--- On Tue, 5/18/10, - ekadj <[email protected]> wrote:


From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] la pensée bourgeoise
To: [email protected]
Date: Tuesday, May 18, 2010, 7:43 PM


  




Pak Eko ysb. Terima kasih sebelumnya. Saya tambahkan catatan: hard (tangible) 
industry dan production of national identities. Sejarah tentang industri 
otomotif ini mengingatkan saya pada satu tulisan. Jadi sepertinya untuk masuk 
ke pasar internasional perlu pemahaman budaya ya pak?
Bila bapak berkenan lagi, mudah-mudahan dapat menjelaskan kenapa 'borjuis' 
memiliki 'selera' yang beragam (spesifik) dan akhirnya menjadi pasar bagi 
produk?
Salam.
 
-ekadj

2010/5/19 Eko B K <ekobu...@yahoo. com>


  







Pak Eka ysh.,

Maaf baru baca, saya jadi teringat sebuah film yg didasarkan kisah nyata di 
Jepang tahun2 selepas PD 2 (lupa judulnya)... kisahnya ttg seorang bapak dan 
anak... si bapak pemilik bank besar di Jepang dan si anak insinyur direktur 
pabrik komponen mesin... si anak begitu berambisi utk masuk ke pasar Amerika... 
alasannya adalah bahwa: satu saja produk industri Jepang bisa menembus pasar 
barat, maka produk2 lainnya juga akan dipercaya...

mungkin begitu Samsung sukses, tentunya produk2 Korea lainnya seperti LG, 
Hyundai, dst mampu meraih kepercayaan konsumen dunia... sebaliknya mungkin saat 
ini ketika Proton belum mampu meraih kepercayaan maka Perodua juga, entah 
mobnas2 Indonesia yg tahun ini akan bermunculan. ..saya tdk tahu, tentu rekan2, 
bapak ibu sekalian yg mendalami bisnis, marketing atau ilmu perdagangan int'l 
lebih tahu...

Tapi saya kira sudah banyak juga produk2 Indonesia yg berhasil menembus atau 
bahkan merajai pasar LN (at least jiran) seperti JCo donat di Msia dan Spore, 
musik Indonesia di Msia, dll... :)

salam...

--- En date de : Mar 18.5.10, - ekadj <4ek...@gmail. com> a écrit :


De: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Objet: Re: [referensi] la pensée bourgeoise
À: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Mardi 18 mai 2010, 17h15


  



Pak BTS ysh. Terima kasih atas penjelasannya. Saya menambahkan catatan beberapa 
hal yang penting: demand oriented - diversifikasi produk - mode - fashionable,
Salam.
 
-ekadj

 

2010/5/18 Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>


  









Pak Eka, dalam bisnis itu:
1. Ada yang ngikuti selera pasar yang produknya bersifat "job order". Naik 
turunnya bisnis tergantung pada selera pasar. Kalau nggak bisa ngikuti pasar, 
bisa bangkrut/nggak laku. Contohnya dalam kesenian adalah Wayang Kulit 
Non-Pakem.
2. Ada yang men-segmentasi pasar, yaitu hanya melayani segmen tertentu saja, 
misalnya bisnis permata.
3. Menciptakan pasar, yaitu menciptakan pasar baru, misalnya Alm. Tirto Utomo 
yang mengenalkan Aqua di Indonesia, atau industri kreatif yang sekarang banyak 
berkembang.
 
Dalam soal ukiran furniture, ya ikuti 3 pasar itu, yaitu melayani yang sifatnya 
"job order", dengan mempertahankan khas lokal ukiran Serena yang tetap ada 
penggemarnya walaupun sedikit, dan juga membuat pasar baru dengan kreasi-kreasi 
baru ukiran ala Serenan.
 
Thanks. CU. BTS.

--- Pada Sel, 18/5/10, - ekadj <4ek...@gmail. com> menulis:



Dari: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Judul: [referensi] la pensée bourgeoise
Kepada: refere...@yahoogrou ps.com 

Tanggal: Selasa, 18 Mei, 2010, 11:08 AM


  





Pak EkoBK dan Referensiers ysb, bila berkenan dan berkesempatan, mohon 
kesediaannya pak memberikan pandangan tentang 'la pensee bourgeoise' terutama 
karena ada beberapa ungkapan menarik di bawah. Sebelumnya terima kasih pak. 
Salam.
 
-ekadj
 
"... Sekarang ini masak apem, donat, cenil, kripik, kerak, cireng harus merk 
franchise dari luar. ..."
 
"... Kalimat yang masih 'menancap' di otak saya kurang lebih "Kita harus 
mengglobal dengan semangat regional berbasis sumberdaya lokal. Sumberdaya lokal 
itu mencakup sumberdaya manusia, alam, budaya, teknologi, dan finansial." ... 
Singkatnya, beberapa rekomendasi penelitian JICA tersebut adalah (1) 
meningkatkan kualitas meubel terutama pada proses oven agar daya tahannya lebih 
baik, (2) Membuat ciri ukir dan meubel sendiri yang khas dan mencerminkan 
Serenan atau Solo. ... Otomatis desain dan bahannya tergantung permintaan 
buyer. Persoalan itu yang menyebabkan hilangnya 'ciri khas' lokal meubel 
serenan yaitu (1) minat warga dan (2) ekonomi global. ..."
 
"... "Identitas lokal", kebanggaan budaya, bisa lain dengan "apa yang dicari 
pembeli". ... Tapi kenyataan penjualan terbesar dan yang mayoritas dikerjakan 
pengrajin di sana adalah "desain bawaan pembeli". Jadi pengrajin disana 
keterampilan perkayuannya dipakai untuk menggarap desain pesanan. ... 
Pertanyaannya, Anda mau membantu perekonomian mereka, atau menyuruh mereka jadi 
pelestari potensi budaya? Yang jelas kompetensi mereka pada "keterampilan 
membuat" mebel, ukir asli atau pesanan. ... Kadang buyer hanya kirim sket 
kasar, lalu mereka gambar yang baik, atau buat sampel, dipotret, dikirim untuk 
dapat kesepakatan. ..."
 
"... Penyesuaian dengan selera pasar, seperti berkarya sesuai dengan desain 
pesanan yang ada, merupakan alternatif yang sangat logis untuk bertahan dan 
berkembang. ..."
 
"... Tapi di Sumbar relatif banyak ragam makanan/camilan oleh-oleh yang tahan 
lama, seperti juga di Jawa Tengah (terutama alen-alen, yaitu cincin warna-warni 
dari singkong, untuk latihan adu "keras" dengan gigi kita he he). Harapannya 
semua bisa seperti brownies Amanda, Karya Umbi, Kartika Sari (Bandung), 
Christin Hakim (Sumbar), Zulaikha (Medan) dan Bolu Meranti, Bandeng Semarang, 
dst ... Mestinya Carrrefour yang melebar di Indonesia, akan bagus juga kalau 
baliknya bawa produk-produk kita ke Perancis-ya. ..."
 
"... Bung Fajar, pengembangan ekonomi lokal tidak harus produk khas lokal, 
tetapi bagaimana menumbuhkan perusahaan lokal menjadi mampu bersaing. ..."

"... Untuk kasus bawang merah di Brebes, bukannya industri rakyat unggulannya, 
yaitu telor asin, lebih membutuhkan tingkat keahlian yang lebih tinggi..? 
Bukankah apabila dilakukan pembuatan acar bawang dalam botol, maka pemasarannya 
bisa dilakukan berdampingan dengan telor asin..? ... Mengapa tidak dilakukan 
pengepakan 1 kiloan, 5kiloan, atau 10 kiloan supaya mendapat harga yang lebih 
baik..? ..."
 
"... Saya sependapat dengan Pak Risfan dan Pak Fajar bahwa pengrajin tidak 
harus menghasilkan karya yang selalu bercorak khas daerah mereka. Berkarya 
sesuai dengan permintaan pasar juga perlu dilakukan untuk tetap bertahan dan 
tentunya mengembangkan usaha. ... Sebagai contoh untuk pemesanan dari Perancis 
maka exportirnya si-A
dan kelompok pengrajinnya si B dan seterusnya. ..."








      

Kirim email ke