Saya setuju, bahwa tidak ada yang bisa memprediksi harga ke depan secara
pasti, makanya seperti tebak-tebakan :)
Nah, justru karena tebak-tebakan tadi, maka asumsinya tidak ada arbitrage.
Black-Scholes diturunkan atas dasar asumsi no arbitrage, dan ditujukan
untuk aset yang bersifat seperti option, pada suatu event, memiliki hak
untuk eksekusi, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk melakukannya.
Bagi saya, beberapa tools dalam TA sebetulnya cukup ilmiah, dengan dasar
yang sejalan dengan Schumpeter, Keynes, dan teori-teori ekonomi heterodoks
lainnya.
Tetapi, baik TA, FA, maupun tools yang sophisticated, kembali dipengaruhi
bagaimana pelaku pasar belajar, bagaimana merasakan "ditipu" maupun
merasakan jumawa bahwa prediksinya benar. Sehingga, untuk melakukan
simplifikasi, pasar dapat dianggap sebagai tempat adu strategi, dan tidak
ada strategi yang seterusnya benar. Sebetulnya pada email sebelumnya saya
membahas mengenai valuasi, dan saya membedakan antara valuasi dengan
strategi :)
Valuasi dapat menjadi dasar dalam strategi, tetapi tidak harus selalu
begitu. Pelaku pasar harus adaptif dalam menghadapi fluktuasi harga, dan
juga permainan bandar :)

Salam,
BK Wibowo

Pada 31 Oktober 2012 09:07, Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]
> menulis:

> **
>
>
> Yang namanya analisa perkiraan itu pada dasarnya adalah analisa tebak2an.
> Apakah TA ataukah FA, semuanya pada dasarnya adalah tebak2an belaka alias
> ilmu kira-kira :) Hanya saja FA dibungkus seolah2 ilmiah dan TA kurang
> ilmiah. :)
>
> Di dalam FA, biasanya dibuat asumsi2 terlebih dahulu, barulah dihitung.
> Nah, asumsi2 ini untuk setiap orang/analis bisa berbeda2. Itu sebabnya,
> lapkeu yang sama di satu saham bisa menghasilkan angka teoritis yang
> berbeda. Bisa saja satu analis keluar rekomendasi BUY, bisa saja analis
> yang lain mengeluarkan rekomendasi SELL, walaupun sama2 menggunakan FA. :)
>
> Jadi, mau pakai teknik FA apapun sebenarnya bisa saja tidak akan pernah
> cocok kalau asumsi yang digunakan berbeda. Tidak harus perusahaan
> komoditas, bahkan consumer goods pun juga bisa tidak cocok bila pakai cara
> yang dilakukan oleh Pak Wibowo.  Misalkan saja, MAPI. Perkiraan2 yang ada
> dan dibuat sekarang rata2 berdasarkan asumsi di Indonesia tidak terjadi
> krisis ekonomi. Nah, kalau terjadi krisis ekonomi, bahkan berkepanjangan,
> maka omzet MAPI bisa anjlog karena daya beli masyarakat menurun. Target
> penjualan tidak tercapai, maka manajemen harus mengurangi pembelian barang
> untuk dijual. Dst...dst...dst.
>
> Bottom line nya saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa dibalik FA itu ada
> asumsi2 yang mendasarinya dimana bila asumsi2 yang digunakan tidak
> terpenuhi, maka otomatis perhitungan FA nya juga menjadi berubah.
>
> Demikian juga di perusahaan komoditas. FA dibuat berdasarkan asumsi harga
> tertentu atau perkiraan harga di masa-masa mendatang.  Bila ternyata
> kedepannya harga komoditasnya berubah sehingga berbeda dengan asumsi yang
> digunakan, maka perlu dihitung ulang FA nya.  Itu sebabnya, harga saham
> komoditas bisa naik turun karena adanya perubahaan ekspektasi di masa
> mendatang.
>
> Jadi dalam kasus ini, saya tidak melihat perlunya perhitungan2 option
> maupun Black-Scholes :)
>
> Satu hal lagi, hasil hitungan FA sebenarnya lebih tepat disebut dengan
> harga teoritis.
> Sayangnya, banyak analis FA dalam laporannya menggunakan istilah target
> price. Padahal harga pasar tidak memiliki kewajiban ataupun keharusan
> menuju angka teoritis hasil hitungan FA. Itu sebabnya, banyak orang awam
> jadi terjebak dan kecewa atau bertanya, kenapa koq target price nya tidak
> tercapai padahal sudah 12 bulan berjalan. Jadi sebenarnya, analis2 FA yang
> suka menggunakan istilah target price, mereka sebenarnya sedang menggali
> lubang kuburnya sendiri karena berusaha menjadi dukun saham dengan
> menggunakan FA. :)
>
> FA dan TA keduanya pada dasarnya adalah ilmu kira-kira, ilmu tebak2an. :)
>
>
> jabat erat,
> Irwan Ariston Napitupulu
>
> 2012/10/30 BK Wibowo <[email protected]>
>
>>
>>
>> Mungkin, metoda yang cocok untuk valuasi perusahaan komoditas adalah real
>> options, di mana cadangan terukur diperlakukan sebagai options dengan
>> perusahaan memiliki hak untuk memanfaatkan, tetapi tidak memiliki kewajiban
>> untuk melakukannya. Apabila harga komoditas di bawah biaya eksploitasi,
>> maka nilai optionsnya menjadi nol. Demikian juga, optionsnya akan menjadi
>> bernilai apabila harga komoditas di atas biaya eksploitasinya. Terdapat
>> probabilitas untuk masing-masing kondisi. Metode ini sebetulnya menarik,
>> namun, yang saya temui, agaknya orang suka alergi duluan apabila membahas
>> Black-Scholes :)
>>
>> Salam,
>> BK Wibowo
>>
>> Pada 30 Oktober 2012 20:28, Irwan Ariston Napitupulu <
>> [email protected]> menulis:
>>
>>  **
>>>
>>>
>>> Betul Pak Hendrik, untuk saham tambang memang agak sulit menghitungnya
>>> mengingat harga komoditasnya yang berfluktuasi. Sehingga biasanya digunakan
>>> asumsi2 perkiraan harga komoditasnya ke depannya seperti apa.
>>>
>>> Concern saya menyinggung soal PBV, terkait dengan tulisan Pak Hendrik
>>> yang sempat membahas membandingkan antara KKGI dengan ADRO dari sisi PBV.
>>> Mungkin bagi Pak Hendrik angka PBV itu bisa dibandingkan untuk perusahaan
>>> yang satu sektor, seperti batubara. Nah, pada poin inilah yang ingin saya
>>> tekankan bahwa membandingkan PBV KKGI dengan PBV ADRO itu tidak bisa
>>> sembarangan, tidak bisa langsung dibandingkan begitu saja karena bisa tidak
>>> apple to apple.
>>>
>>> Sama seperti untuk PER dua perusahaan. Katakan perusahaan A angka PER
>>> nya 5x, sementara perusahaan B angka PER nya 25x.  Walau sama2 angka PER,
>>> kita tidak bisa lalu langsung mengatakan perusahaan A lebih murah harga
>>> sahamnya dibanding dengan perusahaan B.  Hal ini karena bisa saja
>>> perusahaan B yang walau PER nya 25x, tapi valuasinya masih lebih murah
>>> dibanding dengan perusahaan A.
>>>
>>> Mengapa bisa dimungkinkan demikian?
>>> Kalau perusahaan A punya angka PER 8x, tapi pertumbuhan labanya untuk
>>> proyeksi kedepannya hanya 5% (sudah mature) sementara disisi lain
>>> perusahaan B punya angka PER 25x, tapi proyeksi pertumbuhan labanya 40%
>>> (biasanya perusahaan di fase awal), maka secara valuasi dimungkinkan
>>> perusahaan B harga sahamnya lebih murah ketimbang valuasi harga saham A.
>>>
>>> Demikian juga dengan PBV. Perusahaan A dengan PBV 1,5x vs perusahaan B
>>> dengan PBV 4,7x bisa saja secara valuasi justru perusahaan B lah yang
>>> dengan PBV 4,7x itu malah yang lebih murah. Hal ini karena bisa saja aset
>>> yang dicatat di neraca perusahaan A terlalu di mark up harga perolehannya,
>>> sementara aset di perusahaan B dicatat di neraca memakai harga perolehan
>>> harga pasar dan sudah beberapa tahun (katakan saja sudah 10 tahun tidak di
>>> revaluasi) sehingga angkanya jadi kerendahan. Hal ini dapat mengakibatkan
>>> aset di perusahaan A tercatat ketinggian, dan di perusaan B tercatat
>>> kerendahan. Dampaknya jadi seolah2 perusahaan A memiliki PBV yg lebih
>>> rendah, dan perusahaan B jadi kelihatan PBV nya ketinggian. Padahal kalau
>>> dihitung dengan cara wajar dan harga terkini untuk aset2 nya tersebut,
>>> justru PBV perusahaan B lebih rendah dari PBV perusahaan A.
>>>
>>> Mengapa PBV UNVR bisa tinggi?
>>> Seperti yg saya sebutkan di atas, perhatikan neraca UNVR dengan baik.
>>> Lihat aset2nya dicatat seperti apa. Dengan harga perolehan tahun berapa.
>>> Apakah masih wajar ataukah sudah harus direvaluasi. Selain itu, yang juga
>>> menyebabkan PBV nya jadi tinggi, karena UNVR rajin bagi dividen dimana
>>> dividend payout ratio nya bisa mencapai sekitar 100% dari laba yang
>>> dihasilkan. Sehingga angka total equity nya cenderung tetap/tidak banyak
>>> berubah walaupun labanya bisa mencapai sekitar angka total equity nya. :)
>>>
>>> Menghitung valuasi perusahaan itu mudah2 gampang. Mudah bila kita bisa
>>> mengenali bentuk bisnisnya, mengetahui kebijakan akuntansinya, bisa
>>> mengira2 nilai aset di sisi neraca secara harga terkini sekitar berapa,
>>> barulah kemudian kita menghitung memakai rumus2 finance, apakah itu FCFF,
>>> FCFE, DDM, PER, PBV, P/S, dlsb.  Tanpa memahami lebih dulu karakter
>>> emitennya, kebijakan akuntansinya, dll tsb, maka hitungan2 FCFF, FCFE, DDM,
>>> PER, PBV, P/S dlsb itu jadi berkurang maknanya kalau ngga bisa dibilang
>>> malah bisa menyesatkan. :)
>>>
>>> Saya sengaja menulis topik ini, karena memperhatikan tulisan Pak Hendrik
>>> sebelumnya kebetulan saya baca, dan kebetulan sepertinya sudah tersebar
>>> kemana2. Takutnya nanti ada pemahaman yang salah sehingga langsung
>>> menggampangkan bahwa kalau ada dua perusahaan dimana yang satu PBV nya
>>> lebih tinggi dan yang satunya lebih rendah, maka perusahaan dengan PBV
>>> lebih rendah pasti lebih murah secara valuasi. Atau, kalau ada perusahaan
>>> yang PBV nya sudah di atas 4x, maka otomatis perusahaan tersebut pasti
>>> mahal dan tidak layak beli. Padahal, belum tentu seperti itu.
>>>
>>> Sekedar masukan saja dari saya, semoga bermanfaat.
>>>
>>>
>>> jabat erat,
>>> Irwan Ariston Napitupulu
>>>
>>>
>>> 2012/10/30 Hendrik Limbono <[email protected]>
>>>
>>>>
>>>>
>>>> Saya rasa buat semua sektor komoditas agak sulit valuasinya
>>>> pertama dari sisi harga jual, perusahaan tambang / produsen komoditas
>>>> agak sulit mengendalikan harga jual
>>>> sebab harga jual cenderung dikendalikan oleh harga SPOT
>>>>
>>>> jadi kalaupun pakai metode NPV atau DCF sekalipun , metodenya
>>>> memerlukan growth rate yang stabil
>>>> sementara harga komoditasnya sendiri fluktuatif sehingga harga jual
>>>> komoditas yang diatur oleh spot
>>>> pun fluktuatif sehingga laba pun fluktuatif
>>>>
>>>> dan bukan hanya masalah cadangan terukur saja,
>>>> karena validitas data cadangan terukur pun tidak jadi jaminan 100% benar
>>>> dan ada kecenderungan makin dalam galian, maka makin sulit digali =
>>>> cost meningkat
>>>> bleum lagi stripping ratio lah
>>>>
>>>> kalau kelapa sawit beda lagi, kita harus itung umur taneman :D
>>>> makin tua, makin tinggi pohonnnya, makin tinggi pula cost saat panen
>>>>
>>>> mumet lah
>>>> saya sih mikirnya ga sampai kesana
>>>> my point is,
>>>> sepertinya ilmu saya belum nyampe buat analisa perusahaan batubara
>>>> secara mendalam
>>>> jadi saya pribadi ga akan invest di batubara, 90% karena saya ga ngerti
>>>> batubar , 10% karena MENURUT SAYA sudah KEMAHALAN
>>>>
>>>> dan bagi saya memang PBV bukan sebuah faktor pasti buat valuasi
>>>> tambang, namun kalau PBV sudah ketinggian ( di atas 4x)
>>>> menurut saya dengan metode apapun, sudah kemahalan
>>>>
>>>> berbicara mengenai PBV
>>>> saat ini PBV UNVR kalau ga salah sekitar 40x
>>>> nah kalau buat UNVR saya ga akan pakai PBV sebab nilai BRAND sulit
>>>> dihitung :D
>>>> bingung kan...
>>>>
>>>> ga usah bingung, kalau bingung, jangan invest di perusahaan tersebut
>>>> kalau mau invest cari perusahaan yang bener2 anda mengerti, itu jauh
>>>> lebih aman.
>>>>
>>>> bei5000.com
>>>> http://www.facebook.com/rhliembono
>>>> twritter : @bei5000
>>>>
>>>>   ------------------------------
>>>> *From:* Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
>>>> *To:* [email protected]
>>>> *Sent:* Tuesday, October 30, 2012 6:20 PM
>>>> *Subject:* [saham] Jangan Pakai PBV Untuk Valuasi Tambang
>>>>
>>>>
>>>> Saran saya, kalau mau melihat suatu perusahaan/saham tambang (termasuk
>>>> batubara) itu mahal atau tidaknya, jangan melihat angka PBV nya,
>>>> karena angka ini bisa menyesatkan. Lebih baik lihat cadangan terukur
>>>> dari potensi lahan tambangnya yang ada.
>>>>
>>>> Saya ambil contoh ekstrimnya bagaimana angka tersebut bisa
>>>> menyesatkan. Kalau saya memperoleh lahan tambang katakan seluas 1000
>>>> dengan perkiraan cadangan 100, lalu saya catat harga perolehannya di
>>>> tahun xxxx senilai Rp100 (saya pakai nilai wajar karena jujur), akan
>>>> berbeda bila saya mencatatatnya dengan nilai Rp1000 (saya markup
>>>> habis2an).
>>>> Yang saya catat dengan nilai Rp100, maka PBV perusahaan saya akan
>>>> terlihat tinggi.
>>>> Yang saya catat dengan nilai Rp1000, maka PBV perusahaan saya akan
>>>> terlihat rendah.
>>>>
>>>> Jadi, berhati2lah bila mau pakai angka PBV untuk perusahaan tambang,
>>>> karena bisa menyesatkan dan tidak apple to apple untuk membandingkan
>>>> dengan perusahaan sejenis pun (katakan saja di sektor batubara).
>>>>
>>>> Kalau untuk perbankan, baru bolehlah dlihat PBV nya, karena aset utama
>>>> perbankan itu sifatnya lebih standar antara angka pencatatan dan
>>>> nilainya cenderung sama karena bentuknya uang, :)
>>>>
>>>> Sekedar masukan saja dan semoga bermanfaat.
>>>>
>>>> jabat erat,
>>>> Irwan Ariston Napitupulu
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>
>>>>
>>>
>>
>>
>>
>  
>

Kirim email ke