Pak Eka ysh., Maaf baru baca, saya jadi teringat sebuah film yg didasarkan kisah nyata di Jepang tahun2 selepas PD 2 (lupa judulnya)... kisahnya ttg seorang bapak dan anak... si bapak pemilik bank besar di Jepang dan si anak insinyur direktur pabrik komponen mesin... si anak begitu berambisi utk masuk ke pasar Amerika... alasannya adalah bahwa: satu saja produk industri Jepang bisa menembus pasar barat, maka produk2 lainnya juga akan dipercaya...
mungkin begitu Samsung sukses, tentunya produk2 Korea lainnya seperti LG, Hyundai, dst mampu meraih kepercayaan konsumen dunia... sebaliknya mungkin saat ini ketika Proton belum mampu meraih kepercayaan maka Perodua juga, entah mobnas2 Indonesia yg tahun ini akan bermunculan...saya tdk tahu, tentu rekan2, bapak ibu sekalian yg mendalami bisnis, marketing atau ilmu perdagangan int'l lebih tahu... Tapi saya kira sudah banyak juga produk2 Indonesia yg berhasil menembus atau bahkan merajai pasar LN (at least jiran) seperti JCo donat di Msia dan Spore, musik Indonesia di Msia, dll... :) salam... --- En date de : Mar 18.5.10, - ekadj <[email protected]> a écrit : De: - ekadj <[email protected]> Objet: Re: [referensi] la pensée bourgeoise À: [email protected] Date: Mardi 18 mai 2010, 17h15 Pak BTS ysh. Terima kasih atas penjelasannya. Saya menambahkan catatan beberapa hal yang penting: demand oriented - diversifikasi produk - mode - fashionable, Salam. -ekadj 2010/5/18 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Pak Eka, dalam bisnis itu: 1. Ada yang ngikuti selera pasar yang produknya bersifat "job order". Naik turunnya bisnis tergantung pada selera pasar. Kalau nggak bisa ngikuti pasar, bisa bangkrut/nggak laku. Contohnya dalam kesenian adalah Wayang Kulit Non-Pakem. 2. Ada yang men-segmentasi pasar, yaitu hanya melayani segmen tertentu saja, misalnya bisnis permata. 3. Menciptakan pasar, yaitu menciptakan pasar baru, misalnya Alm. Tirto Utomo yang mengenalkan Aqua di Indonesia, atau industri kreatif yang sekarang banyak berkembang. Dalam soal ukiran furniture, ya ikuti 3 pasar itu, yaitu melayani yang sifatnya "job order", dengan mempertahankan khas lokal ukiran Serena yang tetap ada penggemarnya walaupun sedikit, dan juga membuat pasar baru dengan kreasi-kreasi baru ukiran ala Serenan. Thanks. CU. BTS. --- Pada Sel, 18/5/10, - ekadj <4ek...@gmail. com> menulis: Dari: - ekadj <4ek...@gmail. com> Judul: [referensi] la pensée bourgeoise Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Tanggal: Selasa, 18 Mei, 2010, 11:08 AM Pak EkoBK dan Referensiers ysb, bila berkenan dan berkesempatan, mohon kesediaannya pak memberikan pandangan tentang 'la pensee bourgeoise' terutama karena ada beberapa ungkapan menarik di bawah. Sebelumnya terima kasih pak. Salam. -ekadj "... Sekarang ini masak apem, donat, cenil, kripik, kerak, cireng harus merk franchise dari luar. ..." "... Kalimat yang masih 'menancap' di otak saya kurang lebih "Kita harus mengglobal dengan semangat regional berbasis sumberdaya lokal. Sumberdaya lokal itu mencakup sumberdaya manusia, alam, budaya, teknologi, dan finansial." ... Singkatnya, beberapa rekomendasi penelitian JICA tersebut adalah (1) meningkatkan kualitas meubel terutama pada proses oven agar daya tahannya lebih baik, (2) Membuat ciri ukir dan meubel sendiri yang khas dan mencerminkan Serenan atau Solo. ... Otomatis desain dan bahannya tergantung permintaan buyer. Persoalan itu yang menyebabkan hilangnya 'ciri khas' lokal meubel serenan yaitu (1) minat warga dan (2) ekonomi global. ..." "... "Identitas lokal", kebanggaan budaya, bisa lain dengan "apa yang dicari pembeli". ... Tapi kenyataan penjualan terbesar dan yang mayoritas dikerjakan pengrajin di sana adalah "desain bawaan pembeli". Jadi pengrajin disana keterampilan perkayuannya dipakai untuk menggarap desain pesanan. ... Pertanyaannya, Anda mau membantu perekonomian mereka, atau menyuruh mereka jadi pelestari potensi budaya? Yang jelas kompetensi mereka pada "keterampilan membuat" mebel, ukir asli atau pesanan. ... Kadang buyer hanya kirim sket kasar, lalu mereka gambar yang baik, atau buat sampel, dipotret, dikirim untuk dapat kesepakatan. ..." "... Penyesuaian dengan selera pasar, seperti berkarya sesuai dengan desain pesanan yang ada, merupakan alternatif yang sangat logis untuk bertahan dan berkembang. ..." "... Tapi di Sumbar relatif banyak ragam makanan/camilan oleh-oleh yang tahan lama, seperti juga di Jawa Tengah (terutama alen-alen, yaitu cincin warna-warni dari singkong, untuk latihan adu "keras" dengan gigi kita he he). Harapannya semua bisa seperti brownies Amanda, Karya Umbi, Kartika Sari (Bandung), Christin Hakim (Sumbar), Zulaikha (Medan) dan Bolu Meranti, Bandeng Semarang, dst ... Mestinya Carrrefour yang melebar di Indonesia, akan bagus juga kalau baliknya bawa produk-produk kita ke Perancis-ya. ..." "... Bung Fajar, pengembangan ekonomi lokal tidak harus produk khas lokal, tetapi bagaimana menumbuhkan perusahaan lokal menjadi mampu bersaing. ..." "... Untuk kasus bawang merah di Brebes, bukannya industri rakyat unggulannya, yaitu telor asin, lebih membutuhkan tingkat keahlian yang lebih tinggi..? Bukankah apabila dilakukan pembuatan acar bawang dalam botol, maka pemasarannya bisa dilakukan berdampingan dengan telor asin..? ... Mengapa tidak dilakukan pengepakan 1 kiloan, 5kiloan, atau 10 kiloan supaya mendapat harga yang lebih baik..? ..." "... Saya sependapat dengan Pak Risfan dan Pak Fajar bahwa pengrajin tidak harus menghasilkan karya yang selalu bercorak khas daerah mereka. Berkarya sesuai dengan permintaan pasar juga perlu dilakukan untuk tetap bertahan dan tentunya mengembangkan usaha. ... Sebagai contoh untuk pemesanan dari Perancis maka exportirnya si-A dan kelompok pengrajinnya si B dan seterusnya. ..."

