Bagus Mas Djarot,
anda semakin menggali (kembali) pemahaman mengenai vernakularitas suatu
entitas (bahasa, simbol, unsur produk, dll).
Tantangan lain:
1. Ada yang mengaitkan arsitektur vernakular dengan "arsitektur tanpa
arsitek" (bukan sekadar "informal"). Apa tanggapan anda?
2. Ada pula yang menyajikan temuannya (dalam salah satu seminar
internasional tentang arsitektur vernakular) mengenai pemasangan, pemilihan
bentuk dan tatanan aristektur kerawang (lubang angin) di permukiman "slum"
di kota (bukan "tradisi" masa lalu ?.
3. Apa pula kaji konseptual dan contoh gayut dengan pengertian "permukiman"
vernakular ?

Tentu pertanyaan-pertanyaan ini bukan dan tidak harus dikaitkan dengan
perbedaan dan perubahan waktu-ruang-kultural seperti kasus produk dan proses
produksi "arsitektur" komunitas lokal Kaenbaun seperti yang anda contohkan.
Biasanya kita dapat menemukan konsep filosofis  melalui upaya menyelesaikan
banyak tantangan teoritis/konseptual yang bertentangan (anomali) dari temuan
sebelumnya, bahkan seringkali "nyeleneh"...termasuk membongkar pengertian
lama yang semula "telah mapan" dan menstrukturkan kembali menjadi "teori
baru" ...

Selamat mengembangkan mas...

Salam,
ATA

2010/1/13 Hannie Waworoentoe <[email protected]>

>
>
> Eka, sudah pasti banyak yang sudah berkecimpung memakai  model vernakuler,
> entah secara linguistis, secara antropologi, atau secara historis, yah
> mungkin kalau analogi inverse nya untuk human settlements, saya sudah
> katakan Shumacher lectures sudah pernah membahasnya. Tapi kalau dalam
> inverse historis , saya kira bisa ada double inversion, jadi seperti kaos
> kaki yang dibalik what is in the socks, inside out or outside in, wah ini
> bisa menarik sekali untuk inside out settlements, katakan saya dengan semua
> real estate yang sekarang lebih kosong daripada isi, kalau secara inverse
> economics, mungkin bisa juga, wow bagaimana kopi daratnya?
>
> ------------------------------
> *From:* ffekadj <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Sat, January 9, 2010 11:18:31 PM
> *Subject:* [referensi] Re: vernacular settlements
>
>
>
>
> Pak Wawo dan Pak Djarot, sedikit banyak saya sudah mendapatkan bayangan
> kejelasan tentang istilah vernacular. Saya kira ini kajian yang serius
> bilamana dapat dirumuskan, similar dengan upaya Levi-Strauss menarik
> aspek 'language' sebagai unsur struktur dalam masyarakat. Jadi kurang
> lebih untuk vernacular settlements itu: de'sign' permukiman ditumbuhkan
> dari resepsi kultural masyarakat, atau juga kondisi geomorfologis, atau
> juga klimatologis, dan mungkin kosmologis. Dan sifatnya tipikal (:
> lokasional). Bila kita pakai 'konsep inverse'-nya Pak Wawo, bisa juga
> dengan melihat tampilan suatu permukiman maka sudah akan dapat menyelami
> jiwa masyarakatnya? Sementara demikian. Salam.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com <referensi%40yahoogroups.com>, Hannie
> Waworoentoe
>
> <waworoentoehannie@ ...> wrote:
> >
> > Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena istilah
> vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya mulai
> tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher
> lectures, dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama
> digunakan untuk arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru digali
> pada pengertian aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah
> semata-mata tetapi, ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi
> formal, oleh karena pada waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang
> diakui sebagai bahasa, bahasa Sepanyol sendiri itu dianggap anak haram,
> sehingga juga tidak diaui sebagai bahasa. Well ini adalah aslinya
> pengertian vernacular. Later on anything which was not formal or
> official became a vernacular atau suatu lidah bahasa. Ini tanggapan
> saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini untuk segala sesuatu
> yang belum jadi resmi ok. Dengan sendirinya bisa saja kita
> kembangkan
> > suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements.
> >
> >
> >
> >
> > ____________ _________ _________ __
> > From: ffekadj 4ek...@...
> > To: refere...@yahoogrou ps.com <referensi%40yahoogroups.com>
>
> > Sent: Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM
> > Subject: [referensi] vernacular settlements
> >
> > Â
> > Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga
> pasti ada karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular
> settlements' , istilah ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya
> dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih
> sebelumnya. Salam.
> > -ekadj
> >
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote:
> > >
> > > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan
> saya tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan
> penulisan tentang the architecture of vernacular settlements di Timor
> dengan bantuan teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular
> di Timor ada yang merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning
> ruang lokal ala pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan
> NTT umumnya lebih tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur
> lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat unik.
> > >
> > > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu
> menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi
> mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea.
> Pada waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di
> sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng
> Kalasan" heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin saya.
> Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah
> makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang,
> khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap
> malam !!!! Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di
> TTU.......?? ?
> > >
> > > Sementara begitu Pak.
> > >
> > > Salam,
> > >
> > >
> > >
> > > Djarot Purbadi
> > >
> > >
> > >
> > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> > >
> > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> > >
> > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
> >
>
>
>  
>

Kirim email ke