Pak Djarot dan rekans ysh.
Sebenarnya bila bapak mencermati, sejak tahun lalu kita sudah membicarakan
banyak paradigma besar dunia. Seperti misalnya Ms. EkoBK dkk bicara
fieldwork, analytical induction dll, kita sedang bicara tentang
'fungsionalisme'. Juga Pak Koes dkk bicara keramat, hidayah, prihatin dll,
kita sedang bersentuhan dengan jalan tarikat. Tentunya juga dengan 'posmo',
'strukturalisme', 'komprehensivisme/sistemik', 'positivisme', 'marxisme',
'borjuisme', 'mbejo', 'nggowes', 'evolusionisme', dst. Masing-masing dari
kita telah memberikan kontribusi pemahaman yang luas tentang hal itu sebagai
referensi mengenai paradigma yang patut diketahui. Disadari atau tidak,
berbagai paradigma itu telah bersemayam dalam pemikiran 'masyarakat' selama
ini, dan telah mendinamikakan dan mengkontestasikan resistensi hingga
dominasi dalam berbagai varian dan variasinya.

Saya tanggapi beberapa komentar. Pertama, saya hanya membaca analisis dan
beberapa cuplikan catatan etnografi Darwin, "The Origin of Species by Means
of Natural Selection" (1859), salah satu di antaranya: "... I am fully
convinced that species are not immutable; but that those belonging to what
are called the same genera are lineal descendants of some other and
generally extinct species, in the same manner as the acknowledged varieties
of any one species. ..." Pandangannya memang bertentangan dengan bab
penciptaan dalam Bible (namun tidak Al Qur-an), dan menimbulkan kontroversi
hingga saat ini. Perlu dicatat bila Darwin menempatkan 'link' dan 'fase'
dalam penelitiannya; satu hal yang kita pahami bahwa 'perkembangan'
disekat-sekat menjadi 'fase-fase', dan setiap fase adalah bermakna karena
mengandung kejadian penting. Dengan kata lain teori evolusi adalah bicara
tentang proses dan sejarah. Jadi sebenarnya mudah 'mencap' kaum
evolusionist, kalau terdengar ngomong tentang history, proses, kemajuan dst,
... ya seperti saya ini ... hehehe ... Malah Plato dan Aristoteles lebih
dulu mengembangkan teori evolusi-negatif, yang mengatakan binatang dan
tumbuhan bermula dari satu bentuk, kemudian secara bertahap dan menerus
berubah dari bentuk sempurna menjadi kurang sempurna, namun untuk manusia
melalui proses yang berbeda.

Mengenai 'survival of the fittest' saya kira sudah dijawab oleh Harya. Saya
tertarik dengan 'open/deep moral community', saya kira kita sudah masuk
dalam kajian baru, yaitu 'positivisme', atau mungkin juga 'konstruktivisme'.
Silahkan dibabarkan pak, kan ada Pak Sudaryono juga disini.

Mengenai 'kehidupan dan alam', lebih relevan dengan tulisannya Pak
Risfan<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/12159>yang
similar dan setajam analisisnya Marx (namun bukan Marxian). Kapan
waktu
saya coba ulas. Salam.

-ekadj


2010/5/11 Harya Setyaka <[email protected]>

>
>  Darwin mengajukan teori mengenai geo-biologi ... sebenarnya Wallace juga
> sedang meneliti hal yang sama.. yaitu distribusi spatial flora dan fauna..
> lalu memetakan similaritas dan dissimilaritas diantaranya..
> Proposisi-proposisi Darwin semuanya bisa dibuktikan benar-salah nya secara
> ilmiah, diuji secara empirik.
>
> yang problematik adalah memproyeksikan proposisi Darwin mengenai alam
> kepada kehidupan sosial.. atau disebut Social Darwinism..
> Jadi kalau udah pake imbuhan -ism .. udah gak netral lagi.. dan udah
> berangkat (departure from) kaidah-2 ilmiah, dimana segala sesuatunya harus
> bisa diuji secara empirik.
> Ya sama aja kayak Pancasila laah.. itu kan gak ilmiah.
>
> Ya tentunya masing-2 kita ini memiliki (atau minimal merasa memiliki) dawuh
> ...
> Menjadi arsitek/planner kan pilihan profesi yang dibuat ketika cara-pandang
> dunia belum seperti sekarang ini..
> Sedangkan diluar profesi arsitek/planner mungkin juga punya dawuh untuk
> melindungi yang lemah.. berupaya untuk mewujudkan "survival of the
> weakest"..
>
> salam,
> -K-
>
>
>
> 2010/5/10 Djarot Purbadi <[email protected]>
>
>
>>
>>   Pak Eka dan Sahabats,
>>
>> Sudah lama saya dengar bahwa evolusi ala Darwin sebagai cara berpikir
>> dikritik oleh Mangunwijaya karena Darwinisme mengandung pemikiran "siapa
>> kuat dia hidup terus". Saya jadi terkaget-kaget ketika cara berpikir ini
>> justru menjadi cara pikir yang "penting atau pokok" di kalangan planning di
>> Indonesia. Benarkah begitu ?
>>
>> Dalam seminar APRF Januari 2010 ada tawaran "humanisme baru" menjadi
>> paradigma dalam planning dan arsitektur masa kini dan masa depan yang
>> menjanjikan kemajuan bagi kehidupan kita. Situasi pluralism yang kita hadapi
>> akan terus berkembang dan memerlukan "open moral community" yang berbasis
>> pada"deep moral community" atau "trancendentalism community". Intinya,
>> planning dan arsitektur semestinya terus berusaha mengarah kepada "space of
>> and for the common"....unik tetapi tidak ekslusif. Demikian konsep yang
>> ditawarkan Guruku Dr. Sudaryono dalam seminar itu.
>>
>> Dari paparan itulah, aku jadi mengerti, mengapa "ruang lokal" menjadi
>> penting dan bermakna karena boleh unik namun tidak eksklisif !!! Deep moral
>> community pada dasarnya melampaui "contractual community" yang secara tidak
>> kita sadari masih kuat mewarnai situasi kehidupan kita. Jika kita tidak
>> menyadari paradigma mana yang diperlukan dalam planning dan
>> arsitektur.....apakah kita masih punya keyakinan bahwa planning dan
>> arsitektur adalah berkah bagi kehidupan dan alam semesta ????
>>
>> Salam,
>>
>> Djarot Purbadi
>>
>> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>>
>>
>> --- On *Mon, 5/10/10, - ekadj <[email protected]>* wrote:
>>
>>
>> From: - ekadj <[email protected]>
>> Subject: Re: [referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita
>> To: [email protected]
>> Date: Monday, May 10, 2010, 10:52 PM
>>
>>
>>
>> Ya sudah nasib pak.
>> Sejak kecil terbuai-buai ayunan, sudah besar terbuai-buai angan-angan.
>>
>> Lebih enak bicara biologi: tidak semua evolusi bermula dari kecil ke
>> besar, atau dari sederhana ke kompleks. Beberapa spesies malah berubah
>> menjadi lebih sederhana, seperti kambing pleistosen Afrika tiga kali lebih
>> besar dari kambing modern. Salam.
>>
>>  2010/5/11 <arys_munandar@ 
>> yahoo.com<http://mc/[email protected]>
>> >
>>
>>>
>>>
>>> So, seharusnya bagaimana, pak ?
>>>
>>> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>>> ------------------------------
>>> *From: *- ekadj <4ek...@gmail. com<http://mc/[email protected]>>
>>>
>>> *Date: *Mon, 10 May 2010 17:55:47 +0700
>>> *To: *<refere...@yahoogrou 
>>> ps.com<http://mc/[email protected]>
>>> >
>>>  *Subject: *[referensi] ortogenesis dalam perencanaan kita
>>>
>>>
>>>
>>> Referensiers ysh.
>>> Hampir dipastikan seluruh perencana adalah penganut evolusionisme.
>>> Berarti penganut Charles Darwin. Evolusi merupakan suatu bentuk transformasi
>>> yang tetap dari kecil kepada yang lebih besar. Secara biologi hal ini coba
>>> dimaklumi dari generasi ke generasi, kemudian analogi biologi ini
>>> 'ditransplantasikan' ke dalam sistem sosial, sistem ekonomi, sistem politik,
>>> sistem kota, dst. Dengan dasar kaidah biologi ini, maka perencana banyak
>>> yang 'ngecap' menjelaskan gagasannya. Saya sudah sampaikan keluhan
>>> omongkosong <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1004> ini
>>> dan tanggapannya <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1013>.
>>>
>>> Namun dalam praktek teori evolusi ada permasalahan ortogenesis:
>>> kesalahpahaman asumsi mendasar tentang adanya 'kekuatan' yang akan
>>> mengarahkan, menjadikan lebih cerdas, lebih baik, dan lebih terencana.
>>> Padahal dalam teori evolusi sendiri tidak ada pembuktian tentang adanya
>>> 'kekuatan supra'; malah evolusi sendiri merupakan proses random, tidak ada
>>> kemajuan atau gerakan umum ke arah 'superior'. Darwin sendiri tidak pernah
>>> menyebutkan kata-kata 'lebih tinggi' atau 'lebih rendah' dalam menguraikan
>>> tahap evolusi yang berbeda-beda.
>>>
>>> Salam.
>>>
>>> -ekadj
>>>
>>>
>>>
>>
>>
>

Kirim email ke