Pak Djarot, Pak ATA dan rekan2 ysh, Ikut nibrung nich, mungkin saya agak 'telmi' alias telat mikir tentang 'vernacular', tetapi kalau karya 'arsitektur tanpa arsitek' mungkin saya kenal banyak yaitu hasil karya para sedulur kita 'barefoot architect' alias 'arsitek cokoran' alias 'para tukang'. Merekalah yang banyak ber'karya' dikampung-kampung tanpa sekolah formal. Mungkin kita perlu juga berguru kepada mereka ? saat ini didepan gubuk saya ada tiga orang 'barefoot architect' yang sedang merenovasi rumah tetangga dari 1 jadi 3 lantai dengan gaya 'minimalis', opo ora heubat...mas. Oh ya selamat 'kopi darat' besuk, maaf saya tidak dapat ikut, nunggu hasilnya saja semoga bermanfaat buat kita semua.
Wassalam, Onnos To: [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 13 Jan 2010 00:07:18 -0800 Subject: Re: [referensi] Re: vernacular settlements Pak ATA dan sahabats, Isaku iki, begitu kata orang tentang penggalian yang saya kerjakan. Barangkali unsur penggalian ada, mungkin hanya memunculkan dari bawah permukaan kesadaran ilmiah menjadi di atas dan masuk ke dalam ruang kesadaran ilmiah saja. Saya lebih senang mengatakan "memulung" saja, bukan penggali yang baik. Jika kita mengikuti Papanek, katanya semua orang adalah arsitek (term dia: designer). Tampaknya saya hanya meneruskan dan menghayati terminologi ini, dan tidak membuat kebaruan yang signifikan. Kebaruan saya barangkali hanya memprovokasi dengan contoh di rumah saya kemudian saya bawa ke komunitas referensi yang kayaknya semula enggak menyadari vernakularitas dalam kehidupan. Teman saya seangkatan, Eko Agus Prawoto yang kondang sebagai muridnya Romo Mangunwijaya, dikenal karena rajin memulung kreativitas di kampung-kampung. Ia memulung pola anyaman dinding bambu, dikreasi sedikit jadilah arsitek profesional berguru dari arsitek kampungan. Teman saya ini dikenal sebagai pemulung yang kreatif, sampai-sampai banyak seniman yang laris kemudian menjadi kaya meminta jasanya untuk membikinkan rumah-studionya. Modalnya apa Pak Eko ini, memulung di kampung-kampung dan kemudian dikreasi dengan sedikit kreativitas. Jadilah karya sdpektakuler. Dia memang sangat berpengalaman, khususnya bergaul dengan seniman-seniman tingkat dunia. Jika dalam pewayangan, Pak Eko Prawoto adalah Arjuna sedangkan saya adalah Bambang Ekalaya, murid yang sangat mencintai Durna tetapi dibencinya. Ia terus berlatih memanah sampai bisa mengalahkan Arjuna, kemudian diakui sebagai murid oleh Durna dengan cara memotong jempolnya atas rengekan Arjuna yang merasa terasingi. Tentu pak Eko bukan Arjuna yang merengek-rengek itu, saya hanya ingin mengatakan beliau murid langsung sementara saya murid yang tidak langsung dan pernah ditolak ketika melamar untuk menjadi muridnya. Jika Eko Prawoto berguru pada orang-orang kampung, maka banyak arsitek yang berguru kepada masyarakat terpencil karena mengagumi keunikan karya arsitektur vernakular. Saya termasuk yang berguru pada mereka di desa-desa terpencil. Jika Eko Praworo adalah "arsitek kampungan" maka para arsitek yang berguru di desa terpencil itu adalah "arsitek ndeso banget". Tegasnya, arsitektur kampung atau arsitektur vernakular memang banyak diyakini menjadi "ibu pertiwi" bagi karya-karya arsitek profesional di era modern dan super-modern ini. Selain itu, ada juga arsitek yang membongkar atau merajut kembali elemen-elemen arsitektur vernakular menjadi "karya baru". Ini mirip Derrida yang membongkar teks sambil merekonstruksinya dan akhirnya muncul teks baru miliknya. Teks lama ditinggalkan sambil dilampaui dalam proses rekonstruksi. Sekarang arsitek-arsitek yang gemar bongkar-pasang comot sana-sini sedang menjadi trend. Ideologinya bermacam-macam, dan orang melihatnya sebagai sebentuk kreativitas baru. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Wed, 1/13/10, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: vernacular settlements To: [email protected] Date: Wednesday, January 13, 2010, 12:26 PM Bagus Mas Djarot, anda semakin menggali (kembali) pemahaman mengenai vernakularitas suatu entitas (bahasa, simbol, unsur produk, dll). Tantangan lain: 1. Ada yang mengaitkan arsitektur vernakular dengan "arsitektur tanpa arsitek" (bukan sekadar "informal"). Apa tanggapan anda? 2. Ada pula yang menyajikan temuannya (dalam salah satu seminar internasional tentang arsitektur vernakular) mengenai pemasangan, pemilihan bentuk dan tatanan aristektur kerawang (lubang angin) di permukiman "slum" di kota (bukan "tradisi" masa lalu ?. 3. Apa pula kaji konseptual dan contoh gayut dengan pengertian "permukiman" vernakular ? Tentu pertanyaan-pertanya an ini bukan dan tidak harus dikaitkan dengan perbedaan dan perubahan waktu-ruang- kultural seperti kasus produk dan proses produksi "arsitektur" komunitas lokal Kaenbaun seperti yang anda contohkan. Biasanya kita dapat menemukan konsep filosofis melalui upaya menyelesaikan banyak tantangan teoritis/konseptual yang bertentangan (anomali) dari temuan sebelumnya, bahkan seringkali "nyeleneh"...termasuk membongkar pengertian lama yang semula "telah mapan" dan menstrukturkan kembali menjadi "teori baru" ... Selamat mengembangkan mas... Salam, ATA 2010/1/13 Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ yahoo.com> Eka, sudah pasti banyak yang sudah berkecimpung memakai model vernakuler, entah secara linguistis, secara antropologi, atau secara historis, yah mungkin kalau analogi inverse nya untuk human settlements, saya sudah katakan Shumacher lectures sudah pernah membahasnya. Tapi kalau dalam inverse historis , saya kira bisa ada double inversion, jadi seperti kaos kaki yang dibalik what is in the socks, inside out or outside in, wah ini bisa menarik sekali untuk inside out settlements, katakan saya dengan semua real estate yang sekarang lebih kosong daripada isi, kalau secara inverse economics, mungkin bisa juga, wow bagaimana kopi daratnya? From: ffekadj <4ek...@gmail. com> To: refere...@yahoogrou ps.com Sent: Sat, January 9, 2010 11:18:31 PM Subject: [referensi] Re: vernacular settlements Pak Wawo dan Pak Djarot, sedikit banyak saya sudah mendapatkan bayangan kejelasan tentang istilah vernacular. Saya kira ini kajian yang serius bilamana dapat dirumuskan, similar dengan upaya Levi-Strauss menarik aspek 'language' sebagai unsur struktur dalam masyarakat. Jadi kurang lebih untuk vernacular settlements itu: de'sign' permukiman ditumbuhkan dari resepsi kultural masyarakat, atau juga kondisi geomorfologis, atau juga klimatologis, dan mungkin kosmologis. Dan sifatnya tipikal (: lokasional). Bila kita pakai 'konsep inverse'-nya Pak Wawo, bisa juga dengan melihat tampilan suatu permukiman maka sudah akan dapat menyelami jiwa masyarakatnya? Sementara demikian. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ ...> wrote: > > Eka, sudah begitu lama saya engga kasih tanggapan, tapi karena istilah vernacular saya perlu berikan sedikit penjelasan. Sebetulnya saya mulai tertarik dan menggunakan istilah vernacular itu sejak ada Schumacher lectures, dimana istilah vernacular yang pada waktu itu terutama digunakan untuk arsitektur, sebagai semacam bahasa arsitek, baru digali pada pengertian aslinya. Rupanya vernacular itu bukan bahasa daerah semata-mata tetapi, ditafsirkan sebagai suatu bahasa yang tidak resmi formal, oleh karena pada waktu itu di Spanyol hanya bahasa Latin yang diakui sebagai bahasa, bahasa Sepanyol sendiri itu dianggap anak haram, sehingga juga tidak diaui sebagai bahasa. Well ini adalah aslinya pengertian vernacular. Later on anything which was not formal or official became a vernacular atau suatu lidah bahasa. Ini tanggapan saya, sekarang silahkan menggunakan istilah ini untuk segala sesuatu yang belum jadi resmi ok. Dengan sendirinya bisa saja kita kembangkan > suatu silabus yang khusus lagi untuk human settlements. > > > > > ____________ _________ _________ __ > From: ffekadj 4ek...@... > To: refere...@yahoogrou ps.com > Sent: Fri, January 8, 2010 1:12:19 AM > Subject: [referensi] vernacular settlements > >  > Pak Djarot ysh, boleh juga dicoba ayam Kalasan TTU-nya. Saya duga pasti ada karaokeannya, iyakan? Saya tertarik dengan 'vernacular settlements' , istilah ini selalu diulang-ulang Pak Wawo. Boleh saya dapat penjelasannya? Siapa tahu itu juga 'tanda'. Terima kasih sebelumnya. Salam. > -ekadj > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ wrote: > > > > Lha iyalah Pak Eka, saya senang jika ada bandara yang memudahkan saya tilik para saudara saya di Kaenbaun. Saya bisa menggiatkan penulisan tentang the architecture of vernacular settlements di Timor dengan bantuan teman-teman di sana. Minimal mosaik arsitektur vernakular di Timor ada yang merawatnya, khususnya yang berkaitan dengan planning ruang lokal ala pengetahuan lokal. Maklumlah, teman-teman di Timor dan NTT umumnya lebih tertarik meneliti "bangunan" daripada "arsitektur lingkungan" desa-desa di Timor yang sangat unik. > > > > Perlu saya kabarkan juga, kunjungan saya Nopember 2009 yang lalu menemukan fenomena yang menarik. Di TTU sudah mulai dilakukan eksplorasi mangaan oleh modal asing, yang sebagian pekerjannya adalah orang Korea. Pada waktu itu saya ditunjukkan dan diajak mampir oleh Pater John di sebuah rumah makan yang laris-manis berjudul "Rumah Makan Ayam Goreng Kalasan" heheheee.... ini beneran,.... Kalasan kok di Timor, batin saya. Pengelolanya seorang Chinese yang nenek-moyangnya lama di Timor....rumah makan itu setiap malam sangat ramai karena orang-orang pekerja tambang, khususnya Korea-korea itu, pada makan di tempat itu.....nah, setiap malam !!!! Nah, bandara internasional ternyata memang diperlukan di TTU.......?? ? > > > > Sementara begitu Pak. > > > > Salam, > > > > > > > > Djarot Purbadi > > > > > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > _________________________________________________________________ New Windows 7: Simplify what you do everyday. Find the right PC for you. http://windows.microsoft.com/shop

