Sama2 Pak Hendrik, hanya kebetulan saja hal yang dibahas pas saya kuasai topiknya. Kita sama2 belajar sajalah di milis saham ini. Saya juga masih belajar koq :)
jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu 2012/10/30 Hendrik Limbono <[email protected]> > > > terima kasih pak irwan..super sekali :D > > > bei5000.com > http://www.facebook.com/rhliembono > twritter : @bei5000 > > ------------------------------ > *From:* Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Tuesday, October 30, 2012 8:28 PM > *Subject:* Re: [saham] Jangan Pakai PBV Untuk Valuasi Tambang > > > Betul Pak Hendrik, untuk saham tambang memang agak sulit menghitungnya > mengingat harga komoditasnya yang berfluktuasi. Sehingga biasanya digunakan > asumsi2 perkiraan harga komoditasnya ke depannya seperti apa. > > Concern saya menyinggung soal PBV, terkait dengan tulisan Pak Hendrik yang > sempat membahas membandingkan antara KKGI dengan ADRO dari sisi PBV. > Mungkin bagi Pak Hendrik angka PBV itu bisa dibandingkan untuk perusahaan > yang satu sektor, seperti batubara. Nah, pada poin inilah yang ingin saya > tekankan bahwa membandingkan PBV KKGI dengan PBV ADRO itu tidak bisa > sembarangan, tidak bisa langsung dibandingkan begitu saja karena bisa tidak > apple to apple. > > Sama seperti untuk PER dua perusahaan. Katakan perusahaan A angka PER nya > 5x, sementara perusahaan B angka PER nya 25x. Walau sama2 angka PER, kita > tidak bisa lalu langsung mengatakan perusahaan A lebih murah harga sahamnya > dibanding dengan perusahaan B. Hal ini karena bisa saja perusahaan B yang > walau PER nya 25x, tapi valuasinya masih lebih murah dibanding dengan > perusahaan A. > > Mengapa bisa dimungkinkan demikian? > Kalau perusahaan A punya angka PER 8x, tapi pertumbuhan labanya untuk > proyeksi kedepannya hanya 5% (sudah mature) sementara disisi lain > perusahaan B punya angka PER 25x, tapi proyeksi pertumbuhan labanya 40% > (biasanya perusahaan di fase awal), maka secara valuasi dimungkinkan > perusahaan B harga sahamnya lebih murah ketimbang valuasi harga saham A. > > Demikian juga dengan PBV. Perusahaan A dengan PBV 1,5x vs perusahaan B > dengan PBV 4,7x bisa saja secara valuasi justru perusahaan B lah yang > dengan PBV 4,7x itu malah yang lebih murah. Hal ini karena bisa saja aset > yang dicatat di neraca perusahaan A terlalu di mark up harga perolehannya, > sementara aset di perusahaan B dicatat di neraca memakai harga perolehan > harga pasar dan sudah beberapa tahun (katakan saja sudah 10 tahun tidak di > revaluasi) sehingga angkanya jadi kerendahan. Hal ini dapat mengakibatkan > aset di perusahaan A tercatat ketinggian, dan di perusaan B tercatat > kerendahan. Dampaknya jadi seolah2 perusahaan A memiliki PBV yg lebih > rendah, dan perusahaan B jadi kelihatan PBV nya ketinggian. Padahal kalau > dihitung dengan cara wajar dan harga terkini untuk aset2 nya tersebut, > justru PBV perusahaan B lebih rendah dari PBV perusahaan A. > > Mengapa PBV UNVR bisa tinggi? > Seperti yg saya sebutkan di atas, perhatikan neraca UNVR dengan baik. > Lihat aset2nya dicatat seperti apa. Dengan harga perolehan tahun berapa. > Apakah masih wajar ataukah sudah harus direvaluasi. Selain itu, yang juga > menyebabkan PBV nya jadi tinggi, karena UNVR rajin bagi dividen dimana > dividend payout ratio nya bisa mencapai sekitar 100% dari laba yang > dihasilkan. Sehingga angka total equity nya cenderung tetap/tidak banyak > berubah walaupun labanya bisa mencapai sekitar angka total equity nya. :) > > Menghitung valuasi perusahaan itu mudah2 gampang. Mudah bila kita bisa > mengenali bentuk bisnisnya, mengetahui kebijakan akuntansinya, bisa > mengira2 nilai aset di sisi neraca secara harga terkini sekitar berapa, > barulah kemudian kita menghitung memakai rumus2 finance, apakah itu FCFF, > FCFE, DDM, PER, PBV, P/S, dlsb. Tanpa memahami lebih dulu karakter > emitennya, kebijakan akuntansinya, dll tsb, maka hitungan2 FCFF, FCFE, DDM, > PER, PBV, P/S dlsb itu jadi berkurang maknanya kalau ngga bisa dibilang > malah bisa menyesatkan. :) > > Saya sengaja menulis topik ini, karena memperhatikan tulisan Pak Hendrik > sebelumnya kebetulan saya baca, dan kebetulan sepertinya sudah tersebar > kemana2. Takutnya nanti ada pemahaman yang salah sehingga langsung > menggampangkan bahwa kalau ada dua perusahaan dimana yang satu PBV nya > lebih tinggi dan yang satunya lebih rendah, maka perusahaan dengan PBV > lebih rendah pasti lebih murah secara valuasi. Atau, kalau ada perusahaan > yang PBV nya sudah di atas 4x, maka otomatis perusahaan tersebut pasti > mahal dan tidak layak beli. Padahal, belum tentu seperti itu. > > Sekedar masukan saja dari saya, semoga bermanfaat. > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu > > > 2012/10/30 Hendrik Limbono <[email protected]> > > > > Saya rasa buat semua sektor komoditas agak sulit valuasinya > pertama dari sisi harga jual, perusahaan tambang / produsen komoditas agak > sulit mengendalikan harga jual > sebab harga jual cenderung dikendalikan oleh harga SPOT > > jadi kalaupun pakai metode NPV atau DCF sekalipun , metodenya memerlukan > growth rate yang stabil > sementara harga komoditasnya sendiri fluktuatif sehingga harga jual > komoditas yang diatur oleh spot > pun fluktuatif sehingga laba pun fluktuatif > > dan bukan hanya masalah cadangan terukur saja, > karena validitas data cadangan terukur pun tidak jadi jaminan 100% benar > dan ada kecenderungan makin dalam galian, maka makin sulit digali = cost > meningkat > bleum lagi stripping ratio lah > > kalau kelapa sawit beda lagi, kita harus itung umur taneman :D > makin tua, makin tinggi pohonnnya, makin tinggi pula cost saat panen > > mumet lah > saya sih mikirnya ga sampai kesana > my point is, > sepertinya ilmu saya belum nyampe buat analisa perusahaan batubara secara > mendalam > jadi saya pribadi ga akan invest di batubara, 90% karena saya ga ngerti > batubar , 10% karena MENURUT SAYA sudah KEMAHALAN > > dan bagi saya memang PBV bukan sebuah faktor pasti buat valuasi tambang, > namun kalau PBV sudah ketinggian ( di atas 4x) > menurut saya dengan metode apapun, sudah kemahalan > > berbicara mengenai PBV > saat ini PBV UNVR kalau ga salah sekitar 40x > nah kalau buat UNVR saya ga akan pakai PBV sebab nilai BRAND sulit > dihitung :D > bingung kan... > > ga usah bingung, kalau bingung, jangan invest di perusahaan tersebut > kalau mau invest cari perusahaan yang bener2 anda mengerti, itu jauh lebih > aman. > > bei5000.com > http://www.facebook.com/rhliembono > twritter : @bei5000 > > ------------------------------ > *From:* Irwan Ariston Napitupulu <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Tuesday, October 30, 2012 6:20 PM > *Subject:* [saham] Jangan Pakai PBV Untuk Valuasi Tambang > > > Saran saya, kalau mau melihat suatu perusahaan/saham tambang (termasuk > batubara) itu mahal atau tidaknya, jangan melihat angka PBV nya, > karena angka ini bisa menyesatkan. Lebih baik lihat cadangan terukur > dari potensi lahan tambangnya yang ada. > > Saya ambil contoh ekstrimnya bagaimana angka tersebut bisa > menyesatkan. Kalau saya memperoleh lahan tambang katakan seluas 1000 > dengan perkiraan cadangan 100, lalu saya catat harga perolehannya di > tahun xxxx senilai Rp100 (saya pakai nilai wajar karena jujur), akan > berbeda bila saya mencatatatnya dengan nilai Rp1000 (saya markup > habis2an). > Yang saya catat dengan nilai Rp100, maka PBV perusahaan saya akan > terlihat tinggi. > Yang saya catat dengan nilai Rp1000, maka PBV perusahaan saya akan > terlihat rendah. > > Jadi, berhati2lah bila mau pakai angka PBV untuk perusahaan tambang, > karena bisa menyesatkan dan tidak apple to apple untuk membandingkan > dengan perusahaan sejenis pun (katakan saja di sektor batubara). > > Kalau untuk perbankan, baru bolehlah dlihat PBV nya, karena aset utama > perbankan itu sifatnya lebih standar antara angka pencatatan dan > nilainya cenderung sama karena bentuknya uang, :) > > Sekedar masukan saja dan semoga bermanfaat. > > jabat erat, > Irwan Ariston Napitupulu > > > > > > > > > > >
