Pak Abimanyu terima kasih atas apresiasi dan tantangannya. Pada sisi tertentu 
arsitektur vernakular adalah sebuah wacana, cara pandang atau bahkan hanya 
kategori karya arsitektur saja, namun bukti empirisnya juga ada dan tidak 
terbantahkan. Sebagai wacana, ia eksis dalam dunia teoritis dan sebagai fakta 
empiris ia bisa kita jumpai di berbagai tempat. Sebagai cara pandang, ia 
membantu para arsitek dan pengamat untuk melakukan "bedah karya" sambil menimba 
inspirasi untuk proses produksi karya-karya yang berikutnya. Konon karya 
terbaik seorang arsitek adalah karyanya yang terakhir, sebelum ia meninggal 
dunia, maka wacana vernakular atau high style pastilah akan terus ada, seperti 
Tom and Jerry (mungkin).

Tentang arsitektur vernakular, ada yang bilang untuk memahaminya melalui dua 
cara, yaitu melihat produknya dan prosesnya. Singkatnya, jika proses dan 
produknya melibatkan semua hal yang lokal itu memenuhi kriteria sebagai 
arsitektur vernakular. Ada satu titik saja yang berasal dari tempat lokal, 
karakter vernakularnya hilang. Misalnya, renovasi rumah suku Nel yang saya 
temukan Nopember 2009 di Kaenbaun. Secara turun-temurun tali pengikatnya dari 
serat bambu, tetapi ketika direnovasi Nopember 2009 mereka menggunakan tali 
senar plastik putih. Nah disini nilai vernakularitas umesuku Nel sudah 
berkurang, jika penilainya ekstrim dia sudah bukan bangunan vernakular lagi. 
Jika penilainya toleran, masih boleh dikatakan vernakular tetapi sudah 
mengadopsi teknologi lain pada bagian tertentu.

Secara turun temurun pembangunan umesuku melibatkan suasana kebersamaan, sebab 
semua warga suku harus hadir, menyumbang dan mengadakan ritual. Nah jika 
pembangunannya di borongkan seperti proyek SD Inpres, misalnya, artinya dengan 
proses produksi (konstruksi) dari non-lokal, maka meskipun bangunan itu 
menggunakan elemen-elemen / material lokal seasli-aslinya sekalipun, maka dapat 
dinilai bukan vernakular lagi. Dalam kajian saya, kalau nggak salah ada 12 
kriteria untuk menjadi sebuah karya arsitektur vernakular....kapan-kapan saya 
sampaikan, bukunya/filenya belum ketemu.

Ketika saya diminta oleh Pater John untuk mengusulkan bagaimana penataan area 
sekitar gereja, bagaimana arsitektur bangunannya agar menjadi pusat budaya 
Kaenbaun, saya dengan halus menolak, sebab saya yang dididik di bangku 
arsitektur perguruan tinggi saya anggap akan mencemari nilai vernakularitas di 
Kaenbaun. Saya sangat menghormati genuinitas arsitektur mereka....tetapi mereka 
sendiri menurut saya justru kurang menghormatinya. Dulu di gereja ada salib 
kecil dengan profil dan citra "Yesus orang Dawan" diberikan oleh seorang pastor 
Amerika, tetapi oleh Pater John Salu (putra Kaenbaun) justru diganti dengan 
salib yang lebih besar dan profilnya "Yesus orang Eropa". Nah, ternyata 
mempertahankan vernakularitas memerlukan pemahaman, kesadaran dan partisipasi 
warga lokal.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 1/8/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] vernacular settlements
To: [email protected]
Date: Friday, January 8, 2010, 3:15 PM







 



  


    
      
      
      Selamat Mas Djarot,
anda telah turut juga mensosialisasikan istilah vernacular ke rekan-rekan 
perencanaan lainnya.
 
Waktu melaksanakan seminar Vernacular Architecture pertama di Indonesia, 
istilah inipun masih asing di telinga rekan-rekan arsitek kita, yang kadang 
mencampur adukkan dengan istilah arsitektur tradisional, asli, lokal, 
masyarakat bawah, kontekstual, dll. yang pengertiannya sangat berbeda. Namun 
dengan berlanjut dan semakin mendunianya acara seminar dengan topik tersebut 
serta peserta dan peminatnya, maka semakin luas pula penggemar yang menggunakan 
istialh tersebut, termasuk yang semakin mendalam pemahamannya, atau sebaliknya 
menggunakan untuk pengertian yang berbeda (seperti foto copy bangunan posmo 
yang sesungguhnya bukan posmo). Tentu saja belajar dari yang vernakular bukan 
berarti memasukkan produk arsitektur moderen sebagai bagian dari golongannya 
(Wisma Dharmala Paul Rudolph? oh no !). Produk vernakular seringkali tak ada 
hubungannya dengan proses penciptaan atau perancangan secara sadar (pak Wawo: 
formal). 


Yang saya catat dari Mas Djarot: 
......--> vernakular --> unsur produk --> arsitektur --> bangunan --> 
permukiman --> ....???

Kajian terhadap produk vernakular di kawasan Timur negara kita maupun di tengah 
kota Jakarta Metropolitan sendiri hingga saat ini baru diidentifikasi secara 
diskriptif.  Saya sendiri termasuk yang tidak percaya bahwa suatu yang 
vernakular di suatu waktu-ruang- kultural tertentu dapat menjadi bermanfaat 
bagi komunitas dalam waktu-ruang- kultural yang berbeda.... termasuk sebagai 
acuan rancangan arsitektur, kota ataupun permukiman misalnya. Hayo 
mas...challenge. ...!


Salam,
ATA

2010/1/8 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
















 



  


    
      
      
      
Eyang Wawo dan Pak Eka, serta sahabats semua,

Terima kasih atas penjelasannya. menurut saya, dalam sastra-kebudayaan ada 
fenomena yang mirip vernakular yaitu FOLKLORE yang tokohnya di Indonesia adalah 
James Dananjaya. Saya pernah membaca sebuah buku beliau dan meyakini ada 
kesamaan antara arsitektur vernakular dengan folklore itu, yang intinya tradisi 
rakyat. 


Dalam pengamatan saya yang tidak sistematis, saya berani merumuskan suatu 
hipotesis bahwa vernakularitas ini ada dimana-mana, tentunya bersandingan 
dengan high style yang juga ada di berbagai bidang. Ada lagu karangan komponis 
terdidik, tetapi juga ada lagu glenyengan buatan kang Suro. Ada resep masakan 
bikinan koki berpendidikan ilmu gizi tetapi juga ada peyek mbok Tumpuk di 
Bantul. Ada rancangan pakaian dengan konsep canggih karena perancangnya pernah 
magang pada desainer top dunia, tetapi
 juga ada desain kain kebaya ala ndeso yang jika dipakai malahan lebih seksi 
pemakainya. dst dst dst Tampaknya vernakularitas ini juga merambah arsitektur 
dan planning. Kan begitu Pak.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Fri, 1/8/10, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com> wrote:


From: Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com>
Subject: Re: [referensi] vernacular settlements

To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, January 8, 2010, 1:40 PM







 



    
      
      
      
Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena istilah 
vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya mulai 
tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher lectures, 
dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama digunakan untuk 
arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru digali pada pengertian 
aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah semata-mata tetapi, 
ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi formal, oleh karena pada 
waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang diakui sebagai bahasa, bahasa 
Sepanyol sendiri itu dianggap anak haram, sehingga juga tidak diaui sebagai 
bahasa. Well ini adalah aslinya pengertian vernacular. Later on anything which 
was not formal or official became a vernacular atau suatu lidah bahasa. Ini 
tanggapan saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini untuk segala sesuatu 
yang belum jadi resmi ok.  Dengan sendirinya bisa saja kita
 kembangkan suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements. 





From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com

Sent: Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM
Subject: [referensi] vernacular settlements

 


Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga pasti ada 
karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular settlements' , istilah 
ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya dapat penjelasannya? Siapa tahu 
itu juga 'tanda'. Terima kasih sebelumnya. Salam.

-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan saya tilik 
> para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan penulisan tentang the 
> architecture of vernacular settlements di Timor dengan bantuan teman-teman di 
> sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular di Timor ada yang merawatnya, 
> khususnya yang berkaitan dengan planning ruang lokal ala pengetahuan lokal. 
> Maklumlah, teman-teman di Timor dan NTT umumnya lebih tertarik meneliti 
> "bangunan" daripada "arsitektur lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat 
> unik.

> 
> Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu menemukan 
> fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi mangaan oleh 
> modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea. Pada waktu itu 
> saya ditunjukkan dan diajak mampir
 oleh Pater John di sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan 
Ayam Goreng Kalasan" heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin 
saya. Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah 
makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang, 
khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap malam !!!! 
Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di TTU.......?? ?

> 
> Sementara begitu Pak.
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi
> 
> 
> 
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

> 
> http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]
> 
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com




      

    
     



 







      

    
     

    
    






  










    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke