Pak Risfan ysh. Saya kira memang ada perubahan pola pemasaran produk, kalau
dulu ada galeri-galeri yang mengumpulkan produk dari perupa sekitar, dan
tentunya ada proses seleksi kualitas. Sekarang siapa pun bisa membuka galeri
sendiri, sehingga membiarkan konsumen memilih sendiri kualitas produknya.
Ini juga menjadi rekreasi belanja tersendiri. Namun implikasi keruangannya
cukup luar biasa untuk wajah Bali hari ini.
Kalau untuk Asmat, bentuk pemasarannya dilakukan setahun sekali, yaitu
setiap minggu kedua Oktober. Pada waktu itu puluhan wisatawan datang dari
seluruh dunia, dan banyak yang menggunakan kapal pesiar. Karena jumlah
produknya sedikit, dilakukan dengan sistem lelang.
Produksi di Asmat tidak bisa ditingkatkan, karena jumah perupa yang semakin
sedikit, juga ketersediaan kayu-besi yang semakin terbatas. Dan yang
terpenting: perupa tidak bisa dipacu untuk berproduksi, mungkin karena seni
sebagai ekspresi jiwa itu.
Mungkin disini kita dapat melihat perbedaan antara masyarakat borjuis dan
tradisional itu secara kontras. Keduanya memiliki basis materialisme yang
sama yaitu 'structure in place'. Namun praxis untuk berproduksi, modus
transformasi alam tergantung pada instrumen dan teknologi, ditambah oleh Pak
Risfan: pasar. Hanya pragmatisme borjuis terhadap alam juga berpengaruh pada
pragmatisme kulturnya. Borjuis berproduksi karena hubungan ekonomi: exchange
dan utilitarian, dan membangun sekat yang tegas dan panjang
produsen-konsumen. Tradisional berproduksi karena hubungan sosial, memahami
alam sebatas kebutuhan sendiri, dan kalau ada pertukaran kembali
kepada semiotika sosial.
Sementara demikian pak. Salam.

-ekadj


2010/5/23 Risfan M <[email protected]>

>
>
> Uda Eka dan Rekans ysh,
>
> Saya memahami kemirisan Anda soal komersialisasi karya seni. Di kalangan
> perencana pariwisata, budayawan ini juga merisaukan. Dilematis.
>
> Idealnya biarkan keaslian karya Asli dari suku Asli tetap asli. Ritme hidup
> dia juga tetap asli.
> Tapi, kalau Anda tahu bahwa karya Asli itu di pasar ternyata harganya mahal
> dan Anda membiarkan suku Asli itu tidak tahu , apalagi mereka secara ekonomi
> IPM) terbatas. Maka membiarkan mereka tidak masuk sistem ekonomi, bisa
> dibilang tidak fair juga. Dan, praktiknya kebijakan pemerintah (diluar
> kontrol kita) membuka peluang itu.
>
> Tapi mengajari mereka terjun bebas ke sistem ekonomi memang beresiko:
> memudaran keaslian berganti motif komersial; kedua akan memicu eksploitasi.
> Untuk inilah maka penguatan Cluster/sentra /kelompok diperlukan agar
> bargaining position mereka (mikro-kecil) naik, dan ada keseimbangan
> informasi (harga, kualitas).
>
> Kecuali kalau (omongan negarawan ini) negara ini betul2 menganut faham
> Negara Sejahtera, dan mampu konsisten memberi jaminan sosial yang wajar bagi
> tiap warganya. Orang air saja mesti beli, rumah sakit atau sekolah
> mendiskriminasi orang tak mampu, kok seniman, suku Asli, gak boleh jualan
> karya seninya.
>
> Saya jadi ingat potongan syair Rendra yang juga mengritik bisnis Pariwisata
> di satu daerah. Intinya digambarkan seorang wisatawan perempuan bilang ke
> suaminya, Well, look John, mereka asli ya. Tanpa baju manjat pohon kelapa.
> Eksotis ya seperti monyet. Ayo kita foto.
>
> Pak Eka, debat seni untuk seni vs seni bertendens (sekarang komersial)
> sepertinya juga abadi. Seingat saya Bagong K (bapaknya Butet dan Jadug) dan
> Garin yang ambil jalan tengah. Mengambangkan yang seni banget (klasik,
> eksperimental) dan yang pop (komersial?).
>
> Yang penting keseimbangan informasi diperjuangkan. Jangan seperti praktik
> pembangunan kota. Kepada warga pemilik tanah Pemda bilang ini kepentingan
> umum , tutup mata bahwa begitu prasarana dibangun para pengembang menikmati
> gain harga tanah puluhan kali. Karena itu menurut saya Planner juga mesti
> tahu dinamika harga tanah, supaya bisa menjembatani kepentingan
> masing-masing pihak.
>
> Kembali ke supply-chain, idealnya produsen A, B, C, .....tahu di proses X
> nanti harga jualnya berapa (walau kasar) dan tiap jenjang porsinya berapa,
> apa kriteria mutunya, sehingga dia bisa menaikkan posisinya.
>
> Salam,
> Risfan Munir
> www.wilayahkota.blogspot.com
>

Kirim email ke