Pak Abimanyu dan rekan-rekan referensier yth, Menurut SP 1961, penduduk kita 97 juta, yang tergolong urban 14,3 juta (14,74%). Sementara menurut SUPAS 2005 penduduk kita 219 juta, yang tergolong urban 92 juta (42%). Jadi penduduk rural yang dulu hanya 83 juta sekarang jadi 127 juta, padahal sudah banyak yang bermigrasi ke kota, atau sudah banyak yang daerahnya dulu rural sekarang menjadi urban.
Saya melihat isu yang diangkat dalam jargon Sustainable City adalah sebuah bentuk persoalan kualitas hidup perkotaan yang paradoks. Kalau kualitas buruk penduduk kota merana, dia tidak sustainable. Kalau kualitas membaik penduduk migran akan bertambah, yang akan menurunkan kualitas hidup, akibatnya tidak sustainable. Untuk menjadi sebuah kota yang sustainable, pembangunan rural perlu dilakukan, untuk memberikan pilihan bagi warga apakah mau bergaya hidup urban atau rural. Untuk itu konsep sustainability tidak bisa hanya berfokus pada kota, tapi harus pada wilayahnya. Salam, Wilmar --- In [email protected], abimanyu takdir alamsyah <takdi...@...> wrote: > > ....hmmmm, > ....tahun 1960-an 90 % penduduk non-kota ada berapa ya...? > > ....sedangkan 50 % penduduk non-kota tahun 2010 tinggal berapa ya...??? > ....yah masih ratusan juta.....dengan kemampuan yang kira-kira tidak sangat > jauh berbeda.....namun dengan daya dukung lingkungan non-kota plus imbas > kota yang lebih parah.... > ...kalau begitu ...apakah prioritas pembangunan (plus penataan ruang...?) > masih bias kota atau adakah pahlawan bagi mereka? > ... who cares...??? > > Salam, > ATA > > > 2010/2/10 hengky abiyoso <watashi...@...> > > > > > > > Pak Risfan ysh, > > > > Sesuai zamannya atau masanya dan dasar lbh berlatar belakang arsitektur > > .saya kira pak Wawo tidak salah . > > > > Beliau lbh mengajarkan ttg city planning sbg barang baru di Indonesia pd > > sekitar 1960-an dimana proporsi penduduk urban kita barangkali masih kurang > > dari 10% atau artinya jumlah penduduk Indonesia yg tinggal diperkotaan baru > > kurang dari angka 10%an dan 90%an masih tinggal di perdesaan .atau artinya > > arus urbanisasi hampir2 saja belum memiliki arti penting dlm kehidupan > > perkotaan Jakarta mungkin baru berpenduduk sekitar angka 2 juta jiwa . > > > > Sekarang sudah tahun 2010 atau 50 tahun tlah berlalu .. kala itu yg namanya > > studio televisi dan pesawat tv dirumah penduduk juga belum ada ..namanya > > kamera dan foto juga masih baru mengenal yg B&W .. pesawat telpon masih > > banyak yg model diputar dulu lalu pelanggan minta per lisan kekantor > > telpon utk dihubungkan dgn nomor lain . Interlokal minta dari Jkt ke Puncak > > pagi ini minta ke operator siang nanti mungkin baru tersambung krn ngantre > > > > Satu dekade kemudian yg namanya tv masih B&W dan baru hanya ada 1 channel > > yaituTVRI, mulai siaran sekitar jam 4.30 sore berakhir pkl 11.00 malam (jd > > remote control belum perlu) .sistem fotografi mengenal foto color yg masih > > pake film dan perlu 3 hr utk cuci cetak krn prosesnya masih di Singapura > > sampai Juli 1981 kantor saya dulu perusahaan PMA jg masih belum pake > > secuil perangkat komputerpun .. > > > > Tapi kini proporsi penduduk urban kita sudah melewati angka 50% > > .....semua perangkat kehidupan modern planners yg harus serba diimpor dan > > harus ditukar dgn ekspor kita berupa apa saja sejak dari ekspor gas, kayu > > gelondongan smpai ekspor pesawat dan teaga PRT city planning sejak lama > > sdh diwarnai dgn bentrokan antara satpol PP dan pedagang kakilima yg digusur > > ..angka pengangguran 9 juta pekerja .jalan tol sdh hampir selalu macet > > .pc komputer sdh hinggap hampir ditiap rumah penduduk perkotaan .tak lagi > > kapasitas 265 mhz namun 100GB .hampir setiap orang tlh memiliki telpon > > genggam pertanyaan ini mungkin bukan semata tertuju ke pak Risfan . > > masihkah dunia pendidikan dan otoritas planning mau bergeming dgn city > > planning kelas pot tanaman dirumah2 penduduk dan pemilah2an sampah kering > > dan basah?...........salam, aby > > > >

