Pak Djarot, apa yang bapak lakukan sekarang sepertinya proses
sensitizing dan immersion. Dulu Geertz di Bali 1957 perlu waktu satu
bulan kkn (kuralang kuriling nangkring) untuk memulai dari tahap itu,
karena untuk mendapatkan empati dibutuhkan 'waktu'. Saya kira ini perlu
evaluasi terhadap konsep 'fieldwork' yang dilontarkan Pak Eko. Dulu di
kantornya Pak Eko pernah diterapkan aturan fieldwork harus minimal 2
bulan, namun sekarang sepertinya tidak lagi. Untuk etnografi seharusnya
sekurangnya 1 tahun, namun 3-6 bulan masih ditoleransi. Namun kalau
planografi bisa konsisten minimal 2 bulan, sudah mendinglah. Data
kualitatif bisa mantap, jadi tidak cuma normatif. Kebanyakan kan
perencana itu pelancong domestik yang bermodal cekak. Dulu saya pernah
maksa menemani tim perencana ke NTB, maunya bisa lebih 2 minggu. Namun
baru seminggu saya sudah ditinggal pulang; terpaksa saya jalan sendiri.
Paling top saya di lapangan bisa sampai 3 minggu tahun lalu, waktu ke
NTT itu. Kalau ada perencana yang mampu bertahan 2 minggu di lapangan
(di luar Jawa), saya akan mengacungkan 2 jempol tangan saya. Namun kalau
lebih dari itu sampai 2 bulan, maka terpaksa saya buka sepatu dulu untuk
menambahkan 2 jempol kaki saya. Jadi kalau ada perencana yang sudah
tidak mampu lagi untuk fieldwork (seharusnya minimal 2 bulan), sebaiknya
memikirkan untuk pensiun, dan menjadi pengamat seperti saya. Jadi
fieldwork-nya Pak Eko itu memang kompetensi dasar bagi planografer.
Sementara demikian pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Eka, labeling "manusia dan sungai" sebenarnya hanyalah tema yang
saya masukkan ke dalam pikiran saya agar mampu memandu kepekaan
kesadaran saya ketika mengamati fenomenan di lapangan. Fenomena
Kaliwinongo menjadi menarik karena sekarang situasinya kontras: kali
Code banyak yang masuk dan menggarapnya, demikian juga kali Gajahwong.
Bahkan di kedua sungai itu ada konsorsium beberapa perguruan tinggi yang
bekerjasama menggarapnya, sementara kali Winongo ini masih sendirian
nggak ada yang memperhatikan.
>
> Ada situasi lain yang mendorongnya. Masyarakat di kedua kali yang
rame-rame digarap itu sudah bergerak sedemikian rupa sehingga membuat
masyarakat Winongo tergerak untuk berbuat hal yang sama. Padahal, "dunia
akademik" di Yogyakarta dan sekitarnya sedang konsen ke Code dan
Gajahwong. Saya hanya mengikuti arus saja, sebab di Winongo masyarakat
setempat berinisiatif membentuk forum komunikasi sudah cukup lengkap.
Saya hanya melihat ada peluang, ada rencana kegiatan dokumentasi,
inventarisasi dan penelitian kok bidang penelitiannya nggak dituliskan.
Saya berusaha mengisinya, karena isaku iki dan fenomenanya sungguh
menarik.
>
> Begitu ya Pak.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Fri, 10/30/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Manusia dan Sungai
> To: [email protected]
> Date: Friday, October 30, 2009, 4:31 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Djarot yang baik, dari catatan bapak di bawah menyangkut 'manusia
>
> dan sungai', saya teringat dengan kisah penelitian Kawamura (1959) dan
>
> Kawai (1965) tentang sejenis nonhuman primate dari Jepang bernama
Macaca
>
> fuscata. Sungguh cerita ini oot dari kisah bapak, jadi memang nggak
>
> nyambung.
>
>
>
> Peneliti ini pada tahun 1953 mengajarkan seekor Macaca betina 18 bulan
>
> bernama Imo untuk mencuci kentang yang menjadi makanannya. Selama
>
> beberapa waktu si Imo diajarkan untuk mencari sumber air terdekat
>
> seperti sungai untuk membersihkan dan mencuci dulu kentang yang akan
>
> dimakannya. Setelah 3 bulan kemudian diobservasi ternyata perilaku ini
>
> ditiru oleh ibunya Imo dan 2 teman mainnya (termasuk ibu-ibunya).
>
> Setelah 2 tahun kemudian, ternyata perilaku ini diikuti oleh 7 Macaca
>
> muda lainnya. Dan dalam 3 tahun ternyata 40% komunitas Macaca
melakukan
>
> hal yang sama.
>
>
>
> Kawamura dan Kawai mencatat bila terjadi penjalaran (transmisi)
perilaku
>
> yang bermula dari 4 Macaca. Beberapa peneliti lain seperti Koshima dan
>
> Galef mencatat terdapat beberapa problem dalam proses transmisi ini,
>
> seperti misalnya berjalan sangat lamban, dan sebenarnya proses itu
>
> adalah 'peniruan' (imitation). Proses peniruan ini disepakati banyak
>
> ahli karena tidak ada 'sistem budaya' lain yang berkembang dan
>
> dibangkitkan dari perilaku yang tidak biasa di kalangan Macaca ini.
>
>
>
> Hanya itu saja pak. Salam.
>
>
>
> -ekadj
>
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:
>
> >
>
> > Dear All,
>
> >
>
> > Tadi petang hingga menjelang tengah malam saya mengikuti FGD
>
> masyarakat sekitar Kali Winongo yang mendapat dukungan dari Pemkot
untuk
>
> mengusahakan pemikiran dan langkah nyata bagaimana sebaiknya. Setelah
>
> mendengarkan berbagai kenangan dan impian masyarakat penghuni
sekitarnya
>
> terbayangkan fenomena Kali Winongo ini sangat menarik, nggak kalah
>
> menarik dari fenomena kali Code dan Gajahwong.
>
> >
>
> > Malam itu FGD diprakarsai oleh FKWA yaitu Forum Kali Winongo Asri,
>
> yang ingin menjadi enabler atau fasilitator pengelolaan yang lebih
>
> sustainable. Aku tertarik masuk dan terlibat di dalamnya dan ingin
>
> terlibat sebagai teman ngobrol bagi warga sekitar Kali Winongo yang
>
> sedang gumregah ingin mengelola dengan baik.
>
> >
>
> > Silahkan kunjungi blog baru saya http://kaliwonongo. wordpress. com,
>
> biasa, dokumentasi dan informasinya dengan pendekatan dan cara
>
> fenomenologi.
>
> >
>
> > Salam,
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Djarot Purbadi
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> >
>
> > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
>
> >
>
> > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> >
>



Kirim email ke