Dear all, Sebagai tambahan, secara cepat kita dapat ajukan beberapa pertanyaan dan identifikasi dampak2 yg dari pemindahan ibu kota ini.
Apakah permasalahan Jakarta ditangani atau ibu kota yg dipindahkan? Asumsi saya anggaran pemerintah terbatas utk melakukan kedua hal tsb... Kalau permasalahan Jakarta tidak ditangani: (1) pertumbuhan ekonomi nasional akan menurun mengingat Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional akan kehilangan tingkat competitiveness nya dgn infrastruktur yg buruk, banjir, dst.... peran Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional tdk akan tergantikan oleh ibu kota yg baru mengingat teori agglomeration economies, kecuali kalau krakatau benar2 meledak dan meratakan Jakarta seperti hancurnya Dwarawati nya Sri Kresna... (2) Kerugian akibat penurunan nilai asset... infrastruktur yg tidak dipelihara akan mengalami penurunan nilai asset, dan rehabilitasinya akan memakan biaya yg jauh lebih tinggi... ini belum termasuk nilai asset private di Jakarta, baik perusahaan maupun individu... Kalau ibu kota dipindahkan maka ini masalah opportunity costs, karena anggaran bagi pembangunan ibu kota baru tsb bisa digunakan utk: - mengatasi masalah Jakarta (kalau Jakarta tdk diatasi kerugiannya seperti dijelaskan di atas). - membangun infrastruktur dan fasilitas2 publik di kawasan2 tertinggal dan kawasan andalan.. - mengembangkan/memantapkan good governance (reformasi birokrasi, dll) - mengatasi kemiskinan, kematian dan kekurangan gizi bayi dan balita dgn cash transfer misalkan.. - dst.. Masalah2 tsb hanyalah yg terlintas secara cepat dipikiran saya, mungkin masih banyak lagi yg bisa dieksplor... Kalau permasalahan Jakarta ditangani, utk apa memindahkan ibu kota? Lihat kembali masalah opportunity costs... Dengan sendirinya hal2 tsb di atas tidak berlaku kalau anggaran pemerintah cukup utk mengatasi masalah Jakarta, memindahkan ibu kota, membangun infrastruktur, mengatasi kemiskinan, dll... Jadi planner pun harus mempertimbangkan costs dan opportunity costs bukan? :) salam.. --- On Tue, 12/29/09, Eko B K <[email protected]> wrote: From: Eko B K <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: Ibukota baru To: [email protected] Date: Tuesday, December 29, 2009, 1:47 PM Dear all, Saya sependapat dgn Koko dan Pak BTS, pemindahan masalah ibu kota kita lihat urgensinya dulu... Memecahkan masalah Jakarta, masalah apa? Masalah transportasi? apakah harus dgn memindahkan ibu kota? Tidak bisakah dgn pembangunan public transport yg lebih baik (subway, monorail, tramway, dll)? Kalau ibu kota dipindahkan apakah dgn demikian Jakarta dibiarkan sendirian dgn masalahnya? Kalau Jakarta ditangani dan ibu kota dipindahkan, punya uangkah kita? Masalah banjir? Tidak bisakah ditangani dgn pembangunan infrastruktur banjir yg memadai? Kalau ibu kota dipindahkan apakah Jakarta lalu dibiarkan? Kalau ditangani keduanya, adakah uangnya? Masalah gempa, meledaknya krakatau, ibu kota kalau begitu harus jauh dr Jakarta, tidak bisa di Tangerang, Jonggol, dst... Tapi lalu apakah ibu kotanya dipindah dan Jakarta dibiarkan saja dgn resiko seperti itu? yah kalau penduduk Jakarta banyak yg mati itu salah sendiri kenapa tdk mau pindah, begitukah?.. . Masalah Jawa sudah padat penduduknya. Mengapa ibu kotanya yg dipindah? Mengapa bukan manusianya yg dipindah dgn transmigrasi? Belajar dr pengalaman negara lain dan sejarah bangsa sendiri perlu, tetapi masalah kita yg spesifik lah yg perlu didalami sebelum memutuskan.. . Sekali lagi saya tdk anti ide pemindahan ibu kota, tapi saya kok menangkap kesan kita putus asa dgn masalah Jakarta lalu hendak melarikan diri (maaf kalau kesan saya salah)... Kenapa masalahnya tdk kita hadapi head on? Apakah dgn memindahkan ibu kota lalu Jakarta kita biarkan? Kalau tdk kita biarkan artinya kita punya 2 pengeluaran negara yg besar: (1) mengatasi masalah Jakarta dan (2) memindahkan ibu kota... ini masalah keterbatasan anggaran dan opportunity cost... ketika angka kematian ibu dan bayi di beberapa propinsi masih tinggi, kemiskinan dan pengangguran yg signifikan, tingkat persaingan dgn China dan Vietnam yg menajam, krisis ekonomi yg belum sepenuhnya pulih, dst... tentu kalau anggaran pemerintah kita tdk terbatas tidak ada masalah... salam. --- On Tue, 12/29/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote: From: ffekadj <4ek...@gmail. com> Subject: [referensi] Re: Ibukota baru To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Tuesday, December 29, 2009, 12:35 PM Terima kasih Pak Wilmar atas pencerahannya. Kira-kira dimana pak lokasi ibukota barunya? Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, "wilmarsalim" <wil...@...> wrote: > > > > Salam sejahtera, > > Kalau boleh ikut nimbrung dalam diskusi akhir tahun ini, khususnya tentang pemindahan ibukota, saya pikir wajar kalau kita perlu belajar dari pengalaman bangsa lain mengenai keberhasilan atau kegagalan mereka agar kalau kita jadi membangun ibukota baru kita bisa membangun lebih baik. Tetapi sebaiknya kita tidak terjebak dalam rational empiricism untuk menentukan apakah kita mmerlukan ibukota baru atau tidak. Tiap bangsa yang memutuskan membangun ibukota baru punya alasan, tujuan dan proses yang berbeda-beda, dan banyak variasinya. > > Dari segi alasan saja bisa ada beberapa sub aspek seperti alasan mengapa dan alasan ke mana. Alasan mengapa bisa dilandasi oleh kebutuhan, bisa juga oleh keinginan, atau malah kepercayaan. Sedangkan alasan ke mana bisa didasari oleh lebih banyak hal, baik fisik, geografis, historis, logis, metafisik, ketersediaan, dlsbnya. Apalagi kalau mau melihat tujuan dan proses yang terjadi. Sebaiknya kita tidak menyatakan kalau kita tidak bisa mengikuti negara A dengan ibukota barunya karena tidak berhasil, atau kita mau mengikuti negara B karena berhasil, karena tiap negara berbeda. Selain itu tingkat keberhasilan itu kan relatif, tergantung tolok ukurnya. > > Contoh: Beberapa ibukota baru dibangun dengan alasan melepaskan diri dari sejarah kolonialisme. Brasilia, Islamabad dan Palangkaraya muncul dari idealisme ini. Tapi nasib ketiganya berbeda, Brasilia dan Islamabad tetap menjadi ibukota negara baru, sementara Palangkaraya tidak (beberapa alasan tidak jadinya Palangkaraya sudah dituliskan Wijanarka (2006), silakan baca footnote 1 artikel saya di City, 13:1, pp.120-128, 2009). Selanjutnya, meskipun mulai dibangun di era yang sama Brasilia sudah menyelesaikan tahapan pembangunannya, sementara Islamabad masih dalam tahap pembangunan karena apa yang terjadi di kedua negara berbeda. > > Untuk mencoba menjawab pertanyaan di poin no. 10 mas Koko di bawah, saya termasuk orang yang melihat bahwa Indonesia memerlukan ibukota baru. Dulu saat reformasi mulai saya menganalogikan peristiwa Hijrah sebagai sesuatu yang diperlukan bangsa Indonesia untuk menata ulang peri kehidupan berbangsa dari tempat yang baru. Sekarang saya percaya pembangunan ibukota baru akan memberikan sebuah peluang untuk menyelesaikan persoalan kota Jakarta, tanpa harus merugikan negara. Namun kita memang perlu menghitung secara cermat biaya-biaya yang ditimbulkan. Selain itu kita juga perlu melihat peluang-peluang yang tersedia untuk menutup biaya-biaya tersebut. > > Jadi pertanyaannya bukan semata apa urgensinya sebuah ibukota baru, tapi untuk Indonesia di masa depan, maukah kita mempunyai ibukota baru? > > Selamat tahun baru, > > Wilmar > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Harya Setyaka harya.setyaka@ wrote: > > > > Halo, > > Saya mau tanggapi secara keseluruhan diskusi, bukan specific pada regional > > equalities. > > > > 1. Mengenai Brasilia: > > Refrensi megnenai Brasilia yg cukup komprehensif bisa ditemukan di text-book > > yg sangat umum di dunia planning; yaitu Cities of Tomorrow oleh Peter Hall. > > di Bab 7, The City of Towers, satu sub-bab khusus membahas Brasilia: the > > Quasi-Corbusian City (kalau punya edisi 3, hal 230-235). > > (Peter Hall sendiri memang tidak banyak menulis mengenai kota-2 non-Bule). > > Brasilia, dalam batas kota yg direncanakan, memang baik.. tapi kegagalannya > > adalah banyak kota-2 lain tumbuh berjamur dipinggirannya, secara kurang > > terencana dengan baik. > > Biaya yg dikeluarkan untuk pembangunan juga sangat besar. Mungkin ini bisa > > dianggap sebagai bentuk 'ketegasan kebijakan', tapi disisi lain, mengapa > > tidak pernah ada ketegasan kebijakan yg berpihak pada kaum miskin. > > Hall menyoroti pembiayaan.. bagaimana kaum pekerja disedot duit pajaknya > > untuk membangun kota tsb, tapi agenda-2 sosial lainnya terbengkalai. > > > > Sejarah Brazil mencatat 2 kali perpindahan ibukota.. dari Salvador, lalu ke > > Rio, lalu ke Brasilia .. > > dan proses nya memang lama.. sudah dari 1823 pertama kali dicetuskan, baru > > 1960 ter-realisasi. . > > > > 2. Mengenai Canberra. > > Juga ada di buku nya Peter Hall sebagi sub-bab, tapi di Bab lain, yaitu bab > > 6; The City of Monuments. Planner nya Canberra adalah mantan asistennya > > Frank Lloyd Wright. > > Prosesnya juga tidak singkat, dan memang secara sengaja lokasinya dipilih > > tidak bejarak lebih dari 100 mil dari Sydney. > > > > 3. Washington DC. > > Sebenarnya juga 'pindahan' dari Philadelphia tahun 1800an. > > Tujuannya supaya aman secara militer. Tapi toh akhirnya pernah juga diserang > > oleh tentara kerajaan Inggris. > > Lalu Civil War, jamannya Abraham Lincoln, kota tumbuh pesat.. banyak > > penduduk afro-american yg di-merdekakan dari perbudakan. > > Seterusnya hingga 1870 sudah kembali menemui masalah kembali, kelayak-hunian > > memburuk.. sehingga Congress mengusulkan pindah lagi. > > Tapi ternyata hingga sekarang masih tetap dengan terus membenahi diri dengan > > kiat-kiat rancang bangun dan teknologi konstruksi mutakhir., antara lain ya > > mengaspal jalan dan membangun sanitasi dan drainase.. sebagaimana tantangan > > perkotaan yg umum masa itu. > > > > sistem pemerintahan USA unik.. pemerintah pusat (Federal) dibangun bottom up > > oleh negara-bagian (States) yg sudah berdiri otonom sebelumnya. (mereka > > membentuk Federasi awalnya dari pakta militer untuk menghadapi tentara > > Kerajaan Inggris). > > Kewenangan pemerintah Federal tidak melebihi yang diberikan States (kebalik > > sama Indonesia saat ini...) > > Begitu pula ketika ingin membenahi Washington DC pada masa itu; ya untuk > > pendanaan perlu 'direstui' states-2 nya.. > > > > Baik Brazil, Australia, USA, semuanya adalah negara produk perambahan benua > > oleh bangsa Eropa yang diamini sejarah. > > > > Ada contoh lain; yaitu New Delhi.. yg merupakan ibukota bentukan pemerintah > > Kolonial Inggris.. sedangkan sebelumnya ibukota ada di Calcutta. > > Tapi sejarah tidak mengamini perambahan benua oleh kerajaan Inggris ini. > > > > Contoh lain; masih di benua Amerika adalah Mexico City; yg merupakan kota > > kuno bangsa Aztec sejak 1325 yang lalu diteruskan oleh pemerintah kolonial > > Spanyol. > > Ketika Mexico (bule nya, bukan Aztec nya) merdeka dari Raja Spanyol, tahun > > 1821, ibukota tetap di Mexico City.. > > dan hingga kini jadi kota yg sangat kurang layak huni pun tidak pindah > > ibukotanya. > > > > 4. Indonesia. > > Yang pertama kali menjadikan ibukota di muara sungai Ciliwung adalah VOC, > > yang lalu diteruskan oleh Hindia Belanda. Oleh Kerajaan Pajajaran, Sunda > > Kelapa tidak dianggap penting. > > sesuai khittahnya; VOC adalah entitas dagang bersenjata. > > VOC pula lah yg pertama kali menjadikan Jakarta sebagai simpul perdagangan. > > VOC adalah Pemerintahan yang memiliki kewenangan militer, namun konstituen > > nya adalah 17 komisaris yg berkantor di Amsterdam. Kota hanya memiliki 2 > > fungsi: Pelabuhan dagang dan benteng militer. > > Pemukiman sipil diluar tembok benteng, tanpa rencana, pembiayaan swadaya.. > > Lalu mulai ada 'pergeseran' (karena gak pindah jauh) yaitu mengarah ke > > pedalaman.. > > dan ditandai oleh jatuh-bangunnya rezim militer. > > Daendels memindahkan ke Gambir.. masih di tepi Ciliwung. > > Lalu Daendels pun memerintahkan pembangunan Bandung di tepi Cikapundung, > > sekaligus memindahkan pusat Kabupaten Bandung. > > > > Raffles membangun pusat pemerintahan di Bogor. > > Lalu pada masa Hindia Belanda, investasi pembangunan fungsi-2 pemerintahan > > di Bandung cukup gencar.. termasuk membangun lapangan udara militer > > (penerbangan sipil masih sangat jarang saat itu) dan juga pusat militer di > > Cimahi. > > > > Hindia Belanda juga membangun kota baru Jatinegara, lengkap dengan > > infrastruktur rel yg sangat memadai saat itu (Manggarai), dan juga fungsi-2 > > militer. > > > > Apapun rencana pemerintah Hindia Belanda saat itu (yg saya ketahui ingin > > pindah ke Bandung yg lebih sejuk dari Gambir), tidak sempat terlaksana.. > > > > Dari sudut pandang pembangunan kota: Pemerintah Hindia Belanda sangat banyak > > melakukan program-2 sosial bagi kaum pribumi yg dipayungi politik etis > > (1900), tapi tidak banyak menyentuh perbaikan permukiman (housing > > improvement) .. Baru tahun 1925-7 mulai disetujui bantuan dana pemerintah > > pusat kepada kota-praja yg cukup otonom dalam memperbaiki permukiman. > > pemerintah kota-praja kurang tertarik memperbaiki permukiman karena masalah > > kesejahteraan pribumi-jelata memang tanggung jawab pemerintah pusat, dan > > dewan kota juga enggan menyetujui anggaran untuk kaum pribumi juga karena > > kaum pribumi under-represented dan ya karena miskin gak bayar pajak > > (non-taxable) . > > > > Soekarno memang sempat memikirkan pindahan.. tapi tahun 1962 malah > > berbalik.. > > Pembangunan fokus ke Jakarta.. antara lain proyek-2 mercu suar yg > > difasilitasi pendanaan Soviet. > > > > Rencana pemindahan jamannya Soeharto, sebagaimana kebijakan-2 dan proyek-2 > > lainnya, di-bajak oleh nafsu riba kroni-kroni tengik nya.. > > > > Lessons learned bagi Indonesia saat ini: kalau Jakarta terasa makin sesak, > > makin tidak layak huni.. solusinya bukan pindahan.. tapi planning yg lebih > > baik lagi.. di semua lini baik di lini analisis, prediksi, dan mengambil > > tindakan (policy, implementation, enforcement) . > > > > > > > > 5. Malaysia > > sepertinya kisah sukses yg agaknya bikin pengen. > > Kita selalu merasa tercambuk apabila ada prestasi Malaysia yg belum mampu > > kita samai. Tapi KL juga menjadi lebih layak huni karena investasi di sektor > > transportasi. . ya dengan ngutang juga .. nombok juga .. > > > > > > 6. Regional equalities.. > > saya perlu garisbawahi (sorry kalao tidak berbau 'tata ruang', tapi lebih > > tata uang): perlu kita reformasi perimbangan keuangan daerah... > > Pajak atas industri ekstraktif yg mendominasi perekonomian Indonesia Timur, > > tidak perlu 'mampir' dulu di Jakarta.. > > Perlu efisiensi dan rasionalisasi perimbangan keuangan daerah. > > Jadi, untuk tujuan yg mulia ini; mungkin federalisasi lebih efektif.. kalao > > federalisasi bisa mengefisiensikan administrasi pembangunan. . mengapa > > tidak.. > > > > > > 7. Jarak dan tekonologi transportasi. > > Ya, memang jarak cartesian / euclidean tidak akan berubah.. > > tapi teknologi & regulasi transportasi memang justru mengatasi 'jarak' > > tersebut.. > > Kita cukup membandingkan waktu tempuh dan ongkos saja dari tahun ke tahun.. > > Masih ingat jaman dulu 15-20 tahun lalu.. bagaimana Jakarta-Surabaya, > > Jakarta-Semarang by train? Jakarta-Medan, Jakarta-Menado, dlsb? > > berapa ongkos nya dulu ketika cuma ada Garuda? > > Jadi memang betul bahwa teknologi dan regulasi transportasi mampu mengatasi > > jarak. > > Teknologi menyingkat jarak tempuh. Regulasi (persaingan usaha yg sehat) > > menurunkan ongkos. (contoh yg paling shahih adalah di bidang > > telekomunikasi) . > > > > 8. Separtisme.. > > kembali muncul mitos-2 ala pemerintahan kolonial mengenai separatisme yang > > mempercayai bahwa separatisme akan hilang apabila kesenjangan kesejahteraan > > antar wilayah kepulauan diminimalisir. . > > Canada, negara yg sejahtera namun tetap ada separatisme. > > Separatisme juga terjadi di negara kontinental (non-kepulauan) . > > > > Memindahkan ibukota meredam separatisme? Salah obat lagi.. > > > > 9. Pemindahan Ibukota sebagai keputusan rasional: > > Memang UK adalah Monarki.. tapi monarki konstitusional. . > > hukum tetap dijunjung tinggi dan keluarga kerajaan pun tunduk pada hukum. > > tidak seperti sabda pandito ratu ala kerajaan nusantara.. dimana lidah raja > > adalah hukum. > > kaitannya dengan memindahkan ibukota: > > ini masalah motif dan metode.. > > perencanaan modern motifnya adalah (kalau demokrasi berjalan baik) > > kemaslahatan rakyat banyak, bukan hanya sebagian yg itu-itu saja (elite).. > > dan metode nya adalah rasional empiric.. > > Jaman kerajaan dulu, pindahan ibukota basically adalh si Raja dan keluarga > > pindah rumah.. Motif nya? ya mempertahankan status quo dinastinya dari > > ancaman expansi kerajaan lain maupun pemberontakan. . > > Raja Thailand juga sempat pindah rumah beberapa kali sampai akhirnya di > > Bangkok sekarang ini. > > > > > > > > 10. Saya sepakat dengan Pak BTS.. intinya; apa urgensi nya memindahkan > > ibukota? > > Kalau Jakarta menjadi semakin tidak layak huni; seluruh alternatif solusi > > perlu ditampilkan diatas meja.. > > > > Seluruh penjelasan dan sumber refrensi juga perlu disajikan diatas meja dan > > dinilai secara objective dan subtantial. Yg perlu kita ingat adalah blog > > maupun suatu paper yg ditulis sudah cukup lama tidak akan bisa menjadi > > refrensi yg lengkap. Apalagi Blog itu tidak termasuk refrensi yg shahih > > secara ilmiah.. un-refereed. > > Sedangkan kalao journal paper, ya perlu dipelajari juga yg terbaru. > > Juga tidak bijak mengambil kesimpulan yg terlalu jauh dari olah-data > > statistik yg sederhana.. > > > > kalao diagnosa nya bukan masalah teruknya Jakarta, tapi masalah-2 keutuhan > > negara kesatuan atau masalah lain yg sudah dibahas secara superficial > > lainnya; sama juga; seluruh solusi perlu disajikan diatas meja.. > > > > Bukan malah terbalik; bias kepada suatu solusi, lalu problem statement -nya > > yg bolak-balik direvisi.. > > > > > > Salam hangat, > > -K- > > >

