. Salam. > > > > > > > > > > > > -ekadj > > > > > > > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote: > > > > > > > > > > > > > > Dear All, > > > > > > > > > > > > > > Tadi petang hingga menjelang tengah malam saya mengikuti FGD > > > > > > masyarakat sekitar Kali Winongo yang mendapat dukungan dari Pemkot > > untuk > > > > > > mengusahakan pemikiran dan langkah nyata bagaimana sebaiknya. Setelah > > > > > > mendengarkan berbagai kenangan dan impian masyarakat penghuni > > sekitarnya > > > > > > terbayangkan fenomena Kali Winongo ini sangat menarik, nggak kalah > > > > > > menarik dari fenomena kali Code dan Gajahwong. > > > > > > > > > > > > > > Malam itu FGD diprakarsai oleh FKWA yaitu Forum Kali Winongo Asri, > > > > > > yang ingin menjadi enabler atau fasilitator pengelolaan yang lebih > > > > > > sustainable. Aku tertarik masuk dan terlibat di dalamnya dan ingin > > > > > > terlibat sebagai teman ngobrol bagi warga sekitar Kali Winongo yang > > > > > > sedang gumregah ingin mengelola dengan baik. > > > > > > > > > > > > > > Silahkan kunjungi blog baru saya http://kaliwonongo. wordpress. com, > > > > > > biasa, dokumentasi dan informasinya dengan pendekatan dan cara > > > > > > fenomenologi. > > > > > > > > > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > > > > > > > > > > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > > > > > > > > > > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > > > > > > > > > > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com

