Pak a.a.salam, 
Sangat menarik dan teperinci pandangan anda,  memang sejak lama Indonesia 
sebagai suatu negara maritim mutlak memerlukan juga suatu falsafah dan bukan 
saja suatu pendekatan maritim . Saya merasa sangat beruntung secara langsung 
berada didalam kancah yang paling progressip yang didunia ini telah dapat 
menghasilkan suatu deklarasi ke samudraan yang pertama yaitu  Manado Ocean 
Declaration  pada bulan Mei yang lalu , yang mungkin masih sangat kurang 
dimengeti dan dinsafi (perceived and realized) sebagai suatu deklarasi yang 
akan mempengaruhi kehidupan manusia di bumi ini.  Walaupun sekarang saja sudah 
ada kekuatiran bahwa deklarasi itu akan tenggelam dalam verifikasi nya di 
Copenhagen Desember yang akan datang. 
Perkenankan saya sedikit mengelaborasi hal ini (walaupun anda tidak mau 
melihatnya sebagai debat akademis, indeed this is not an academic but purely a 
scientific issue which has also some very clear implications in future human 
life and existence)

Begini sudah lama manusia didunia ini terutama telah merusak lingkungan darat 
atau kontinentalnya that is a fact and not only since Rio, Kyoto or All Gore or 
 now even Sarundayang in Manado, but unfortunately manusia memang sangat 
meremehkan kemampuan daya ameliorasi atau kekuatan penyelamatan yang datang 
dari laut.
Jadi in spite of Copenhagen, laut dan Samudra akan terus menyelamatkan kita 
dari dosa dosa kita didarat, well this is indeed very crudely formulated, 
tetapi saya memang yakin bahwa manusia itu memang rada memusuhi (atau takut 
terhadap) laut mungkin karena dahulu ia hidup dalam gua atau lubang dan takut 
akan tenggelam dalam tsunami. kelihatannya Copenhagen masih membawa phobi laut 
itu sehingga mungkin deklarasi manado pun akan hanyut dalam perdebatan legal 
dan banjir duit atau capital (aneh tapi kelihatannya issue allways is ....who 
has to pay for all this  nonsense, .....dan bukan akal teknis bagaimana keluar 
dari kemelut.  
Jadi secara singkat mungkin saya hanya kemukakan beberapa aspek dari atau untuk 
 Fadel,  sebagai bekas Gubernur propinsi yang mungkin menghasilkan ikan tuna 
yang paling besar kalau tidak dihitung banyaknya ikan yang dicuri dilaut maluku 
atau dekat papua, maka concern ikan laujt dan seluruh marineculture as an agro 
activity is understandable and indeed valid and certainly strategic. Yang agak 
sukar mungkin suatu pandangan yang intrinsically marine atau laut dan bukan 
terrestrial agro, oleh karena masih akan terbawa falsafah darat atau 
kontinental (katakan saja hukum laut yang dikembangkan dari darat sehingga 
masih diukur dari jarak pantai ke laut lepas, jadi si marine also an agro 
culture? Kalau tidak yah apa, saya kira Prof Lapian sebagai sejarawan maritim 
atau budaya maritim Indonesia pasti akan bisa banyak membantu kita. 
In the meantime we can only watch what Copenhagen will bring to us, hopefully 
not only academic debate. 

Aspek khusus yang juga telah disinggung adalah bentuk pemukiman manusia yang 
dipengaruhi oleh  laut atau lingkungan maritim. Kalau didarat kita sudah bisa 
menerima bentuk raksasa seperti megapolitan regions,  maka marine metropolises 
are ideed already feasible jelas juga dengan teoridan teknologinya  sendiri 
lagi wah engga ada BPN pertanahan tapi perlautan if you see that particular 
consequence. Pak Fadel sebagai insinyur sipil pasti bisa menghadapinya, tapi in 
detail saya kira peranan pulau-pulau kecil akan sangat besar tetapi jelas juga 
akan menuntut infrastruktur yang sangat spesifik, yah manusia sih engga minum 
air laut dus well pikir sajalah untuk produksi aqua dari air laut atau air 
slobar (setengah asin kaya di |Banjarmasin).  Kalau ssistim transportnya saya 
kira sudah banyak ada, kapal ferry sampai pemukiman terapung kaya kapal induk  
George Washington yang ikut Bunaken Sail).
Kalau saya boleh menduga, maka mungkin masa depan justru negara-negara 
kepulauan atau archipelagic akan jauh lebih strategic daripada negara benua 
atau kontinental jadi  Indonesia lagi engga bisa luput, so geomorphologically 
we are just at the beginning of anew era environment and hpefully habitable 
world. Can we live that long, well for sure we just have to.   

I  just like to dream . PakWawo.


________________________________
From: abdul alim salam <[email protected]>

To: [email protected]
Sent: Wed, November 4, 2009 6:06:16 AM
Subject: Re: Bls: [referensi] Practical planning

  
Pak Ferry, 

Tadi waktu acara serah terima ketua harian Dewan Kelautan Indonesia dari Freddy 
Numberi ke Fadel Muhammad, Pak Fadel juga bicara ttg Minapolitan (berbasis 
perikanan) sebagai analogi dari Agropolitan (berbasis pertanian). Saya sendiri 
kok lebih senang menyebutnya sebagai Agromarinpolitan (integrasi sumberdaya 
laut dan darat). Namun saya setuju rasanya kita tidak perlu memperdebatkan ini 
secara akademis. 

Yang sama2 kita harus dukung adalah Visi bapak Menteri/Ketua Harian DEKIN untuk 
meningkatkan produksi kelautan/perikanan kita menjadi terbesar di tahun 2015. 
Tentu yg dimaksud adalah di sektor perikanan (kalo maritim kita masih jauuuuh 
sekali). Benchmarking nya jelas sekali. Ambisius? rasanya sih tidak, sekarang 
kita no 4 di dunia. Lautan kita paling luas di dunia. Asal teman2 di DKP lebih 
keras dan fokus kerjanya saya yakin bisa tercapai.

Ayo tancap mang ......

AAS
--- Pada Sel, 3/11/09, Ferrianto Djais <eidj...@hotmail. com> menulis:

> Dari: Ferrianto Djais <eidj...@hotmail. com>
> Judul: Re: Bls: [referensi] Practical planning
> Kepada: "abdul alim salam " <abdulal...@yahoo. com>, "refere...@yahoogrou 
> ps.com " <refere...@yahoogrou ps.com>
> Tanggal: Selasa, 3 November, 2009, 11:02 PM
> Mba Hesti dan Pak Alim, menarik
> sekali isue yang diangkat - tadinya aku ngak mau ikutan tapi
> karena saya ini terjerat oleh isue itu. Aku ada kegiatan
> namanya "minapolitan" yakni membangun kegiatan di kawasan
> produksi; pengolahan; sampai kaw pemasaran . Pemda rada
> takut2 dgn alasan blm ada RTRW. Kalau aku baca implikasi UU
> 26 - sampai lebaran kuya ngak akan ada revisi RTRW, dan dana
> kegiatan saya sdh turun. Sekarang aku seperti main silat,
> dimana ada lahan kosong dan dinilai sedikit aman, gua bangun
> - seperti zaman baheula yg disebut PAYP, tapi terus terang
> gua takut banget karena kemungkinan salah bangun nya besar
> sekali - didepan gua yg namanya penjara terbuka sangat2
> lebar
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> 
> -----Original Message-----
> From: abdul alim salam <abdulal...@yahoo. com>
> Date: Wed, 4 Nov 2009 03:04:30 
> To: <refere...@yahoogrou ps.com>
> Subject: Bls: [referensi] Practical planning
> 
>   
> 
> 
> 
> 
> 
> Mbak Hesti ysh. 
>   
> Senang rasanya ada Planner yg prihatin atas progres revisi
> RTWP dan RTRWK. Saya juga bingung siapa sebenarnya yg bisa
> dipersalahkan apabila amanat UUPR utk melakukan revisi RTRW
> tsb ternyata tidak berjalan sbgimana yg diamanatkan? 
> seharusnya itu tanggung jawab Menteri yang membina tata
> ruang. Tetapi hingga detik ini belum ada ketetapan
> pemerintah yg menegaskan siapa Menteri itu. 
>   
> Anehnya dalam Peraturan PRESIDEN No.4/2008 ttg
> Jabodetabekpunjur suatu level kebijakan yang seharusnya
> dapat menegaskan siapa Menteri tsb, ternyata juga tidak
> menegaskannya : siapa Menteri sebagai PEMBANTU PRESIDEN
> yang ditugaskan mengawal penataan ruang. 
>   
> Nah kalo situasi seperti ini jangan heran kalo semua
> menjadi lepas tangan manakala amanat UU tidak terlaksana.
> Pada akhirnya semua itu berpulang kepada PRESIDEN, sebagai
> pemegang amanat tertinggi pemerintahan. 
>   
> Saya pernah usul dalam suatu temu IAP, bagaimana bila para
> pemerhati TATA RUANG menyatukan sikap untuk segera meminta
> fatwa kepada Mahkamah Konstitusi mengenai  : a/ siapa
> Menteri pembina tata ruang? dan b/ bagaimana hukumnya bila
> amanat UU terkait dgn revisi RTRW ternyata tidak dapat
> dipenuhi?: apakah pasal tsb batal demi hukum  ataukah
> segera menyarankan kepada pemerintah utk segera mengeluarkan
> PERPU? 
>   
> Dapatkah dikatakan karena tidak memenuhi amanat
> UU, berarti pemerintah dan pemerintah daerah telah
> melanggar UU? catatan : Pasal 7 ayat 2 UU 26/2007 menyatakan
> bahwa bahwa NEGARA memberikan kewenangan penyelenggaraan
> penataan ruang kepada pemerintah dan pemerintah daerah. 
>   
> SELAMAT MERAYAKAN HARI TATA RUANG (sebetulnya World Town
> Planning Day) - 8 Nopember 2009 
>   
> Wassalam 
> A Alim Salam
> 
> --- Pada Sel, 3/11/09, Hesthi Raharja <behes...@yahoo. co.id>
> menulis:
> 
> Dari: Hesthi Raharja <behes...@yahoo. co.id>
> Judul: Bls: [referensi] Practical planning
> Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
> Tanggal: Selasa, 3 November, 2009, 9:10 PM
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> Salam.
> saya memiliki beberapa pertanyaan :
> 1. seberapa besar keinginan KTI agar memperoleh perhatian
> extra? 
>     keinginan itu sangat besar, bahkan bisa mengancam
> disintegrasi NKRI.
> 2. Apakah mereka telah menuangkan keinginan tersebut dalam
> produk hukum? 
>      Seharusnya mereka menyusun/menetapkan produk hukum
> yang mewakili aspirasi mereka. 
> 3. apa jenis produk hukum tersebut? 
>     Perda RPJP? RPJM? RTRW? RDTR? 
> 4. Apakah pasal 78 ayat 4 dipenuhi? 
>     (4)  Dengan berlakunya Undang-Undang ini: 
> a. Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
> Nasional disesuaikan paling lambat dalam waktu 1 (satu)
> tahun 6 (enam) bulan terhitung sejak Undang-Undang ini
> diberlakukan; (SUDAH DIPENUHI) 
> b. semua peraturan daerah provinsi tentang rencana tata
> ruang wilayah provinsi disusun atau disesuaikan paling
> lambat dalam waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak
> Undang-Undang ini diberlakukan;   
> (BERAPA jumlah  RTRWP di KTI yang disesuaikan dan
> diperdakan?) 
> c. semua peraturan daerah kabupaten/kota tentang rencana
> tata ruang wilayah kabupaten/ kota disusun atau disesuaikan
> paling lambat 3 (tiga) tahun terhitung sejak Undang-Undang
> ini diberlakukan. 
> (BERAPA jumlah RTRWK di KTI yang disesuaikan dan
> diperdakan?) 
> 5. Bila persetujuan substansi terhadap RTRWP dan RTRWK
> sudah ditandatangani oleh yang berwenang, siapa yang yang
> menjamin 9dinyatakan bersalah) bila terjadi ketidaksesuaian
> antara substansi RTRWN dan RTRWP dan/atau RTRWK? 
> 6. Apakah saya dimaafkan karena mengajukan lima pertanyaan
> diatas dan karena email sebelumnya terlalu cepat dikirim dan
> karena mencoba aktif lagi. 
> 7. Semua jawaban dan tanggapan milister dijamin benar 
> Terimakasih 
> SalamHesthi Raharja
> PL 85
> 
> 
> --- Pada Sel, 3/11/09, Risfan M <risf...@yahoo. com>
> menulis:
> 
> Dari: Risfan M <risf...@yahoo. com>
> Judul: [referensi] Practical planning
> Kepada: "referensi" <refere...@yahoogro u ps.com>
> Tanggal: Selasa, 3 November, 2009, 10:08 AM
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> Rekans ysh, 
>   
> Memenuhi ajakan BSP untuk mengembangkan diskusi Practical
> Planning untuk memberi masukan ke daerah, ada permasalahan
> lama yang diangkat Kompas hari ini (3/11/09). Mungkin layak
> disimak. 
>   
> Salam, 
> Risfan Munir 
>   
> Kawasan Timur Indonesia Perlu Perhatian Ekstra 
> 
> 
> Selasa, 3 November 2009 | 04:34 WIB 
> Makassar, Kompas - Forum Kelompok Kerja Kawasan Timur
> Indonesia yang menghimpun 12 Badan Perencanaan Pembangunan
> Daerah di tingkat provinsi meminta keberpihakan ekstra
> Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II terhadap nelayan dan
> masyarakat pesisir di kawasan. Permasalahan dan potensi
> kelautan Indonesia lebih sarat di kawasan timur dibandingkan
> dengan kawasan barat. 
> Ketua Forum Kelompok Kerja Kawasan Timur Indonesia (KTI)
> Winarni Monoarfa mengatakan hal itu pada Senin (2/11). Forum
> itu merupakan wahana komunikasi para pejabat Badan
> Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) di enam provinsi di
> Sulawesi, dua provinsi di Nusa Tenggara, serta masing-masing
> dua provinsi di Maluku dan Papua. 
> Potensi perikanan di Tual dan Maluku Tenggara, Maluku, saat
> ini belum dimanfaatkan secara optimal. Nelayan tradisional
> hanya mampu menangkap ikan di zona 0-4 mil laut karena hanya
> mengandalkan sampan dayung. 
> Kapal-kapal yang sandar di pesisir kampung didominasi
> sampan. Perahu motor tidak lebih dari lima unit di setiap
> pesisir kampung. Dengan sampan dayung, nelayan hanya bisa
> melaut pada jarak 2 mil dari pantai. Total penjualan hasil
> tangkapan mereka Rp 20.000. 
> Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten
> Maluku Tenggara, pada 2008 sekitar 83 persen (5.351 unit)
> alat tangkap adalah perahu tanpa motor. Perahu motor tempel
> terdata 906 unit dan kapal motor 153 unit. 
> Winarni menilai, di balik problematika itu, posisi
> strategis KTI di tengah-tengah kawasan Coral Triangle
> (Segitiga Terumbu Karang) menjadikan perairan laut KTI
> menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang sangat besar
> dan unik. 
> "KTI memiliki 23 kawasan laut andalan, jauh lebih banyak
> dari kawasan barat yang 14 kawasan," ujarnya. 
> Winarni menambahkan, dengan berbasis sumber daya pertanian
> dan kelautan, rata-rata pertumbuhan ekonomi 12 provinsi di
> KTI sebesar 5,96 persen atau lebih tinggi daripada rata-rata
> nasional sebesar 5,45 persen. 
> Kondisi itu ditopang oleh kontribusi sektor pertanian yang
> mencapai 22,99 persen. Jika perikanan dan kelautan
> dikembangkan secara lebih baik, ia meyakini bahwa sumbangan
> sektor ini akan meningkat dan pada gilirannya akan mendorong
> pertumbuhan ekonomi kawasan. (ANG/NAR) 
> http://cetak.
> kompas.com/ read/xml/ 2009/11/03/ 04343843/ kawasan.timur.
> indonesia. perlu..perhatian .ekstra
> 
> 
> Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda
> meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang
> dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)
> 
>         Nama baru untuk Anda! 
> <http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/11/03/ 04343843/ kawasan.timur. 
> indonesia. perlu..perhatian .ekstra> 
> 
>  Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru
> @ymail dan @rocketmail. 
>  Cepat sebelum diambil orang lain!  
> 
> 
> 
> ------------ --------- --------- ------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups
> Links
> 
> 
>     mailto:referensi-fullfeatu r...@yahoogroups. com
> 
> 
> 

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/


   


      

Kirim email ke