Pro Milisters YSH
 
Sekedar nambahin soal Putera Jaya dan lokasi ibukota (sekiranya pindah).
Yang ada di catatan saya dan pengamatan lapangan (sewaktu konstruksi), Putera 
Jaya dibangun di ex lahan perkebunan karet yang kering dan berbukit (rolling) 
hampir bersamaan dg kota baru Cyber Jaya (Cyber City) yang memang lokasinya pun 
disandingkan. Kondisi awal Cyber Jaya juga hampir sama. Cyber Jaya dipersiapkan 
sebagai mesin produksi kelas 'menengah tinggi' di antaranya produksi electronic 
chip. Malah niatnya sebagai lembah silikonnya Malaysia. Karena itu di beberapa 
section sudah dipersiapkan integrated system (security, information, 
communication, dan masih beberapa hal sedang diakseskan). Meskipun beberapa 
industri kelas ini sudah lebih lama dirintis di wilayah Sungai Petani (a.l IBM) 
di utara semenanjung Malaysia. Oleh sebab ada niat (plan) mesin produksi tsb, 
dan lokasi kota ini bergandeng, tentu satu sama lain melakukan percepatan 
aktivitas (fisik, ekonomi), dan industri jasa pariwisata/services (hotel, 
perkantoran, convention dst)
Saya mengamati gerak pembangunan-pembangunan di kedua kota ini telah di plan 
dan diikuti secara konsisten (istiqamah) oleh para pihak (stakeholders 
pemerintah/kerajaan, investor, industrialis, technokrat, academisi dari 
universiti-universiti). 
Agaknya perlakuan semacam ini yang patut ditiru kita, ketimbang membayangkan 
('ketakjuban') kemolekan vista kotanya, landmarknya, aneka experimental 
arsitekturnya, dan kecantikan lanskapnya yang serba menarik, apalagi akan 
diterapkan di ibukota baru (entah di mana gerangan),  (catatan. penanggung 
jawab utama lanskapnya adalah sahabat saya). 
Sementara ini dulu, sesegera saya lanjutkan pertimbangan pindah lokasi 
(sekiranya jadi, dimanapun) dari sisi pembangunannya....Terimakasih untuk para 
pendahulu yang sudah sangat banyak membuka wawasan topik ini. Salam. Koes.

--- On Thu, 7/1/10, ffekadj <[email protected]> wrote:


From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] tanda
To: [email protected]
Date: Thursday, 7 January, 2010, 22:48


  




Pak Aby ysh. Sejauh ini dalam pengamatan saya diskusi pemindahan ibukota
ini berjalan lancar-lancar saja, belum ada perbedaan yang ekstrim. Saya
membenarkan pandangan Pak BTS dan Pak Eko, saya kira mereka bukannya
tidak setuju, namun belum yakin terhadap argumentasi alasan pemindahan
ibukota berdasarkan sudut pandang mereka. Saya juga sependapat dengan
hal itu, bila motivasi ekonomi wilayah menjadi alasan. Kan ini sudah
kita bahas bertahun-tahun. Saya juga tidak mengangkat ini sebagai
alasan. Pak BTS dan Pak Eko itu sudah pernah berkunjung ke Putera Jaya,
dan dulu melihat tidak ada ekonomi yang dibangkitkan di sekitar pusat
pemerintahan baru itu. Sampai sekarang juga belum, namun dalam waktu
dekat akan ada perubahan yang sangat 'sign'ifikan. Beberapa jaringan
perhotelan dunia sudah mulai investasi di tempat itu, untuk menyongsong
rencana world convention center atau eastern asia convention center di
tempat itu. Namun bagi saya hal itu juga bukan alasan untuk memindahkan
ibukota. Namun ada beberapa alasan yang kelihatannya mulai ragu, yaitu
konsep 'hijrah'nya Pak Wilmar dan 'signs'nya Pak BSP, Pak Onnos, dll.
Sehingga perlu pengembangan deskripsi mengenai hal ini. Bila ini bisa
diyakinkan, saya kira Pak BTS dan Pak Eko akan berdiri paling depan
dalam rencana pemindahan.

Rekan-rekan yang lain juga mempunyai pemikiran yang berbeda, dan sudah
mulai mempertimbangkan lokasi, seperti Pak Deden, Pak Herlambang, Pak
Iman, Pak BudiS, Pak Onnos, dan saya sendiri. Pak Wilmar memperhitungkan
kriteria, Pak BSP aspek geomancy, Pak Djarot aspek transendental, Pak
Aby dan Pak Wanto sendiri aspek perbandingan dan keseimbangan, dll. Saya
malah sekarang mulai tertarik dengan konsep 'the signs' (-nya Sahlins),
dan ternyata malah hal ini seharusnya menjadi argumentasi utama dan tak
terbantahkan dalam sejarah. Sementara waktu saya akan membagi menjadi
'positive signs' dan 'negative signs'. Untuk negative signs sebenarnya
ada tulisan Pak Suhadi yang sedang kita tunggu-tunggu, dan menyangkut
kriteria juga.

Jadi demikian sementara waktu pak. Sebentar saya coba uraikan yang
positive signs-nya. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso <watashiaby@ ...> wrote:
>
> Â
> Saya mendukung penuh 'kubu' yg setuju pindah ibukota..... dan kepada
kubu yg tidak setuju pindah, sayapun mendukung penuh juga...... lho...
lha kok plinplan?... iya nih... tapi yg penting khan akur dan
kompak khan?....... .
>
> --- On Wed, 1/6/10, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: kubu? - Bls: [referensi] Re: Ibukota baru dan Hijrah
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, January 6, 2010, 8:31 PM
>
> Pak Mod Eko ysh, kelihatannya sudah terlarut dalam romansa Perang
> Pasifik nih. Sebelum jadi 'benteng' memang biasanya bikin 'kubu' dulu.
> Sarannya bikin 'stelling' dulu, jadi habis lempar granat bisa berondok
> dulu, atau kalau kelempar granat bisa nyilem dulu, supaya nggak kena
> serpihan ...:) Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K ekobudik@ .> wrote:
> >
> > Pak Wanto ysh,
> >
> > Menambahkan Pak BTS agar ada pendapat yg seimbang dr kubu yg tidak
> setuju (atau tergantung urgensinya), menurut saya pengusaha tdk akan
> serta merta memindahkan perusahaannya, apalagi kalau manufaktur, ke
ibu
> kota baru (asumsi Palangkaraya) ... biaya pemindahan akan sangat
mahal,
> dan utk apa pindah? infrastruktur Jabodetabek msh cukup bagus
(listrik,
> pelabuhan ekspor, dll)... pengusaha boleh ikut pindah agar dekat
> penguasa, tapi perusahaannya dan pekerjanya kan tdk perlu pindah...
> selain itu juga ada agglomeration economies, yakni keuntungan yg
didapat
> peusahaan dari berlokasi saling berdekatan, kalau ini sudah
established,
> utk apa pindah? Sekali lagi ini sekedar pendapat penyeimbang dr kubu
yg
> berseberangan. ..:)
> >
> > salam.









      

Kirim email ke