Pak Harya dan rekans,

Saya baca di buku bahwa HBIX menghapus "pepatih dalem" karena jabatan itu 
merupakan sumber masalah. Bahkan ada semacam aturan yang mengatakan bahwa jika 
ada konflik antara sultan dengan residen Jogja, maka pepatih dalem harus 
memihak kompeni. Nah ini merupakan reformasi yang tepat saat itu.

Dari informasi lain juga bisakila lihat bahwa HBIX pernah belajar di Belanda 
dan beliau belajar di jurusan Indologi, yang pada waktu itu merupakan sebuah 
disiplin ilmu khusus untuk mendidik para calon ambtenar di Jawa. Kita bisa 
membayangkan, HBIX menjadi tahu siapa dan bagaimana orang Belanda menjajah di 
Indonesia. HBIX menggunakan jurus Musashi "jadilah lawanmu", tetapi sayang 
beliau buru-buru dipanggil pulang karena ayahandanya sakit dan ada tanda-tanda 
akan meninggal dunia.

HBIX pulang dengan bekal "ilmu menjajah" yang diperolehnya di Indologi itu, dan 
beliau dijemput ayahandanya di stasiun Tugu. Kalau nggak salah, dalam 
perjumpaan itulah HBIX menyerahkan pusaka kerajaan "Kanjeng Kyai Jaka Piturun" 
yang bisa dibaca melambangkan penyerahan tahta kepada putranya ! Jadi reformasi 
di kraton Yogyakarta memang memiliki latar nelakang yang panjang dan unik !!! 
(Catatan: mohon Pak BSP meluruskan informasi yang salah).

Nah, konteks saat ini berbeda dibandingkan dengan masa lalu. Jika konteksnya 
adalah "tahta untuk rakyat" maka kita masih belum melihat bagaimana konsep itu 
diterapkan dalam kaitan dengan keistimewaan Yogyakarta secara konseptual.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 1/25/10, Harya Setyaka <[email protected]> wrote:

From: Harya Setyaka <[email protected]>
Subject: Re: FW: [referensi] Jangan Ada Referendum Keistimewaan Yogyakarta
To: [email protected]
Date: Monday, January 25, 2010, 12:44 PM







 



  


    
      
      
      
Pak BSP,

TErima kasih atas kesediannya untuk menanggapi secara positif dan mumpuni.

Jadi ternyata pra 1945 juga sudah ada 'reformasi' didalam tubuh keraton 
Yogyakarta dimana jabatan Patih Danureja dihapuskan.

Tentunya HBIX sangat bijaksana karena tindakannya tsb dilakukan secara sadar 
berbekal kemampuannya 'membaca' tuntutan zaman tanpa mengingkari 'tuntunan 
tradisi'. 

Kemampuan ini yang agaknya tidak dimilki Monarki lainnya, termasuk antara lain 
Louis XVI 230 tahun silam, dan Pu Yi 98 tahun silam. 




HBX pun mengakui bahwa dia pun tidak infallible dan tentunya dia tunduk kepada 
hukum positif.. meskipun hukum positif itu kita 'impor' dari kebudayaan barat 
melalui pemerintah kolonial Belanda. Kita pun bersyukur karena selama hukum 
positif tersebut tegak, tidak ada yang bisa melanggar termasuk seorang Sultan 
sekalipun. Tentu hal ini terkait dengan kualitas pelayanan public meskipun 
tidak langsung.


HBX juga mengakui bahwa konsep "wong agung" dan "gentong wahyu" bukanlah 
termasuk yang ingin dilestarikan. 


Ooh.. baru tahu saya kalao pisowanan agung itu berbayar.. bagaimana dengan 
demo-2 pro-Sultan lainnya pak? selama ini saya menjunjung asas praduga tak 
bersalah dan terus terang sangat kaget mengetahui megnenai pisowanan agung tsb.



Ya.. Keistimewaan nantinya juga perlu mengatur Hak Politik seorang pewaris 
tahta Keraton. Mungkin hak politik aktifnya harus rela ditanggalkan apabila 
menjadi pewaris tahta. Begitu pula keluarganya mungkin.
Saya bayangkan keluarga Kerajaan Jepang tidak ikut partai dan juga tidak ikut 
pemilu, apalagi ikutan kampanye. Kerajaan Inggris pun demikian. 

Contoh yang tidak sehat di Thailand, Permaisuri resmi jadi patron Partai 
lawannya Thaksin. Sekarang mereka krisis konstitusi. Saya tidak tahu persis 
kondisi pelayanan public secara utuh, tapi yang jelas Bandara (simpul pelayanan 
transportasi vital) sempat lumpuh, turisme mampet, Bhat sempat kelojotan. 


Juga perlu diatur urusan 'waris tahta', supaya tidak terjadi konflik-2 keluarga 
seperti Kerajaan tetangga (untungnya tidak ada keistimewaan politik).
Apalagi kalao kita tengok Nepal, contoh kasus yang paling baru. 

Menyeramkan bukan?
Akibat tidak ada kepastian mengenai waris tahta, semuanya hancur berantakan ... 
termasuk pelayanan publik.
jadi, benang merah nya disitu pak. Memang terkesan sangat preventif dan 
antisipatif. . tapi ya namanya juga planner.. terdidik untuk merencanakan 
dengan skenario jamak.


Salam hangat,
-K-


2010/1/23 bspr...@indosat. net.id <bspr...@indosat. net.id>
















 



  


    
      
      
      Mas Djarot, mas Harya Setyaka, rekans ysm,

Semakin asyik mengikuti perdebatan tentang keistimewaan Yogyakarta. Ada 
perdebatan tentang demokrasi ada perdebatan tentang pelayanan publik. Saya coba 
mensitir beberapa pertanyaan dari mas Harya :


Pernyataan 1

Kalau semua itu ada batasnya, alias tidak kekal.. Apa dan dmana batas suatu 
Monarki?
Mengapa situ yakin demokrasi ada batasnya, sosialisme ada batasnya, namun 
giliran Monarki - Yogyakarta lain opini..



Pertanyaan ini mungkin muncul karena dua sudut pandang yang diambil berbeda. 
Mengapa muncul sebuah pernyataan tentang monarki seakan tidak ada batasnya 
adalah terkait dengan konsep "Wong Agung". Hal ini relatif hampir sama dengan 
konsep Teno Haika adalah merupakan turunan dari Dewa Matahari. Artinya premis 
yang diambil adalah pemimpin TIDAK BISA SALAH. Nah untuk pengamanan ini 
sebenarnya di Jawa dikenal pembedaan fungsi. Raja sebagai "Gentong Wahyu" 
sementara yang diijinkan berbuat salah adalah Pepatih Dalem. Hal ini disebabkan 
karena yang mengatur pelayanan publik adalah pepatih dalem. Raja adalah sumber 
kebijaksanaan. Yang menjadi masalah adalah perangkat itu tidak ada saat ini di 
DIY. 


Memang institusi itu tidak diadakan pada saat kita memasuki jaman perang 
kemerdekaan. Institusi itu dihapus oleh HB X dengan sebuah pertimbangan yang 
sangat cerdas karena masalah kestabilan pemerintahan. Perlu dipahami bahwa pada 
pra awal kemerdekaan terjadi 2 penyerahan pemerintahan yang sangat rawan 
perpecahan. Sebuah strategi yang cerdas. Karena itu fungsi Patih Danureja 
dilikuidir dan dirangkap oleh HBIX.


Perangkat pemerintahannyapun waktu itu didisain menggunakan pendekatan Wong 
Agung tersebut. Salah satu buktinya adalah prosesi "pepe". Bila konsep "pepe" 
tersebut tidak disandingkan dengan konsep "Wong Agung" maka pasti tidak akan 
jalan. Konsep Wong Agung ini memberi posisi yang sangat bebeda dengan 
demokrasi. 


Masalahnya HBX mencoba untuk menggeserkan dirinya dari konsep Wong Agung 
menjadi Konsep Demokrasi secara bebas. Dalam penampilannya pada acara Kick 
Andy, secara tegas HBX mengatakan bahwa konsep Wong Agung itu tidak ada lagi. 
Artinya konsep "Gentong Wahyu" tidak ada lagi. Artinya raja bisa berbuat salah. 
Nah kalau ini sebagai pernyataan beliau, sangat sukar posisi kepala daerah 
disanding dengan konsep wong agung tersebut.



Pernyataan 2

Mungkin dengan referendum ini kita bisa menguji: apakah monarki sudah melampaui 
masanya?


Saya melihat referendum merupakan sebuah hal yang ingin dihindari oleh HBX. Hal 
ini disebabkan karena pergerakan yang terjadi di Yogyakarta bisa dikatakan 
semu. Pisowanan agung yang dilakukan beberapa saat yang lalu adalah sebuah 
rekayasa yang tidak canggih. Hal ini disebabkan karena sampai ada banyak orang 
yang tahu bahwa para yang ikut pisowanan ternyata dibayar. Nah bagaimana 
sebenarnya kalau memang referendum itu dilakukan. Itu masih sangat sukar untuk 
diantisipasi. Hal ini karena munculnya aroma yang tidak sedap dari perilaku 
elite dan keluarganya di Yogyakarta. Sehingga muncul sebuah blocking pemikiran 
yang secara random saya pernah lakukan survey .... masyarakat masih sangat 
percaya bahwa "Ke-Sultanan" itu masih dibutuhkan mereka untuk melindungi 
kehidupan dan penghidupannya. Namun saat ditanya pada sosok pemimpin yang ada 
sekarang, mendadak terjadi pembelahan sikap pada masyarakat. Ini yang ditakuti 
oleh elite di Yogyakarta untuk melaksanakan
 referendum.



Pertanyaan 3

Di Yogyakarta; siapa yg istimewa? Rakyatnya atau Sultannya?
Seseorang menjadi istimewa bukan karena dibelenggu keterpaksaan dan ketiadaan 
pilihan.. Justru orang yg istimewa adalah yang berdaya karena punya pilihan. 
Mengenai apa yg ia pilih nantinya persoalan lain.



Sebenarnya konsep keistimewaan pada saat pertama diberikan oleh Presiden 
Soekarno lebih kepada apresiasi sikap dari HBX dan PAVIII yang dengan serta 
merta menyatakan sikap bergabung dengan RI. Dan ini dimanifestasikan dengan 
sikap riil seperti menjadi pendana awal pemerintahan RI (saat ini dana DIY 
menjadi kolateral RI dan nilainya sampai 90 Triliun rupiah), menjadi penyedia 
tempat untuk pemerintahan.  Jadi lebih pada sebuah apresiasi suatu negara. Hal 
disebabkan karena Kesultanan Mataram diakui dunia merupakan negara yang bebas 
bredaulat meskipun masih diperdebatkan dan itu mengacu pada perjanjian Giyanti 
yang menyebabkan kedauloatan Yogyakarta adalah semu. 


Pertanyaan 4

Sultan HBX bisa memilih untuk ikut menjadi Kader Golkar (partai politik yg 
hanya kontekstual dalam demokrasi) dan mencalonkan diri jadi Presiden (lagi2 
demokrasi).
Mengapa rakyat Yogyakarta tidak boleh memilih apakah sudah saatnya Gubernur 
dipilih melalui Pilkada atau tidak?



Ini memang sebuah pertanyaan yang sangat delicate. Tetapi kalau merujuk dari 
HBIX dalam buku Tahta untuk Rakyat, secara jelas bahwa posisi pengambilan sikap 
untuk menjadi anggota Golkar dari HBIX adalah sebuah posisi yang "terpaksa" 
diambil untuk kepentingan pelayanan rakyat. Hal itu disebabkan karena pemimpin 
nasional pada saat itu membuat garis tegas dengan pola we and they dan ini akan 
berpengaruh pada sikap pemberian resource yang bisa dimanfaatkan masyarakat. 
Jadi pilihan itu sangat logis. Nah untuk HBX kondisinya sudah berubah. HBX 
lebih menerima sebagai tongkat estafet apa2 yang sudah dilaksanakan oleh HBIX. 
Ini misalnya muncul jelas betapa ekspresi kegamangan muncul pada Munas Golkar 
yang terakhir.



Pernyataan 5

Having said that; apa gunanya DPRD DIY? Jangan2 cuma rubber stamp nya Sultan 
HBX (yg kader Golkar).

Dalam kenyataannya, memang hal itu terjadi pada awal pemerintahan HBX. Namun 
saat ini semangat untuk tidak sekedar menjadi rubber stamp dari Gubernur. Saat 
ini Gubernur hanya memegang 2 kekuatan (fraksi) saja secara utuh yaitu PDIP dan 
Golkar. Justru Demokrat ada "agak" diseberang Gubernur. Sedangkan partai2 yang 
lain meski mengatakan sebagai counter tapi sifatnya sangat malu2 kucing. Ini 
yang saya lihat sejak masa saya sampai sekarang.



Saya ingin menambahkan bahwa konsep yang dikembangkan dalam RUUK DIY sebenarnya 
kurang menyentuh pada kepentingan rakyat semata secara langsung. Sehingga 
memang agak sulit untuk saya harus mengatakan bahwa RUUK DIY itu berpihak pada 
rakyat secara langsung. Namun saya masih bisa mengatakan bahwa RUUK DIY mencoba 
mengarahkan agar Kraton bisa berfungsi lebih kuat dan mempunyai kekuatan yang 
lebih jelas sehingga (nah ini yang masih harus diuji) mampu memberikan 
pelayanan kepada masyarakat lebih baik.


Demikian sedikit uraian tentang keistimewaan. Yang diperlukan rakyat saat ini 
adalah sebuahb pelayanan yang baik. Itu saja.

salam 


bambang sp

    
     

    
    



    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke