ha ha ha...

baru beberapa "mbah mbah tata ruang" yang ber-"demokrasi" pembahasannya
sudah menghabiskan banyak waku ruang "referensi" ...
kapan makmurnya...?

saya jadi ingat sejarah :
...."demokrasi bukan jaminan kesejahteraan...."
.... padahal yang di bawah ingin kebagian sejahtera mas, kang, uda, bang,
bung...

Salam,
ATA

2010/1/25 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
> Pak Harya dan rekans,
>
> Saya baca di buku bahwa HBIX menghapus "pepatih dalem" karena jabatan itu
> merupakan sumber masalah. Bahkan ada semacam aturan yang mengatakan bahwa
> jika ada konflik antara sultan dengan residen Jogja, maka pepatih dalem
> harus memihak kompeni. Nah ini merupakan reformasi yang tepat saat itu.
>
> Dari informasi lain juga bisakila lihat bahwa HBIX pernah belajar di
> Belanda dan beliau belajar di jurusan Indologi, yang pada waktu itu
> merupakan sebuah disiplin ilmu khusus untuk mendidik para calon ambtenar di
> Jawa. Kita bisa membayangkan, HBIX menjadi tahu siapa dan bagaimana orang
> Belanda menjajah di Indonesia. HBIX menggunakan jurus Musashi "jadilah
> lawanmu", tetapi sayang beliau buru-buru dipanggil pulang karena ayahandanya
> sakit dan ada tanda-tanda akan meninggal dunia.
>
> HBIX pulang dengan bekal "ilmu menjajah" yang diperolehnya di Indologi itu,
> dan beliau dijemput ayahandanya di stasiun Tugu. Kalau nggak salah, dalam
> perjumpaan itulah HBIX menyerahkan pusaka kerajaan "Kanjeng Kyai Jaka
> Piturun" yang bisa dibaca melambangkan penyerahan tahta kepada putranya !
> Jadi reformasi di kraton Yogyakarta memang memiliki latar nelakang yang
> panjang dan unik !!! (Catatan: mohon Pak BSP meluruskan informasi yang
> salah).
>
> Nah, konteks saat ini berbeda dibandingkan dengan masa lalu. Jika
> konteksnya adalah "tahta untuk rakyat" maka kita masih belum melihat
> bagaimana konsep itu diterapkan dalam kaitan dengan keistimewaan Yogyakarta
> secara konseptual.
>
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Mon, 1/25/10, Harya Setyaka <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Harya Setyaka <[email protected]>
> Subject: Re: FW: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
> To: [email protected]
> Date: Monday, January 25, 2010, 12:44 PM
>
>
>
>
>
> Pak BSP,
>
> TErima kasih atas kesediannya untuk menanggapi secara positif dan mumpuni.
>
> Jadi ternyata pra 1945 juga sudah ada 'reformasi' didalam tubuh keraton
> Yogyakarta dimana jabatan Patih Danureja dihapuskan.
> Tentunya HBIX sangat bijaksana karena tindakannya tsb dilakukan secara
> sadar berbekal kemampuannya 'membaca' tuntutan zaman tanpa mengingkari
> 'tuntunan tradisi'.
>
> Kemampuan ini yang agaknya tidak dimilki Monarki lainnya, termasuk antara
> lain Louis XVI 230 tahun silam, dan Pu Yi 98 tahun silam.
>
>
> HBX pun mengakui bahwa dia pun tidak infallible dan tentunya dia tunduk
> kepada hukum positif.. meskipun hukum positif itu kita 'impor' dari
> kebudayaan barat melalui pemerintah kolonial Belanda. Kita pun bersyukur
> karena selama hukum positif tersebut tegak, tidak ada yang bisa melanggar
> termasuk seorang Sultan sekalipun. Tentu hal ini terkait dengan kualitas
> pelayanan public meskipun tidak langsung.
>
> HBX juga mengakui bahwa konsep "wong agung" dan "gentong wahyu" bukanlah
> termasuk yang ingin dilestarikan.
>
>
> Ooh.. baru tahu saya kalao pisowanan agung itu berbayar.. bagaimana dengan
> demo-2 pro-Sultan lainnya pak? selama ini saya menjunjung asas praduga tak
> bersalah dan terus terang sangat kaget mengetahui megnenai pisowanan agung
> tsb.
>
>
> Ya.. Keistimewaan nantinya juga perlu mengatur Hak Politik seorang pewaris
> tahta Keraton. Mungkin hak politik aktifnya harus rela ditanggalkan apabila
> menjadi pewaris tahta. Begitu pula keluarganya mungkin.
> Saya bayangkan keluarga Kerajaan Jepang tidak ikut partai dan juga tidak
> ikut pemilu, apalagi ikutan kampanye. Kerajaan Inggris pun demikian.
> Contoh yang tidak sehat di Thailand, Permaisuri resmi jadi patron Partai
> lawannya Thaksin. Sekarang mereka krisis konstitusi. Saya tidak tahu persis
> kondisi pelayanan public secara utuh, tapi yang jelas Bandara (simpul
> pelayanan transportasi vital) sempat lumpuh, turisme mampet, Bhat sempat
> kelojotan.
>
> Juga perlu diatur urusan 'waris tahta', supaya tidak terjadi konflik-2
> keluarga seperti Kerajaan tetangga (untungnya tidak ada keistimewaan
> politik).
> Apalagi kalao kita tengok Nepal, contoh kasus yang paling baru.
> Menyeramkan bukan?
> Akibat tidak ada kepastian mengenai waris tahta, semuanya hancur berantakan
> ... termasuk pelayanan publik.
> jadi, benang merah nya disitu pak. Memang terkesan sangat preventif dan
> antisipatif. . tapi ya namanya juga planner.. terdidik untuk merencanakan
> dengan skenario jamak.
>
> Salam hangat,
> -K-
>
>
> 2010/1/23 bspr...@indosat. net.id<http://mc/[email protected]>
> <bspr...@indosat. net.id <http://mc/[email protected]>>
>
>>
>>
>> Mas Djarot, mas Harya Setyaka, rekans ysm,
>>
>> Semakin asyik mengikuti perdebatan tentang keistimewaan Yogyakarta. Ada
>> perdebatan tentang demokrasi ada perdebatan tentang pelayanan publik. Saya
>> coba mensitir beberapa pertanyaan dari mas Harya :
>>
>> Pernyataan 1
>>
>>
>> Kalau semua itu ada batasnya, alias tidak kekal.. Apa dan dmana batas
>> suatu Monarki?
>> Mengapa situ yakin demokrasi ada batasnya, sosialisme ada batasnya, namun
>> giliran Monarki - Yogyakarta lain opini..
>>
>>
>> Pertanyaan ini mungkin muncul karena dua sudut pandang yang diambil
>> berbeda. Mengapa muncul sebuah pernyataan tentang monarki seakan tidak ada
>> batasnya adalah terkait dengan konsep "Wong Agung". Hal ini relatif hampir
>> sama dengan konsep Teno Haika adalah merupakan turunan dari Dewa Matahari.
>> Artinya premis yang diambil adalah pemimpin TIDAK BISA SALAH. Nah untuk
>> pengamanan ini sebenarnya di Jawa dikenal pembedaan fungsi. Raja sebagai
>> "Gentong Wahyu" sementara yang diijinkan berbuat salah adalah Pepatih Dalem.
>> Hal ini disebabkan karena yang mengatur pelayanan publik adalah pepatih
>> dalem. Raja adalah sumber kebijaksanaan. Yang menjadi masalah adalah
>> perangkat itu tidak ada saat ini di DIY.
>>
>> Memang institusi itu tidak diadakan pada saat kita memasuki jaman perang
>> kemerdekaan. Institusi itu dihapus oleh HB X dengan sebuah pertimbangan yang
>> sangat cerdas karena masalah kestabilan pemerintahan. Perlu dipahami bahwa
>> pada pra awal kemerdekaan terjadi 2 penyerahan pemerintahan yang sangat
>> rawan perpecahan. Sebuah strategi yang cerdas. Karena itu fungsi Patih
>> Danureja dilikuidir dan dirangkap oleh HBIX.
>>
>> Perangkat pemerintahannyapun waktu itu didisain menggunakan pendekatan
>> Wong Agung tersebut. Salah satu buktinya adalah prosesi "pepe". Bila konsep
>> "pepe" tersebut tidak disandingkan dengan konsep "Wong Agung" maka pasti
>> tidak akan jalan. Konsep Wong Agung ini memberi posisi yang sangat bebeda
>> dengan demokrasi.
>>
>> Masalahnya HBX mencoba untuk menggeserkan dirinya dari konsep Wong Agung
>> menjadi Konsep Demokrasi secara bebas. Dalam penampilannya pada acara Kick
>> Andy, secara tegas HBX mengatakan bahwa konsep Wong Agung itu tidak ada
>> lagi. Artinya konsep "Gentong Wahyu" tidak ada lagi. Artinya raja bisa
>> berbuat salah. Nah kalau ini sebagai pernyataan beliau, sangat sukar posisi
>> kepala daerah disanding dengan konsep wong agung tersebut.
>>
>>
>> Pernyataan 2
>>
>>
>> Mungkin dengan referendum ini kita bisa menguji: apakah monarki sudah
>> melampaui masanya?
>>
>>
>> Saya melihat referendum merupakan sebuah hal yang ingin dihindari oleh
>> HBX. Hal ini disebabkan karena pergerakan yang terjadi di Yogyakarta bisa
>> dikatakan semu. Pisowanan agung yang dilakukan beberapa saat yang lalu
>> adalah sebuah rekayasa yang tidak canggih. Hal ini disebabkan karena sampai
>> ada banyak orang yang tahu bahwa para yang ikut pisowanan ternyata dibayar.
>> Nah bagaimana sebenarnya kalau memang referendum itu dilakukan. Itu masih
>> sangat sukar untuk diantisipasi. Hal ini karena munculnya aroma yang tidak
>> sedap dari perilaku elite dan keluarganya di Yogyakarta. Sehingga muncul
>> sebuah blocking pemikiran yang secara random saya pernah lakukan survey ....
>> masyarakat masih sangat percaya bahwa "Ke-Sultanan" itu masih dibutuhkan
>> mereka untuk melindungi kehidupan dan penghidupannya. Namun saat ditanya
>> pada sosok pemimpin yang ada sekarang, mendadak terjadi pembelahan sikap
>> pada masyarakat. Ini yang ditakuti oleh elite di Yogyakarta untuk
>> melaksanakan referendum.
>>
>>
>> Pertanyaan 3
>>
>>
>> Di Yogyakarta; siapa yg istimewa? Rakyatnya atau Sultannya?
>> Seseorang menjadi istimewa bukan karena dibelenggu keterpaksaan dan
>> ketiadaan pilihan.. Justru orang yg istimewa adalah yang berdaya karena
>> punya pilihan. Mengenai apa yg ia pilih nantinya persoalan lain.
>>
>>
>> Sebenarnya konsep keistimewaan pada saat pertama diberikan oleh Presiden
>> Soekarno lebih kepada apresiasi sikap dari HBX dan PAVIII yang dengan serta
>> merta menyatakan sikap bergabung dengan RI. Dan ini dimanifestasikan dengan
>> sikap riil seperti menjadi pendana awal pemerintahan RI (saat ini dana DIY
>> menjadi kolateral RI dan nilainya sampai 90 Triliun rupiah), menjadi
>> penyedia tempat untuk pemerintahan. Jadi lebih pada sebuah apresiasi suatu
>> negara. Hal disebabkan karena Kesultanan Mataram diakui dunia merupakan
>> negara yang bebas bredaulat meskipun masih diperdebatkan dan itu mengacu
>> pada perjanjian Giyanti yang menyebabkan kedauloatan Yogyakarta adalah semu.
>>
>>
>> Pertanyaan 4
>>
>>
>> Sultan HBX bisa memilih untuk ikut menjadi Kader Golkar (partai politik yg
>> hanya kontekstual dalam demokrasi) dan mencalonkan diri jadi Presiden (lagi2
>> demokrasi).
>> Mengapa rakyat Yogyakarta tidak boleh memilih apakah sudah saatnya
>> Gubernur dipilih melalui Pilkada atau tidak?
>>
>>
>> Ini memang sebuah pertanyaan yang sangat delicate. Tetapi kalau merujuk
>> dari HBIX dalam buku Tahta untuk Rakyat, secara jelas bahwa posisi
>> pengambilan sikap untuk menjadi anggota Golkar dari HBIX adalah sebuah
>> posisi yang "terpaksa" diambil untuk kepentingan pelayanan rakyat. Hal itu
>> disebabkan karena pemimpin nasional pada saat itu membuat garis tegas dengan
>> pola we and they dan ini akan berpengaruh pada sikap pemberian resource yang
>> bisa dimanfaatkan masyarakat. Jadi pilihan itu sangat logis. Nah untuk HBX
>> kondisinya sudah berubah. HBX lebih menerima sebagai tongkat estafet apa2
>> yang sudah dilaksanakan oleh HBIX. Ini misalnya muncul jelas betapa ekspresi
>> kegamangan muncul pada Munas Golkar yang terakhir.
>>
>>
>> Pernyataan 5
>>
>>
>> Having said that; apa gunanya DPRD DIY? Jangan2 cuma rubber stamp nya
>> Sultan HBX (yg kader Golkar).
>>
>> Dalam kenyataannya, memang hal itu terjadi pada awal pemerintahan HBX.
>> Namun saat ini semangat untuk tidak sekedar menjadi rubber stamp dari
>> Gubernur. Saat ini Gubernur hanya memegang 2 kekuatan (fraksi) saja secara
>> utuh yaitu PDIP dan Golkar. Justru Demokrat ada "agak" diseberang Gubernur.
>> Sedangkan partai2 yang lain meski mengatakan sebagai counter tapi sifatnya
>> sangat malu2 kucing. Ini yang saya lihat sejak masa saya sampai sekarang.
>>
>>
>> Saya ingin menambahkan bahwa konsep yang dikembangkan dalam RUUK DIY
>> sebenarnya kurang menyentuh pada kepentingan rakyat semata secara langsung.
>> Sehingga memang agak sulit untuk saya harus mengatakan bahwa RUUK DIY itu
>> berpihak pada rakyat secara langsung. Namun saya masih bisa mengatakan bahwa
>> RUUK DIY mencoba mengarahkan agar Kraton bisa berfungsi lebih kuat dan
>> mempunyai kekuatan yang lebih jelas sehingga (nah ini yang masih harus
>> diuji) mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat lebih baik.
>>
>> Demikian sedikit uraian tentang keistimewaan. Yang diperlukan rakyat saat
>> ini adalah sebuahb pelayanan yang baik. Itu saja.
>>
>> salam
>>
>>
>> bambang sp
>>
>
>  
>

Kirim email ke