Pak Eka, saya terpengaruh oleh pikiran-pikiran dalam ilmu ketuhanan, bahwa di 
dalam iman ada sisi yang bisa dijelaskan dengan nalar/pikiran manusia tetapi 
ada sisi lain yang bersifat misteri. Tetapi sebenarnya, misteri yang saya 
maksudkan barangkali sejenis "tacit knowledge" begitu Pak, bukan hal-hal yang 
gaib.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 11/2/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai
To: [email protected]
Date: Monday, November 2, 2009, 9:13 AM












 
 




    
                  

Pak Djarot ysh, saya kira bapak terpengaruh pada Levi-Strauss yang tidak

puas pada penjelasan ilmiah (... that scientific explanation does not

consist, as we have been led to imagine, in the reduction of the complex

to the simple. In a substitution of a complexity more intelligible for

one which is less. La Pensee Sauvage). Hal-hal yang disebut misteri, the

deep structure, dll sebenarnya menurut Anthony Giddens dan Bourdieu

dapat diuraikan lagi sebagai struktur-struktur di dalam struktur. Atau

Talcot Parsons menyebutnya sebagai 'bukan urusan manusia'. Namun

penggalian fenomenologi tetap menarik, yang saya dan Pak BSPpun secara

obscure menyebut sebagai wening-waham- wenang. Jadi ini bisa menjadi

'tipikal' kajian kita. Namun untuk sampai pada pijakan kebijakan, harus

punya penjelasan ilmiah. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote:

>

> Pak Eka, terima kasih atas uraiannya yang mencerahkan. Soal "jumping"

ini menjadi tema perdebatan yang seru antara saya dengan seorang

kandidat doktor dari Undip (Pak Bambang Setioko) yang rajin hadir dalam

diskusi dwimingguan kami. Beliau mengritik, pak disitulah kelemahan

fenomenologi yang terkesan ada "blackbox"nya. Saya jawab dengan kata

kunci, itu "intuisi" peneliti yang sudah terlatih pak. Beliau tidak

puas, sebab menurut grounded research ada tahapannya yang sangat

transparan. Tetap saja saya nggak mudeng jawaban beliau dan bingung juga

dengan kata-kata intuisi dari saya sendiri.

> Beberapa minggu kemudian, saya membaca ulang tentang fenomenologi

Husserl dan menemukan kata dahsyat "refleksi". Melalui proses refleksi

itulah saya memahami fenomena secara lebih mendalam karena intens

menatapnya. Hal ini penting sebab unit-unit informasi dalam fenomenologi

selalu SALING MENJELASKAN, atau dalam terminologi Pak Sudaryono adalah

SALING TERANYAM untuk mengungkapkan hakekat fenomena. Refleksi ini

sekarang menggantikan kata intuisi, sebab memang tidak jelas, sementara

refleksi bisa dijelaskan dengan lebih transparan. Melalui proses

memikirkan kembali, bukak-bukak semua arsip yang kita miliki kemudian

dilihat keterkaitannya terus dan terus akhirnya terjadilah EUREKA !

>

> Penjelasan eureka dalam email sebelumnya sudah serba sedikit. Begitu

Pak.

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

>

> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

>

> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

>

> --- On Sun, 11/1/09, ffekadj 4ek...@... wrote:

>

> From: ffekadj 4ek...@...

> Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Sunday, November 1, 2009, 7:45 PM

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

> Pak Djarot saya kira anda benar. Dua tahun lalu saya memperhatikan

perencana senior kita, Pak Risman, melakukan fieldwork ke Kupang. Saya

tidak mengiringi waktu kunjungan lokasi, namun katanya menghabiskan

waktu satu hari. Namun selebihnya selama seminggu Pak Risman lebih

banyak mengurung diri dalam kamar hotel. Saya hanya dialog dalam sesi

makan, dan mendengar penuturan beliau tentang lokasi secara mendalam dan

terukur. Mungkin karena pada saat itu penelitiannya bersifat penerapan

model, sehingga lebih banyak konseptualisasi dan reformulasi.

> Saya kira tema-tema penelitian memberikan batasan-batasan metode

fieldwork. Walaupun ada pilihan untuk masuk ke 'social setting' atau

'spatial setting' secara bersamaan atau kronologis, proses imersi tidak

boleh ditinggalkan. Mungkin imersi ini bisa di-speed up melalui bacaan

dan interaksi intensif dengan informan. Namun hendaknya jangan

'jumping', suatu 'planning fallacy' yang dilakukan selama ini.

> Mungkin seperti yang saya rasakan dulu waktu di Barabai, begitu masuk

ke dalam wilayah perencanaan saya sudah menyiapkan skenario-skenario

besar mengingat potensi lokasinya. Namun begitu melakukan dialog dan

sensitizing dengan masyarakat, saya merasakan belum saatnya dilakukan

'spatial setting', atau kalau istilah Pak BTS: "ngapain direncanakan? ".

Sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah penegasan zona-zona peruntukan

dan penentuan delineasi kawasan.

> Jadi 'jumping' merupakan penyakit planografer, dalam kaitannya dengan

'spatial setting' patut disimak juga saran Pak Akbar. Namun kalau

'dropping'nya Pak Djarot mah harus dicontoh. Salam.

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> >

> > Pak Eka, kunci fieldwork adalah JAM TERBANG yang dimiliki peneliti,

artinya background pengalaman seorang peneliti menentukan rentang waktu

yang diperlukan. Itu kunci pertama. Kunci kedua adalah background

knowledge tentang area dan fokus studi, sebab kita tidak boleh dengan

"kepala kosong" ketika ke lapangan, artinya sudah tahu juga tentang

kondisi yang akan kita masuki.

> >

> > Pengalaman saya, sebelum ke Kaenbaun saya dilatih Pak Sudaryono

selama 3 tahun di Parangtritis, mulai dari awal memasuki lapangan sampai

dengan membuat laporan akhir. Jadi pengalaman satu siklus semacam itu

sangat menentukan, bagi yang mau memulai cara fieldwork semacam itu.

Setelah dari Parangtritis itulah, saya mengembangkan dan memiliki style

sendiri yang sejauh saya tahu disetujui Pak Guru saya.

> >

> > Sebelum terjun mendalami Kaenbaun, saya dilatih Pak Hedy membaca

budaya timor yang tersebar di teks/pustaka, minimal sebanyak 6 pustaka

susah saya bedah. Kemudian saya diterjunkan eh terjun dengan bekal-bekal

pengalaman dan pengetahuan yang membantu saya memiliki sensibilitas di

lapangan. Begjonya, saya orang Jawa meneliti seluk-beluk masyarakat

Dawan, maka enerji keingintahuan saya begitu tinggi, maka yang dijumpai

selalu menjadi hal yang mengagumkan, meskipun itu hanya sepotong kayu

bercabang tiga (haumonef) yang sakral bagi orang Kaenbaun.

> >

> > Tampaknya ketentuan tentang waktu....perlu hati-hati

dipertimbangkan.

> >

> > Salam,

> >

> >

> >

> > Djarot Purbadi

> >

> >

> >

> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> >

> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> >

> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> >

> > --- On Sat, 10/31/09, ffekadj 4ekadj@ wrote:

> >

> > From: ffekadj 4ekadj@

> > Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai

> > To: refere...@yahoogrou ps.com

> > Date: Saturday, October 31, 2009, 9:28 PM

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> >

> > Pak Djarot, apa yang bapak lakukan sekarang sepertinya proses

> >

> > sensitizing dan immersion. Dulu Geertz di Bali 1957 perlu waktu satu

> >

> > bulan kkn (kuralang kuriling nangkring) untuk memulai dari tahap

itu,

> >

> > karena untuk mendapatkan empati dibutuhkan 'waktu'. Saya kira ini

perlu

> >

> > evaluasi terhadap konsep 'fieldwork' yang dilontarkan Pak Eko. Dulu

di

> >

> > kantornya Pak Eko pernah diterapkan aturan fieldwork harus minimal 2

> >

> > bulan, namun sekarang sepertinya tidak lagi. Untuk etnografi

seharusnya

> >

> > sekurangnya 1 tahun, namun 3-6 bulan masih ditoleransi. Namun kalau

> >

> > planografi bisa konsisten minimal 2 bulan, sudah mendinglah. Data

> >

> > kualitatif bisa mantap, jadi tidak cuma normatif. Kebanyakan kan

> >

> > perencana itu pelancong domestik yang bermodal cekak. Dulu saya

pernah

> >

> > maksa menemani tim perencana ke NTB, maunya bisa lebih 2 minggu.

Namun

> >

> > baru seminggu saya sudah ditinggal pulang; terpaksa saya jalan

sendiri.

> >

> > Paling top saya di lapangan bisa sampai 3 minggu tahun lalu, waktu

ke

> >

> > NTT itu. Kalau ada perencana yang mampu bertahan 2 minggu di

lapangan

> >

> > (di luar Jawa), saya akan mengacungkan 2 jempol tangan saya. Namun

kalau

> >

> > lebih dari itu sampai 2 bulan, maka terpaksa saya buka sepatu dulu

untuk

> >

> > menambahkan 2 jempol kaki saya. Jadi kalau ada perencana yang sudah

> >

> > tidak mampu lagi untuk fieldwork (seharusnya minimal 2 bulan),

sebaiknya

> >

> > memikirkan untuk pensiun, dan menjadi pengamat seperti saya. Jadi

> >

> > fieldwork-nya Pak Eko itu memang kompetensi dasar bagi planografer.

> >

> > Sementara demikian pak. Salam.

> >

> >

> >

> > -ekadj

> >

> >

> >

> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .>

wrote:

> >

> > >

> >

> > > Pak Eka, labeling "manusia dan sungai" sebenarnya hanyalah tema

yang

> >

> > saya masukkan ke dalam pikiran saya agar mampu memandu kepekaan

> >

> > kesadaran saya ketika mengamati fenomenan di lapangan. Fenomena

> >

> > Kaliwinongo menjadi menarik karena sekarang situasinya kontras: kali

> >

> > Code banyak yang masuk dan menggarapnya, demikian juga kali

Gajahwong.

> >

> > Bahkan di kedua sungai itu ada konsorsium beberapa perguruan tinggi

yang

> >

> > bekerjasama menggarapnya, sementara kali Winongo ini masih sendirian

> >

> > nggak ada yang memperhatikan.

> >

> > >

> >

> > > Ada situasi lain yang mendorongnya. Masyarakat di kedua kali yang

> >

> > rame-rame digarap itu sudah bergerak sedemikian rupa sehingga

membuat

> >

> > masyarakat Winongo tergerak untuk berbuat hal yang sama. Padahal,

"dunia

> >

> > akademik" di Yogyakarta dan sekitarnya sedang konsen ke Code dan

> >

> > Gajahwong. Saya hanya mengikuti arus saja, sebab di Winongo

masyarakat

> >

> > setempat berinisiatif membentuk forum komunikasi sudah cukup

lengkap.

> >

> > Saya hanya melihat ada peluang, ada rencana kegiatan dokumentasi,

> >

> > inventarisasi dan penelitian kok bidang penelitiannya nggak

dituliskan.

> >

> > Saya berusaha mengisinya, karena isaku iki dan fenomenanya sungguh

> >

> > menarik.

> >

> > >

> >

> > > Begitu ya Pak.

> >

> > >

> >

> > > Salam,

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > > Djarot Purbadi

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> >

> > >

> >

> > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> >

> > >

> >

> > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> >

> > >

> >

> > > --- On Fri, 10/30/09, ffekadj 4ekadj@ wrote:

> >

> > >

> >

> > > From: ffekadj 4ekadj@

> >

> > > Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai

> >

> > > To: refere...@yahoogrou ps.com

> >

> > > Date: Friday, October 30, 2009, 4:31 AM

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > > Pak Djarot yang baik, dari catatan bapak di bawah menyangkut

'manusia

> >

> > >

> >

> > > dan sungai', saya teringat dengan kisah penelitian Kawamura (1959)

dan

> >

> > >

> >

> > > Kawai (1965) tentang sejenis nonhuman primate dari Jepang bernama

> >

> > Macaca

> >

> > >

> >

> > > fuscata. Sungguh cerita ini oot dari kisah bapak, jadi memang

nggak

> >

> > >

> >

> > > nyambung.

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > > Peneliti ini pada tahun 1953 mengajarkan seekor Macaca betina 18

bulan

> >

> > >

> >

> > > bernama Imo untuk mencuci kentang yang menjadi makanannya. Selama

> >

> > >

> >

> > > beberapa waktu si Imo diajarkan untuk mencari sumber air terdekat

> >

> > >

> >

> > > seperti sungai untuk membersihkan dan mencuci dulu kentang yang

akan

> >

> > >

> >

> > > dimakannya. Setelah 3 bulan kemudian diobservasi ternyata perilaku

ini

> >

> > >

> >

> > > ditiru oleh ibunya Imo dan 2 teman mainnya (termasuk ibu-ibunya).

> >

> > >

> >

> > > Setelah 2 tahun kemudian, ternyata perilaku ini diikuti oleh 7

Macaca

> >

> > >

> >

> > > muda lainnya. Dan dalam 3 tahun ternyata 40% komunitas Macaca

> >

> > melakukan

> >

> > >

> >

> > > hal yang sama.

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > > Kawamura dan Kawai mencatat bila terjadi penjalaran (transmisi)

> >

> > perilaku

> >

> > >

> >

> > > yang bermula dari 4 Macaca. Beberapa peneliti lain seperti Koshima

dan

> >

> > >

> >

> > > Galef mencatat terdapat beberapa problem dalam proses transmisi

ini,

> >

> > >

> >

> > > seperti misalnya berjalan sangat lamban, dan sebenarnya proses itu

> >

> > >

> >

> > > adalah 'peniruan' (imitation). Proses peniruan ini disepakati

banyak

> >

> > >

> >

> > > ahli karena tidak ada 'sistem budaya' lain yang berkembang dan

> >

> > >

> >

> > > dibangkitkan dari perilaku yang tidak biasa di kalangan Macaca

ini.

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > > Hanya itu saja pak. Salam.

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > > -ekadj

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > >

> >

> > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .>

wrote:

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > Dear All,

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > Tadi petang hingga menjelang tengah malam saya mengikuti FGD

> >

> > >

> >

> > > masyarakat sekitar Kali Winongo yang mendapat dukungan dari Pemkot

> >

> > untuk

> >

> > >

> >

> > > mengusahakan pemikiran dan langkah nyata bagaimana sebaiknya.

Setelah

> >

> > >

> >

> > > mendengarkan berbagai kenangan dan impian masyarakat penghuni

> >

> > sekitarnya

> >

> > >

> >

> > > terbayangkan fenomena Kali Winongo ini sangat menarik, nggak kalah

> >

> > >

> >

> > > menarik dari fenomena kali Code dan Gajahwong.

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > Malam itu FGD diprakarsai oleh FKWA yaitu Forum Kali Winongo

Asri,

> >

> > >

> >

> > > yang ingin menjadi enabler atau fasilitator pengelolaan yang lebih

> >

> > >

> >

> > > sustainable. Aku tertarik masuk dan terlibat di dalamnya dan ingin

> >

> > >

> >

> > > terlibat sebagai teman ngobrol bagi warga sekitar Kali Winongo

yang

> >

> > >

> >

> > > sedang gumregah ingin mengelola dengan baik.

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > Silahkan kunjungi blog baru saya http://kaliwonongo. wordpress.

com,

> >

> > >

> >

> > > biasa, dokumentasi dan informasinya dengan pendekatan dan cara

> >

> > >

> >

> > > fenomenologi.

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > Salam,

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > Djarot Purbadi

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

> > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

> >

> > >

> >

> > > >

> >

> > >

> >

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

> ____________ _________ _________ _________ _________ __

> Do You Yahoo!?

> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around

> http://mail. yahoo.com

>




 

      

    
    
        
         
        
        




        




        
        


        
        
        



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke