Pak Eka dan sahabats,

Saya terus terang mengamati wajah kita, minimal terlihat pada situasi saya 
dibandingkan dengan para sahabat saya yang setahu saya sebagian besar alumni 
planologi ITB. Saya seringkali minder ketika ada posting yang mengacu pada 
berbagai tulisan para ahli. Mengapa ? Ya, sebab sebenarnya saya ini "kurang" 
membaca pustaka, meskipun saya punya banyak buku yang sering disebut-sebut para 
sahabat dalam postingnya. Ada juga buku yang tidak saya miliki juga. Saya 
memang membaca hanya ketika diperlukan, dan justru banyak mengamati lapangan. 
Jadi ada dua wajah dalam persepsi saya, yaitu dengan istilah sementara saya 
sebut kelompok deduktif (banyak memiliki kekayaan teori) dan kelompok induktif 
(orang lapangan). Kita tentu bisa juga membayangkan ada kelompok 
deduktif-induktif yang kekayaannya luar biasa (keduanya seimbang). 
Pengelompokan ini bukan dimaksudkan untuk memisah-misahkan kita, melainkan 
sekedar untuk memahami kekurangan dan kelemahan kita agar mampu
 bekerjasama menyalurkan "enerji hidup" milik kita dalam "waktu hidup" yang 
terbatas ini.

Contohnya, saya sudah lama memiliki buku "penjaja dan raja" yang merupakan 
terjemahan dari buku Geertz tentang fenomena perubahan di Mojokuto (Pare, 
Kediri) dengan Tabanan. Pada saat-saat ini saya baca dengan intens karena saya 
kepengin membacanya, padahal saya sudah lama memilikinya. Saya tidak tahu 
mengapa ini terjadi seperti itu. Salah satunya karena "ternyata" buku itu 
bercerita tentang riset kualitatif, riset lapangan, dialog antara antropologi 
dengan ekonomi, yang mengundang saya untuk membacanya. Dari paparan ini, saya 
mengatakan bahwa saya telat membacanya. Saya tetap mensyukurinya, sebab ketika 
saya baca dalam waktu yang singkat, pengetahuan saya meloncat banyak seperti 
dalam teori belajar kwantum. Mungkin sudah diatur, sesuatu memang indah pada 
saatnya.

Bagi seorang fenomenolog memang tidak ada kata terlambat, sebab mulai dari 
titik nol-pun mereka sanggup menjalaninya. Bahkan kadang ketika refleksi 
dilakukan, pemikiran tentang data justru dibuka kesempatan dari nol karena data 
tidak pernah dikatakan kedaluarsa. Benarlah kata orang, bahwa seorang 
fenomenolog adalah selalu dalam situasi sebagai "pemula abadi". Jadi, buku kuno 
maupun baru dilihat sebagai data yang aktual ketika proses refleksi mulai 
dijalankan. 

Dari buku Geertz itu saya menjadi tahu bahwa orang antropologi melihat fenomena 
besar dari "miniatur" fenomena sedangkan orang ekonomi melihat fenomena pada 
aras yang cenderung makro. Katanya, mereka adalah ibaratnya dua orang yang 
menggali terowongan untuk menembus gunung dan berangkat dari dua titik yang 
berbeda. Persoalannya adalah, apakah keduanya akan bertemu di titik yang sama 
ataukah tidak. Begitu katanya. Jika dikaitkan dengan wajah kita, saya kira kita 
mirip situasi itu. Kita berangkat dari titik masing-masing, dan apakah akan 
bertemu ? Pada titik mana kita akan berjumpa ? Ingatlah, kita tidak punya 
blueprint, maka titik-titik perjumpaan bisa terjadi di tempat-tempat yang 
kadang tidak kita bayangkan sebelumnya. Ini fenomena kumonitas pemikir yang 
menarik dan penting untuk bangsa dan negara kita....nasionalisme baru ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 1/13/10, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: vernacular settlements
To: [email protected]
Date: Wednesday, January 13, 2010, 11:55 PM







 



  


    
      
      
      

Pak Wawo ysh, terima kasih telah melanjutkan diskusi ini dan membuatnya

semakin jelas. Saya kira kita punya pandangan yang sama untuk masuk

secara terpilah atau pun masuk secara mendasar terhadap vernakularisme

ini. Pandangan bapak yang melihat dari sisi outside ataupun double

inversion saya kira tipikal pendekatan perencana, walau terilhami oleh

Shumacher (belum baca). Pertimbangan kompleks biasanya digunakan untuk

mendapatkan 'rasa' permasalahan permukiman. Namun kalau saya bandingkan

dengan pertimbangan arsitek, langsung masuk ke dalam simbol dan nuansa,

sehingga peran fenomenologi cukup penting. Saya kira kalau

diperbandingkan pendekatan inside dan outside ini akan menimbulkan suatu

kontras, yang menarik untuk dirumuskan. Perbandingannya sama dengan

permasalahan fenomena kerusuhan sosial, bisa dilihat secara psikologi,

antropologi, sosiologi, ilmu politik, dsb. Obyek telaahan sama namun

kesimpulannya pasti berbeda-beda. Sehingga kalau ada seorang 'New

Foucault' di Indonesia yang mau mendekonstruksi permasalahan permukiman,

kita akan sampai pada suatu sintesis yang kuat baik secara peristilahan

(baru) maupun pemaknaan.



Namun istilah ini pun bisa berkembang atau berubah maknanya sejalan

perkembangan ilmu dan waktu. Contohnya istilah 'simbol', yang dirumuskan

oleh Victor Turner (1967) lebih kepada pemaknaan kongkrit dan komunal,

namun berubah oleh Clifford Geertz (1973) menjadi pemaknaan sinyal

timbal-balik dan individual. Dengan demikian ada relativitas terhadap

bangun pemikiran, yang kalau boleh kita sebut sebagai dinamika

perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai catatan, saya melihat persepsi

arsitek dan perencana terhadap simbol masih menggunakan pemaknaan

kongkrit dan komunal-individual. Apakah demikian? Kita perlu banyak

eksperimen, penjelajahan, dan diskusi untuk membangun

kesepakatan- kesepakatan. Seperti misalnya kita perlu mencermati

perkembangan pemikiran Pak Djarot yang sedang berjalan ke arah itu.



Mengenai 'kopi darat', kalau Pak Wawo ada di Jakarta Jum'at sore ini

bisa bergabung. Memang biasanya kita langsungkan setiap ada Pak Wawo.

Namun kalau masih dalam suasana bulan madu, yah, kita adakan lagi pada

kesempatan berikutnya. Saya sebenarnya ingin menawarkan satu issue dalam

pertemuan besok tentang 'wajah sosial' dari Komunitas Referensi, yang

kalau dapat menggalang resources untuk membantu permasalahan yang ada di

masyarakat, walaupun sedikit, misalnya melalui kenclengan. Sementara

demikian dulu pak. Salam.



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Hannie Waworoentoe

<waworoentoehannie@ ...> wrote:

>

> Eka, sudah pasti banyak yang sudah berkecimpung memakai model

vernakuler, entah secara linguistis, secara antropologi, atau secara

historis, yah mungkin kalau analogi inverse nya untuk human settlements,

saya sudah katakan Shumacher lectures sudah pernah membahasnya. Tapi

kalau dalam inverse historis , saya kira bisa ada double inversion, jadi

seperti kaos kaki yang dibalik what is in the socks, inside out or

outside in, wah ini bisa menarik sekali untuk inside out settlements,

katakan saya dengan semua real estate yang sekarang lebih kosong

daripada isi, kalau secara inverse economics, mungkin bisa juga, wow

bagaimana kopi daratnya?

>

> ____________ _________ _________ __

> From: ffekadj 4ek...@...

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Sent: Sat, January 9, 2010 11:18:31 PM

> Subject: [referensi] Re: vernacular settlements

>

> Pak Wawo dan Pak Djarot, sedikit banyak saya sudah mendapatkan

bayangan

> kejelasan tentang istilah vernacular. Saya kira ini kajian yang serius

> bilamana dapat dirumuskan, similar dengan upaya Levi-Strauss menarik

> aspek 'language' sebagai unsur struktur dalam masyarakat. Jadi kurang

> lebih untuk vernacular settlements itu: de'sign' permukiman

ditumbuhkan

> dari resepsi kultural masyarakat, atau juga kondisi geomorfologis,

atau

> juga klimatologis, dan mungkin kosmologis. Dan sifatnya tipikal (:

> lokasional). Bila kita pakai 'konsep inverse'-nya Pak Wawo, bisa juga

> dengan melihat tampilan suatu permukiman maka sudah akan dapat

menyelami

> jiwa masyarakatnya? Sementara demikian. Salam.

>

> -ekadj

>

> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Hannie Waworoentoe

> <waworoentoehannie@ ...> wrote:

> >

> > Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena

istilah

> vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya

mulai

> tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher

> lectures, dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama

> digunakan untuk arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru

digali

> pada pengertian aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah

> semata-mata tetapi, ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi

> formal, oleh karena pada waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang

> diakui sebagai bahasa, bahasa Sepanyol sendiri itu dianggap anak

haram,

> sehingga juga tidak diaui sebagai bahasa. Well ini adalah aslinya

> pengertian vernacular. Later on anything which was not formal or

> official became a vernacular atau suatu lidah bahasa. Ini tanggapan

> saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini untuk segala sesuatu

> yang belum jadi resmi ok. Dengan sendirinya bisa saja kita

> kembangkan

> > suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements.

> >

> >

> >

> >

> > ____________ _________ _________ __

> > From: ffekadj 4ekadj@

> > To: refere...@yahoogrou ps.com

> > Sent: Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM

> > Subject: [referensi] vernacular settlements

> >

> > Â

> > Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga

> pasti ada karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular

> settlements' , istilah ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya

> dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih

> sebelumnya. Salam.

> > -ekadj

> >

> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:

> > >

> > > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan

> saya tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan

> penulisan tentang the architecture of vernacular settlements di Timor

> dengan bantuan teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur

vernakular

> di Timor ada yang merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning

> ruang lokal ala pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan

> NTT umumnya lebih tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur

> lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat unik.

> > >

> > > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu

> menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan

eksplorasi

> mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang

Korea.

> Pada waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di

> sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng

> Kalasan" heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin

saya.

> Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di

Timor....rumah

> makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja

tambang,

> khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap

> malam !!!! Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di

> TTU.......?? ?

> > >

> > > Sementara begitu Pak.

> > >

> > > Salam,

> > >

> > >

> > >

> > > Djarot Purbadi





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke