Saya rasa buat semua sektor komoditas agak sulit valuasinya
pertama dari sisi harga jual, perusahaan tambang / produsen komoditas agak 
sulit mengendalikan harga jual
sebab harga jual cenderung dikendalikan oleh harga SPOT

jadi kalaupun pakai metode NPV atau DCF sekalipun , metodenya memerlukan growth 
rate yang stabil
sementara harga komoditasnya sendiri fluktuatif sehingga harga jual komoditas 
yang diatur oleh spot
pun fluktuatif sehingga laba pun fluktuatif

dan bukan hanya masalah cadangan terukur saja, 
karena validitas data cadangan terukur pun tidak jadi jaminan 100% benar
dan ada kecenderungan makin dalam galian, maka makin sulit digali = cost 
meningkat
bleum lagi stripping ratio lah

kalau kelapa sawit beda lagi, kita harus itung umur taneman :D
makin tua, makin tinggi pohonnnya, makin tinggi pula cost saat panen

mumet lah
saya sih mikirnya ga sampai kesana
my point is,
sepertinya ilmu saya belum nyampe buat analisa perusahaan batubara secara 
mendalam
jadi saya pribadi ga akan invest di batubara, 90% karena saya ga ngerti batubar 
, 10% karena MENURUT SAYA sudah KEMAHALAN

dan bagi saya memang PBV bukan sebuah faktor pasti buat valuasi tambang, namun 
kalau PBV sudah ketinggian ( di atas 4x)
menurut saya dengan metode apapun, sudah kemahalan

berbicara mengenai PBV
saat ini PBV UNVR kalau ga salah sekitar 40x
nah kalau buat UNVR saya ga akan pakai PBV sebab nilai BRAND sulit dihitung :D
bingung kan...

ga usah bingung, kalau bingung, jangan invest di perusahaan tersebut
kalau mau invest cari perusahaan yang bener2 anda mengerti, itu jauh lebih 
aman. 
 
bei5000.com
http://www.facebook.com/rhliembono 

twritter : @bei5000


________________________________
 From: Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]>
To: [email protected] 
Sent: Tuesday, October 30, 2012 6:20 PM
Subject: [saham] Jangan Pakai PBV Untuk Valuasi Tambang
 

  
Saran saya, kalau mau melihat suatu perusahaan/saham tambang (termasuk
batubara) itu mahal atau tidaknya, jangan melihat angka PBV nya,
karena angka ini bisa menyesatkan. Lebih baik lihat cadangan terukur
dari potensi lahan tambangnya yang ada.

Saya ambil contoh ekstrimnya bagaimana angka tersebut bisa
menyesatkan. Kalau saya memperoleh lahan tambang katakan seluas 1000
dengan perkiraan cadangan 100, lalu saya catat harga perolehannya di
tahun xxxx senilai Rp100 (saya pakai nilai wajar karena jujur), akan
berbeda bila saya mencatatatnya dengan nilai Rp1000 (saya markup
habis2an).
Yang saya catat dengan nilai Rp100, maka PBV perusahaan saya akan
terlihat tinggi.
Yang saya catat dengan nilai Rp1000, maka PBV perusahaan saya akan
terlihat rendah.

Jadi, berhati2lah bila mau pakai angka PBV untuk perusahaan tambang,
karena bisa menyesatkan dan tidak apple to apple untuk membandingkan
dengan perusahaan sejenis pun (katakan saja di sektor batubara).

Kalau untuk perbankan, baru bolehlah dlihat PBV nya, karena aset utama
perbankan itu sifatnya lebih standar antara angka pencatatan dan
nilainya cenderung sama karena bentuknya uang, :)

Sekedar masukan saja dan semoga bermanfaat.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

 

Kirim email ke