Pak Eka, Pak Risfan dan Sahabats,

Dagadu asli di Jogja sekarang juga mengalami nasib dijiplak dan banyak orang 
yang menjiplak seenaknya itu meneguk berkah. Kejadian itu "dibiarkan" oleh 
pihak Dagadu asli karena pertimbangan (dugaan saya) kemanusiaan, produk yang 
perputaran kreasinya sangat cepat, keyakinan bahwa masyarakat akan semakin jeli 
melihat mana yang asli dan mana yang aspal. Fenomena komersialisasi ini saya 
kira bersifat kasuistis. Desain Dagadu yang cepat keluar cepat obsolete, 
mungkin berbeda dengan desain seni batik yang tidak secepat Dagadu 
perubahannya. Barangkali juga demikian dengan karya seni yang lain.

Desain rumah massal secanggih apapun gincu dan bedaknya, jika kita analisis 
tata keruangannya sebenarnya hanya itu-itu saja, dimana-mana begitu, bahkan 
wilayah-wilayah terpencil-pun menjiplak desain dari brosur. Mungkin kita 
frustrasi, profesi arsitek perumahan begitu mudah dijiplak siapapun dengan cara 
yang mudah. Bahkan seseorang yang bermodal bisa menjadi developer kaya karena 
jeli melihat peluang pasar dan pandai utak-utik gambar denah dan tampak dalam 
proyek rumah massalnya. Pada sisi lain, masih banyak arsitek yang menekuni 
profesinya karena yakin pada kata kunci "keunikan", sebab yang namanya karya 
arsitektur itu mengandung keunikan, sedangkan desain yang massal itu sebenarnya 
"arsitektur" (dalam tanda kurung).

Keunikan muncul dari adanya "dongeng" tentang karya tsb. Orang mau membeli 
mahal sebuah batik klasik karena ada cerita tentang simbol di dalam kain batik 
itu. Bahkan seseorang beli keris perlu datang ke empu tertentu, karena setelah 
punya keris itu, kelak dia bisa bercerita bahwa kerisnya ini dibuat oleh 
keturunan empu Supo dari trah empu Majapahit, dengan syarat seperti ini itu dsb 
dsb. Membeli keris lantas memiliki dongeng, membeli yang hard juga memiliki 
yang softnya. Memiliki yang tangible juga mempunyai yang intangible, dalam 
fenomenologi dikatakan "memiliki keris sebenarnya juga mengetahui dunia keris", 
sesuatu terkait dengan sesuatu lainnya yang lebih luas dan mendalam. Pernah 
saya katakan, memahami seorang tukang becak sebenarnya kita juga dituntun untuk 
memiliki pemahaman tentang "dunia tukang becak", ada transendensi 
(kemelampauan, beyond) dari apa yang tampak.

Nah jika karya seni hanya dilihat aspek fisiknya, tentu nilainya turun, 
demikian juga harganya. Jika kita beli keris di pasar Beringharjo atau sewa 
keris waktu jadi petugas penerima tamu mantenan, sebenarnya kita tidak memakai 
keris, tetapi "keris" saja, bahkan "lading" atau "pisau" pun bukan karena aspek 
intangible dari benda itu tidak ada.  Barangkali kita perlu menyadari aspek 
tangible dan intangible dalam benda seni semacam itu, dan peminat seni sejati 
saya kira tahu hal ini dengan baik, menyadari dan menggunakannya dalam praktek 
kesehariannya.

Dari cerita ini sata bisa mengerti, mengapa kalangan Dagadu bisa menerima 
kehadiran "Dagadu aspal" yang mewabah di sekitar mereka. Mereka justru berjasa 
menciptakan lapangan kerja, tetapi mendidik masyarakat menjadi penjiplak. 
Artinya, jiplak-menjiplak akan lestari di negeri ini karena alasan kemanusiaan, 
bukan alasan normatif heheheee....

Salam,



Djarot Purbadi

--- On Sun, 5/23/10, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] la pensée bourgeoise
To: [email protected]
Date: Sunday, May 23, 2010, 9:16 AM







 



  


    
      
      
      Pak Eka dan rekans ysh,
 
Begitulah realitanya, mungkin ahli fenomenologi kita juga bisa menjelaskan. 
Seperti harapan teman kita, tiap daerah punya kekhasan produk, proses dan place 
nya. Kata perencana pariwisata ada 7P, yaitu 4P marketing umumnya (product, 
place, price, promotion), ditambah 3P (people, process, physical evidence). 
Cara bertansaksi di di Papua dengan di Bali beda. Di Jogja juga beda lagi. 
Sambil ngetik ini saya nonton di TV program "Travel & Living" yang menunjukkan 
wisatawan di Taiwan diajak ke warung-warung, lalu kampung industri kecil, 
praktik (process) mencelup kain "jumputan" yang dia desain (jepit) sendiri. Ada 
revitalisasi kampung lama, wah betul-betul seperti di Kampoeng Batik Laweyan 
Solo.
 
Soal teori lokasi Pak Eka, baru-baru ini saya dari Malang ke Kediri lewat 
Pujon. Diajak makan durian di warung tenda kecil di tepi jalan. Waktu saya 
tanya, apakah setiap waktu bisa ada durian. Ibu penjualnya bilang ada terus. 
Kok bisa? Rupanya kalau di Pujon sedang tidak musim atau habis, dia dapat 
pasokan dari Jawa Barat, bahkan Lampung, Sumsel. Ini saya cek ke pedagang 
sejenis di Purworejo dekat Jogja. Rupanya jawaban sama, dia juga bisa dapat 
dari Jawa Timur. Kesimpulannya, faktor lokasi ada "fenomena sirkuler" antar 
pelaku antar daerah. Alur "koleksi-distribusi " nya tidak harus dari desa ke 
kota (pusat) lalu ke desa lain. 
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 
 
 
 
 
 


--- On Sat, 5/22/10, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote:


From: - ekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: Re: [referensi] la pensée bourgeoise
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, May 22, 2010, 8:58 PM


  


Pak Risfan ysh. Saya kira memang ada perubahan pola pemasaran produk, kalau 
dulu ada galeri-galeri yang mengumpulkan produk dari perupa sekitar, dan 
tentunya ada proses seleksi kualitas. Sekarang siapa pun bisa membuka galeri 
sendiri, sehingga membiarkan konsumen memilih sendiri kualitas produknya. Ini 
juga menjadi rekreasi belanja tersendiri. Namun implikasi keruangannya cukup 
luar biasa untuk wajah Bali hari ini.
Kalau untuk Asmat, bentuk pemasarannya dilakukan setahun sekali, yaitu setiap 
minggu kedua Oktober. Pada waktu itu puluhan wisatawan datang dari seluruh 
dunia, dan banyak yang menggunakan kapal pesiar. Karena jumlah produknya 
sedikit, dilakukan dengan sistem lelang.
Produksi di Asmat tidak bisa ditingkatkan, karena jumah perupa yang semakin 
sedikit, juga ketersediaan kayu-besi yang semakin terbatas. Dan yang 
terpenting: perupa tidak bisa dipacu untuk berproduksi, mungkin karena seni 
sebagai ekspresi jiwa itu.
Mungkin disini kita dapat melihat perbedaan antara masyarakat borjuis dan 
tradisional itu secara kontras. Keduanya memiliki basis materialisme yang sama 
yaitu 'structure in place'. Namun praxis untuk berproduksi, modus transformasi 
alam tergantung pada instrumen dan teknologi, ditambah oleh Pak Risfan: pasar. 
Hanya pragmatisme borjuis terhadap alam juga berpengaruh pada pragmatisme 
kulturnya. Borjuis berproduksi karena hubungan ekonomi: exchange 
dan utilitarian, dan membangun sekat yang tegas dan panjang produsen-konsumen. 
Tradisional berproduksi karena hubungan sosial, memahami alam sebatas kebutuhan 
sendiri, dan kalau ada pertukaran kembali kepada semiotika sosial.
Sementara demikian pak. Salam.
 
-ekadj

 
2010/5/23 Risfan M <risf...@yahoo. com>


  



Uda Eka dan Rekans ysh,

Saya memahami kemirisan Anda soal komersialisasi karya seni. Di kalangan 
perencana pariwisata, budayawan ini juga merisaukan. Dilematis.

Idealnya biarkan keaslian karya Asli dari suku Asli tetap asli. Ritme hidup dia 
juga tetap asli.
Tapi, kalau Anda tahu bahwa karya Asli itu di pasar ternyata harganya mahal dan 
Anda membiarkan suku Asli itu tidak tahu , apalagi mereka secara ekonomi IPM) 
terbatas. Maka membiarkan mereka tidak masuk sistem ekonomi, bisa dibilang 
tidak fair juga. Dan, praktiknya kebijakan pemerintah (diluar kontrol kita) 
membuka peluang itu.

Tapi mengajari mereka terjun bebas ke sistem ekonomi memang beresiko: memudaran 
keaslian berganti motif komersial; kedua akan memicu eksploitasi. Untuk inilah 
maka penguatan Cluster/sentra /kelompok diperlukan agar bargaining position 
mereka (mikro-kecil) naik, dan ada keseimbangan informasi (harga, kualitas).

Kecuali kalau (omongan negarawan
 ini) negara ini betul2 menganut faham Negara Sejahtera, dan mampu konsisten 
memberi jaminan sosial yang wajar bagi tiap warganya. Orang air saja mesti 
beli, rumah sakit atau sekolah mendiskriminasi orang tak mampu, kok seniman, 
suku Asli, gak boleh jualan karya seninya.

Saya jadi ingat potongan syair Rendra yang juga mengritik bisnis Pariwisata di 
satu daerah. Intinya digambarkan seorang wisatawan perempuan bilang ke 
suaminya, Well, look John, mereka asli ya. Tanpa baju manjat pohon kelapa. 
Eksotis ya seperti monyet. Ayo kita foto. 

Pak Eka, debat seni untuk seni vs seni bertendens (sekarang komersial) 
sepertinya juga abadi. Seingat saya Bagong K (bapaknya Butet dan Jadug) dan 
Garin yang ambil jalan tengah. Mengambangkan yang seni banget (klasik, 
eksperimental) dan yang pop (komersial?) .

Yang penting keseimbangan informasi diperjuangkan. Jangan seperti praktik 
pembangunan kota. Kepada warga pemilik tanah Pemda bilang ini
 kepentingan umum , tutup mata bahwa begitu prasarana dibangun para pengembang 
menikmati gain harga tanah puluhan kali. Karena itu menurut saya Planner juga 
mesti tahu dinamika harga tanah, supaya bisa menjembatani kepentingan 
masing-masing pihak.

Kembali ke supply-chain, idealnya produsen A, B, C, .....tahu di proses X nanti 
harga jualnya berapa (walau kasar) dan tiap jenjang porsinya berapa, apa 
kriteria mutunya, sehingga dia bisa menaikkan posisinya. 


Salam,
Risfan Munir
www.wilayahkota. blogspot. com



      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke