Rekan Galuh Syahbana dan milisters ysh, Terimakasih banyak kpd rekan Galuh Syahbana yg tlh berkenan memberikan tgpnnya .......walau itu baru keluar 10 hari sesudah posting terakhir dari topik berkait.....namun tentu tak ada kata terlambat utk itu, dan senang bhw kita dpt melanjutkan diskusi ttg topik tsb.......... Kalau rekan Galuh melihat bhw..... “isu pembangunan berkelanjutan dalam konteks perencanaan wilayah dan kota perlu melihat konteks rural-urban sebagai suatu sistem region yang tidak terpisahkan”...........menurut hemat saya sptnya konteks yg perlu lbh dilihat lagi adlh bukan hanya ‘rural-urban’nya ...... namun adlh perlu lbh dilihat lagi konteks penegakan disiplin ‘hirarkhi ruang’nya yg (lebih) tegas ...yg semuanya bermula dari (bisa pula dgn urutan dari arah sebaliknya) ......kawasan lindung ....kawasan budidaya yg bermula dari kawasan rural ......semi rural/ semi urban ... lalu urban .....dimana sejak dari semi rural/semu urban ke urban itu kiranya dpt dibagi lagi menjadi struktur2 ruang yg lebih tegas spt mulai dari rumah ditepi jalan .....dukuh/ hamlet ...desa ...pusat layan desa (urban) .....kota kecil ...kota sedang/ kota menengah ....kota besar/ metropolitan ....megapolitan ........ Ttg .......“ Beberapa negara (diluar Indonesia) juga berupaya untuk me-reshape pembangunan perdesaannya,”........alangkah baiknya bila rekan Galuh berkenan menyebutkan negara2nya itu mana saja ...dan sekaligus menceritakan bgmn hasilnya .......tentu info ini akan sangat lbh mencerahkan kita semua.......... Ttg pernyataan bhw ‘reshaping pembangunan perdesaan’ .....selain ”untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat perdesaan” juga dimaksudkan utk “mereduksi arus migrasi perdesaan ke perkotaan yang berlebihan”....... menurut hemat saya maaf .......visi demikian itu kok spt tidak tepat2 amat/ malahan bias ......alasan saya adlh krn yg namanya ‘migrasi kekota/ perkotaan’ itu dlm kenyataannya tak hanya terjadi ‘dari desa kekota’ saja .....namun adlh kenyataannya terjadi juga dari kota kecil kekota besar.... malah tak kurang juga banyak terjadi dari kota menengah kekota besar ..bahkan dari kota metropolitan ke megapolitan (Medan ke Jkt, Sby ke Jkt dsb).....saya pernah membaca satu tulisan yg mengatakan bhw arus urbanisasi yg terbesar adlh justru dari kota lbh kecil kekota besar dan bukannya dari desa kekota ......namun maaf, lupa/ blm menemukan lagi sumbernya (Asih Sriwinarti, 2002?)........salam, aby
--- On Mon, 2/22/10, Galuh Syahbana Indraprahasta <[email protected]> wrote: From: Galuh Syahbana Indraprahasta <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Sustainable Region To: [email protected] Date: Monday, February 22, 2010, 7:22 PM Bapak dan rekan-rekan referensier yg saya hormati Memang isu pembangunan berkelanjutan dalam konteks perencanaan wilayah dan kota perlu melihat konteks rural-urban sebagai suatu sistem region yang tidak terpisahkan. Beberapa negara (diluar Indonesia) juga berupaya untuk me-reshape pembangunan perdesaannya, selain karena untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat perdesaan, tetapi juga mereduksi arus migrasi perdesaan ke perkotaan yang berlebihan. Tentunya ini merupakan supporting dan complementing system bagi terciptanya sustainable urban Salam, Galuh Syahbana Indraprahasta Center for Regional System Analysis, Planning and Development (CRESTPENT) Bogor Agricultural University 2010/2/11 wilmarsalim <wilmarsalim@ yahoo.com> Pak Abimanyu dan rekan-rekan referensier yth, Menurut SP 1961, penduduk kita 97 juta, yang tergolong urban 14,3 juta (14,74%). Sementara menurut SUPAS 2005 penduduk kita 219 juta, yang tergolong urban 92 juta (42%). Jadi penduduk rural yang dulu hanya 83 juta sekarang jadi 127 juta, padahal sudah banyak yang bermigrasi ke kota, atau sudah banyak yang daerahnya dulu rural sekarang menjadi urban. Saya melihat isu yang diangkat dalam jargon Sustainable City adalah sebuah bentuk persoalan kualitas hidup perkotaan yang paradoks. Kalau kualitas buruk penduduk kota merana, dia tidak sustainable. Kalau kualitas membaik penduduk migran akan bertambah, yang akan menurunkan kualitas hidup, akibatnya tidak sustainable. Untuk menjadi sebuah kota yang sustainable, pembangunan rural perlu dilakukan, untuk memberikan pilihan bagi warga apakah mau bergaya hidup urban atau rural. Untuk itu konsep sustainability tidak bisa hanya berfokus pada kota, tapi harus pada wilayahnya. Salam, Wilmar --- In refere...@yahoogrou ps.com, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@...> wrote: > > ....hmmmm, > ....tahun 1960-an 90 % penduduk non-kota ada berapa ya...? > > ....sedangkan 50 % penduduk non-kota tahun 2010 tinggal berapa ya...??? > ....yah masih ratusan juta.....dengan kemampuan yang kira-kira tidak sangat > jauh berbeda..... namun dengan daya dukung lingkungan non-kota plus imbas > kota yang lebih parah.... > ...kalau begitu ...apakah prioritas pembangunan (plus penataan ruang...?) > masih bias kota atau adakah pahlawan bagi mereka? > ... who cares...??? > > Salam, > ATA > > > 2010/2/10 hengky abiyoso <watashi...@. ..> > > > > > > > Pak Risfan ysh, > > > > Sesuai zamannya atau masanya dan dasar lbh berlatar belakang arsitektur > > ….saya kira pak Wawo tidak salah ……. > > > > Beliau lbh mengajarkan ttg city planning sbg barang baru di Indonesia pd > > sekitar 1960-an dimana proporsi penduduk urban kita barangkali masih kurang > > dari 10% atau artinya jumlah penduduk Indonesia yg tinggal diperkotaan baru > > kurang dari angka 10%an dan 90%an masih tinggal di perdesaan ….atau artinya > > arus urbanisasi hampir2 saja belum memiliki arti penting dlm kehidupan > > perkotaan ……Jakarta mungkin baru berpenduduk sekitar angka 2 juta jiwa….… > > > > Sekarang sudah tahun 2010 atau 50 tahun tlah berlalu….. kala itu yg namanya > > studio televisi dan pesawat tv dirumah penduduk juga belum ada …..namanya > > kamera dan foto juga masih baru mengenal yg B&W….. pesawat telpon masih > > banyak yg model diputar dulu lalu pelanggan minta per lisan kekantor > > telpon utk dihubungkan dgn nomor lain …. Interlokal minta dari Jkt ke Puncak > > pagi ini minta ke operator siang nanti mungkin baru tersambung krn ngantre…… > > > > Satu dekade kemudian yg namanya tv masih B&W dan baru hanya ada 1 channel > > yaituTVRI, mulai siaran sekitar jam 4.30 sore berakhir pkl 11.00 malam (jd > > remote control belum perlu) ….sistem fotografi mengenal foto color yg masih > > pake film dan perlu 3 hr utk cuci cetak krn prosesnya masih di Singapura > > ……sampai Juli 1981 kantor saya dulu perusahaan PMA jg masih belum pake > > secuil perangkat komputerpun ….. > > > > Tapi kini ……proporsi penduduk urban kita sudah melewati angka 50% > > .....semua perangkat kehidupan modern planners yg harus serba diimpor dan > > harus ditukar dgn ekspor kita berupa apa saja sejak dari ekspor gas, kayu > > gelondongan smpai ekspor pesawat dan teaga PRT ……city planning sejak lama > > sdh diwarnai dgn bentrokan antara satpol PP dan pedagang kakilima yg digusur > > …..angka pengangguran 9 juta pekerja ….jalan tol sdh hampir selalu macet > > ….pc komputer sdh hinggap hampir ditiap rumah penduduk perkotaan ….tak lagi > > kapasitas 265 mhz namun 100GB ….hampir setiap orang tlh memiliki telpon > > genggam ……pertanyaan ini mungkin bukan semata tertuju ke pak Risfan…. > > masihkah dunia pendidikan dan otoritas planning mau bergeming dgn city > > planning kelas pot tanaman dirumah2 penduduk dan pemilah2an sampah kering > > dan basah?...... .....salam, aby > > > >

